Siang ini, Jordiaz mencapai titik jenuh. Ia menolak menjalani pendidikan tambahan. Alhasil ia diomeli Zakaria di h adapan orang banyak. Amanda bukanya mem bela, malah membujuknya untuk semangat mengenyam pendidikan. Jordiaz mau tak mau tetap menjalaninya, dan segera berlari ke kamar Zaldi setelah selesai. Zaldi sangat mengerti perasaan Jordiaz. Dulu setidaknya dua atau tiga hari sekali mereka bisa saling membagi keluh kesah. Tapi sekarang? Mereka bahkan berkuliah di k ampus yang berbeda. Bertemu sa tu bulan sekali saja sudah syukur. "Mas!" Zaldi menggoyangkan lengan Jordiaz. "Yaudah kalo nggak mau bangun. Tapi geser!" Bukannya segera bergeser, Jordiaz malah menepuk-nepuk sisi sebelahn ya yang kosong. Ia melakukannya, masih dengan posisi bergulung, dan mata terpejam. "Fine!" Zaldi menur

