"Kamu harus meneruskan usaha kopi ini dan menikah dengan Maila!" tegas kakek Damiri.
"Kek, jangan paksa aku untuk menikah. Ini aku lagi sakit hati loh, Kek. Gara-gara batal nikah pas sudah mau akad," pinta Dendra berharap supaya kakek Damiri tidak akan memaksanya.
"Aku bersedia meneruskan usaha Kakek, tapi untuk menikah aku belum siap, Kek." Dendra berkata dengan lembut, dia ingin sedikit melunakkan hati kakeknya.
"Trus kalau bukan kamu, siapa?" tanya kakek pelan tapi penuh penekanan.
Sebenarnya Dendra tidak sanggup mengecewakan lelaki tua yang sangat menyayanginya itu, tapi menuruti keinginan kakek sama saja dengan melewati semak berduri, menyiksa tapi tak mematikan.
"Berikan aku waktu untuk berkenalan dulu dengan Maila," usul Dendra mengulur waktu. Dia berniat untuk menghindar sejauh mungkin dari kakek dan keinginannya itu. Keinginan yang membuat Dendra harus hidup di desa yang terpencil, dan juga harus menikahi seorang remaja yang lebih pantas menjadi putrinya.
"Tidak bisa!" sentak kakek. "Rendra juga meminta waktu untuk berkenalan dengan Malia, tapi sekarang apa coba? Dia malah menikah dengan calon istri yang kau tinggalkan."
"Apa? Jadi Rendra?" Dendra jadi tahu alasannya mengapa saudara kembarnya itu menikahi Antika, pasti karena dia tidak mau menikah dengan Maila.
"Iya, dia ternyata licik. Demi lepas dari permintaan kakek dan dia malah menikah dengan mantan calon pengantinmu itu."
Licik, benarkah Rendra licik? Jika memang begitu, jangan-jangan dia dan Nina bekerja sama. Nina anak ke dua Tante Marni lah yang tadi mengirimkan video m*sum Antika. Dendra sangat percaya padanya karena sejak kecil mereka sangat akrab. Meski lebih tua tujuh tahun dari Nina, tapi mereka seperti seumuran. Selalu nyambung dalam hal apapun.
"Ah, aku rasa tidak mustahil. Nina tidak mungkin akan Setega itu padaku." Dendra menggeleng mengusir prasangka buruk pada sepupu sekaligus sahabatnya itu.
Lagi pula Dendra melihat tidak ada kejanggalan pada Nina kecuali saat dia menerima kiriman video dari temannya. Ya, katanya dari temannya tapi Dendra tidak memastikan siapa orangnya. Dia berpikir akan menanyakan siapa orang itu nanti.
"Sekarang hanya kamu satu-satunya harapan kakek. Siap atau tidak siap, mau tidak mau kamu harus meruskan usaha Nenekmu ini dan juga menikahi Maila. Jika tidak, maka kakek tidak akan mau makan sampai mati seperti nenekmu!"
"Ah, kenapa kakek malah mengancamku?" protes Dendra.
"Dulu Nenek memang meninggal karena tidak mau makan dan minum karena marah dengan Tante Marni. Nah, kakek? Masa dia sengaja mau mogok makan gegara aku? Trus kalau terjadi sesuatu dengan kakek, maka aku akan di salahkan. Bukan itu saja, aku pasti akan menyalahkan diri sendiri dan menyesalinya seumur hidup. Arrrgggghhh Kakek!" keluhan itu hanya mampu diucapkan Dendra di dalam hati. Dia tidak ingin membuat kakek marah hingga membuatnya jatuh sakit.
Dendra menoleh dan melotot ke arah gadis remaja yang akan di nikahkan dengannya, dia merasa heran karena Maila mau saja menurut dengan permintaan kakek. Padahal dia masih muda, seharusnya saat ini dia menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang bersama sahabat ataupun pacarnya. Akan tetapi dia malah mau saja menikah dengan pria dewasa, membuat Dendra berpikir jangan-jangan Maila memang mengharapkan menikah dengan cucu kakek, agar dia bisa menumpang hidup enak bersama mereka.
"Eh, coba kamu bantu aku bicara sama kakek. Biar kita bisa bebas dari paksaan yang akan mempersulit kehidupan kita." Dendra menarik ujung baju Maila.
Maila yang awalnya hanya menunduk kini mengangkat kepalanya dan balas menatap tajam pada Dendra. Sorot matanya yang tegas dan penuh percaya diri membuat nyali Dendra sedikit menciut. "Sial, mengapa aku malah jadi lemah dihadapan anak ingusan ini?" gerutu Dendra dengan berbisik pelan.
"Silahkan, Nak Rustam." Kakek Damiri mempersilahkan pemuka agama itu duduk di hadapan mereka.
