Bab 16. Thrift Thing

1016 Kata
"Tante Ina, udah datang? Kok awal banget? Disuruh papa, ya?" tanya Ellen seraya melepas kaus kakinya. Melihat Naina sudah di rumahnya, mampu membuat Ellen bersemangat. Entah kenapa Ellen merasakan aura berbeda dari diri Naina. Sejak lahir dia belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Hanya Marni saja yang menemaninya dan itu berbeda. "Bukan, tante Ina tadi sengaja datang lebih awal karena biar nggak pulang kemalaman kayak kemarin itu. Tapi, karena tante bawa motor, jadi ya nggak apa-apa nanti selesai kayak biasanya, Ellen. Ellen makan siang dulu, baru kita belajar, ya? Maaf, tante nggak tau kalo Ellen pulang agak sore hari ini," sesal Naina. Bagaimana dia tau, kalau Brian tidak menghubunginya. Ah, lelaki itu? Mana mau menghubunginya duluan seperti orang tua biasanya, yang memberitahu kapan anaknya pulang agar guru les datang tepat waktu. Yang ada malah kemungkinan dia disuruh pulang duluan atau seperti tadi, diinterview dulu soal data. "Nggak apa-apa, Tante. Ellen udah makan siang di sekolah. Sekarang Ellen ganti baju dulu ya, Tante? Tante bisa nunggu di ruang belajar." Senyum Naina terkembang. Betapa bijaksana si Ellen itu ketimbang ayahnya. Kira-kira, sifat itu menurun dari mana? "Oke, tante tunggu di ruang belajar ya?" ucap Naina, diikuti anggukan kepala Ellen. Kemudian Ellen berlari ke atas, menuju ke kamarnya. *** Brian menarik kembali kertas milik Naina tadi. Dia mengulangi membaca data Naina. Membaca cita-cita perempuan itu, Brian agak terperangah dengan apa yang ditulis oleh Naina. "Sederhana sekali keinginannya, ingin kuliah," gumam Brian. "Kedua orang tuanya juga sudah meninggal. Usianya baru 20 tahun, hem ...." Brian menggumam sambil membaca ulang data Naina yang tadi belum sempat dia baca. Brian merasa aneh dengan Naina. Biasanya perempuan yang dia temui akan bertindak malu-malu kucing ketika bertemu dengannya, terutama di saat dirinya sesukses sekarang. Wanita manapun, akan bersikap sama. Menuruti kemauannya, menggoda demi bisa mendekatinya dan itu membuat Brian muak. Namun, berbeda dengan Naina yanh seolah malah bertentangan jika berbincang seperti menunjukkan tidak ada yang menarik dari Brian. Bahkan setelah Brian mengantarkannya pulang sekalipun, tidak diperkenankan mengantarnya sampai ke rumah. "Wanita yang aneh." Namun, Brian juga tidak mengerti kenapa dia sampai memberikan lembar berisi kolom kosong data untuk diisi oleh Naina. Brian meraih ponselnya, lalu mengetik nomor yang tertera di lembaran kertas, yaitu nomor ponsel Naina. Dia menyimpan nomor itu di HPnya. Dua jam telah berlalu. Naina selesai memberi tambahan les pada Ellen. Lalu, dia berpamitan pada Marni. "Bik Marni, saya permisi pulang dulu ya? Ellen, tante Naina mau pulang dulu. Jangan lupa, dihapalin kayak nyanyian tadi," pesan Naina. "Oke, Tante!" Ellen membentuk lingkaran dengan telunjuk dan ibu jarinya, ditunjukkan pada Naina. Naina kemudian bergegas keluar dari rumah itu, menaiki sepeda motor Nimas. Brian yang masih berada di ruang kerja, berdiri di pinggir jendela, menatap kepergian Naina. *** Naina tiba di kost petang itu. Sebelum masuk, Alfa mencegatnya. Sepertinya lelaki itu sudah menunggu sejak tadi. "Mbak Ina! Saya mau bayar minuman. Tadi saya beli lewat Mbak Maya, tapi Mbak Maya bilang bayarnya sama Mbak Ina. Kebetulan banget, saya bisa ketemu Mbak Ina sekarang," ujar Alfa dengan wajah tersipu-sipu. "Kebetulan apa memang kamu berdiri di situ sejak tadi?" tukas Naina, turun dari sepeda motor. "Eh, tau aja Mbak. Sini, aku bantu masukkin sepeda motornya ke garasi. Mbak Ina pasti capek. Habis dari mana sih, Mbak?" "Ngelesi," sahut Naina. "Wah, aku juga mau dikasih les kalo gurunya secantik Mbak Ina. Les apa, Mbak? Matematika? Bahasa Inggris? Apa musik?" berondong Alfa sambil membantu memasukkan sepeda motor ke garasi. "Les pelajaran anak SD. Kamu mau?" tanya Naina. Alfa mengerutkan dahi, lalu meringis. Dia selesai memarkir sepeda motor di garasi lalu keluar dari sana. Naina menutup pintu rolling door juga dibantu oleh Alfa. "Kamu bantu aku, nggak minta diskonan, kan?" goda Naina. "Ah, Mbak Ina nih bercanda. Ya nggak, lah. Aku ikhlas. Oh iya, tadi aku beli dua jar minuman fruit-fruit itu. Nih Mbak uangnya." Alfa menyodorkan satu lembar uang biru ke tangan Naina. "Itu dari emak, katanya seneng kalo calon mantu bisa bikin minuman enak kayak gitu." Naina mendelik mendengar ucapan Alfa, tapi lalu Alfa mengangkat dua jari tanda peace ke arahnya. "Becanda." "Kamu ini," sungut Naina. "Aku terima ya? Bentar aku ambilin kembalian," ujar Naina membuka tasnya. "Kata emak, minumannya enak. Besok mau pesen buat Jumat berkah," tukas Alfa, menatap Naina yang sibuk mencari dompetnya di dalam tas. "Wah, boleh!" sahut Naina senang. Tangannya masih mengaduk tas untuk mencari dompet. "Susah, Mbak?" tanya Alfa. Naina mengeluarkan bungkusan koran tadi, baru bisa dengan mudah mengeluarkan dompetnya. "Ini, kemeja ini bikin susah ambil dompetnya! Mana lupa buang–" Naina menarik dompetnya sambil melirik ke badan Alfa. Mungkin, baju itu agak kedodoran buat pria kerempeng macam Alfa, tapi siapa tahu berguna. Bisa dijahit, kan? "Maaf, Alfa. Kamu mau kemeja? Tapi thrift thing," ringis Naina mengulurkan selembar uang sepuluh ribuan pada Alfa. "Hah? Kayak mana, Mbak?" tanya Alfa antusias. Naina mengeluarkan kemeja Brian dan menyerahkannya pada Alfa. Kedua mata Alfa berbinar melihat kemeja yang masih tampak bagus itu. Dia merentangkan kemeja putih itu dan bersorak melihat merknya. "Ya Allah, beneran ini, Mbak? Merknya Armanii? Ini kalo baru harganya bisa puluhan juta, Mbak? Ini beneran?" tanyanya berulang tidak percaya melihat merk baju itu. Sampai dibolak-balik karena tidak menyangka seseorang akan memberinya baju bermerk mahal. Apalagi, yang memberinya adalah Naina, wanita tercantik di dalam pandangannya. "Iya, apa harganya mahal?" sahut Naina, tidak mengerti merk, pokoknya dia tahu itu mahal saja. "Iya Mbak! Pasti Mbak Ina belinya mahal. Ini beneran buat aku?" tanya Alfa lagi. "Itu nggak beli. Iya, buat kamu aja. Masa mau aku pake?" cicit Naina, padahal dia telah memakainya waktu itu. "Wah! Makasih, Mbak Ina yang cantik! Aku akan memakainya di saat spesial. Meski thrift thing, tapi kalo dari Mbak Ina aku terima dengan senang hati. Apalagi, merknya nggak sembarangan. Aku pulang dulu, Mbak Ina!" seru Alfa, membawa pulang kemeja itu dengan kegirangan, seperti habis dapat lotre. Naina menggelengkan kepala melihat pemuda itu. Dia senang sekali bisa membuat Alfa riang. Bagi Naina, Alfa adalah seorang lelaki yang ringan tangan membantunya. Jadi, baju itu mungkin bisa membalas sikap baik Alfa. "Setidaknya berguna, dari pada aku buang," gumam Naina, mengerucutkan bibir jika ingat kata-kata Brian yang menyuruhnya membuang kemeja itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN