Maila memasuki rumah setelah tangannya terlepas dari Dendra. Sementara Dendra yang mengikuti dari belakang tiba-tiba menghentikan langkahnya karena mendengar pekikan suara Antika. Meskipun tidak jelas tapi Dendra yakin itu suara wanita tercintanya. Dengan cepat Dendra kembali menuruni tangga berlari menuju ke arah sumber suara Antika.
Di belakang rumah dekat kolam Dendra melihat Antika memegangi pipinya dengan deraian air mata. Sepertinya Rendra menampar wanita itu sehingga membuat dia menjerit tadi.
Emosi Dendra meningkat ketika melihat wanita yang sangat dicintainya itu menangis, seketika dia mengepalkan tangan menahan gemuruh di dadanya. Kalau bukan berada di rumah kakek, pasti sudah dia hajar lelaki k*****t itu.
"Ingat! Jika tidak mau melakukan apa yang kumau, kamu tanggung sendiri akibatnya!" Rendra berlalu meninggalkan Antika yang langsung menatap Dendra penuh kebencian.
Dengan cepat Antika berjalan ke arah Dendra lalu memukulinya saat tiba di hadapan pria itu.
"Ini semua salah kamu! Aku jadi begini gara-gara kamu! Kamu jahat! Kamu jahat!" Antika memukuli Dendra dengan membabi buta, dia meraung sejadi-jadinya. Untung saja suara pancuran di kolam bisa menyamarkan tangisan Antika, jika tidak maka semua orang akan berdatangan ke tempat ini.
"Sekarang hidupku hancur! Aku akan menderita selamanya!" Antika terduduk dengan lemas, tersedu-sedu meratapi nasibnya.
Dendra ikut duduk dengan meletakkan lutut di tanah. "Antika, maafkan aku. Ini semua salahku, seandainya aku menyelidiki dulu Vi..."
"Cukup! Kumohon jangan ingatkan aku dengan kejadian kemarin!" potong Antika lalu menutup telinga dan menggeleng kuat.
"Ya Allah, begitu dalam luka yang telah kutorehkan di hati wanita ini sampai-sampai dia tidak mau mengingat apa yang telah terjadi kemarin." Ucap hati Dendra sambil memandangi Antika.
Segera dia raih tubuh yang bergetar itu, membawanya masuk ke dalam pelukannya. "An, maafkan aku," ucap Dendra dengan lidah kelu.
"Mas, kenapa takdirku begini? Aku harus merasakan sakit hati ditinggalkan lelaki yang sangat kucintai dan kini, aku berada dalam genggaman lelaki b******k itu," ucap Antika disela isak tangisnya.
Wanita itu meremas baju Dendra dengan sangat kuat melampiaskan emosi di dadanya. Dendra memejamkan mata beberapa detik, meresapi ucapan Antika yang tentang sakit hatinya karena ditinggalkan lelaki yang sangat ia cintai. Ah, lelaki itu adalah Dia.
"Kamu harus menggugat cerai Rendra secepatnya. Aku janji, jika kalian sudah bercerai aku akan menikahimu, An."
Antika menarik diri dari dalam pelukan Dendra, matanya yang masih basah menatap pria itu sendu. "Aku tidak bisa. Aku tidak bisa, Mas. Saat ini aku berada di dalam genggamannya. Sangat sulit untukku bisa lepas darinya."
"Kenapa tidak bisa?" tanya Dendra cepat.
"Karena ..." Bukannya menyelesaikan ucapannya, Antika malah menutupi mukanya dan kembali menangis sedih.
"An," Dendra menarik tangannya. "Ada apa?" tanya Dendra dengan suara lembut dan menangkupkan kedua telapak tanga di wajah cantik itu.
Antika menggeleng, dia tidak sanggup untuk menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, membuat Dendra menghela napas untuk mengurangi rasa penasaran yang ada di dalam d**a.
Dendra berpikir sebaiknya lain kali saja dia menanyakan lagi, saat ini dia harus menenangkan Antika terlebih dahulu.
Dengan lembut pria itu kembali membawa wanita yang sangat dia cintai ini ke dalam pelukan. Membiarkannya menangis dan menumpahkan semua kesedihannya di d**a Dendra yang bidang.
Untungnya suara gemercik air yang jatuh ke kolam membuat tangisan Antika tak terdengar sampai ke atas. Itu menurut dugaan Rendra, seandainya suara Antika terdengar sampai atas, dia yakin sang ayah dan kakek akan turun dari tadi.
Tidak ada yang keduanya bicarakan, mereka hanya berpelukan beberapa saat hingga kemudian Antika melepaskan pelukannya.
"Mas, apakah kamu mencintai perempuan itu?" tanya Antika dengan wajah sedih.
"Ya, enggaklah. Mana bisa aku mencintainya dalam sekejap," jawab Dendra jujur.
"Berarti berkemungkinan jika kalian sudah lama bersama, kamu akan mencintainya." Antika memalingkan wajahnya, tidak suka dengan jawaban Dendra.
"Ya, enggak gitu juga dong, Sayang." Dendra menarik kembali dagu Antika hingga pandangan keduanya saling mengunci. Pria itu mengusap pipi Antika yang basah, lalu mendaratkan kecupan di kening wanita itu. Reaksi Antika yang tidak menghindar membuat Dendra senang bukan kepalang.
Setelahnya Dendra meraih tangan Antika lalu meletakkan di dadanya. "Di sini, hanya ada kamu sayang." Dendra menepuk-nepuk tangan Antika ke dadanya. "Selamanya. Aku janji, aku akan menjaganya sampai kamu kembali menjadi milikku."
