Acara pertunangan diadakan di sebuah ruangan yang cukup besar. Di dalam ruangan tersebut terdapat dinding kaca besar yang mengarah langsung ke pantai sehingga terlihat seperti lukisan alam yang sangat nyata. Sinar matahari sore yang menembus dinding kaca tersebut membuat pencahayaan di dalam ruangan menjadi sempurna. Penataan dekorasi serta hiasan yang didominasi oleh warna putih dan emas, juga bunga-bunga dengan warna yang senada memberi kesan mewah dan elegan. Keluarga Thania baru saja tiba di tempat tersebut. David adalah orang yang pertama menyambut keluarga Thania, ia memperkenalkan diri sebagai keponakan dari sang pemilik pesta juga sebagai teman Thania saat sekolah menengah atas. Kemudian Alfandy dan Sofia datang menyapa mereka, mengucapkan terima kasih telah hadir meluangkan waktu untuk mendatangi acara ini, serta mengobrol ringan seputar perkembangan bisnis dan juga keluarga. Saat berbincang-bincang satu per satu tamu undangan yang juga merupakan kolega Alfandy turut menyapa dan bergabung dalam obrolan ringan mereka, sehingga membuat David dan Thania pamit memisahkan diri. Juga Sofia yang mengajak Gabriella untuk menikmati hidangan yang disediakan di pesta itu. Tinggalah bapak-bapak para petinggi perusahaan itu yang sedang mengobrol. Hingga akhirnya Daniel dan Sabina ikut menyapa dan bergabung. Alfandy mengenalkan Daniel dan Sabina sebagai calon besannya. Beberapa koleganya ada yang sudah mengenal Daniel karena terkait kerjasama antar perusahaan mereka. Tapi ada juga beberapa yang belum mengenal calon besan Alfandy Kusuma itu, termasuk Panji. Setelah diperkenalkan oleh Alfandy, Sabina pamit memisahkan diri setelah melihat Sofia yang sedang berbincang hangat dengan beberapa orang wanita dan memilih ikut bergabung dalam obrolan para wanita yang tentu saja lebih cocok untuk dirinya.
"Panji Aditama," Panji memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.
"Ah... Aditama Group. Jadi itu kau? Perusahaan yang sedang berkembang pesat akhir-akhir ini." Daniel menyambut uluran tangan Panji dan menjabatnya hangat. Panji merasa tersanjung mendengar pujian dari Daniel. Yang dikatakan Daniel memang benar. Ya, perusahaan yang didirikannya sedang berkembang merangkak naik, dan semoga bisa berada di deretan sepuluh perusahaan besar dan berpengaruh di negeri ini. Doa Panji dalam hati. Panji menanggapi pujian Daniel dengan senyuman ramah.
"Apa kau datang sendiri?"
"Tentu tidak. Aku bersama istri dan putriku."
Panji mengendarkan pandangannya, dan terlihat Thania yang sedang menikmati minuman sambil mengobrol bersama David. Panji menunjuk ke arah Thania dan mengatakan pada Daniel bahwa itu adalah putrinya. Kemudian Daniel memuji Thania yang sangat cantik.
"Lihatlah, para wanita memang begitu mudah menjadi akrab. Entah apa yang mereka bicarakan..." Alfandy tersenyum menunjuk kumpulan wanita yang sedang berbincang hangat dan sesekali tertawa kecil. Disana ada Sofia, Sabina, Gabriella, dan juga dua wanita lainnya. Panji dan Daniel melihat kearah yang ditunjuk Alfandy.
"Dan yang sedang berbincang dengan istrimu, itu adalah Nyonya Aditama," Alfandy melanjutkan bicaranya dan memperkenalkan istri dari Panji pada Daniel.
"Ya, itu dia istriku. Gabriella Wilson," ucap Panji menimpali. Lalu mereka tersenyum penuh arti.
***
"Setelah sesi pertukaran cincin tadi, gue belum menyalami dan mengucapkan selamat secara langsung sama Kak Aldillo. Ayo barengan?" ajak David pada Thania.
Thania menghela nafas panjang. Lalu ia meneguk minumannya yang sisa kurang dari setengah gelas itu hingga tandas dan meletakkan kembali gelasnya ke meja. Thania beranjak dari tempat duduknya. "Baiklah... Ayo," jawab Thania singkat.
Sejujurnya dalam hati Thania sangat gugup. Saat melihat siapa tunangan Aldillo, Thania langsung ingat kejadian saat di Mall beberapa hari lalu. Jadi pasangan angkuh saat di Mall itu adalah Aldillo dan Juwita. Pantas saja saat tadi siang ia menabrak Aldillo, Thania merasa seperti pernah melihatnya, tapi ia lupa dimana. Dan Thania baru paham sekarang tentang perkataan Aldillo yang mengatakan hobinya menabrak orang. Jadi dirinya dua kali berurusan dengan pria itu. Pertama saat di Mall Thania tidak sengaja menabrak tunangannya dan menumpahkan es krim di bajunya. Dan yang kedua tadi siang saat ia berjalan tergesa untuk kembali ke resort, dia menabrak Aldillo hingga dirinya terjerembab ke tanah. Thania mendengus kesal. Lagi pula ia melakukannya secara tidak sengaja. Mana bisa disebut hobi?
"Ahh.. kenapa dunia begitu sempit! Kenapa pula harus bertemu lagi. Bahkan sekarang ia menghadiri acara pertunangan pasangan yang menyebalkan ini," oceh Thania dalam hati.
Tapi Thania mencoba menahan gejolak dalam batinnya dan berusaha bersikap setenang mungkin. Walaupun ketegangan menyelimuti hatinya. Juga khawatir Juwita menjadi emosi saat melihatnya dan mengingat saat kejadian di Mall waktu itu. Tapi rasanya Juwita tidak mungkin bersikap sebarbar saat di Mall, apalagi ini adalah acara pertunangannya. Dan lagi Thania akan mengucapkan selamat dengan tulus.
"Selamat yaa my bro," ucap David memeluk Aldillo dan menepuk-nepuk bahunya. Aldillo balas merangkul dan tersenyum simpul. David juga menyalami Juwita dan mengucapkan selamat. Setelah itu Juwita memperhatikan gadis yang bersama David.
"Apa ini pacarmu?" Juwita bertanya seperti meminta penjelasan. Lalu David mengenalkan Thania pada Aldillo dan Juwita.
" Oh ya, perkenalkan ini Nathania Aditama. Teman saat sekolah menengah atas. Bukan pacar!"
David menggerakkan telunjuk tangannya ke kiri dan kanan. Seolah mewanti-wanti untuk tidak menggodanya sebagai pacar.
"Aku Thania. Selamat untuk pertunangan kalian."
Thania mengulurkan tangan memperkenalkan diri sembari memberi ucapan selamat. Pertama Thania menjabat tangan Aldillo, lalu bergantian menjabat tangan Juwita. Ketika Thania hendak melepaskan tautan tangannya, Juwita menahannya.
"Tunggu. Aku mengingatmu," ucap Juwita yang tengah menatap lekat wajah Thania.
Deg! Jantung Thania rasanya ingin terlepas dari tempatnya. Apakah kekhawatirannya yang tadi akan terjadi? Apa dia benar-benar mengingatnya? Apa Juwita akan melayangkan tamparan yang tertahan waktu itu? Atau dia akan menjambak rambutnya? Jika itu terjadi, maka akan sangat memalukan! Apalagi disini ada orang tuanya. Jangan... Jangan sampai itu terjadi! Memikirkan hal-hal yang buruk membuat Thania menelan kasar ludahnya. Tapi ia masih bisa menguasai dirinya. Thania mencoba memasang wajah tenang.
"Maksudnya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Thania balik bertanya berpura-pura bingung.
"Tentu saja kita pernah bertemu. Ahh... mungkin kau sudah lupa. Tapi aku bukan tipe orang yang mudah melupakan. Kau gadis yang menumpahkan es krim ke bajuku di Mall waktu itu kan?"
Seketika Thania membeku. Thania mengernyitkan dahinya, memutar bola matanya ke arah kanan atas, berpura-pura mengingat sesuatu. Berharap aktingnya ini tidak buruk.
Aldillo yang sedari tadi memperhatikan, bisa menebak kearah mana pembicaraan yang dimaksudkan Juwita. Dia menatap tajam tunangannya itu.
"Haruskah membahas hal sepele itu disini?" ucapnya dengan wajah dingin nyaris tanpa ekspresi. Senyumnya yang tadi tersimpul saat David mengucapkan selamat, sudah menghilang entah kemana tanpa jejak. Suasana yang tadinya hangat seolah cepat sekali berubah semencekam ini. Aldillo mencoba menghentikan pembahasan ini. Ia paham betul sifat Juwita yang mudah meledak-ledak. Ia tidak ingin jika itu terjadi di sini dan akan mempermalukan keluarganya. David yang tak mengerti apa yang sedang dibahas mencoba menyimak ketiga orang dihadapannya ini.