Mendengar panggilan Mamanya, Dendra jadi sangat gugup sehingga tanpa sadar mendorong tubuh Antika yang hampir saja menyentuh bibirnya. "I-iya, Ma!" sahut dendra tergagap setengah berteriak. "Ah, sial! Gagal lagi, gagal lagi!" gerutu Dendra sambil menatap bibir Antika dengan tatapan nelangsa. Antika hanya tersenyum kecut saat melihat lelaki yang hampir saja menikahinya ini kembali bersikap sembrono. "Mas, Mama itu masih di bawah, loh. Jadi tidak usah panik berlebihan seperti ini," sungut Antika dengan wajah masam. Dia kecewa karena batal menuntaskan rindunya pada Dendra. "Maaf ya, Sayang. Tadi aku kaget, jadi gak sengaja refleks mendorong kamu." Dendra merasa bersalah atas kelakuan bodohnya. "Ndra! Mienya sudah siap, ayo buruan turun!" Mama kembali berteriak dari bawah. "Oh, iya. Kamu

