Pasangan Angkuh

1010 Kata
Di Mall Thania bergandengan tangan dengan Bella, sahabatnya. Mengitari Mall, mengunjungi satu per satu toko-toko sepatu demi mencari yang cocok untuk Thania. Memang Thania bukanlah orang yang perfeksionis, yang harus serba sempurna. Hanya saja dia belum menemukan yang sesuai dengan keinginannya. "Haduh Thania, udah hampir dua jam kita keliling Mall, masa sih belum ada model sepatu yang lo taksir?" gerutu Bella. "Ya gimana dong? Emang gak ada yang bagus," jawab Thania Santai. Bella mencebikkan bibirnya mendengus kesal. "Kenapa? Lo laper ya? Yaudah kita makan dulu deh. Lo mau makan apaan?" tanya Thania yang sudah tahu sifat Bella jika sedang lapar pasti ada saja hal-hal yang diributkan. Padahal biasanya, jika Thania dan Bella berbelanja lebih dari lima jam berkeliling mall pun tidak terasa lelah. Ini baru juga dua jam tapi Bella sudah heboh, dan jawabannya pasti Bella sedang lapar. "Iya gue laper banget. Tadi pagi gak sarapan soalnya. Makan sushi aja yuk?" ajaknya sambil senyum-senyum tanpa dosa. Thania menganggukkan kepalanya lalu mereka menuju restoran Jepang yang ada di Mall itu. Setelah selesai makan, mereka berdua melanjutkan berkeliling Mall sesuai tujuan mereka. "Thania bentar yaa, gue beli es krim dulu." Bella menghentikan langkah Thania dan kemudian berjalan menuju stand es krim. Thania menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Baru aja makan, sekarang beli es krim. Apa gadis itu belum juga merasa kenyang?" batin Thania bertanya-tanya. "Nih buat lo, biar enak kelilingnya sambil makan es krim." Bella menyodorkan es krim coklat vanilla pada Thania. "Gak ah. Gue gak biasa makan sambil jalan-jalan. Emangnya elo gak ada akhlak," ledek Thania sambil terkekeh. "Ya ampun, Thania. Udah nih pegang dulu. Kalo lo nggak mau nanti gue aja yang makan. Tapi pegangin dulu. Malu gue diliat orang megang es krim sampe dua tangan begini. Nanti gue disangka rakus." Bella memaksa Thania untuk menggenggam eskrim itu. Saat berjalan-jalan Thania sibuk memperhatikan layar ponselnya untuk membalas chat mamanya yang sudah khawatir menanyakan kapan ia pulang. Padahal ini masih jam empat sore. Mamanya sangat protektif pada Thania yang memang putri satu-satunya yang ia miliki. Tiba-tiba, bruukkk...! Thania menabrak seseorang dan es krim yang digenggamnya mengotori baju orang yang ditabraknya. Wanita itu menatap sinis pada Thania. "Apa matamu buta?" hardik wanita itu. "Maafkan aku," ucap Thania dan kemudian mengeluarkan tissue untuk membersihkan baju wanita itu. "Kau harus bertanggung jawab untuk pakaian mahalku ini. Sepertinya satu bulan gaji orangtuamu tidak akan mampu menggantikannya." Wanita itu mengejek merendahkan Thania. "Jaga ucapanmu Nona! Walaupun aku yang bersalah, kau tidak berhak merendahkanku. Apalagi mengaitkan orang tuaku. Apa mulutmu itu tidak pernah disekolahkan?" Thania menjadi emosi saat orang tuanya direndahkan karena dirinya dan masalah yang sepele. "Beraninya kau!" Wanita itu tak kalah emosi mendengar ucapan Thania dan bersiap mengangkat tangan untuk memukul Thania. Thania memejamkan matanya seolah bersiap menerima tamparan dari wanita itu. Tapi kemudian tak terjadi apa-apa. Thania membuka matanya dan melihat laki-laki tampan tengah menggenggam pergelangan tangan wanita itu, menghadang tamparan yang sepersekian detik harusnya mendarat di pipi mulus Thania. "Sudahlah, sayang. Jangan kau kotori tanganmu dengan menyentuh wanita rendahan ini. Aku bisa membelikanmu seratus baju yang sama seperti itu. Bahkan sekalian dengan tokonya. Ayo kita pergi dan ganti bajumu," ucap laki-laki itu dengan tatapan meremehkan pada Thania dan berlalu begitu saja bersama wanita menyebalkan tadi. "Cih... kalian sangat cocok. Dasar pasangan angkuh!" gerutu Thania. Bella yang masih melongo menyaksikan kejadian itu ditegur oleh Thania, "Bell, kenapa lo jadi bengong?" "Ganteng banget ya Than cowok itu," ucap Bella sambil memperhatikan punggung laki-laki itu yang semakin menjauh. "Apa-apaan ini Bella? Sahabatnya baru saja diejek, dan dia malah kepincut cowok angkuh itu? Benar-benar sahabat yang tak berperasaan," batin Thania menggerutu pada Bella. "Kita pulang Bell ...." "Eh... Nggak jadi beli sepatunya?" Bella mengerenyitkan alisnya heran. "Males! Udah gak mood. Pake aja sepatu yang ada," jawab Thania berlalu meninggalkan Bella. Bella buru-buru mengejar menyamakan langkahnya dengan Thania. "Tapi gue nebeng sama lo ya, Than?" tanyanya memasang wajah sok imut. Thania memutar malas matanya sambil menyerahkan kunci mobilnya, "Tapi lo yang nyetir!" *** Di dalam ruang aula sekolah sudah didekor sedemikian rupa layaknya akan ada sebuah pesta. Sambutan-sambutan kata dari petinggi yayasan sekolah sudah selesai. Kini acara bebas diserahkan kepada panitia pelaksana. Acara semakin ramai dan meriah. Lekat dengan suasana pesta khas anak muda. Band favorit disekolahnya yang terdiri dari para murid tampan tengah mengalunkan nyanyian romantis. Diikuti para gadis-gadis yang juga terbuai menatap pesona para personilnya. Termasuk Bella yang duduk disamping Thania ikut hanyut oleh suara nyanyian merdu sang vokalis. Tapi tidak dengan Thania yang sedang asyik memainkan ponselnya. Terus men-scroll layar ponsel itu membaca novel online favoritnya. Sambil sesekali menyeruput jus jeruk yang ada di depannya. Memang dari awal acara dimulai, Thania tidak fokus pada acara. Dia sesekali memainkan ponselnya. Sebenarnya Thania tidak begitu suka dengan pesta. Hanya saja dia ingin mengunjungi sekolahnya untuk terakhir kalinya sebelum melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Ia memang berencana melanjutkan kuliah di negeri kangguru tempat asal sang mama. Thania merasa akan merindukan sekolahnya ini. Terlebih pada sosok laki-laki yang ia cintai dalam diam. Julian Wijaya! Thania tersadar, dari awal pesta dia belum melihat pujaan hatinya itu. Untuk apa ia berdandan cantik jika Julian belum melihatnya, Thania menggerutu dalam hatinya. "Bell, keluar yuk? Berisik disini," ajak Thania yang terganggu dengan alunan musik yang semakin ramai. "Nanti dong Than, merusak kebahagiaan orang aja! Gue belum puas liatin si David," ujar Bella sambil menunjuk lelaki yang sedang bernyanyi di atas panggung. "Tampang playboy aja lo demenin! Gue keluar ahh .... Mau cari angin." Thania beranjak dari tempatnya. "Mau cari angin apa cari Julian? Tampang beku aja lo demenin!" balas Bella tak mau kalah. Dan ia memang tahu bahwa sahabatnya itu belum melihat laki-laki pujaannya. Julian Wijaya adalah lelaki tampan yang tidak banyak tingkah. Berbeda dengan pria tampan lainnya yang sok-sokan menarik perhatian murid-murid wanita. Justru sebaliknya, dia lebih banyak bersikap dingin. Ia lebih senang menyendiri. Diluar ruangan Thania menghirup dalam-dalam segarnya udara malam yang menerpa wajah cantiknya. Ia mengendarkan pandangan ke sekelilingnya mencari sosok pujaannya. Tidak ada! Lalu Thania melangkahkan kaki ke taman sekolah. Ia duduk dibangku taman ditemani sinar rembulan. Baru saja akan mengeluarkan ponselnya, ia mendengar suara seseorang memanggil namanya. "Nathania..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN