Mentari pagi ini sedikit malu-malu menampakkan sinarnya di balik awan kelabu. Cuaca pagi yang mendung mungkin membuat sebagian orang sedikit enggan dan bermalas-malasan untuk memulai hari. Tapi tidak dengan Thania dan keluarganya. Mereka sudah berada di ruang makan untuk sarapan bersama dan memulai rutinitas mereka sehari-hari.
Thania mengambil dua lembar roti tawar di hadapannya. Ia sedikit tersenyum sambil memilah selai rasa apa yang akan dioleskan pada rotinya. Aura bahagia jelas terpancar dari wajahnya. Bagaimana tidak bahagia, kerinduannya pada pria yang dicintainya membuahkan mimpi manis di tidurnya malam tadi.
"Cuaca sedang mendung tapi sepertinya cuaca hati anak Papa sedang berbunga-bunga? Butuh teman ceritakah?" Panji yang sebenarnya kepo berdalih menggoda Thania. Thania hanya menggelengkan kepalanya membuat Panji semakin penasaran.
"Apa alasan dari senyummu adalah seorang laki-laki? Oh ya, teman laki-lakimu yang di pulau waktu itu ya?" Panji mencoba menerka.
"Certainly! Siapa namanya? Ah yaa... David. Is he your boyfriend?" mamanya ikut menyahut dari dapur yang hanya disekat dengan mini bar dari ruang makan.
"No! You're wrong, Mom. We just friend. David itu sukanya sama Bella. Dan mereka memang saling menyukai"
"Lalu siapa yang kamu sukai?" Papanya kembali bertanya.
"Hmmm... Ada deh... Papa mau pakai selai rasa apa? Biar aku yang ambilkan." Thania mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menawari papanya sembari mengoleskan mentega diatas roti yang sedang dipegangnya.
"Thanks sweetheart, itu tidak perlu. Papa hari ini ingin sarapan nasi goreng buatan mamamu."
"Pagi-pagi udah sarapan berat. Tumben Papa gak buru-buru ke kantor?"
"Iya sayang, Papa berangkat agak siang dan langsung meeting diluar. Jadi Papa gak ke kantor dulu."
Thania membulatkan mulutnya dan menganggukkan kepala. Lalu Gabriella datang dengan membawa nasi goreng spesial buatannya. Kemudian menyajikan untuk suaminya tercinta. Panji langsung melahapnya. Sesekali ia tersenyum disela-sela suapannya. Hal ini tidak luput dari perhatian Thania.
"Kenapa senyum-senyum Pa? Apa nasi goreng buatan Mama tidak enak?"
Gabriella menoleh dan melotot ke arah Panji. Panji agak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Thania tapi kemudian langsung terkekeh begitu melihat ekspresi istrinya. Gabriella menajamkan sorot matanya seolah menuntut jawaban dari suaminya.
"Apa kau mau coba, Sweety?" Panji malah balik bertanya pada putrinya.
"Hmmm... No thanks. Melihat Papa senyum sendiri aku jadi tidak yakin"
Kini Gabriella gantian menyoroti putri semata wayangnya itu.
"Kenapa Mama melotot begitu? Uhh... Aku sepertinya akan terbunuh oleh tatapan mama." Thania bergidik sebentar, kemudian kembali melahap rotinya. Panji semakin terkekeh melihat dua wanita kesayangannya.
"Thania, kau harus tau. Nasi goreng adalah makanan pertama yang Mamamu masak untuk Papa. Memang sangat sederhana tapi rasanya tidak pernah berubah. Itulah alasannya kenapa Papa tersenyum. Karena tiap suapannya mengingatkan kenangan kami di awal-awal pernikahan dulu. Dan itu juga membuat Papa bersyukur hingga saat ini kami masih bisa bersama dengan rasa cinta yang juga tidak pernah berubah."
Panji beranjak mendekati Gabriella dan mengecup puncak kepala istrinya itu.
"Honey, terima kasih telah mendampingiku hingga saat ini."
"That's my destiny," Gabriella menjawab singkat lalu tersenyum manis.
