Aldillo baru saja selesai meeting bersama perusahaan tambang yang menawarkan kerjasama dengan Kusuma Corp. Sebelum kembali ke kantornya, ia menanyakan pada sekretarisnya untuk jadwal selanjutnya, dan ternyata Aldillo memiliki waktu kosong siang ini. Terlintas dipikiran Aldillo untuk mengajak Juwita makan siang bersama. Selama ini, Juwita yang selalu mengajak bertemu lebih dulu. Tapi kali ini Aldillo berinisiatif untuk memulai terlebih dahulu.
Aldillo mencoba menghubungi Juwita dengan ponselnya namun sedari tadi tidak tersambung. Kemudian ponselnya berdering yang ia pikir itu dari Juwita. Seketika ia menahan kecewa ketika melihat nama pada layar ponselnya yang tak sesuai dengan harapannya.
Wajah Aldillo memucat setelah menerima telepon yang ternyata dari asisten pribadi Daniel Nuraga yang mengabarkan bahwa Juwita dan Sofia mengalami kecelakaan maut dan meninggal di tempat kejadian.
Aldillo bergegas menuju rumah sakit tempat jenazah mama dan tunangannya itu berada. Ketika tiba di rumah sakit, Daniel dan Sabina sudah lebih dulu berada disana.
Sedangkan Alfandy yang sedang di Mumbai mengalami trauma berat ketika mendapat kabar istrinya meninggal dunia karena kecelakaan. Alfandy pingsan dan tak sadarkan diri selama beberapa jam dan langsung dirujuk ke rumah sakit yang berada di Singapura oleh dokter pribadinya. Sehingga Alfandy melewatkan prosesi pemakaman Sofia dan juga Juwita.
***
Aldillo merasa sangat hancur. Ia berada di titik terberat dalam hidupnya. Dimana dia harus kehilangan Ibu dan juga tunangannya dalam waktu bersamaan. Juga kondisi kesehatan papanya yang semakin memburuk. Alfandy masih menjalani perawatan di Singapura. Alfandy mengalami trauma psikis yang teramat karena kesedihan yang mendalam akibat kematian istri yang sangat dicintainya. Alfandy sering berhalusinasi seolah-olah Sofia masih hidup. Maka dari itu Alfandy membutuhkan perawatan yang intensif untuk memulihkan kesehatan pikirannya. Semenjak itu, semua kendali perusahaan dipegang oleh Aldillo. Kesibukan Aldillo menjadi berkali-kali lipat. Larut dengan kesibukan dan pekerjaannya, Aldillo mulai bisa menepi dari kesedihannya, walaupun tidak bisa sepenuhnya melupakan kejadian paling menyakitkan dalam hidupnya. Ditengah kesibukannya, Aldillo selalu berupaya menyempatkan diri untuk bisa mengunjungi papanya di Singapura. Seperti saat ini, Aldillo sudah dua hari tinggal di rumah tempat papanya mendapat perawatan. Alfandy memang tidak dirawat di rumah sakit, melainkan di sebuah rumah pribadinya yang berada di Singapura.
"Aldillo, kamu di sini? Kapan kamu tiba? Kenapa gak kasih tau Papa, nak?" Alfandy terkejut melihat putra semata wayangnya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya.
"Pa, Aldillo kan sudah dua hari di sini menemani Papa. Hari ini aku mau kembali ke Jakarta, dua minggu lagi aku akan mengunjungi Papa lagi ya..." Aldillo mengusap-usap punggung tangan papanya yang masih berbaring di ranjang.
"Al, dimana Mamamu? Beri tau dia tidak usah buatkan teh untuk Papa. Papa sedang tidak ingin minum teh pagi ini." Aldillo merapatkan bibirnya. Hatinya seperti tercubit melihat kondisi papanya yang masih seperti ini.
"Pa, kita sama-sama kehilangan. Kita sama-sama sedih. Kita merasakan sakit yang sama. Mama sudah tidak ada, Pa. Aku mohon Papa bisa menerima kenyataan ini. Ikhlas Pa..." Batin Aldillo meracau.
Ingin rasanya Aldillo mengucapkan kalimat tadi untuk menyadarkan Alfandy. Tapi lidahnya tertahan saat melihat wajah pucat dan tatapan kosong papanya. Hatinya sangat sakit melihat satu-satunya orang yang ia cintai seperti ini.
"Baik Pa, Dillo pulang dulu yaa..."
Alfandy hanya menganggukkan kepalanya lalu memutar posisi tubuhnya menjadi membelakangi Aldillo dan kembali memejamkan matanya.
***
Semenjak kabar kehancuran Aditama Group, Panji bergegas pergi dengan terburu-buru dan hingga saat ini belum juga kembali lagi. Panji seolah menghilang tanpa jejak. Gabriella dan Thania pun kebingungan hendak mencari kemana lagi. Terlebih sekarang ini kondisi finansial mereka sangat mengkhawatirkan. Tiga hari setelah Panji pergi, datanglah dua orang debt collector yang memberikan berkas-berkas hutang Aditama Group yang harus ditanggung Panji serta ahli warisnya. Mereka juga memperingatkan Gabriella dan Thania untuk segera keluar dari rumah yang mereka tempati dalam waktu lima hari kedepan. Karena rumah tersebut akan dilelang. Entah harus bagaimana lagi langkah yang akan diambil oleh ibu dan anak itu, apalagi mereka tidak memiliki sanak saudara satu pun.
"Mama mau kemana?" Thania nampak bingung melihat Gabriella yang sudah berpakaian rapih.
"Thania, Mama harus pergi menemui teman Mama."
"Teman Mama? Yang mana Ma? Aku ikut yaa..."
"Tidak nak, kamu tunggu saja di rumah. Dan ini, cincin pernikahan Mama. Kamu simpan saja dulu. Atau kamu iklankan saja di Snopee, Tokosedia, Bukanlapak, Ladaza atau platform jualan lainnya. Siapa tau harganya bisa lebih tinggi dibanding dijual di tokonya."
"Tapi Ma, ini kan cincin pernikahan Mama dan Papa. Masa harus dijual?"
"Tidak apa-apa Sweety. Lumayankan buat menambah uang pegangan kita. Nanti kalau sudah terjual, kita harus cepat mencari rumah kontrakan untuk kita tinggal. Yang sederhana saja. Yang penting kita tidak kepanasan dan kehujanan. Ya sudah Mama pergi dulu ya."
"Tapi, Mama akan kembali kan?"
"Of course Sweety. Kenapa bicara seperti itu nak? Apapun yang terjadi Mama tidak akan meninggalkan kamu. Never!" Gabriella memeluk menenangkan Thania.
"Thania takut Mama seperti Papa. Yang pergi lalu tidak kembali lagi. Bahkan kita tidak tau dimana keberadaannya sekarang." Tangis Thania pecah begitu ia mengingat saat terakhir bertemu papanya. Terasa perih dalam hati Gabriella melihat putrinya terisak. Juga amarah yang membara kepada seseorang yang membuat keluarganya berantakan seperti ini. Ya, Gabriella tahu persis siapa pelaku dibalik kehancuran bisnis suaminya. Dikecupinya puncak kepala putri semata wayangnya itu. Thania makin mengeratkan pelukan kepada mamanya seolah tidak mengizinkan Gabriella pergi.
"Papa pasti akan kembali Sayang, kita pasti bisa berkumpul lagi. Sudah, jangan menangis lagi. Kita harus kuat menghadapi ini. Mama pamit pergi ya."
Gabriella pergi dengan menggunakan taksi online. Karena semua kendaraan miliknya sudah disita bank. Setelah dinyatakan bangkrut, seluruh aset dan tabungan atas nama Panji dan keluarganya disita. Termasuk kartu kredit dan debit miliknya juga ikut diblokir oleh pihak bank. Kebiasaan keluarga Aditama yaitu jarang sekali memiliki uang cash. Mereka selalu menggunakan e-money, kartu kredit, maupun debit. Jadi disaat situasi seperti ini, Gabriella dan Thania jadi kebingungan untuk melanjutkan hidup mereka. Satu-satunya yang bisa dijadikan uang yaitu cincin pernikahan milik Gabriella. Walaupun dahulu Panji dan Gabriella pernah berjanji, sesulit apapun kehidupan mereka nanti, Panji dan Gabriella tidak akan pernah menjual cincin pernikahan mereka. Tapi kini Gabriella berubah pikiran,.
"Biarlah cincin itu dijual, Panji pasti akan mengerti kalau aku terpaksa menjualnya untuk bertahan hidup bersama Thania" ucap Gabriella dalam hatinya.
"Maaf Bu, ini sudah sampai. Sudah sesuai titik di aplikasi."
Sopir taksi online itu berkata membuyarkan lamunan Gabriella. Gabriella memperhatikan sekitarnya. Ia merasa heran kenapa harus bertemu di tempat seperti ini. Tadi Gabriella lupa mengecek lokasi yang dibagikan orang tersebut di ponselnya.
"Coba tolong dicek sekali lagi Pak, apa betul ini tempatnya sudah sesuai aplikasi?" Gabriella masih ingin memastikan.
"Iya Bu, ini sudah sesuai titik. Saya juga tadinya bingung kenapa tujuan berhentinya di pinggir jalan tol seperti ini. Tapi tadi sebelum berangkat Ibu bilang jalan saja sesuai aplikasi. Jadi Saya menurut saja sesuai instruksi dari Ibu."
"Sebentar ya Pak, Saya coba hubungi teman Saya dulu."
Saat Gabriella akan menghubungi seseorang, tiba-tiba kaca jendela mobil yang ia tumpangi diketuk oleh seseorang berkacamata hitam dan memakai masker. Gabriella menoleh kearahnya dan juga kearah belakang mobil. Dilihatnya mobil sedan hitam dengan plat nomor yang dia ketahui. Lalu Gabriella membuka pintu mobil.
"Ayo El. Dan ini," ucap Pria itu mengajak Gabriella dan menyerahkan lima lembar uang pecahan seratus ribuan kepada sang sopir.
"Ini kebanyakan Pak, ongkosnya hanya seratus lima puluh ribu."
"Ambil saja untukmu. Ayo cepat Eliza!" Laki-laki itu mencoba menggandeng tangan Gabriella dan langsung ditepis oleh Gabriella.
"Aku bisa sendiri! Jangan coba-coba menyentuhku!" Gabriella mengikuti pria itu pindah ke mobil sedan dibelakang taksi online yang ia tumpangi. Gabriella duduk di kursi depan samping pengemudi, dan tentu saja pria tadi yang akan mengemudikan mobil ini. Setelah berada di dalam mobil, tanpa basa-basi Gabriella langsung bertanya pada intinya,
"Cepat katakan dimana suamiku?"
"Wohooo... Kau sungguh tidak sabaran El. Kita masih memiliki banyak waktu untuk berbicara dan kau langsung pada intinya. Bahkan kau tidak menanyakan kabarku terlebih dahulu. Bagaimana dengan kabarmu Eliza?"
"Aku tidak peduli padamu dan aku tidak ingin membuang waktu denganmu. Katakan saja dimana Panji berada? Dan ya, jangan pernah memanggilku dengan nama Eliza lagi!"
"Hahaha... lalu haruskah aku memanggilmu Gabriella? Gaby, begitu? Atau kau lebih suka dipanggil Nyonya Panji Aditama?" Laki-laki itu tertawa mengejek menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Siapa pun namamu kini, bagiku kau tetaplah Elizabeth Carl. Wanita yang dulu dan sampai saat ini masih aku cintai," ucap laki-laki itu menyeringai.
"Kau tidak mencintaiku. Kau hanya terobsesi padaku! Sekarang katakan DIMANA SUAMIKU???" Gabriella berteriak keras tak mampu menahan emosinya.
"Tidak akan semudah itu Eliza! Sudah bersusah payah aku memisahkan kau dan suamimu yang sekarang miskin itu. Tidak akan kuberi tahu dimana Panji berada!" Senyuman licik jelas tergambar di wajahnya.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan itu pada suamiku? Kenapa kau mengusik hidupku lagi? Panji sama sekali tidak bersalah."
"Dia bersalah El! Dia yang sudah mengambilmu dariku. Dia yang mengubah identitas Elizabeth Carl menjadi Gabriella Wilson sehingga aku sulit menemukan jejak dirimu. Dia yang sudah mencuri semua impian kita untuk bisa hidup bersama-sama. Dia bersalah Eliza!"
"Tidak! Kau salah. Apa kau lupa caramu memperlakukanku? Bukan dia yang mengambilku darimu, tapi akulah yang sengaja lari darimu. Aku yang meminta bantuannya untuk mengubah identitasku supaya kau tidak akan pernah bisa menemukanku. Dan kita tidak pernah memiliki impian untuk hidup bersama! Ini semua hanya tentang dirimu yang terobsesi padaku."
"Tapi takdir mempertemukan kita sekali lagi, Eliza. Kali ini kau pasti menjadi milikku. Bukankah sudah kukatakan padamu waktu di pesta pertunangan di pulau milik Kusuma Corp? Kau ingat kata-kataku?"
Gabriella hanya tertunduk saat mengingat kejadian dimana saat pertama bertemu dengan pria ini, dia sangat terkejut dan akhirnya ia meminta keluarganya untuk membatalkan liburan mereka demi menghindari pria ini. Air matanya tak lagi bisa dibendung. Rasanya dia sudah kehabisan energi dan kata-kata untuk menghadapi pria gila disebelahnya yang sangat terobsesi pada dirinya.
