Hampir saja Dendra tertawa melihat Aji yang gemetaran, baru saja dia menatap kagum kini malah menatap Maila dengan penuh ketakutan.
"Yang dikatakan Aji itu benar, kok." Dendra mengambil sepotong tempe goreng lalu memakannya dengan santai. "Em, enak juga," puji Dendra di dalam hati, dia tak menyangka ternyata bocah ini bisa memasak.
"Kamu yang benar, Ndra! Jangan asal mengarang berita, bisa fatal akibatnya." Kakek meraih pundak Dendra hingga saling berhadapan dengan kakek. Dendra bisa membaca mata kakek yang meminta penjelasannya saat ini juga.
"Iya, ini benar loh, Kek. Hendra menikahi calon istriku."
"Loh, kok bisa?" tanya kakek kaget, beliau menatap Dendra dengan tuntutan agar segera menceritakannya secara lengkap dan jelas.
Sebenarnya itu tujuan Dendra datang kemari, Dia ingin bercerita pada kakeknya tapi bocah di hadapannya malah menatapnya dengan sorot mata yang tak bisa di artikan. Melihat dia yang tak berniat untuk pergi membuat Dendra gengsi untuk mengungkapkan isi hati. "Lebih baik nanti saja aku bercerita, aku tidak mau dia akan meledekku nanti. Hah!"
Lagi pula, Dendra pikir tidak baik menceritakan aib Antika di depan orang lain, karena kini dia telah menjadi istrinya Rendra.
Yah, Rendra menikahi Antika demi menjaga nama baik dua keluarga, jadi Dendra tidak mau dicap buruk karena merusak nama baik keluarga dengan menceritakan aibnya Antika. "Biarlah semua seperti ini, toh nanti aib itu akan terbuka dengan sendirinya tanpa harus aku yang berperan menceritakannya."
"Dendra Alannuary!" panggil kakek dengan suara keras membuat Dendra tersentak kaget.
Dia menghela napas kemudian menjawab kakek dengan sedikit kebohongan. "Aku yang membatalkan pernikahanku, Kek. Karena aku merasa belum siap dan terlalu takut menghadapi sebuah pernikahan," ucap Rendra getir. Ya, ampun. Itu bukan alasan yang sebenarnya!
"Apa?" Kakek melotot dengan wajah yang merah padam, tapi sesaat kemudian wajahnya terlihat senang dengan senyum licik yang membuat Dendra berfirasat kalau itu tanda yang tidak baik untuknya.
"Wadduh, Kakek sepertinya punya rencana dan sepertinya akan melibatkan aku, deh," tebak Dendra di dalam hati. "Dan seperti biasanya, rencananya itu pasti akan dipaksakan dan harus untuk dituruti. Sialnya, sepetinya orang dalam rencananya itu adalah aku." Dendra mencoba menutupi kegelisahan dengan menutup wajah dengan sebelah tangannya.
"Jadi, benar. Kamu batal menikah dan Rendra yang menggantikanmu menikahi Antika?" tanya kakek meminta kepastian dari Dendra.
"Iya," jawab Dendra sambil mengangguk beberapa kali.
"Bagus! Kalau begitu." Kakek menepuk-nepuk pahanya. "Anak itu benar-benar keras kepala dan licik. Hehehe, dia bisa memanfaatkan kesempatan untuk lepas dariku. Hehehe." Kakek masih menepuk pahanya sambil terkekeh.
Dendra semakin bingung dan semakin yakin kalau kakek memang punya rencana yang pasti akan melibatkannya, atau mungkin dia akan diminta untuk menggantikan Rendra untuk menuruti keinginan kakek yang entah apa itu. "Hah, yang benar saja! Aku datang ke sini untuk mengurangi keresahanku dan sungguh aku masih dalam keadaan yang tak menentu."
"Maila, sekarang kamu ke rumah pamanmu, katakan padanya kalau cucu kakek sudah datang," perintah kakek pada remaja itu.
Tanpa menjawab dia langsung berjalan cepat meninggalkan ke tiga lelaki yang tengah menatapnya. Jika di lihat anak itu memang cukup cantik, bibir tipis dan mata bulatnya terlihat begitu menggemaskan. Akan tetapi Dendra tidak tertarik sama sekali karena traumanya pada perempuan kini makin menjadi-jadi.
"Mungkin memang takdirku selalu dikecewakan kaum Hawa yang lemah, tapi pintar membuat hati kaum Adam ini patah dan kecewa," gumam Dendra di dalam hati.
Bukan tanpa sebab Rendra memilih menjadi bujang lapuk, karena patah hati membuatnya menghindari bermain hati dengan salah satu dari kaum Hawa ini. Dia lebih memilih sibuk bekerja dan menikmati kumpulan uang yang didapatkannya. Dari pada menikmati indah tubuh perempuan dia lebih suka jalan-jalan menikmati pemandangan alam, yang tidak akan menyakitinya sedikitpun.
Akan tetapi pintu hatinya terbuka setelah bertemu dengan Antika, wanita cantik dan baik. Dia mampu merubah pandangan Dendra terhadap seorang perempuan. Dengan canda tawanya dia mampu membuatnya bahagia dan tak bisa lepas dari wanita itu.
Hanya sebulan saja dia mengenalnya, hingga akhirnya mereka sepakat untuk menikah. Sialnya, salah satu dari kaum Hawa ini kembali memporak porandakan hatinya. Untuk kedua kali dai harus terluka karena makhluk lemah ini.
"Eh, itu bocah bukan calon istrinya Dendra lagi kan? Kalau gitu bisalah buat gue " bisik Aji tepat di telinga Dendra.
"Jangan ngaco, lu." Dendra mendelik memberi isyarat agar Aji berhenti berbicara, dia takut kakek akan mendengarnya
"Kenapa? Lu mau juga sama dia?"
"Aji ... jangan ngomong yang macem-macem!" Dendra menutup mulut sahabatnya sambil melihat sekilas ke arah kakeknya.
"Eh, kalau lu enggak mau. Tu bocah buat gue aja, ya." Aji tetap berusaha berbicara meski di mulutnya tertempel telapak tangan Dendra.
"Diem, jangan nyari perkara sama Kakek. Gue lagi pusing ini, malas gue mendengar omelan Kakek yang panjang kali lebar ditambah gak berhenti-henti itu."
"Tapi, gadis itu-" belum selesai Aji berkata tiba-tiba terdengar salam dari pintu depan.
"Assalamualaikum," salam beberapa orang dari pintu depan.
"Waalaikumsalam. Eh, ayo kita ke dalam." Kakek menarik tanganku.
Dendra menarik napas berat, entah mengapa dia punya firasat buruk dengan kedatangan orang-orang itu. Apa lagi tangan kakek yang menariknya dengan terkesan memaksa membuat otaknya semakin menduga-duga hal buruk yang akan terjadi.
Semua duduk lesehan melingkar di atas tikar, sementara Dendra duduk di antara kakek dan Maila. Ada Paman Sikun beserta istrinya, di sebelah kiri mereka ada Pak Gilang selaku kepala desa dan dia juga bersama istrinya. Lalu Pak Rustam selaku pemuka agama dan Aji duduk di samping kakek.
"Ya ampun, kakek. Ada apa ini?" Dendra semakin gelisah melihat semuanya nampak serius, rasanya dia ingin bersembunyi saja di balik tikar yang mereka duduki agar tak harus terlibat urusan dengan orang-orang ini.
"Dendra." Kakek menepuk paha Dendra sehingga membuat ia terlonjak karena kaget. "Sekarang kakek sudah tua, sudah tidak sanggup lagi mengurus perkebunan dan pabrik kopi milik Nenekmu ini."
Dendra menghela nafas, ternyata benar seperti ia duga kalau kakek akan melibatkan dalam urusannya, tapi ia tak menduga jika beliau akan mewariskan tahtanya itu. "Kacau, aku sudah punya karir bagus di kota, masa harus hidup di pedesaan di tengah kebun kopi ini, sih?" keluh Dendra yang hanya bisa didengarnya sendiri.
"Perkebunan ini harus diurus dan diteruskan, karena hampir semua penduduk desa bertahan hidup dengan bekerja di sini. Jika tidak, maka keluarga nenekmu akan menjual perkebunan ini ke developer properti." Kakek menjelaskan dengan maksud dan tujuannya yang sudah sangat Dendra pahami. Yah, Dendra yakin sekali beliau menginginkan dirinya untuk menggantikan kakek.
"Awalnya kakek akan meminta Rendra untuk menggantikan kakek, tapi karena dia sudah menikah maka kini kamulah yang akan menggantikannya."
"Lah apa hubungannya, mau Rendra menikah atau belum kan dia masih bisa untuk menggantikan kakek," sela Dendra mulai menyatakan keberatan jika ia harus menggantikan kakek untuk mengurus perkebunan dan pabrik kopi itu.
"Selain meneruskan perkebunan dan pabrik, aku dan nenekmu juga punya janji yang belum ditepati. Dan itu harus kamu lakukan demi ketenangan almarhumah nenekmu." Kakek malah menambahkan satu lagi tambahan keinginannya.
"Tidak harus aku kan kek? Masih ada Rendra dan tiga orang anaknya Tante Marni yang bisa kakek minta untuk meneruskan usaha dan memenuhi janji kakek itu," ucap Dendra penuh harap agar kakek bisa melepaskannya.
"Tidak! Hanya kamu yang bisa dan harus meneruskan ini semua," tegas kakek dengan wajah serius.
"Loh kok gitu?" protes Dendra tidak terima dengan keputusan kakek yang secara sepihak itu.
"Karena Rendra sudah menikah, dan ke tiga anak Marni perempuan semua. Jadi hanya kamu harapan kakek sekarang!"
"Kenapa harus aku, kek?" tanya Dendra lagi dengan putus asa.
"Karena hanya kamu yang bisa menikahi Maila!"
"Apa?" pekik Dendra dengan mata melotot.