“Jangan lagi kecewain aku, Ra.” Pinta Langit masih dengan posisi aku memeluk tubuh polosnya. “Janji, nggak akan lagi.” Ujar ku tulus, mana sanggup aku gituin Langit sekali lagi, gini aja udah misuh-misuh nggak jelas. Aku mengecup d**a kiri nya pelan. Lalu bangun dari atas tubuh Langit. “Mandi dulu sana gih.” “Mandiin….” Ujarnya merengek. Aku mengernyit jijik. “Jijik tahu nggak sih.” Langit terbahak keras mendengar penuturan ku. Senang aku, akhirnya setelah beberapa jam aku lewati dengan suasan menye-menye, dimusuhi oleh pacarku karena kebodohan aku sendiri, kini aku bisa mendengar suara tawa lepasnya lagi. Dia bisa terbahak bebas gitu setelah tadi melayangkan nyinyiran pedas nya. Aku fine beb, setidaknya kita sudah baikan sekarang. Langit beranjak dari sofa dan masuk kedalam kamar n