Mata Antika berbinar bahagia dan senyum merekah mendengarnya janji Dendra, pipinya yang merona membuat Dendra gemas. Dengan pelan pria itu mencubit pipi Antika, ingin sekali dia mengecup pipi mulus itu, akan tetapi Dendra masih sadar di mana mereka berada saat ini.
"Tunggu saja, nanti akan kuhujani pipi menggemaskan ini dengan banyak ciuman." tekat Dendra di dalam hati
Sayangnya Dendra tak bisa berlama-lama bersama Antika, karena dia mendengar suara tawa Nana dari kejauhan yang kian mendekat. Begitupun dengan Antika yang juga menyadarinya sehingga dengan cepat wanita itu berdiri dan membetulkan penampilannya.
Dendra pun segera membasahi muka lalu menaiki tangga belakang seolah habis membasuh muka.
"Lebih baik aku menunggu mereka di kamar." Dendra berjalan menuju kamar tanpa memperdulikan Papa dan kakeknya yang masih berbincang dengan seriusnya.
Dendra memilih beristirahat sebentar di kamar, dua hari ini terasa cukup melelahkan baginya. Dia memilih kamar agar bebas untuk beristirahat tanpa gangguan dari siapapun. Sialnya, saat membuka pintu kamar dia melihat Maila sedang berbaring di kasur sembari menatap layar ponsel. Ternyata Dendra melupakan gadis yang tadi menaiki tangga bersamanya.
Terlanjur membuka pintu, Dendra memilih masuk ke dalam kamar. Bocah itu sepertinya tak memperdulikan kehadirannya , dia tetap menatap layar ponsel dengan wajah serius.
"Pelukan sama ipar kok diakhiri, sekalian saja bawa ke kamar, biar tambah mantap pelukannya," sindir Maila dengan mata masih tertuju pada layar ponselnya.
"Beruntung sekali dia yang bisa memeluk dua lelaki secara bergantian. Wajah sama, rasanya beda. Kalau aku jadi dia, sekalian aja dua-duanya kupeluk barengan, biar tambah sedaop." Sindir Maila kembali dan membuat telinga Dendra memanas.
"Ck, apaan sih!" decak Dendra kesal, dia meletakkan ponsel ke atas meja lalu menjatuhkan berat badannya ke atas kasur.
"Jaman sekarang orang sudah makin gak bener, sudah tau punya suami, pakai jilbab lagi, tetapi kelakuannya sama aja kayak perempuan murahan."
"Maksud kamu apa?" Timpal Dendra yang mulai kesal saat Maila menyinggung tentang Antika, dia tidak terima jika bocah ini menilai buruk Antika seenaknya.
Dendra kemarin telah salah menilai, memandang jijik pada Antika sehingga membuatnya gagal memiliki wanita itu. Tapi kali ini, Dendra tidak akan menilai buruk pada Antika, begitupun juga dengan orang lain. Tidak ada yang boleh menilai buruk pada wanita yang sangat dia sayangi itu.
"Begitu juga dengan lelaki jaman sekarang, sudah tau punya bini, tetap saja kegatelan sama perempuan lain. Tidak perduli siapa pun perempuannya. Kuntilanak pun kalau didandani, meski tau punya genderowo tetep aja diembat. Dasar!"
Dendra mendelik pada bocah yang masih berkutat dengan ponselnya. Dendra tidak tau apa maunya bocah ini, mulutnya sangat pedas dalam mengomentari hidup orang lain.
Dengan kesal Dendra melempar bantal yang tepat mengenai wajah Maila. Karena tidak terima, gadis itu pun membalas melempari pria yang sudah sah menjadi suaminya itu dengan bantal dan guling secara membabi buta.
"Dasar lelaki b******k, buaya darat kegatelan!" Makinya dengan napas terengah-engah.
Gadis itu mengambil satu bantal lagi lalu melemparkannya pada Dendra yang dengan mudah dihindarinya. Dengan perasaan senang, Dendra menjulurkan lidah mengejek Maila yang sedang menatap Dendra seakan hendak menelannya hidup-hidup.
Maila lantas mengangkat ponselnya tinggi-tinggi hendak melemparkan pada Dendra, lelaki itu bersiap menghindarinya, mengantisipasi jika benda keras itu mengenai keningnya. Tapi Maila langsung mengantongi ponselnya lalu mengambil ponsel Dendra yang sejak tadi tergeletak di atas meja.
"Eh, jangan!" pekik Dendra kaget ketika Maila hendak melemparkan ponselnya.
Dendra segera bangkit karena melihat Maila tidak sedang bermain-main, gadis itu benar-benar akan menimpuknya dan dia harus menyelamatkan benda yang banyak menyimpan kenangan dirinya bersama Antika itu.
"Heh, bocah! kembalikan ponselku!" Dendra berusaha merebut ponsel dari tangan Maila.
Dengan lihainya gadis itu dapat menghindari Dendra, pria itu terkesiap saat melihat ponselnya bersiap akan di lemparkan Maila ke jendela. Dengan sekuat tenaga Dendra menarik Maila sehingga mereka terjatuh di atas kasur dengan posisi gadis itu menimpa tubuh Dendra.
Hal yang paling mengejutkan ketika bibir tipis Maila mendarat tepat di bibir Dendra, membuatnya menahan napas karena ini adalah pertama kalinya dia mencium bibir seorang wanita. Sesaat keduanya terdiam dengan napas yang tertahan.