Dendra menoleh ke kanan dan ke kiri berharap ada orang yang akan menyelamatkannya dari keadaan ini. Dia menatap Aji penuh permohonan, Dia berharap sahabatnya itu mau menggantikan untuk menikah dengan bocah ingusan ini. Akan tetapi lelaki yang telah berteman lama dengan Dendra itu malah membuang mukanya.
Dendra kembali menghadap ke arah Kakeknya. "Kek, aku mohon. Jangan paksa aku untuk menikah sekarang, aku belum siap Kek," pinta Dendra dengan memelas.
"Trus, kapan kamu mau siapnya. Ingat, tahun depan kamu sudah berusia empat puluh tahun. Jika saja hari ini kamu jadi menikah, pasti kakek tidak akan memaksa kamu untuk menikahi Maila," omel Kakek Damiri pada cucunya.
"Setidaknya, kita harus memberi tahu Papa dan Mama kan, Kek." Dendra terus berusaha mencari cara untuk menghindar dari perjodohan ini.
Meski tidak menyetujui keinginan kakek, Dendra tidak bisa menolaknya dengan kasar. Dendra berusaha berbicara pelan dan tanpa emosi karena dia tidak ingin lelaki yang begitu dihormati dan disayanginya itu merasa kecewa padanya.
"Biarkan papa dan mamamu mengurus pernikahan Rendra, dan pernikahan kamu cukup kakek yang mengurusnya."
Dendra kehabisan kata-kata, dia tidak ingin membantah lagi. Dia takut hatinya yang kacau akan membuat mulutnya berbicara yang tidak baik pada kakek Damiri.
Lagi pula tidak ada salahnya menikah dengan bocah ini, pertama Dendra bisa menyenangkan kakeknya, kedua supaya gelar bujang lapuk tidak terus menempel padanya, dan yang ketiga supaya dia bisa memperlihatkan pada Antika kalau dia bisa mendapatkan penggantinya. Ya, meskipun pada kenyataannya mereka kini bertukar pasangan.
Ada tiga keuntungan yang bisa dia dapatkan jika dia menuruti keinginan kakek, jika seandainya tidak ada kecocokan di antara mereka, Dendra berpikir bisa menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan di antara mereka. Yang penting saat ini, dia akan menyenangkan kakeknya dengan bersedia menikahi Maila.
Akhirnya dengan menekan seluruh gemuruh di dadanya, Dendra menjabat tangan Paman Sikun. Dia kesal pada takdirnya, hampir seminggu ia berlatih dengan nama wanita yang dicintainya tapi kini sialnya dia harus mengucapkan ijab kabul dengan menyebut nama bocah ingusan yang baru saja dikenalnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Maila Tiantika binti Madris Ali dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Meski terpaksa dan berat hati Dendra berhasil mengucapkannya dengan lancar.
"Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah ...."
Semua berucap syukur kecuali Dendra. Kini mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Tanpa Papa dan Mama, tanpa pesta, dan tentunya ... tanpa cinta.
"Silakan ditandatangani berkas nikahnya." Pak Rustam menyodorkan pena dan mereka menanda tanganinya secara bersamaan.
Sebenarnya Dendra merasa agak heran dengan berkas yang cukup banyak, tapi melihat bocah itu menanda tanganinya dengan serius dan cepat membuatnya urung membaca setiap lembar kertas yang ada di tangannya.
Setelah selesai, Pak Rustam mengambil semuanya kecuali buku nikah. Kemudian mereka diminta memegang buku nikah masing-masing lalu dengan ponselnya Pak Rustam mengambil gambar berupa foto dan video.
"Terima kasih, Dendra," ucap kakek dengan suara parau dan mata yang berkaca-kaca. "Berjanjilah, apapun yang terjadi kamu tidak akan meninggalkan dan menyakiti Maila."
Melihat permintaan tulus kakek Dendra mengangguk menyanggupinya. Toh, menjaga Maila bukanlah hal yang sulit. Dia berniat akan menjaga Maila layaknya seorang adiknya sendiri. Karena sejatinya bocah itu lebih pantas jadi adik bahkan anaknya dari pada menjadi istrinya Dendra.
"Ingat, kamu tidak bisa menghindar dari tanggung jawab dan lari dari perjanjian ini." Kakek menepuk surat-surat yang tadi ditandatanganinya.
"Perjanjian?" tanya Dendra tidak paham dengan maksud kakek Damiri
"Di sini tertulis kamu akan menjaga dan mempertahankan kebun dan pabrik kopi juga akan menjadikan Malia istri satu-satunya. Tidak akan meninggalkan dan menyakitinya untuk selamanya."
"Apa?" Lagi-lagi Dendra mendapat kejutan yang tak menyenangkan dari kakeknya. "Jadi yang kutandatangan tadi bukanlah surat nikah, tapi surat perjanjian. Hah, sial, sial, sial!"