Bab 11. Penasaran

1272 Kata
Pak Gunawan mengangguk paham. "Jika itu masalahnya, maka sudah keharusan untuk kamu berpikir bagaimana caranya supaya masyarakat di sini bisa lebih hidup lebih layak lagi. Misalnya, kamu bisa membangun perumahan yang bisa menyatukan seluruh pekerja yang rumahnya terpencar di beberapa tempat, lalu kamu bisa membangun fasilitas sesuai kebutuhan warga seperti sekolah dan lainnya. Kamu juga bisa membangun tempat ini menjadi sebuah kota kecil dengan memanfaatkan pemandangan alamnya yang indah sebagai tempat pariwisata yang akan mengundang banyak orang untuk datang ke sini," jelas Pak Gunawan panjang lebar tanpa jeda. "Kamu harus tau, semua kesuksesan yang kita dapat berawal dari sini. Jika digabungkan semua yang mama dan tantemu miliki, maka belum sebanding dengan apa yang ada di sini. Ketahuilah, perkebunan dan pabrik kopi ini menghasilkan lebih banyak uang dari pada perusahaan papa juga perusahaan milik tantemu. Hanya saja, saat ini kakek sudah tidak bisa mengelolanya dengan baik makanya hasil yang didapat pun tidak maksimal. Tapi papa yakin, di tanganmu produksi kopi di sini pasti akan kembali pulih seperti masa kejayaannya dulu," lanjut Pak Gunawan sejelas-jelasnya. Mendengar penjelasan dari papanya, Dendra akhirnya bisa menerima meskipun dia belum rela bila Rendra yang akan menggantikannya. Entah mengapa dia selalu merasa tidak suka melihat saudara kembarnya itu memiliki apapun yang dia punya. Menyadari Rendra tidak ada di tempatnya, Dendra berniat mencari Maila. Dia khawatir Rendra akan mendekatinya. Dendra yang selalu menjaga apapun miliknya takkan membiarkan Rendra mendekati apalagi menyentuhnya. "Pah, Dendra mau ke belakang dulu." Tanpa menunggu jawaban dari papanya lelaki tampan itu langsung menuju ke dapur. Para perempuan yang tadi yang katanya akan memasak bersama pun sudah tidak ada lagi. "Sial, di mana Maila?" Dendra sangat khawatir bocah itu akan dirayu dan tergoda oleh buaya darat kelas A tersebut. Lebih parahnya lagi ia takut Rendra akan menyamar sebagai dirinya lalu melakukan hal buruk pada Maila. Setengah berlari Dendra turun dari rumah melewati tangga belakang, dia sangat mengkhawatirkan istri kecilnya. "Kamu mau kemana?" Nina yang tiba-tiba muncul cukup membuat Dendra kaget. Dendra menghentikan langkah lalu membalikkan badan. "Nina, kamu dari mana? Kamu liat Maila enggak?" "Oh, Maila ke warung bersama Nana dan Antika," jawab Nina yang sepertinya berusaha menenangkan diri dengan mengusap pangkal lengannya. Dendra menghembuskan napas lega setelah mengetahui kalau bocah itu sedang bersama mamanya. Saat melihat gerak-gerik Nina yang tak seperti biasanya membuat Dendra semakin penasaran. "Kamu kenapa, Nin? Ada masalah?" tanyanya akhirnya melepas rasa penasaran yang sedari tadi ia tahan. "A-aku." Nina gelisah menoleh ke kiri dan ke kanan. Dendra pun mengikuti gerakannya karena ingin mengetahui apa yang dilihatnya, tapi tidak ada seorang pun di sekitar rumah kakek saat ini. "Ndra, Maafkan aku," ucap Nina lirih. "Maaf untuk apa?" Nina menghela napas sangat dalam. "Gara-gara aku mengirim video itu, kamu jadi gagal menikah dengan Antika. Padahal aku tahu kalian saling mencintai, tapi kini gara-gara aku kalian tak bisa saling memiliki." "Hehehe," Dendra terkekeh. "Jodoh Tuhan yang mengatur, Nin. Sudah nikah saja bisa bercerai, apa lagi kalau belum menikah seperti kami." "Tapi kalian gagal menikah karena aku, Ndra." Mata Nina terlihat berkaca-kaca. Sepertinya dia sangat sedih karena menjadi penyebab batalnya pernikahan sahabatnya. "Sudahlah, aku sudah ikhlas dan akan belajar menerima kenyataan," kata Dendra mencoba menenangkan Nina. "Tapi aku penasaran, dari mana kamu mendapatkan video itu?" Nina kembali gugup dan terlihat ketakutan. Kepalanya tak berhenti menoleh kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu. "Aku merasa bersalah dengan kalian. Selain cinta yang terpaksa terpisah, sepertinya Antika akan tersiksa hidup bersama buaya k*****t itu." Nina memukulkan kepalan tangan ke telapak tangan yang satunya. "Hush, buaya k*****t itu kembaran ku, loh!" Dendra mengedipkan mata mencoba bercanda untuk mengurangi ketegangan Nina. "Jika aku mengatakan yang sebenarnya, apakah kamu akan membenciku?" Nina menatap Dendra dengan raut cemas tanpa sedikitpun tersenyum mendengar gurauan lelaki yang selalu baik padanya itu. "Mengatakan yang sebenarnya? Apa?" tanya Dendra dengan d**a berdebar karena Nina tidak pernah seperti ini sebelumnya. Seandainya dia melakukan kesalahan, dia tetap akan ngeyel dan tidak mau mengakui kesalahannya. Tapi kali ini, dia sepertinya sangat merasa bersalah pada Dendra. Sehingga membuat Dendra berpikir kesalahan besar apa yang telah dilakukan wanita ini padanya. Apakah tentang video kemarin? Jika memang itu maka menurut Dendra itu bukan lah kesalahan, malah dia bersyukur karena Nina telah mengirimkan padanya. Dengan begitu dia mengetahui siapa Antika sebenarnya sebelum dia resmi menikahinya. "Maaf, aku benar-benar minta maaf." Nina tergugu dengan menutup wajahnya. "Eh, eh. Kamu kenapa malah nangis?" tanya Dendra panik, dia menyentuh bahu Nina yang berguncang. "Kamu tidak perlu minta maaf seperti ini, aku ini saudaramu, sahabatmu," katanya dengan penuh penekanan pada akhir ucapanku. "Aku pasti akan memaafkan mu." "Sungguh?" tanyanya masih dengan terisak. "Iya." Dendra meyakinkannya. "Sebenarnya-" "Nina!" Panggil Rendra membuat mereka kaget dan Nina berhenti bicara. "Kalian liat Antika enggak?" tanya Rendra berjalan mendekat. Dendra menoleh sejenak dan menggeleng lalu kembali menghadap Nina yang wajahnya terlihat sangat pucat dengan air mata yang kian mengalir deras. "Nin, kan aku sudah bilang, tolong jagain Antika jika aku tidak ada. Kalau dia tersesat gimana coba," omelnya seperti Mama yang lagi kesal pada anak-anaknya. "Eh, dia itu istri kamu. Kenapa Nina yang harus mengurusinya?" sahut Dendra jengkel. "Karena dia istriku, aku harus memastikan kalau dia baik-baik saja dan Nina sebagai saudara dan teman barunya pun seharusnya ikut menjaganya." "Ngawur!" cetus Dendra tidak suka dengan ucapan Rendra yang memberatkan Nina. Toh, Antika bukan anak kecil yang harus selalu Nina jaga. Iya kan? "Kenapa ngawur? Ini desa kita. Dia berada ditempat kita, memang sudah seharusnya kita menjaga dia. Termasuk kamu!" Rendra menunjuk Dendra seakan menekankan kalau Antika itu adalah tanggung jawab semua orang. "Lah, untuk apa aku menjaga istri kamu? Untuk menggodanya ketika kamu lengah? Ya ... Seperti kamu yang tak tak berkedip saat menatap istriku," sindir Dendra sinis. Wajah Rendra seketika tegang, entah karena tidak suka dengan Dendra yang mengatakan akan menggoda istrinya atau karena dia ketahuan menatap Maila dengan penuh kekaguman. "Kamu tidak usah khawatir aku akan menggoda istrimu, aku sudah jijik dengannya yang murahan itu," lanjut Dendra senang saat melihat wajah saudara kembarnya yang mengeras karena menahan kemarahan. "Apa kamu bilang! Antika bukan w************n!" sanggah Rendra geram. "Gadis yang sudah melakukan hubungan suami istri sebelum menikah itu namanya apa? Ustazah? Wanita baik-baik yang Solehah?" tanya Dendra mengejek dengan menyeringai tipis. Rendra mendengus kesal, dia sepertinya tidak terima bila istrinya dihina. "Kenyataan kan memang begitu. Mengapa dia harus marah? Dendra tersenyum sinis melihat dia yang menatap nyalang. "Aku telah membuang wanita itu, dan kamu yang sama bejatnya dengan dia memang pantas mendapatkannya." Dendra pun menatapnya tidak suka, Rendra mau marah? Silahkan, dia tidak perduli? Sekalian saja dia menumpahkan kekesalan pada b******n itu karena telah mengagumi istrinya. Meskipun dia tidak menyukai perjodohan ini, tetap saja sekarang bocah itu istrinya dan dia telah berjanji pada kakek untuk menjaganya. "Tak akan kubiarkan si m***m ini mengganggunya." "Aku terpaksa menikahinya karena terpaksa untuk menutupi kesalahan yang telah kamu buat" geram Rendra dengan rahangnya mengeras. "Kamu juga harus ingat kalau aku menikah juga terpaksa, karena kamu yang menolak untuk dijodohkan dengan Maila," sahut Dendra tak mau kalah. "Aku tidak tahu kalau gadis itu ternyata begitu cantik. Saat kakek mengenalkannya padaku dia terlihat kucel dan planga-plongo seperti orang kurang waras," sesal Rendra gusar. Dendra tertawa mengejek. "Jadi sekarang kamu menyesal meninggalkan mutiara tapi malah mendapatkan sampah!" "Istriku bukan sampah!" Rendra menatap dengan kilatan amarah yang menurut Dendra sangat berlebihan tapi justru sia semakin senang melihat Rendra seperti itu. "Lah, video itu buktinya!" "Video itu tidak-" teriak Rendra yang kemudian menggantungkan kalimatnya dan dia terlihat bingung untuk meneruskan kalimatnya. "Video itu tidak apa?" tanya Dendra penasaran. "Ti-tidak, bukan apa-apa." Rendra gelagapan menyembunyikan kegugupannya. "Rendra! Apa maksud dari ucapanmu, katakan ada apa dengan video itu!" sentak Dendra dengan hati mulai tidak tenang, matanya menelisik Rendra yang agak terlihat agak gugup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN