Kesalahan Dendra

1165 Kata
"Tidak! Kamu pikir pernikahan bisa dipermainkan!" tolak Antika tegas. "Aku dan kamu telah memiliki pasangan masing-masing, jadi sebaiknya kita jalani tanpa saling mengusik satu sama lain." "Tapi aku mencintai kamu dan kamu pun begitu, kita-" Dendra belum menyelesaikan ucapannya, tapi Antika segera memotongnya dengan tegas. "Sekali tidak tetap tidak!" tegas Antika dengan berurai air mata. "Selain aku tidak mau mempermainkan sebuah pernikahan, aku dan keluargaku juga sudah terlanjur sakit hati padamu! Untung kemarin ada Rendra yang menyelamatkan kami dari rasa malu, jadi tidak mungkin aku meninggalkan Rendra lalu kembali padamu." "Tapi kamu tidak mencintainya, An!" Dendra berkata dengan frustasi. "Aku memang tidak mencintainya tapi aku telah berjanji akan selalu bersamanya," lirih Antika dengan mata yang berkabut tebal. Sekuat hati dia menahan agar air matanya tidak tumpah di hadapan lelaki yang telah menancapkan luka di hatinya. "An!" "Sudahlah, aku dan kamu telah usai. Jadi kumohon jangan pernah ganggu aku lagi. Permisi." Antika pergi menjauh agar Dendra tak melihat air matanya yang mulai mengalir begitu deras. Dendra mengusap wajahnya dengan kasar, kenyataan saat ini membuat semua rasa buruk berpesta pora di dalam dadanya. "Aarrggghhh! Dendra ... Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Dendra memakai diri sendiri,tak hanis dia menyesali diri karena telah meninggalkan perempuan yang sangat dicinta dan mencintainya. Dendra bangkit dengan berpegangan pada dinding tangga kayu, baru juga beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba berhenti karena melihat Maila sedang bersandar di mobil sedang menatapnya tajam. Entah sejak kapan dia disitu, hanya saja dari tatapan matanya membuat Dendra yakin jika bocah itu mendengar pembicaraannya dengan Antika. Dia terus menatap Dendra sehingga membuat lelaki itu jadi salah tingkah dibuatnya. Dendra jadi heran pada dirinya sendiri karena merasa takut istri kecilnya itu akan marah. Maila mendekat dengan tangan bersidekap di d**a, "Em, ternyata ... kamu sama saja sama kembaran kamu iyu!" ucapnya sinis. "Maksud kamu apa?" tanya Dendra tidak terima Maila menyamakan dirinya dengan Rendra. "Saat aku baru datang ke sini, Nana pernah bercerita tentang saudara kembarnya. Dia bilang kalau lelaki yang bernama Dendra itu cuek karena mengutamakan bekerja. Sementara yang bernama Rendra itu royal, perhatian dan playboy. Aku pikir, wajar jika seorang lelaki playboy. Yang penting dia baik dan perhatian. Jadi aku mau saja ketika kakek berniat menjodohkanku dengan bujang tua yang bernama Rendra." Maila berhenti sesaat lalu kemudian melanjutkan ucapannya. "Saat Om Rendra datang." "Apa? Dia memanggil Rendra om? Ah iya, kami ternyata sudah setua itu, bahkan kami lebih cocok menjadi ayahnya." Dendra menertawakan diri sendiri di dalam hati. "Aku sedang berada ke rumah Paman Sikun," lanjutnya. "Begitu Nana mengatakan kalau lelaki yang dijodohkan denganku telah datang, aku jadi senang dan deg-degan. Saat di jalan ketika hampir sampai, kami melihat mobil Rendra." Maila menunjuk ke arah yang dimaksudkannya saat melihat Rendra. "Awalnya Nana akan memanggilnya, tapi kami terdiam saat melihat dia mencium Tini sebelum menaikkan ke mobilnya." Maila bercerita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dendra bisa menebak kemana mereka akan pergi. Seperti biasanya, pasti Rendra akan mengajak gadis itu ke gubuk yang sengaja Rendra buat di sebuah bukit. Tempat yang khusus untuknya menikmati pemandangan alam dan juga tempat menikmati gadis desa. "Aku meminta Nana untuk pulang, sementara aku mengikuti mobil Om Rendra. Karena aku ingin tahu apa yang akan dilakukan calon suamiku dengan gadis yang ada di mobilnya. Hah, aku benar-benar shock saat melihat mereka memasuki gubuk." Dia menatapku tajam. "Kamu tahu tidak apa yang mereka lakukan?" tanya Maila. "Mereka benar-benar menjijikkan!" Seketika Dendra teringat dirinya yang kemarin merasa jijik dengan Antika. Mungkin seperti itulah perasaan Maila saat melihat Rendra dan Tini waktu itu. "Aku memutuskan untuk menolak perjodohan ini, tapi aku bingung