Alasan Rendra

1023 Kata
"Ya ... " Rendra merentangkan tangannya "Dari pada aku di jodohkan dengan wanita dekil pilihan kakek, kupikir lebih baik aku menikahi calon istrimu. Di sini aku bisa mendapatkan banyak keuntungan, aku bisa menghindar dari kakek, mendapatkan istri yang cantik dan sekaligus bisa membuatmu menderita. Jadi ... Sengaja aku mengedit sebuah video yang akan membuatmu membatalkan pernikahan kalian." "Rendra!" desis Dendra dengan tatapan tak percaya. Lututnya terasa lemas saat mengetahui kebenaran dari video itu. Rendra tersenyum senang melihat Dendra yang begitu shok. "Ya, video itu, pal ... su!" ucapnya dengan penekanan diakhir kalimat. "Tidak mungkin!" Dendra meremas rambutnya dengan sangat kuat menyatakan betapa hancurnya ia saat ini. "Jika video itu palsu, maka aku telah merusak impian terbesarku, dan aku telah membuat Antika kecewa," rutuknya di dalam hati. "b******k!" Dengan geram Dendra cengkram kerah baju Rendra lalu mengangkat tangan kanannya yang terkepal kemudian secara ia mendaratkan bogem mentah tepat di wajah pria yang telah membuatnya marah. Rendra yang tidak siap jadi terhuyung ketika merasakan serangan bogem mentah yang secara mendadak itu. Bukannya kesakitan lelaki itu malah tertawa seperti sedang mengejek kebodohan Dendra. Dengan tangan kiri dia mengusap darah segar yang keluar di sudut bibirnya. "Marah, ayo Marah! Aku mau lihat seberapa kuatnya dirimu. Hahaha ..." Rendra tertawa membuat Dendra semakin dikepung emosi. Tangan Dendra terangkat merengkuh kepalanya dan dengan d**a yang naik turun menandakan dia sedang sangatlah marah. Bukan hanya pada Rendra, kemarahannya pun tertuju pada dirinya sendiri. Tak henti-henti dia memaki dan menyesali kebodohannya yang tidak mau menuruti pak Fauzan yang memintanya untuk menyelidiki video itu terlebih dahulu. "Rendra! Dendra!" teriak Papa membuat Dendra merasa ototnya kian menegang. "Bisakah hari ini kalian tidak bertengkar?" seru papa yang sedang berada di atas mereka. "Mengapa kau lakukan ini padaku?" tanya Dendra lirih. Dia merendahkan suaranya karena tidak ingin masalah ini diketahui oleh kakek. Dendra sangat takut lelaki tua itu akan bersedih karena melihat kedua cucunya tidak bisa akur. "Aku benci kamu, Dendra! Kamu selalu menjadi kebanggan semua orang. Kamu selalu yang paling disayang! Padahal apa bedanya kita? Semuanya sama! Tapi mengapa hanya kamu yang di lihat sedangkan aku selalu di abaikan!" Rendra berbicara dengan napas yang memburu, matanya memancarkan api kebencian pada Dendra "Kamu juga egois! Semua ingin kamu miliki tanpa mau berbagi denganku! Bahkan masalah nama pun kamu tidak mengizinkan aku di panggil 'Ndra' karena kamu mau aku dipanggil 'Ren', kenapa? Agar kamu bisa mengejek juga menertawakan namaku yang seperti seorang perempuan. Iya, Kan?" geram Rendra dengan suara tertahan. "Astaga! Itu masalah sepele dan itu terjadi di waktu kita masih kecil!" teriak Dendra berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar sampai ke atas. Rendra memaksakan tersenyum, sehingga senyumnya terlihat menyedihkan. "Ya, itu terjadi di waktu kita masih kecil dan itu terus terjadi sampai kini! Kamu selalu saja harus mendapatkan segala sesuatu meskipun itu harus memaksaku untuk mengalah padamu!" Dendra menggeleng kuat, dia tidak menyangka kalau saudara kembarnya berpikir seperti itu. Dia memang selalu berusaha untuk mendapatkan keinginannya, tapi dia tidak menyangka kalau hal itu melukai perasaan kembarannya itu "Aku tidak suka melihat kamu selalu mengalahkanku! Aku tidak suka kamu bahagia! Aku marah karena kamu akan menikah dengan wanita cantik yang sangat mencintai kamu, sedangkan aku? Dipaksa menikah dengan bocah dekil! Tentu saja aku tidak mau! Aku ingin kamulah yang menikahinya!" Rendra menyatakan isi hatinya yang penuh kemarahan.. "Sialnya, ternyata bocah itu ternyata sangatlah cantik dan segar! Sedangkan perempuan yang kunikahi itu sangatlah dingin dan tidak menggairahkan bagaikan patung hidup. Sama sekali tidak menikmati setiap sentuhanku semalam! Menyesal aku menikahinya!" lanjut Rendra. Mendengar itu Dendra tentu saja marah tapi di sisi lain dia senang. Marah karena Rendra telah melakukan hal yang menyebabkan dia gagal menikahi wanita yang sangat dicintainya, Dendra juga senang pada akhirnya lelaki itu merasakan kesedihan akibat dari ulahnya sendiri. "Oh, ya? Kalau begitu, kamu ceraikan saja dia dan kembalikan padaku," sahut Dendra enteng. "Tidak akan! Aku telah bersusah payah membatalkan pernikahan kalian dan menghancurkan kebahagian kamu. Jadi Aku tidak akan pernah melepaskannya apa lagi membiarkan dia kembali padamu. Takkan kubiarkan kamu bisa memiliki kebahagiaan bersamanya!" "b******k, kamu!" Dendra mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat sehingga telapak tangan terasa sakit karena ditekan kuku-kukunya. "Oh, iya. Jangan pernah kamu ceritakan masalah ini pada siapapun, jika tidak ingin wanita yang kau cintai itu kubuat menderita." Ancam Renda. "Apa maksudmu, Mas!" teriak suara yang sangat Dendra kenal, saat menoleh Antika berjalan cepat ke arah mereka. Sesaat, Dendra dan Antika saling pandang. Rasa bersalah memenuhi dadanya saat melihat mata bulat yang berkaca-kaca itu. "Katakan, apa maksud ucapanmu itu!" sentaknya pada Rendra. "Tanyakan saja padanya!" Rendra mengangkat dagunya menunjuk ke arahku. "Ingat, jika kalian memberitahukannya pada orang lain, maka aku akan membuat kalian menyesal seumur hidup!" Ancamnya yang kemudian pergi seenaknya meninggalkan Dendra menatap Antika dengan penuh penyesalan. Setelah kepergian Rendra, Dendra duduk di tangga. Meremas rambutku dengan kasar, sungguh kali ini kepalanya seakan mau pecah, banyak sekali pertanyaan yang ada dalam benaknya perihal apa yang diucapkan oleh Rendra tadi. Rasa bersalah pun tiba-tiba menyeruak begitu saja, bahkan sekarang dia merasakan dadanya terasa terhimpit dan kian sesak saat beradu pandang dengan Antika. "Dendra! Kumohon jelaskan padaku apa maksud dari ucapan Rendra tadi!" pinta Antika dengan setengah memaksa. "Antika, Maaf," ucapnya kelu. "Seharusnya aku tidak mudah mengambil keputusan. Seharusnya aku tidak meninggalkan kamu dipernikahan kita kemarin, seharusnya aku mendengarkan penjelasan kamu. Antika, kumohon maafkan aku." "Ada apa sebenarnya! Jangan membuatku bingung!" bentak Antika sambil mendekati Dendra. Helaan napas panjang begitu berat, seolah ada batu besar yang seakan menghalangi udara masuk ke dalam rongga d**a Rendra. "Aku baru tahu kalau video itu ternyata editan. Rendra sengaja melakukannya agar kita batal menikah." Rendra memukul-mukul kepalanya berulang-ulang. "Ma-maksud kamu. Video itu Rendra yang membuatnya?" Antika menutup mulutnya sementara matanya mengeluarkan bulir-bulir kesedihan di dalam hatinya. Dendra hanya mengangguk lemah menjawab pertanyaan Antika. "Maafkan aku Antika. Seharusnya aku menyelidiki dulu kebenaran video itu. Aku menyesal telah meninggalkanmu di hari pernikahan kita." Dendra terus memukuli kepalanya sendiri. "Kesalahanku sangatlah fatal, telah menghancurkan mimpi dan harapan kita, Antika, Maafkan aku ..." Dendra tergugu menyesali kebodohannya yang mengakibatkan dia kehilangan cintanya. "Tidak perlu menyesali yang telah terjadi, karena semuanya tidak akan bisa kembali seperti semula," desis Antika terdengar begitu menyedihkan. "Antika, ini belum terlambat. Kita bisa kembali bersama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN