Bab 17. Mau Berkunjung

1061 Kata
"Jadi, kami kepengen berkunjung. Lama sekali nggak pulang ke Indo," tutur Fatmawati, wanita Indonesia berusia lima puluhan tahun, yaitu ibu kandung Brian yang tinggal di luar negeri bersama dengan suaminya, pria berdarah Inggris berusia enam puluhan tahun yaitu Patrick Axel, ayah Brian sendiri. Pria itu membuat perusahaan di Indonesia yang dia serahkan pada putranya, Brian untuk mengelola. Tujuh tahun yang lalu mereka masih merasakan kepapaan. Tidak memiliki banyak harta sampai Brian memiliki ide membuat furniture dari kayu dan ternyata diminati banyak orang. Karena pandai berbisnis, Brian dan ayahnya bisa mengembangkan usaha mereka sampai ke luar negeri sekarang. Sedangkan, anak pertamanya yaitu Gracia, sudah bergelut dengan dunia modelling di Inggris sana. Jarang pulang juga karena kesibukannya. "Mommy dan Daddy berdua saja? Si b******k Gracia? Dia nggak akan ikut, kan?" tanya Brian, menyebut kakak perempuannya itu. "Jangan gitu sama kakakmu, Brian. Dia itu baik," bela Fatma. "Ah, tapi dia memang b******k, Mom! Dia juga nggak pernah menjenguk kalian, kan? Padahal jarak apartemennya dan rumah di sana tidak jauh." "Dia sudah pindah apartemen, Brian. Sudahlah, kakak kamu itu sibuk. Dia nggak akan pulang kalo kami belum sakit," kekeh Patrick, seolah itu bukan menjadi masalah. "That's crazy," gerutu Brian lirih, mengumpat kakak perempuannya itu. "Kami rindu sama Ellen," ungkap Fatma dengan mimik mengharap bisa berbincang dengan gadis kecil itu. "Dia lagi tidur siang," sahut Brian membuat wajah Fatma kecewa. "Yah, eh nggak usah dibangunkan, nanti malah pusing," balas Fatma, meskipun kecewa, tapi dia tidak ingin cucunya sakit kepala gara-gara hanya ingin berbicara dengan Ellen. "Ya udah, kalo kalian mau ke Indonesia, aku siapkan semuanya, yang pasti nggak bakalan mengecewakan," janji Brian, dengan beberapa rencana di otaknya. "Baik, kami akan memesan tiket," tukas Patrick. "Hm, kabari kalo sudah dapat, ya? Mommy and Daddy, take care yourselves," ucap Brian di akhir sambungan telepon. "Okey, Dear." Brian menyunggingkan senyum. Rasanya agak terobati kerinduan pada kedua orang tuanya itu. "Apa grandpa dan grandma mau ke sini, Papa?" Ellen yang ternyata baru bangun tidur, mendengar percakapan ayahnya di telepon, sampai menyusul ke ruang kerjanya. "Iya, Sayang. Tunggu ya? Beberapa hari lagi mereka bakalan pulang," sahut Brian, mengelus kepala anak perempuan yang disayanginya itu. "Asyiiik!" seru Ellen. *** Brian memutar otaknya untuk memesan makanan selama orang tuanya datang berkunjung. Namun, demi kesehatan mereka, dia tidak ingin asal-asalan memesan makanan. Brian mencoba menelepon beberapa rumah makan yang biasa dia pesani makanan, tapi ternyata restoran terpercaya menyediakan masakan tanpa micin itu sudah tutup agak lama. Itu hari kedua setelah orang tuanya menelepon. Brian masih merasa ada banyak waktu untuk menghubungi beberapa rumah makan. Jadi, dia agak santai. "Permisi," ucap seorang wanita di depan pintu. Brian menoleh lalu menaikkan kedua alisnya melihat Naina sudah siap memberi pelajaran tambahan lagi untuk Ellen. "Ya, masuk. Ellen sedang mandi, kamu bisa tunggu." Brian mengeluarkan pena dan mengambil kalender duduk di atas meja. "Ini tanggal berapa? Baru tiga kali ini ya, kamu datang? Tinggal berapa kali?" tanya Brian, menatap Naina. Sejak berangkat tadi, Naina berupaya membangun moodnya untuk datang ke rumah Brian. Namun, baru saja sepatunya menginjak marmer rumah itu, moodnya kembali berantakan karena pertanyaan Brian. Naina menyusun kalimat yang cukup menohok. Mau dikeluarkan karena jawaban yang ketus, juga nggak masalah. "Tergantung Ellen, bisa saja kalo dia sudah bosan, ini hari terakhir saya datang," sahut Naina ketus. Brian mengerutkan dahi mendengar tekanan suara Naina menjawab pertanyaannya. Tangannya masih memegang kalender duduk dengan gambar pemandangan. Dia lalu melingkari tanggal hari itu. "Apa pertanyaan saya salah?" gumam Brian yang kedengaran di telinga Naina. "Nggak, saya yang salah. Bukan Anda. Kalo Anda sih bebas mau tanya apa aja. Bukankah bertanya itu gratis?" cerocos Naina. Wanita selalu benar? Siapa sih yang mencetuskan kalimat itu? Mau aku bejek-bejek dia yang bikin statement itu. Nyatanya, wanita nggak selalu benar! "Oh, baiklah. Sekarang saya nggak bertanya, tapi mau kasih tah kalo minggu depan adalah jadwal Ellen ulangan. Jadi, saya mau tau hasilnya. Apakah belajar dengan kamu, dia akan berhasil atau tidak." Naina sungguh kaget mendengarnya. Dia berdiri dan mendekati Brian yang sudah meletakkan kalender di atas meja. Giliran Naina yang mengambil kalender itu. "Ah, cepat sekali. Minggu depan sudah ulangan? Maaf, Pak. Ini ulangan harian atau ulangan umum?" tanya Naina, lupa dengan jadwal sekolah dulu. Brian mengangkat kedua alisnya lagi. Perilaku yang tampak menyebalkan di mata Naina. "Kenapa kamu tanya? Apa bedanya ulangan harian dengan ulangan umum? Bukannya sama-sama harus dipersiapkan dengan baik? Apa kamu mau berniat meremehkan salah satunya dengan bertanya demikian?" tanya Brian, melirik Naina sembari mengangkat kepalanya. Naina mendesah. Bicara dengan orang itu, hanya tidak menyelesaikan masalahnya. Namun, memang kenyataan dia menganggap enteng ulangan harian dari pada ulangan umum, padahal bobotnya sama-sama berpengaruh terhadap nilai raport. "Nggak apa-apa, Anda benar. Semua ulangan itu harus dipersiapkan dengan baik. Semua berpengaruh." Brian agak membelalakkan kedua mata. Benarkah yang dia dengar itu? Naina mengatakan dia benar. Apakah sudah bosan berdebat dengannya? "Tante Ina! Ayo masuk ke ruang belajar. Minggu depan Ellen ada ulangan harian. Papa udah bilang ya?" tebak Ellen dengan senyuman yang terkembang manis. Naina agaknya tidak terima jika wajah anak itu sangat mewarisi wajah ayahnya. Tidak ada yang ketinggalan sama sekali. Sayang, senyum manis itu belum pernah dia lihat di wajah Brian. "Iya, tadi Pak Brian sudah bilang sama Tante Ina, Ellen. Nah, berarti kita harus lebih giat ya? Ingat lagunya yang tante ajari." Ellen mengacungkan ibu jarinya pada Naina. Artinya dia tidak takut dengan ulangan harian yang biasanya menjadi momok buatnya. Brian melihat keduanya sudah sangat akrab, padahal dia tahu sifat Ellen agak sulit untuk menerima orang asing selama ini. Namun, entah kenapa Brian merasa kali ini berbeda. "Saya buatkan minum bu gurunya, Tuan?" tanya Marni membuyarkan pikiran Brian. "Ya, kamu bikinin aja. Saya nggak mau ada orang pingsan karena dehidrasi di rumah saya." Marni tersenyum mendengar ucapan Brian. Dia lalu berpamitan ke dapur untuk membuatkan teh hangat yang akan dia bawakan untuk Naina. "Jangan lupa, masih terus kamu awasi dia, Marni." "Baik, Pak." Marni melanjutkan langkah ke dapur. Lalu, Brian hendak kembali ke atas, di mana dia akan bersantai setelah melakukan aktivitas di luar. Namun, suara mobil yang masuk membuat Brian penasaran. Dia tidak jadi ke atas, melainkan malah keluar untuk mencari tau siapa yang datang. Brian hanya berdiri menatap taksi yang memasuki kawasan rumahnya. Taksi itu berhenti di halaman rumah. Sopir keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil. Dua orang paruh baya keluar dari taksi itu. "Mommy? Daddy?" gumamnya dengan wajah kaget.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN