"Jangan karena kamu masih menyimpan dendam sama aku, kamu jadi menjelek-jelekkan dia, Nai!" sungut Hendi, merasa Naina masih ada sakit hati atas perlakuan mereka. Naina memang masih belum bisa melupakan kejadian di kamarnya waktu itu. Berdiri di depan Hendi saja, rasanya ingin segera pergi, tapi dia berusaha untuk tegar di depan Hendi dan tidak menunjukkan rasa marahnya, karena itu akan membuktikan bahwa dirinya masih sakit hati. "Bang, kalo kamu tau kenyataannya. Kamu bakalan nyesel! Sekarang, nikmati aja kebersamaan kalian. Udah ah, aku mau pergi! Capek keliling jualan!" Gejolak di hati Naina yang mulai beriak, berusaha dia padamkan agar tidak berkelanjutan membuka aib Yani yang dia yakini suatu saat nanti akan terbuka juga di hadapan Hendi. "Masnya, jangan kira sahabat saya ini