"Sssttt... Don't cry baby. Sebenarnya aku tidak suka menghancurkan seseorang. Tapi aku terpaksa melakukan itu karena kau yang tidak mau menuruti kata-kataku. Aku sudah mengatakan kembalilah kepadaku Eliza. Akan kupastikan kau bahagia bersamaku. Dan jika kau tidak mau, aku pun bisa melakukan apapun termasuk menghancurkan Panji dan perusahaannya. Tapi kau seolah menantangku dan mengatakan apapun yang terjadi, kau akan selalu setia di sisi Panji. Alasanmu sungguh membuatku muak. Tapi lihatlah sekarang! Bagaimana bisa kau setia di sisi suamimu yang bahkan kau tidak tau keberadaannya." Lagi-lagi Pria itu tertawa mengejek. Gabriella tak menjawab. Ia hanya diam menutup rapat mulutnya. Rasanya, apapun yang Gabriella ucapkan akan sangat percuma. Tiba-tiba ia teringat Thania, lebih baik ia segera pulang daripada membuang waktu bersama mantan pacarnya yang psikopat ini.
"Hentikan mobilnya. Aku tidak sudi membuang waktuku dengan orang yang tidak waras sepertimu." Bukannya berhenti, pria itu malah menambah kecepatan mobilnya.
"AKU BILANG HENTIKAN, ATAU AKU AKAN MELOMPAT!!!" Gabriella kembali berteriak. Mengambil ancang-ancang untuk membuka pintu mobil. Dan ancamannya berhasil. Pria gila itu seketika menghentikan mobilnya. Gabriella langsung turun dari mobil dan berlari menjauh. Pria itu langsung mengejarnya.
"Eliza tunggu, kembalilah kepadaku El! Kau tak akan bisa lari lagi dariku."
"Aku lebih baik mati daripada harus bersama denganmu lagi!"
Gabriella terus berlari . Napasnya mulai terengah-engah. Ia menoleh sedikit dan terlihat pria itu juga berlari semakin mendekat. Sialnya ini masih di jalan tol dan Gabriella tidak tau harus berlari kemana. Sedangkan sisi jalan tol ini hanyalah hamparan sawah. Kakinya mulai terasa lemas. Akhirnya Gabriella berhenti, tidak sanggup lagi meneruskan larinya. Gabriella berhenti tepat di atas jembatan dengan aliran sungai yang cukup deras dibawahnya. Terlintas di kepalanya untuk sekali lagi mengancam pria itu yang kini antaranya hanya berjarak beberapa meter saja.
"Berhenti di situ dan jangan mendekat! Atau aku akan melompat ke sungai ini." Seolah mengabaikan yang dikatakan Gabriella, pria itu malah semakin mendekat.
"Kau tak akan bisa kemana-mana lagi, El. Dan berhentilah mengancamku! Jangan memaksaku melakukan hal yang semestinya tidak kulakukan padamu." Pria itu melangkah semakin dekat dan Gabriella pun juga melangkah mundur.
"Kau lebih memilih kematianmu daripada kembali bersamaku, El? Apa kau tidak memikirkan nasib putrimu? Ayahnya menghilang entah kemana dan ibunya tewas tenggelam di sungai. Oh, sungguh malang sekali nasibnya. Siapa namanya? Ah ya, Thania. Dia sangat cantik. Dia mirip sekali denganmu Eliza. Kau tau, saat di pulau aku sangat terkejut melihatnya dan kupikir itu kau yang tetap awet muda. Sehingga aku menyapa dengan nama Eliza. Raut wajah kebingungannya sangat menggemaskan. Persis sekali dirimu saat muda dulu."
"Kau sudah merenggut kebahagiaanku, menghancurkan suamiku, dan jangan coba-coba menyentuh putriku. Sudah kukatakan aku tak akan pernah bersama denganmu . Bahkan kematian jauh lebih baik bagiku daripada kembali padamu!"
***
Thania baru saja kembali dari menjual cincin mamanya di toko perhiasan. Thania lebih memilih menjualnya langsung daripada diiklankan melalui aplikasi online, karena ia sangat butuh uang hasil penjualan cincin itu. Jika dijual secara online, mungkin bisa saja harganya lebih tinggi. Tapi entah kapan cincin itu bisa terjual. Thania merasa lelah hari ini, ia ingin tidur sebentar. Baru saja Thania akan memejamkan mata, ponselnya berdering yang ternyata panggilan dari mamanya.
"Halo Ma, Mama dimana sekarang?"
"Selamat siang. Kami dari pihak kepolisian, ingin mengabarkan bahwa Ibu Gabriella Wilson ditemukan meninggal dunia karena tenggelam di sungai, diduga karena bunuh diri."