Bertemu Lagi

1121 Kata
Hamparan pasir putih yang luas, ombak yang tenang, juga birunya laut benar-benar memanjakan mata siapapun yang melihat pemandangan ini. Acara pertunangan diadakan sore hari, namun keluarga Aditama sudah berada di pulau itu sudah sejak pagi hari. Mereka benar-benar menikmati keindahan alam di sekitar pulau. Menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarganya. Saat matahari mulai meninggi, Panji dan Gabriella kembali ke resort. Sedangkan Thania masih betah berjalan-jalan di pantai. Thania memejamkan mata menikmati semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya. Menghirup dalam-dalam segarnya udara bersih. Betapa tenangnya menepi sejenak dari hiruk pikuk kehidupan di ibukota. "Eliza..." Thania membuka matanya dan menoleh ke arah sumber suara. Alisnya mengernyit bingung mendapati seorang laki-laki yang seusia papanya menyapanya dengan nama Eliza. "Ah... Mungkin dia salah orang," batinnya. "Ka-kau... Elizabeth?" Pria itu terbata mengulang pertanyaannya sambil memperhatikan Thania, seolah memindai dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Thania refleks menggelengkan kepalanya seraya merasa tak nyaman ditatap seperti itu. Menangkap respon yang diberikan oleh Thania, lantas pria itu tersenyum canggung. "Maaf, aku kira kau temannya putriku. Ternyata aku salah orang. Maaf yaa..." ucap pria itu sambil menganggukan kepalanya tanda meminta maaf, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Thania. Thania tak ambil pusing dengan kajadian barusan. Mungkin memang salah orang. Tapi apakah wajahnya sepasaran itu? Wajah cantik kebule-buleannya, juga iris mata yang biru diturunkan dari mamanya yang memang keturunan Australia. Tapi bukankah wajah orang-orang bule memang mirip-mirip? Thania jadi terkekeh sendiri dengan dialog batinnya. Mengingat sang mama, Thania langsung bergegas kembali ke resort sebelum mamanya yang protektif menelepon dan membawelinya dengan pertanyaan-pertanyaan khawatir khas seorang ibu. Lagi pula matahari semakin terik. Dengan udara sepanas ini bisa-bisa kulit putihnya gosong terbakar sinar mentari di tengah hari bolong begini. *** "Nggak nyangka ya bro, hari ini lo tunangan, sebentar lagi nikah, jadi pengen nikah juga, hehe..." ucap David sambil terkekeh menggoda Aldillo yang sore ini akan melangsungkan tunangan. Dua orang laki-laki ini sedang berjalan-jalan santai sambil mengobrol ringan. "Baru juga lulus sekolah, udah mikirin nikah aja. Kuliah dulu. Belajar yang bener. Emang menurut lo nikah itu gampang?" Aldillo menanggapi sinis. "Ya ampun bro... Serius banget nanggapinnya. Gue juga gak mau kali nikah buru-buru. Gue mau sukses dulu, jadi mandiri, baru deh gue nikah. Tapi gue gak mau dijodohin kayak lo yaa, hahaha," David kembali terkekeh puas meledek Aldillo. Aldillo mendelik menatap David, menggelengkan kepala dan berdecak sebal. Lalu meninju pelan lengan kanan David. Kemudian Aldillo berjalan lebih cepat dari David. Adik sepupunya ini memang lihai dalam urusan ledek-meledek. David yang tak pernah bosan meledek Aldillo pun seolah tak pernah merasa bersalah. Namun Aldillo tidak pernah merasa sakit hati dan selalu bersikap dewasa. Karena dia pun tau ini hanyalah candaan. David yang masih terkekeh tertinggal beberapa langkah di belakang Aldillo. Ia berlari kecil mencoba menyamakan langkah dengan Aldillo. Ketika hampir berhasil sejajar dengan Aldillo, tiba-tiba... Bruukkkkk....!!! Seorang wanita terjerembab ketanah, juga Aldillo yang hampir oleng namun berhasil menyeimbangkan diri. "Aawww... Sakiittt..." Gadis itu meringis mengusap-usap dan meniup-niup siku lengan kanannya yang memerah karena menahan bobot tubuhnya ketika terjatuh. "Thania..." David mengulurkan tangannya membantu gadis itu berdiri. Sedang Aldillo yang tadinya akan mengulurkan tangan untuk membantunya, mengurungkan niatnya dan kembali memasukkan tangannya ke dalam saku celana di kanan dan kirinya. "Kau mengenalnya? Tanyakan padanya apa hobinya menabrak orang?" ucap Aldillo sambil melirik David dan Thania dengan wajah datarnya, kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua. Thania hanya tersenyum kecut mendengar kata-kata dari pria itu. "Lo gak apa-apa, Than?" David bertanya memastikan keadaan Thania. "Gak apa-apa. Kok lo bisa ada disini sih?" "Itu tadi Kak Aldillo, kakak sepupu gue. Dia yang mau tunangan hari ini. Lo kenal dia?" Thania menerawang ingatannya. Wajahnya memang tidak asing. Seperti pernah melihatnya, tapi dimana? Tak mau menerawang lebih lama, lantas Thania menggeleng cepat. "Nggak." Lalu tiba-tiba ponsel Thania berdering, "Halo Ma" "Where are you, baby? Kamu nggak pulang-pulang, mama sama papa sudah lapar nungguin kamu" "Iya Ma. Ini aku lagi jalan ke resort." "Kita ketemu di restoran aja yaa, ini Mama sama Papa lagi jalan kesana." "Okay. aku juga langsung ke restoran deh, bye Ma.." klik. Sambungan telepon seluler itupun terputus. "Ayo Than, Gue anter ke restoran," ajak David yang mendengar ujung kalimat yang diucapkan Thania saat menelepon bahwa dia akan ke restoran. "Nggak apa-apa Dav, gue bisa sendiri kok," tolak Thania segan. "Emang lo tau restoran di sebelah mana?" "Yaa... nggak sih, hehe... Tapi kan gue bisa nanya nanti, lagi pula nanti ada papan petunjuk jalan kok. Gue gak bakal nyasar." "Ya ampun Thania, udah ada yang mau nganterin, malah nyari susah sendiri. Lagian gue juga searah kok sama lo. Gue mau ke ruangan Kak Aldillo yang letaknya di belakang restoran." "Oh gitu, ya udah ayo deh." Akhirnya Thania mengiyakan tawaran David untuk berbarengan menuju restoran. Thania dan David mengobrol ringan selama berjalan. Padahal saat di sekolah, jangankan mengobrol sambil berjalan seperti ini, untuk mendekat saja rasanya seperti mengantarkan nyawa. Karena Thania ingat betul bahwa David juga termasuk cowok tampan yang populer di sekolahnya dan persaingan siswi-siswi disekolahnya sangat mengerikan hanya demi mendapatkan perhatian dari deretan para siswa cool dan tampan. Hingga sahabatnya, Bella. Pernah dikurung di toilet belakang sekolah seharian. Thania bergidik membayangkan bagaimana kejadian itu. Ngomong-ngomong soal Bella, David pun menanyakan tentang Bella disela-sela obrolan bersama Thania. Thania merasa heran. Bukannya David punya nomor ponsel Bella? Bukankah karena dia yang mendekati Bella dan meminta nomor teleponnya sehingga membuat Bella terkurung di toilet seharian? David menghembuskan nafas kasar mengingat kejadian itu. Dia membenarkan pertanyaan Thania. David mengaku pada Thania bahwa ia memang tertarik pada Bella. Sehingga ia memberanikan diri mendekati dan meminta nomor ponselnya. Tapi David tidak menyangka efek yang diterima Bella akan separah itu. David juga yang meminta Bella untuk tidak mengungkapkan pelakunya. Bella yang kesal akhirnya memblokir nomor David hingga saat ini. Thania hanya ber-oh ria mendengarkan penjelasan David. Tanpa terasa mereka telah sampai di restoran. "Ternyata seru juga ya ngobrol sama lo Than, nanti acara dimulai jam 4 sore. Lo bareng gue yaa... Nanti gue jemput lo di depan resort." "Halah, bilang aja lo mau ngorek info tentang Bella kan?" Thania terkekeh karena tebakannya pasti tepat sasaran. "Yaahh.. ketauan deh. Lagian biar lo juga ada temen pas acara. Lo kan ga kenal siapa-siapa disini selain gue, ya gak?" "Modus lo! Gak usah jemput gue, kita ketemu di acara aja. Ya udah gue masuk dulu yaa, tuh nyokap Gue udah ngeliatin mulu. Mungkin dikiranya anaknya lagi ngobrol sama penjaga pantai. Hehe... Thanks ya udah anterin sampe sini. Bye Dav..." Thania langsung melangkah masuk ke dalam restoran. Sedangkan David berdiri mematung. Apa dia tak salah dengar? Thania mengatakan dirinya seperti penjaga pantai? Apa Thania sedang meledek dirinya? Tapi tunggu! Bukannya selama ini dia yang senang meledek. Bahkan ia tak pernah puas meledek Aldillo, kakak sepupunya. Thania, baru pertama mengobrol tapi sudah berani meledek dirinya. Apa ini yang disebut karma???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN