Mata Dendra melotot dengan dadanya yang berdentum hebat saat merasakan lembutnya bibir yang menempel tepat di bibirnya itu.
Dada yang berdegup bertalu-talu itu tiba-tiba seakan berhenti mendadak ketika mendengar suara pintu yang di buka.
"Ka-kalian!" seru Nana kaget.
Dendra dan Maila terlonjak kaget karena mendengar suara Nana. Dengan cepat Dendra mendorong tubuh Maila lalu berdiri dengan agak oleng.
"I-ini tak seperti yang kamu lihat. Tadi ka-" Dendra mencoba membela diri tapi Nana dengan cepat berkata memotong ucapanku.
"Aduh maaf. Aku malah menganggu kalian. Sok, kalian silahkan lanjut lagi." Nana langsung kembali menutup pintu.
"Ah, kacau! Nana pasti salah paham. Sepertinya dia menduga tadi kita sedang berciuman."
Dengan kesal Dendra mengambil ponsel dari tangan Maila lalu berjalan cepat keluar dari kamar yang dianggapnya terkutuk ini. "Hah, sial. Bisa-bisanya ciuman pertamaku terjadi dengan begitu buruknya. Padahal, aku bersusah payah menahan nafsu untuk mencicipi bibir wanita sampai berumur tiga puluh sembilan tahun, aku menginginkan sebuah ciuman pertama yang indah dan mengesankan. Tapi kini? Hahhhhh! Menyebalkan!" rutuk Dendra di dalam hati.
Saat keluar kamar, terlihat Nana dan yang lainnya tengah duduk menikmati bolu kukus buatan Maila.
"Eh, kok sudah keluar kamar. Wah, gara-gara aku tadi kalian jadi batal ayang-ayangan, ya," celetuk Nana dengan nada menyesal.
Dendra menekuk wajahnya mendengar Nana yang sembarangan saja berbicara, padahal ada Antika di situ. Lelaki itu jadi kesal pada Nana karena takut Antika akan salah paham.
"Lagian aku si asal masuk aja. Kan, jadi ngeliatin yang lagi proses bikin anak deh akhirnya." Nana tertawa cekikikan.
Rendra menatap Dendra penuh selidik sementara Antika memalingkan wajahnya sehingga Dendra tidak dapat melihat ekspresi wajahnya saat ini.
"Sayang." Rendra beringsut duduk lebih menempel pada Antika. "Aku juga mau mengulangin kayak yang semalam, tapi jangan di sini, takut digangguin sama Nina." Rendra sepertinya sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Dendra.
"Yah, yang pengantin baru. Yang lagi hangat-hangatnya, bikin iri saja." Nana memutar matanya.
"Makanya buruan nikah! Enak, tiap malem kelonan terus. Iya kan, Yang." Rendra memeluk Antika dari belakang lalu menciumi pucuk kepalanya secara bertubi-tubi. Sepertinya ia sengaja melakukannya untuk membuat Dendra cemburu.
Dendra rasanya ingin memisahkan mereka karena melihat reaksi Antika yang tidak nyaman tapi tidak bisa menolak perlakuan suaminya itu. Akan tetapi Dendra sadar diri, dia tak punya hak untuk melakukannya. Niat hatinya ingin pergi tapi akhirnya ia menjatuhkan tubuh di kursi dengan mata tertuju pada Rendra.
"Halah, kamu mah sebelum nikah, memang sudah biasa kelonan." Dendra tersenyum sinis.
"Ya, setidaknya aku sudah puas mencicipi perempuan lain, dan kali ini, aku hanya akan menikmati istriku saja. Karena dia luar biasa bisa memuaskanku." Kali ini Rendra membalikkan badan Antika sehingga dengan mudah dia mencium bibir Antika.
"Rendra!" tegur Nana dengan mata melotot. Dia yang duduk di samping Dendra tak habis pikir dengan ulah saudaranya yang begitu berani mengumbar kemesraan di depan mereka.
Akan tetapi Rendra mengabaikan teguran Nana, dengan santainya dia melumat bibir wanita yang telah halal baginya.
Sementara Dendra jadi terbakar emosi ketika melihat bibir Antika yang dilumat Rendra dengan rakusnya. Bibir yang selalu dihayalkan dan juga diimpikannya, yang selalu dijaganya agar bisa menciumnya untuk pertama kali di malam pertama mereka. Namun nyatanya, kini dia terpaku menatap bibir itu yang begitu dinikmati oleh Rendra.
"Woi! Jangan di sini dong! Ada anak kecil ini!" tegur Nina membuat Rendra menghentikan aksinya. Tapi tak lama kemudian dia malah melanjutkan kembali berciuman dengan Antika.
Dendra merasa aneh karena Antika malah memejamkan mata dan membalas ciuman Rendra. Padahal Rendra sudah menamparnya tadi.
Seketika d**a Dendra terasa panas karena terbakar api cemburu. Untung tidak lama kemudian Mama pulang sehingga semuanya tidak harus melihat kemesraan mereka lebih lama lagi.
"Assalamualaikum." Mama masuk dengan beberapa kantong kresek yang terlihat cukup berat.
"Ini ada buah, dikasih sama warga." Mama meletakkan buah yang masih dalam kresek ke atas meja. "Kalian lagi membicarakan apa sih. Kok, kayaknya seru amat."
"Ini loh, Tante-"
"Nana!" Dendra langsung membekap mulut Nana sehingga dia tidak bisa berbicara lagi.
"Apaan sih?"tanya Mama penasaran.
Dendra merasa aman ketika melihat wajah Nina yang menampakan ketidakpeduliannya, biasanya dialah yang paling getol membuka aib Dendra. Tapi hari ini dia terlihat begitu berbeda, dan dendra tidak suka dengan perubahan sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa, Mah." Dendra memelototi Nana.
"Oh, iya. Mama akan pulang. Kalian gimana?" tanya Mama pada Rendra dan Antika.
Melihat mereka tengah berbicara aku punya kesempatan untuk mengancam Nana. "Awas kalau kamu menceritakan kejadian di kamar tadi pada orang lain, kamu akan merasakan kemarahanku yang sebenarnya. Kamu mau?"
Nana menggeleng, tangannya terangkat dengan jari telunjuk dan jari tengah terbuka membentuk angka V sebagai simbol dia berjanji akan menuruti apa kata Dendra. setelah yakin dia tidak akan bercerita
Dendra baru melepaskan bekapan tangannya. Dia takkan membiarkan orang lain tahu tentang ciuman pertamanya yang begitu buruk.
"Kamu, Na. Mau minep di sini atau mau pulang bareng?" tanya Mama pada Nina yang sedari tadi hanya diam saja.
"Barengan sajalah," jawab Nina pelan.
"Ya sudah, kalau begitu sana kalian cari Kakek. Biar kita ngobrol dulu sebelum pamit," perintah Mama entah pada siapa.
"Aku saja yang nyari Kakek." Dendra langsung berjalan tanpa menunggu persetujuan dari mereka.
"Tadi Kakek dan Papa pergi ke rumah paman Sikun," teriak Nana memberi tahu.
Benar apa kata Nana, aku melihat orang yang kucari tengah serius berbincang-bincang dengan beberapa orang warga. Saat melihat kedatangan Dendra, mereka langsung menghentikan pembicaraan. Namun tadi Dendra sempat mendengar paman Sikun berkata, "Habisi saja mereka!" tidak terlalu jelas namun
dia yakin itu yang beliau katakan sebelum mereka terdiam karena kehadiran Dendra.
Dendra tersenyum lalu menundukkan kepala pada warga tapi dengan kompak kelima lelaki bertato itu ikut menunduk dan tidak mengangkat kepalanya lagi. Dendra menatap Paman Sikun yang tersenyum ramah.
"Duduk, Nak Dendra." Paman Sikun mempersilahkan lelaki yang batu saja tiba itu untuk menduduki salah satu dari dua kursi kosong yang berada di dekat Dendra.
Untuk menghormati paman Maila, Dendra duduk lalu berkata. "Kek, Mama dan yang lainnya sudah mau pulang. Katanya mereka mau pamitan."
"Baiklah, kalian lakukan sesuai dengan rencana awal. Jika gagal, maka lakukan rencana B. Ingat! Manfaatkanlah kesempatan ini sebaik mungkin," tutur kakek sebelum berdiri.
Semua lelaki yang berbadan kokoh di hadapan kakek mengangguk hormat secara serempak. Mereka sepertinya sangat menghormati Kakek yang bersikap sangat berwibawa dan tegas, dan sepertinya merekapun melakukan hal yang sama denganku. Mereka menunduk hormat pada Dendra, sehingga hati Dendra bertanya-tanya. "Mengapa mereka menunduk hormat padaku? Apa ini hanya perasaanku saja?"
Dalam perjalanan pulang Dendra terus teringat akan perkataan kakek tadi, dari pada mati penasaran Dendra lalu menanyakannya pada kakek.
"Kek, sebenarnya kakek dan warga punya rencana apa?" tanya Dendra yang berada di urutan paling belakang.
Kakek menghentikan langkah kemudian membalikkan badannya. Papa yang berada di tengah langsung mundur sehingga Dendra dan kakek saling berhadapan.
"Ini rencana rahasia, apakah kamu mau tau?" Kakek menatap Dendra sangat tajam. Selama menjadi cucunya baru kali ini dia merasa kalau kakek bukanlah kakeknya. Sikapnya yang biasanya hangat dan lembut kini terlihat tegas dan garang.
Dengan gelagapan Dendra menggeleng, dia memilih lebih baik tidak mengetahuinya dari pada nanti dia akan terlibat dalam rencana kakek itu. Bersusah payah dia menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang tercekat. Rasanya dia seperti sedang berhadapan dengan seorang pembunuh berdarah dingin yang menakutkan.
"Kami berencana untuk melakukan pembunuhan." Kakek tetap memberitahukan meski tadi Dendra telah menggeleng menyatakan tidak mau tahu dengan rencana mereka.
"Apa? Pembunuhan?" Dendra memindai kakek dari atas sampai bawah. Mungkinkah kakek tua ini berniat melakukan pembunuhan? Untuk apa? Apakah dia mampu?