"So sweet... Aku sangat senang melihat kalian berdua dan Aku bersyukur terlahir dari orang tua seperti Mama dan Papa," ucap Thania tersenyum sambil menyangga wajahnya dengan kedua telapak tangannya persis seperti menyaksikan adegan drama romantis versi dunia nyata. Kemudian mereka saling melempar senyum.
Drrtt... Drrttt... Ddrrt...
Suara getaran ponsel Panji menyudahi adegan bahagia keluarga kecil Thania. Panji memang sengaja me-mode silent-kan ponselnya ketika berada di rumah. Karena biasanya hanya malam hari dia berada di rumah dan itu waktunya untuk beristirahat. Jadi ia tidak mau terganggu apalagi soal pekerjaan. Saat melihat nama orang kepercayaannya pada layar ponselnya yang sedang bergetar, Panji langsung menggeser tombol hijau pada ponselnya.
"Halo."
"..."
"Apaa?? Tidak mungkin!"
"......."
"Bagaimana bisa? Lalu bagaimana dengan meeting hari ini?"
"..."
"Kau jangan bercanda! Itu tidak mungkin!"
"..."
"Tidak. Tidak mungkin... Tidak mungkin..." Panji berucap lirih lalu mematikan sambungan telepon selulernya kemudian badannya meluruh kelantai. Persendiannya terasa lemas sehingga tidak mampu menopang bobot tubuhnya. Raut wajah Panji yang terkejut sangat kentara sekali. Thania dan Gabriella yang menyaksikannya hanya saling tatap tak mengerti. Mereka buru-buru menghampiri Panji.
"What happened, honey?" Gabriella bertanya sembari mengangkat lengan Panji untuk berdiri yang juga dibantu Thania.
"Perusahaan kita... Semua sudah berakhir... Kita bangkrut! Tidak ada lagi yang tersisa. Bahkan rumah ini, kita harus cepat pindah dari sini. Aku harus bagaimana Gaby??" Panji menyugar rambutnya frustasi.
"Apa??? Bagaimana bisa secepat itu, Honey? Apa yang terjadi?" Gabriella bereaksi tak kalah mengejutkan. Sedangkan Thania hanya menutup mulutnya yang menganga karena juga sama-sama terkejut mendengar ucapan papanya.
"Entahlah Gaby, semuanya begitu mengejutkan. Tiba-tiba saja semua proyek kerjasama dengan beberapa perusahaan lain mendadak dibatalkan sepihak. Dan kerugian yang ditimbulkan harus aku yang menanggungnya. Para investor juga tiba-tiba menarik semua investasi mereka. Kita benar-benar habis Gaby... Aku tidak memiliki apapun selain hutang yang menumpuk! Aarrghhh.....!" Panji berteriak mengungkapkan kekesalannya. Rambutnya ditarik-tarik untuk mengurangi denyutan di kepalanya. Panji benar-benar frustasi. Gabriella mendekap suaminya mencoba menenangkan.
"Calm down Honey, everything will be fine. It's okay. I will always by your side. It's okay Honey..."
Dengan tenang Gabriella menepuk-nepuk punggung Panji dan memeluknya erat. Sebagai istri, di situasi seperti ini ia harus bisa bersikap lebih tenang. Walaupun dalam hatinya, Gabriella sama terkejutnya dengan Panji.
"Ma, Pa," Thania berucap lirih.