mengutarakannya pada kakek. Aku juga tidak tega menceritakan apa yang telah kulihat. Aku takut, kakek akan bersedih saat mengetahui kelakuan cucu yang dibanggakannya." Maila menatap ke atas di mana Kakek Damiri dan Pak Gunawan berada. Dendra terpaku mendengar cerita Maila, melihat kejujuran di matanya yang menyatakan kalau dia benar-benar menyayangi kakek. "Waktu Itu, aku sedang mencuci piring. Aku mendengar suara mobil yang kuyakin itu mobilnya Om Rendra. Jadi dengan sengaja aku mengacak-acak rambut, tak lupa pipiku kutempelkan ke kuali agar hitam. Aku berharap lelaki itu tidak tertarik denganku." "Pantas saja Rendra bilang kalau anak ini dekil, ternyata Maila sengaja melakukannya." Dendra tersenyum membayangkan dia yang wajahnya hitam dan rambut yang berantakan. "Harapanku terwujud, aku senang dia tidak menyukaiku. Akan tetapi aku sedih melihat kakek yang bersedih," lanjutnya. "Lalu, mengapa kamu mau di jodohkan denganku?" tanya Dendra penasaran. Padahal kemarin Maila tahu kalau dia kabur dari pernikahannya. Nyata sekali kalau Dendra bukanlah lelaki yang baik. Maila menghirup udara dengan kuat sehingga terdengar jelas udara yang masuk ke dalam hidungnya. "Aku tidak ingin membuat kakek kembali bersedih, jadi kuputuskan lebih baik menikah dengan lelaki yang gila kerja dari pada dengan lelaki yang gila wanita." Maila tersenyum kecut saat kembali menatap mata Dendra. "Tapi sekarang, nyatanya kalian sama. Lelaki b******n yang tak bisa menghargai sebuah pernikahan." "Sembarangan! Aku tidak sama dengan Rendra. Sampai saat ini aku masih perjaka!" Dendra membela diri, akan tetapi dia menyadari tanpa sadar telah mengatakan hal yang memalukan. Tanpa sengaja dia mengakui kalau umurnya sudah setua ini tapi dia belum pernah menjamah seorang perempuan. "Ya, kamu memang tidak b***t seperti saudaramu, tapi tetap saja kamu tidak menjunjung tinggi pernikahan, kamu dengan sengaja menawarkan diri pada wanita itu." "Itu karena aku mencintainya," bela Dendra. "Oh, ya? Sebaiknya kamu lupakan cintamu itu, jika tidak ingin kakek sedih. Lagian, kamu sekarang sudah terikat dengan perjanjian yang telah kamu setujui." Maila mengingatkan. "Perjanjian itu tidak sah. Aku tidak tahu kalau surat yang ditandatangani kemarin adalah sebuah perjanjian antara aku dan tak tau dengan siapa," tolak Dendra. "Perjanjian itu antara aku dan kamu, yang juga melibatkan kakek juga penduduk desa." Maila memberi tahu. "Terserah!" Dendra beranjak lalu menaiki tangga. Dia tidak perduli dengan surat perjanjian itu karena dia mencintai Antika bukan Maila. "Kalau begitu, aku akan meminta izin pada kakek untuk mengajukan gugatan cerai, jika kamu masih mendekati istri saudaramu itu," ancamnya membuat Dendra berhenti melangkah. "Silahkan. Kamu berhak untuk menentukan hidupmu daripada tersiksa bersamaku." Dendra melanjutkan menaiki anak tangga. "Baiklah, berarti kamu harus bersiap-siap kehilangan segalanya bila nanti kita resmi bercerai," ujarnya terdengar senang. Dia berjalan mendahului Dendra dengan cepat kemudian berhenti pada anak tangga yang terakhir. Dengan berbisik dia berkata, "Jangan menangis jika nanti kamu sudah tidak punya apa-apa lagi. Termasuk Antika, aku rasa dia tidak akan mau dengan duda lapuk yang tak memiliki apapun." Dendra segera menarik tangan Maila saat dia berbalik dan hendak melangkah menuju pintu. "Maksud kamu apa, hah?" "Perjanjian itu, seharusnya kamu membacanya sampai selesai baru menanda tanganinya!" Dia menghentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Dendra. Lelaki itu tercengang tercengang, dia bisa merasakan tenaga bocah dihadapannya ternyata sangat kuat. Sekali sentak saja dia mampu melepaskan diri. Bukan itu saja, kemarin dia mampu menancapkan pisau dapur ke talenan. Perlu tenaga besar untuk bisa menembus talenan kayu itu, tapi dia melakukannya dengan begitu mudahnya. Tatapan matanya pun begitu tajam dan begitu kuat, memperlihatkan betapa tangguhnya dia. Sikapnya pun begitu tenang tidak memperlihatkan kalau dia seorang bocah yang baru saja lulus SMA. "Astaga, siapa dia sebenarnya?" tanya Dendra di dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN