Pengakuan Rendra

1070 Kata
Nina berubah setelah mengirimkan video itu kepada Dendra, lalu sekarang Rendra juga sepertinya mengetahui tentang kebenaran video yang melibatkan Antika itu. Dendra jadi bertanya-tanya, sebenarnya ada apa dengan video itu? "Ah, bukan apa-apa!" Rendra mengibaskan tangannya. "Baiklah, aku mau mencari Antika, takutnya dia tersesat di perkebunan." Rendra melangkah panjang hendak menghindari Dendra. "Rendra, tunggu! Kamu tidak bisa pergi begitu saja sebelum menjelaskan semuanya!" Dendra mencoba menahannya. "Kalau terjadi sesuatu pada Antika kamu mau bertanggung jawab?" bukannya menjelaskan dia malah menuntut dengan wajah yang menyebalkan. Sebelum membalikkan badan dia sempat menatap tajam ke arah Nina, aku merasa sepertinya mata itu sedang mengatakan sesuatu sehingga membuat tubuh Nina terlihat semakin tegang. Dendra terpaksa membiarkan Rendra pergi, meskipun ia membutuhkan penjelasan utuh darinya. Dia tidak ingin ada keributan yang akan membuat kakeknya sedih jika mengetahui kalau ke dia orang cucunya selalu bertentangan. Dendra memandangi punggung yang menjauh itu, dia yakin sekali ada sesuatu yang peria itu sembunyikan darinya dan dia menebak, Nina pasti mengetahuinya. "Oh, iya." Rendra menghentikan langkah lalu membalikkan badannya. "Kalau boleh tau, apakah kau sudah benar-benar membenci Antika dan mulai belajar mencintai istrimu?" "Itu bukan urusanmu!" jawab Dendra ketus. "Aku yakin, kamu akan menyesal karena telah membuang Antika!" ucapnya tajam. Dendra tersenyum miring, dia pikir dia tidak akan pernah menyesal telah meninggalkan w************n itu. Dengan mantap Dendra berkata untuk membalas ucapan Rendra. "Aku berharap, aku takkan pernah menyesal karena telah menikah dengan wanita pilihan Kakek yang pasti lebih baik dari isteri yang kau pungut setelah kucampakan." Setelah berkata, secepatnya Dendra menjauhkan diri dari lelaki yang begitu mirip dengannya itu. Terlebih dia mulai muak dengan pembahasan tentang Antika yang tak berkesudahan. Memang diakuinya kalau dia lah penyebab kekacauan ini, tapi di tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Dendra pasti tidak akan membatalkan pernikahan dengan Antika, jika saja Nina tidak mengirimkan video itu. "Oh, iya. Aku belum belum menanyakan siapa yang mengirimkan video itu pada Nina." Dendra baru menyadari kalau dia malah meninggalkan Nina. "Nanti sajalah aku menemui Nina, saat ini aku malas terus berdebat dengan Rendra," gumam Dendra sambil terus melangkah. "Apakah kamu mau tau, siapa yang mengirimkan video itu pada Nina?" tanya suara yang sangat dikenalnya. Rendra tak menyangka ternyata Rendra mengikutinya. Dendra menghentikan langkah dengan tetap berdiri membelakanginya. Rendra memelankan langkahnya terdengar dari tanah yang diinjaknya, kemudian berhenti tepat satu langkah di depan Dendra. "Ngapain dia mengikutiku, bukankah dia tadi hendak mencari Antika, kenapa malah jadi mengikutiku?" Rutuk Dendra di dalam hati. Mata Dendra awas menatap lelaki yang hanya selangkah di depannya. Melihat dari raut wajahnya, Dendra merasa sepertinya dia akan membuat kesal lagi kali ini. "Aku yakin kamu akan terus mempertanyakan tentang siapa pengirim video itu pada Nina dan aku pun yakin Nina saat ini merasa bersalah dan sangat ingin mengakui kesalahannya padamu." Rendra membalikkan badannya setelah mengakhiri ucapannya. Dendra menggeleng dengan senyum kesal di wajahnya. "Sepertinya kamu salah, aku tidak perduli siapa yang mengirimkan video itu pada Nina, dan aku pun tidak akan menyalahkan Nina karena meneruskan video itu padaku." Dendra memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana lalu mengangkat wajahnya dengan penuh keangkuhan. "Aku malah sangat berterima kasih pada Nina karena akhirnya aku tahu siapa calon istriku sebenarnya sebelum ku sahkan menjadi milikku selamanya." "Apa kamu tidak sedih karena gagal menikah dengan wanita yang kamu cintai?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar, meskipun samar namun getarnya masih terdengar di telinga Dendra. Tangan Dendra mengepal karena merasa hatinya bak ditoreh sembilu. Jika ditanya sedih, jawabannya pasti iya. Tapi, dia berusaha menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Untung saja tangannya tersembunyi di dalam saku jadi hanya dia yang bisa merasakan kemarahan dalam genggamannya. "Sedih? Tentu saja tidak. Karena Tuhan langsung memberikan gantinya," jawab Dendra berusaha bersikap setenang mungkin, menekan perasaan yang tak nyaman karena yang keluar dari mulut tidaklah sama dengan yang ada di dalam hatinya. Mana mungkin dia tidak sedih, dia sangat mencintai Antika. Harapannya sangat besar untuk bisa membangun mahligai rumah tangga dan memiliki anak yang banyak bersama wanita pujaannya itu. Meski dia sangat mencintai Antika, tapi kesalahannya tidak bisa diterima. Dia terpaksa membatalkan pernikahan mereka karena tidak sanggup membayangkan tubuh yang didekapnya ternyata bekas orang lain, dan itu sangat menjijikkan bagi Dendra. "Aku tidak menyangka kamu bisa berbohong semudah bernapas, menyatakan tidak bersedih padahal hatimu menangis darah, iya kan?" ucap Rendra sinis. Perasaan Dendra mulai tak nyaman, sepertinya Rendra mulai mencari perkara. Selama ini Dendra sangat menghindari berdebat dengan Rendra, bukannya apa-apa, meladeninya sama saja dengan terjun bebas kedalam jurang yang penuh dengan semak duri, yang menyakitkan tapi tak mematikan. Dendra berpikir sebaiknya kali ini dia kembali menghindar karena dia tidak ingin ada keributan. Apalagi ada kakek di atas yang sedang berbicara serius dengan menantunya. "Kenapa? Kamu mau menghindar lagi? Ck, payah!" Rendra tersenyum sinis. Dendra tidak memperdulikannya, dengan cepat dia membalikkan badan bersiap hendak melangkah.. "Aku! Akulah yang memaksa Nina untuk mengirimkan video itu!" aku Rendra lantang. Sontak kaki Dendra berhenti melangkah dengan sebelah menggantung di udara. Dia sangat terkejut mendengar pengakuan Rendra. "Ya, akulah yang telah mengirimkan video itu pada Nina." Suara Rendra kali ini lebih keras dari sebelumnya. Dada Dendra seketika bergemuruh karena ada pertentangan antara percaya dan tidak pada ucapan Rendra. Saudaranya itu sudah biasa melakukan sesuatu untuk membuat Dendra marah dan bersedih, tapi Dendra rasa tidak mungkin saudaranya akan setega itu, memisahkan dia dan kekasih hatinya. "Oh, ya? Lalu dari mana kamu mendapatkan video itu?" tanya Dendra tanpa membalikkan badan, dia tengah menormalkan napasnya untuk menata hatinya sesaat sebelum melihat wajah Rendra yang menyebalkan itu. "Atau jangan-jangan selama ini kalian memang akrab di belakangku dan lelaki di dalam video itu adalah kamu. Hah, kalau begitu, kalian memang cocok dan pantas menjadi pasangan. w************n dan playboy kelas A," ejek Dendra dengan masih membelakangi Rendra. "Ya, kau benar sekali dalam menilaiku, aku memang lelaki b******k yang menyukai semua wanita. Sayangnya, kau salah menilai orang yang sangat kau cintai dan juga mencintaimu," sesaat dia terkekeh. "Dia ... Antika ... Wanita suci yang keperawanannya kunikmati semalam." "Apa!" Mata Dendra membelaklak karena begitu kaget mendengar pengakuan saudara kembarnya, dia membalikkan badan lalu menatap Dendra dengan pandangan api kemarahan. "Maksud kamu apa?" bentak Dendra dengan matanya yang melotot menelisik mata Rendra, mencoba mencari makna dari ucapannya barusan. Dendra tidak mengerti apa maksud dari perkataan lelaki buaya darat kelas A itu. "Maksudku, Antika memang wanita baik-baik seperti yang selama ini kamu kenal, hanya saja aku tak ingin melihat kau terus berbahagia." Dendra tercengang mendengar pengakuan Rendra yang begitu gamblang. Pandangannya terlihat kian memburam seiring dengan emosinya yang kian meningkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN