"Nathania..."
Deg! Jantung Thania serasa ingin melompat saat ini juga. Suara laki-laki yang sedari tadi dicari olehnya. Thania menoleh ke arah sumber suara itu. Terlihat oleh mata birunya seorang laki-laki berjalan mendekat kepadanya.
"Kak Julian..." Thania bergumam pelan.
"Hai Nath, malam ini kau sangat cantik," ucap Julian setelah mendekat dan menatap Thania sebentar, kemudian ia duduk disampingnya.
Wajah Thania bersemu merah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Tidak sia-sia aku dandan cantik hari ini, dan akhirnya aku mendengar pujian itu dari mulutnya," batin Thania bergumam. Thania tersenyum lalu menunduk malu.
"Nath, ada yang ingin aku sampaikan. Aku harap kau mendengarkan aku baik-baik," ucap Julian sambil menggenggam tangan Thania. Rasanya Thania ingin menghentikan waktu saat ini juga. Darahnya berdesir mengalir cepat membuat panas wajahnya yang seketika merona merah saat Julian menggenggam tangannya.
"Katakanlah."
Thania berucap sambil menunduk menyembunyikan wajah meronanya. Kemudian Julian mengangkat dagu Thania dengan telunjuknya dan menatap lekat wajah Thania.
"Dengar Nath, setelah hari ini aku akan mempersiapkan kuliahku dan berangkat ke Amerika. Aku akan menempuh masa belajar sekitar empat tahun di sana. Tapi akan aku usahakan lebih cepat dari itu. Setelah aku pulang dan menjalankan perusahaan keluargaku, aku akan segera menemui kamu, dan kita akan selalu bersama. Aku akan menikahimu, Nath!"
"Apa ini?? Apakah mimpi???" Suara hati Thania mencoba menyadarkannya. Thania masih tak percaya apa yang dia dengar barusan. Lalu Julian melanjutkan kata-katanya.
"Nath, aku akan memenuhi janjiku ini. Seperti kamu yang sudah menunaikan janjimu demi aku."
*Flashback on*
Saat awal-awal masuk disekolah ini, Thania pernah lupa membawa buku tugas yang harus dikumpulkan hari ini. Padahal sudah ia kerjakan semalaman suntuk. Tapi bukunya malah tertinggal di atas meja belajarnya. Lalu gurunya yang terkenal killer itu menghukum Thania untuk membuat resensi buku dari sepuluh judul buku yang berbeda-beda. Dan itu harus diselesaikan hari itu juga. Akhirnya saat jam pelajaran usai Thania buru-buru melangkahkan kaki menuju perpustakaan sekolah.
Di perpustakaan, Thania memilih buku-buku yang akan dibuat resensinya. Thania kesulitan mengambil buku di rak paling atas. Kemudian ia menoleh mencari bantuan. Tapi nihil. Petugas perpustakaan yang tadi ia sapa saat akan masuk, sudah tidak ada di tempat. Mungkin sudah pulang.
Lalu Thania melihat sepasang kaki dari balik rak buku yang paling ujung.
"suasana sekolah sudah sepi, apa jangan-jangan itu kaki hantu," batin Thania.
"Tapi siang-siang begini mana ada hantu? Sudahlah Thania, jangan berpikiran macam-macam. Siapa tau dia bisa membantu mengambil buku di rak paling atas itu," suara hatinya lagi menenangkan.
Lalu Thania menghampirinya. Dilihatnya seorang murid laki-laki sedang duduk di lantai dan fokus membaca bukunya. Ia bersandar pada pojok dinding dengan meluruskan kakinya. Thania agak sungkan meminta bantuan karena mungkin ini adalah kakak kelasnya. Tapi mau tidak mau Thania harus melakukannya. Karena ia harus menyelesaikan tugasnya hari ini juga.
"Maaf Kak, boleh minta tolong?" tanya Thania hati-hati.
Laki-laki itu mendongakkan wajahnya menatap Thania.
"Tampan," batin Thania memuji. Dan untuk beberapa detik ia terpesona.
"Apa?" tanya laki-laki itu singkat.
Thania mengatakan maksudnya. Dan laki-laki itu membantunya mengambilkan buku yang Thania maksud.
"Makasih..." ucap Thania pelan. Laki-laki itu hanya mengangguk dan kemudian ia kembali duduk di tempatnya semula.
Thania mulai mengerjakan tugasnya. Hingga senja mulai menyapa ia belum selesai dengan tugasnya. Laki-laki tadi akan keluar perpustakaan, lalu melihat Thania yang sibuk dengan setumpuk buku dan kertas-kertas diatas meja.
Ia menghampirinya kemudian duduk disampingnya, "Belum selesai?"
Thania menggeleng tanpa menoleh.
"Biar aku bantu," kata laki itu lalu mengambil beberapa buku yang ada di depan Thania.
"Tapi kak ...."
"Julian Wijaya. Kelas XI sos 1. Kau?" tanyanya sambil memperkenalkan diri.
"Aku Nathania. Kelas X.3"
"Baiklah Nath, Apa yang bisa aku bantu?"
"Panggil saja aku Thania, Kak."
"Tapi aku suka memanggilmu Nath."
Thania menganggukkan kepala pasrah. Rasanya juga tak sopan membantah ucapan kakak kelas yang apalagi saat ini ingin membantunya mengerjakan tugas.
Setelah kejadian itu, Thania rajin ke perpustakaan hanya untuk menemui dan mencuri-curi pandang pada Julian. Ada perasaan nyaman dalam hati Thania saat melihat Julian. Inilah yang membuat Thania semangat pergi ke sekolah. Dia selalu mencari kesempatan untuk melihat Julian. Tapi sikap dingin laki-laki itu seolah tidak mengacuhkan siapapun yang ada disekitarnya. Ya, Julian memang senang menyendiri.
Menyukai seseorang dalam diam itu mungkin bagi sebagian orang adalah perasaan yang sangat menyiksa. Tapi tidak bagi Thania. Ia menjalani rasa itu dengan bahagia.
Sampai akhirnya Thania bertekad mengikuti program akselerasi supaya bisa satu angkatan dengan Julian saat kelas XII. Syukur-syukur bisa satu kelas. Rasanya sehari tanpa melihat Julian di sekolahnya, Thania menjadi tidak bersemangat. Apalagi kalau membayangkan Julian akan lulus lebih dulu, dan Thania harus menjalani 1 tahun sisa masa sekolahnya tanpa melihat laki-laki pujaannya, sungguh akan menjadi hari yang membosankan. Thania berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu berada di dekat Julian. Walaupun laki-laki itu selalu tak acuh. Bukannya pada Thania saja. Tapi pada semua siswi di sekolahnya. Bergaul dengan sesama murid laki-laki pun jarang. Julian memang lebih senang menyendiri.
Dan akhirnya Thania berhasil lulus program akselerasinya dan seangkatan dengan Julian. Walaupun tidak sekelas dengan laki-laki itu, tapi Thania beruntung bisa sekelas dengan Bella, sahabatnya kini.
*Flashback off*
"Nath ...." Julian menyadarkan, menagkupkan tangan dipipi Thania membuyarkan lamunannya.
"A-akuu pikir selama ini .... Kakak gak pernah tau kalo ...."
Cup!
Julian mengecup singkat bibir Thania yang spontan saja membuat Thania membulatkan matanya.
Oh my first kiss!
"Aku tau semuanya, Nath. Aku tau kamu selalu berada di dekatku. Aku tau semua usahamu untuk lulus program akselerasi itu demi kau selalu bisa melihatku. Aku memang bersikap dingin. Tapi bukan berarti aku tidak peka. Dan harus kamu tau, dari awal aku melihatmu, aku telah jatuh cinta padamu."
"Kalau memang Kakak mencintaiku, tapi kenapa Kakak selalu abai, seolah aku tak pernah ada?" tanya Thania benar-benar tak mengerti.
Julian menurunkan tangannya yang tadi menangkup pipi gadis yang dicintainya itu. Kemudian menghembuskan nafasnya pelan.
"Aku melindungimu," jawab Julian singkat.
Thania mengernyitkan dahinya semakin tak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Rasanya jawaban yang diberikan Julian sama sekali tidak nyambung.
"Kau tau Naila si gadis cupu yang selalu jadi bahan bully para siswi di sekolah ini hingga ia depresi dan berhenti sekolah? Itu hanya karena ia pernah ingin mengirim surat cinta padaku. Dan sebelum surat itu sampai di tanganku, Chelsea merebutnya dan mengolok-oloknya. Semenjak itu Naila menjadi bahan bullying para siswi di sekolah ini, terutama Chelsea dan komplotannya.
Dan apa kau lupa kalau Bella sahabatmu pernah dikurung seharian di toilet belakang sekolah yang sudah tak terpakai hanya karena David duduk di sampingnya dan menanyakan nomor ponselnya saat jam istirahat di kantin?
Kau tidak tau betapa mengerikan persaingan gadis-gadis di sini hanya untuk menarik perhatian para siswa tampan di sekolah ini. Dan setelah bertemu denganmu. Aku tertarik padamu dan tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Maka Aku lebih memilih bersikap dingin dan mengabaikan sekitarku. Hanya demi kamu, Nathania!"
Thania tertegun mendengar penjelasan dari Julian. Juga pikirannya mengingat kejadian saat ia menemukan sahabatnya terkurung di toilet belakang sekolah dengan kondisi memperihatinkan dan sampai saat ini Bella tidak mau mengungkapkan siapa pelakunya. Thania bingung harus menjawab apa.
"Lalu aku harus bagaimana, Kak?"
"Aku tidak sedang berjanji padamu. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri. Seperti tekad dan janjimu pada dirimu sendiri yang selalu berusaha berada dekat denganku. Aku pun akan mengusahakan sebisa mungkin aku akan menepati janjiku. Kamu, bersabarlah menungguku. Apa kau bisa, Nath?" tanya Julian ingin memastikan.
"Apa kesabaranku yang selama ini belum bisa meyakinkan Kakak? Aku pasti bisa lebih bersabar lagi," Thania menjawab dengan yakin. Julian tersenyum. Lalu membelai sayang rambut Thania. Matanya menatap Thania lekat. Kemudian Julian memajukan wajahnya. Sangat dekat. Bahkan mereka merasakan hembusan nafas masing-masing. Jantung Thania berdegup makin kencang. Sebisa mungkin Thania mengontrol dirinya agar tetap sadar. Tapi sialnya matanya malah menutup saat wajah Julian semakin mendekat.
Tiba-tiba ponsel Thania berdering.
Suasana romantis ini buyar seketika, dan saat Thania melihat layar ponselnya ingin mengetahui siapa yang merusak suasana ini, disana tertulis "Mama". Thania langsung menggeser tombol hijau pada ponsel layar sentuhnya.
"Halo Ma. Iya aku akan pulang sebentar lagi. Ini sedang bersiap."
Kemudian Thania memutus panggilan telepon itu. Ada sedikit rasa kesal pada mamanya. Bukan hanya karena merusak suasana, tapi ini baru jam tujuh malam dan mamanya sudah cerewet menyuruh Thania pulang. Bahkan dari sore pun mamanya sudah berkali-kali menanyakan kapan Thania akan pulang. Kemudian Thania mengingat adegan tadi sebelum ponselnya berdering, dan seketika ia merasa canggung.
"Mau aku antar pulang?" tanya Julian mencoba mencairkan suasana yang sedikit kikuk.
"Hhmm, gak usah Kak. Aku pulang bareng Bella aja. Aku pamit ya Kak..." ucap Thania malu-malu. Julian tersenyum mengangguk. Lalu Thania beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari Julian. Thania menoleh kebelakang dan menatap Julian yang masih setia menatapnya. Thania berbalik melangkah menghampiri ke arah Julian. Dan berhenti tepat di hadapan Julian.
"K-ka-kak... bo-boleh aku peluk Kakak?" ucap Thania yang terbata-bata.
Julian langsung memeluknya. Memberikan rasa hangat yang selama ini Thania nantikan.
"Aku akan sangat merindukan Kakak," ucap Thania yang tak mampu menahan kristal bening yang meluncur begitu saja dari sudut matanya. Julian semakin mengeratkan pelukannya. Lalu mengecup puncak kepala Thania.
"Bersabarlah untuk akhir cerita kita yang bahagia, Nath."
Thania mengangguk. Menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukan Julian. Merasakan betapa nyaman dan hangat pelukan laki-laki yang dipujanya selama ini.
"Beginikah rasanya cinta yang terbalas? Walaupun harus berpisah tapi aku juga merasa bahagia," dalam hati Thania bergumam.