Ia yang sedari tadi menahan tangisnya namun tetap saja ia tak mampu menahan luncuran kristal bening dari matanya. Kemudian Thania ikut memeluk orang tuanya. Keluarga kecil itu berpelukan untuk saling menguatkan. Tidak pernah terpikirkan oleh Panji bahwa ia akan membawa keluarganya berada pada situasi sekarang ini. Padahal selama ini ia mengorbankan waktu dan pikirannya untuk membangun perusahaannya dari nol hingga ke titik ini demi bisa membahagiakan keluarganya. Panji bukanlah keturunan keluarga kaya raya. Ia memulai bisnisnya benar-benar dari nol. Saat perusahaannya mulai berkembang, Panji sering melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Sampai akhirnya Panji tak sengaja bertemu Gabriella dan mereka saling jatuh cinta. Semangat dan dukungan Gabriella di sisinya membuat Panji berambisi menjadi pengusaha yang lebih sukses lagi agar bisa membahagiakan istri dan anak-anaknya kelak. Dan Tuhan pun berbaik hati mengabulkan keinginan Panji. Perusahaan yang dirintisnya semakin menunjukkan kemajuan yang mengesankan. Tapi sekarang, segalanya hancur. Panji bahkan tidak mampu memberikan tempat berteduh bagi keluarganya. Panji menatap dua perempuan di hadapannya. Gabriella, istrinya itu cukup tegar menghadapi situasi ini. Bahkan wajahnya yang teduh bak bulan purnama mampu menenangkan Panji. Lalu dilihatnya Thania, putri satu-satunya itu masih terisak memeluk mamanya.
"Maafkan Papa Thania, cita-citamu untuk melanjutkan kuliah di Australia sepertinya harus gagal. Maafkan Papamu yang tidak berguna ini, Sayang..." Ucapan penuh keputusasaan terlontar begitu saja dari mulut Panji.
"Apa yang Papa bicarakan? Bahkan aku sama sekali sedang tidak memikirkan itu. Kehilangan harta bukanlah akhir dari segalanya, Pa. Aku hanya ingin bagaimanapun keadaannya, kita harus tetap bersama-sama menghadapinya. Dahulu, jika hanya dengan adanya Mama, Papa bisa mengembangkan perusahaan Papa menjadi semakin maju. Kini juga ada aku, Pa. Aku dan Mama akan selalu mendukung Papa apapun kondisinya. Kita mulai segalanya dari bawah lagi. Seperti yang Mama bilang, semua akan baik-baik saja."
Dengan bijaksana Thania menyemangati Papanya. Panji terpana mendengar ucapan yang begitu bijak dari putrinya yang baru saja berusia tujuh belas tahun itu.
Drrttt... Drrtt...
Ponsel Panji kembali menerima panggilan masuk. Kali ini dari nomor asing. Panji agak ragu untuk menerimanya. Tapi kemudian dia tetep menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.
"Halo."
"Aku sudah mendengar kabar tentang perusahaanmu. Ah yaa, Aku Daniel Nuraga. Kau ingat aku? Calon besan Alfandy Kusuma."
"Tentu saja. Tidak perlu menyebut sedetail itu, aku pasti mengingatmu. Bahkan tadinya aku berniat mengajukan kerjasama dengan perusahaanmu. Tapi Kau tau sendiri saat ini keadaannya. Semua tidak memungkinkan."
"Begini Panji, terus terang saja, aku bersedia membantumu. Tapi jika hanya aku yang membantumu, itu tak akan bisa menyelamatkan perusahaanmu. Dibutuhkan dua atau tiga perusahaan lainnya yang setara dengan perusahaanku atau bahkan lebih besar untuk bisa membantumu."
"Terima kasih untuk niat baikmu, bahkan aku sama sekali tidak bisa berpikir langkah apa yang akan kuambil selanjutnya. Aku terlalu terkejut."
"Itu wajar saja. Karena semua begitu tiba-tiba. Dan ya, mungkin aku akan berbicara dengan Alfandy agar bisa membantumu juga. Aku yakin jika Kusuma Corp berinvestasi di perusahaanmu, maka Aditama Group akan bangkit kembali. Bahkan tanpa bantuan perusahaan lain pun, Kusuma Corp bisa menyelamatkanmu. Kita sama-sama mengetahui bahwa perusahaan yang dibangun Alfandy itu dinasti tertinggi dari segala bisnis yang ada di negeri ini. Tapi kau juga tau kan, jika bekerjasama dengan Kusuma Corp itu tidaklah mudah. Alfandy hanya mau menerima kerjasama dengan perusahaan lain atas rekomendasi orang-orang kepercayaannya ataupun rekomendasi dari perusahaan lain yang pernah bekerjasama dengan Kusuma Corp. Maka aku akan mencoba berbicara dengan Alfandy."
"Ya aku mengetahui itu. Sekali lagi Aku ucapkan terima kasih. Dan semoga saja Kusuma Corp mau membantuku. Pembicaraan ini harus secara resmi bukan? Kapan aku bisa bertemu Kau ataupun Alfandy? Maaf jika terdengar sedikit mendesak. Aku hanya tidak ingin menundanya lebih lama."
"Aku mengerti, tapi saat ini Alfandy sedang berada di Mumbai. Begini saja, tiga puluh menit lagi temui aku di bandara. Kita akan meeting sebentar sebelum aku berangkat ke Surabaya. Jangan lupa bawa berkas-berkas yang diperlukan. Jangan sampai Kau terlambat. Karena setelah dua hari di Surabaya, aku akan ke Singapura selama satu minggu. Jadi jika bukan sekarang ini, aku belum tau kapan lagi bisa bertemu denganmu."
"Tiga puluh menit? Baiklah. Aku akan segera sampai di sana secepatnya. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih Daniel."
Panji memutus panggilan dari ponselnya dan segera bersiap. Namun sopir pribadinya tidak datang pagi ini. Gabriella mengatakan bahwa tadi subuh sopirnya datang menyerahkan kunci mobil dan meminta izin mengambil libur untuk pulang ke kampung karena ada kerabatnya yang sedang sakit. Panji meminta kunci mobil itu pada Gabriella.
"Kau mau kemana, Honey?" Gabriella bertanya sembari menyerahkan kunci mobil.
"Ada meeting singkat dengan Nuraga Group. Do'akan aku agar bisa menyelamatkan perusahaan."
"Apa? Tapi Honey, aku tidak ingin kau pergi untuk..."
"Aku harus segera pergi. Ini demi masa depan kita Honey." Panji memotong ucapan Gabriella, lalu mengecup kening istrinya itu.
Akhirnya Panji berangkat dengan mengendarai mobilnya sendiri untuk meeting bersama Daniel.
***
"Apa? Itu sudah tidak mungkin, Juwita!" Aldillo menatap tak percaya pada tunangannya yang kini sedang berderai air mata.
"Tapi Al, hiks... hiks... Aku tidak bisa melanjutkan ini. Aku mohon padamu. Batalkan saja perjodohan ini, hiks.. hiks..." Juwita terisak disela-sela bicaranya.
"Dari sebelum pertunangan kita direncanakan, bukankah sudah ku tanyakan padamu apa kau yakin melanjutkan hubungan ini? Katakan padaku kenapa tiba-tiba ingin membatalkan semuanya? Apa kau memiliki pria lain?" Aldillo bertanya penuh selidik.
"Sama sekali tidak Aldillo!" Juwita menggeleng lemah. Terpancar jelas keraguan di wajahnya. Ia hanya menunduk seolah tidak berani menatap Aldillo. Sebenarnya Aldillo paling tidak suka melihat wanita menangis. Apalagi itu di hadapannya. Dengan lembut Aldillo mengangkat wajah Juwita,
"Lalu apa? Pagi-pagi begini kau datang ke rumahku dengan berderai air mata dan mengatakan ingin membatalkan semuanya? Katakan ada apa sebenarnya, Juwita?"
"Al, Kemana Om Alfandy dan Tante Sofia?"
"Papa sedang di Mumbai dan Mama pergi menghadiri acara amal tadi pagi-pagi sekali. Please Juwita, jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab saja pertanyaanku."
"Aku lelah Al... Sepertinya memang tidak ada sedikitpun kesempatan darimu agar aku bisa masuk ke dalam hatimu. Aku sudah tidak ingin memaksakan hubungan ini lagi. Juga aku tidak ingin memaksa kamu... Untuk... untuk bisa cinta padaku! Sebelum pernikahan kita direncanakan lagi oleh kedua orang tua kita, lebih baik kita akhiri saja ini. Please Al... Aku mohon... Aku terus berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku, tapi sampai detik ini, bahkan seujung kuku pun kau tidak memiliki rasa padaku. Iya kan?" Tangis Juwita semakin pecah setelah mengatakan alasannya. Aldillo yang tidak tega akhirnya menarik Juwita kedalam pelukannya.
"Hmmm... Jadi ini semua sebab diriku sendiri" batin Aldillo berkata.
Aldillo memejamkan mata sambil berpikir bagaimana cara menjawab pertanyaan Juwita agar tidak menyinggung perasaannya. Karena apa yang dikatakan Juwita memang benar. Hingga detik ini Aldillo tidak memiliki rasa apapun pada Juwita. Semenjak bertunangan, memang segala sifat buruk Juwita seolah sirna. Juwita yang manja, keras kepala, angkuh, menyebalkan dan semua sifat buruk lainnya hilang entah kemana berganti menjadi Juwita yang ramah, rendah hati, dan perangai baik lainnya. Setelah bertunangan, Aldillo dan Juwita sempat berkencan beberapa kali, bahkan Aldillo merasa jalan bersama Juwita tidak lagi se-memuakkan saat pertama kali perkenalan. Tapi tetap saja perubahan semua sikap Juwita tidak mampu menggetarkan hatinya. Hatinya yang terkunci rapat seolah tidak tersentuh dengan semua perubahan sikap baik Juwita.
Tapi jika perjodohan ini batal, tentu saja akan mengecewakan orang tua mereka masing-masing. Apalagi mereka sudah sampai di tahap bertunangan. Jika Juwita dan Aldillo berpisah, Aldillo takut berimbas pada penurunan perusahaan dan memberikan citra buruk bagi perusahaan masing-masing. Dan juga Aldillo khawatir jika hubungan keluarganya dan keluarga Juwita menjadi buruk. Mungkin orang menilai kebersamaan Aldillo dan Juwita merupakan perjodohan bisnis semata, tapi jangan lupakan bahwa disitu juga ada embel-embel persahabatan kedua orang tua Juwita dan Aldillo yang mungkin akan menjadi hancur apabila perjodohan ini dibatalkan. Terlebih Aldillo sangat-sangat tidak ingin mengecewakan orangtuanya.
"Tidak bisa. Perjodohan ini tidak bisa dibatalkan!" Batinnya lagi-lagi berkata.
Aldillo menghembuskan nafasnya, seolah ingin menjernihkan pikirannya yang penuh dengan pergolakan. Membelai surai kecoklatan milik Juwita dan dibiarkannya Juwita menumpahkan tangisnya dalam pelukannya.
"Juwita, apa kau pernah dengar ungkapan 'cinta datang karena terbiasa'?"
Juwita yang masih terisak hanya mengangguk lemah.
"Mungkin aku hanya belum terbiasa. Tapi aku akan mencobanya. Aku akan mencoba membuka hatiku."
"Tapi Al... Aku ingin bat...."
"Menjadi pasangan seorang Aldillo itu tidak boleh mudah menyerah, mengerti? Heum?" Aldillo tersenyum sambil mengelus pipi Juwita.
Juwita hanya menatap pria tunangannya itu. Seolah tak percaya jika pria sekaku dan sedingin es itu bisa selembut dan semanis ini memperlakukannya. Sedangkan Aldillo merasa kikuk dengan tatapan dari Juwita. Kemudian malah menarik kembali Juwita kedalam pelukannya. Kini Juwita juga membalas pelukan Aldillo. Terasa hangat dan nyaman, Juwita semakin mengeratkan pelukannya. Sembari melingkarkan tangan dipinggang Juwita, Aldillo mencoba menajamkan perasaannya. Dengan memeluk Juwita seperti ini apakah ditemukan getaran pada hatinya layaknya yang dirasakan sepasang kekasih lainnya? Tapi kini hatinya terasa biasa saja.
"Bukan tidak ada, mungkin belum." Batinnya mencoba berprasangka baik.