Dimaafkan

1056 Kata
"Haruskah membahas hal sepele itu disini?" ucapnya dengan wajah dingin nyaris tanpa ekspresi. Senyumnya yang tadi tersimpul saat David mengucapkan selamat, sudah menghilang entah kemana tanpa jejak. Suasana yang tadinya hangat seolah cepat sekali berubah semencekam ini. Aldillo mencoba menghentikan pembahasan ini. Ia paham betul sifat Juwita yang mudah meledak-ledak. Ia tidak ingin jika itu terjadi disini dan akan mempermalukan keluarganya. David yang tak mengerti apa yang sedang dibahas mencoba menyimak ketiga orang dihadapannya ini. Aldillo masih menyorot tajam ke dalam iris mata tunangannya itu seolah menunggu jawaban. Juwita yang terbiasa dengan tatapan itu masih bisa bersikap rileks dan malah memperhatikan Thania. Sedangkan Thania yang tidak tahan dengan suasana ini mencoba mengakhiri ketegangan ini dengan mengakuinya dan berkata dia mengingat kejadian itu. "Ah ya, aku mengingatnya. Maafkan aku waktu itu, Nona." Thania menundukkan kepala tulus. Ya, memang seperti itu seharusnya sedari tadi. Lagi pula waktu itu ia yang bersalah dan ia lebih muda dari Juwita. Jadi ia harus meminta maaf dengan tulus. Berharap tidak terjadi apa-apa setelah ini dan suasana pesta ini tetap kondusif. "Oh ayolah Thania, kau memang lebih muda dariku, tapi kenapa memanggilku seformal itu? Jadi panggil saja kakak. David juga memanggilku kakak. Iya kan?" Juwita berbicara dengan nada santai dan sedang menatap David meminta persetujuan. Kemudian David menganggukkan kepala mengiyakan. Setelah melihat respon David, Juwita melanjutkan bicaranya. "Aku memaafkanmu. Dan maafkan aku juga karena kata-kataku yang kejam padamu waktu itu," Juwita berkata tenang sambil meraih tangan Thania dan menjabatnya hangat. Thania yang sedari tadi menunduk, tak berani menatap ke arah manapun langsung mendongakkan kepalanya menatap Juwita. Dilihatnya ekspresi ketulusan yang dipancarkan wajah Juwita. Tidak seangkuh dan semenyebalkan saat dia menghardik Thania waktu itu. "Hah?" Thania masih terperangah tak percaya dengan apa yang dia lihat dan dia dengar. "Pendengaranmu masih baik-baik saja kan Thania? Karena aku benci jika harus mengulangi ucapanku dua kali." Masih dengan senyuman Juwita mengatakan perkataan barusan. Kemudian Juwita menepuk-nepuk punggung tangan kanan Thania yang sedang dijabatnya. Perasaan hangat mengalir pada diri Thania. "Nikmatilah pestanya, Kakak dan Kak Aldillo masih harus menyapa tamu undangan yang lainnya." Juwita pamit pada Thania dan David yang direspon dengan anggukan dari keduanya. Lalu Juwita menggandeng tangan Aldillo dan berjalan menghampiri tamu yang lainnya. Aldillo yang menyaksikan adegan tadi merasa heran. Sambil melangkah berjalan, ia masih menyoroti wanita disebelahnya itu. Aldillo tahu betul seperti apa karakter Juwita. Dia tidak mengatakan Juwita pendendam. Tapi Juwita juga bukan tipe wanita yang mudah memaafkan. Ya, Juwita senang sekali membuat keributan dengan drama-drama berlebihan jika ada sesuatu atau hal-hal yang tidak menyenangkan bagi dirinya. Namun dengan mudahnya Juwita memaafkan Thania tanpa membuat keributan. Aldillo mengetahui sifat Juwita dari setiap ia bertemu dan menghabiskan waktu dengan wanita itu. Selalu ada saja hal-hal sepele yang dibesar-besarkan. Sehingga setiap kencannya akan berakhir dengan kesan yang tidak menyenangkan. Berbeda dengan wanita lainnya yang berusaha menjaga imejnya saat bersama pasangannya, entah kenapa saat di depan Aldillo, Juwita juga seperti tidak ingin menutupi sifatnya yang tidak baik. Ia tetap menjadi dirinya sendiri, hingga Aldillo bisa menilai dan mengetahui segala karakter Juwita. Aldillo benar-benar tidak mengerti, kali ini perangai Juwita berbeda sekali dengan yang yang dia ketahui. Juwita yang merasa diperhatikan pun menoleh ke arah Aldillo. "Kenapa? Ada yang salah dengan riasan di wajahku? Apa lipstik di bibirku mulai luntur?" Juwita bertanya sambil meraba wajahnya. "Apa kepalamu habis terbentur?" tanya Aldillo masih tetap dengan wajah datarnya. Juwita malah tersenyum mendengar pertanyaan dari pria dingin yang menjadi tunangannya sekarang. "Haruskah kita membahasnya disini?" Bukannya menjawab pertanyaan, Juwita malah balik bertanya mencoba membuat Aldillo semakin penasaran. Juwita menatap Aldillo dengan binar mata yang menggoda. Aldillo memalingkan wajahnya dan memutus kontak mata dengan Juwita. Aldillo tak ingin rasa penasarannya terbaca dari raut wajahnya. Padahal Juwita sendiri, sudah mengetahui bahwa Aldillo pasti penasaran akan tingkah lakunya yang tak seperti biasanya. Juwita terkekeh melihat sikap Aldillo. "Kau sungguh menggemaskan, Al. Kalau saja kita sedang tidak dalam keramaian, aku sungguh ingin memelukmu. Lihatlah, tamu itu sepertinya akan menghampiri kita untuk memberikan selamat. Kau tersenyumlah! Karena jika kau menyapa mereka dengan wajah dingin seperti itu, mereka akan segera membeku!" Juwita berucap sambil tersenyum menatap ke arah tamu yang sedang berjalan menghampirinya, kemudian kembali menautkan tangannya dengan lengan Aldillo yang masih setia didalam saku kanan dan kiri celananya. Aldillo melirik sekilas pada Juwita, tanpa sadar kedua sudut bibirnya ikut terangkat membentuk sebuah senyuman yang mempesona. *** David memperhatikan Thania yang masih terpaku menatap kedua insan yang sedang menyapa para tetamunya itu. Kemudian ia menyenggol lengan Thania dengan siku tangannya. "Hei, ke taman yuk?" ajak David mencoba mencairkan suasana. Karena walaupun Aldillo dan Juwita sudah menjauh, namun ia masih merasa canggung untuk memulai obrolan dengan Thania sejak adegan menegangkan tadi. Masa bodoh dengan permasalahan yang dibahas barusan, tak ada sedikitpun niat David untuk ingin tahu dan bertanya pada Thania. David bukan tipe orang yang kepo dengan urusan orang lain. Thania menoleh pada David dan menolak ajakannya. "Sorry ya Dav, gue mau balik aja ke resort. Thank you ya udah nemenin gue di pesta." "Eh, gue yang harusnya bilang thanks sama elo. Jangan lupa sampein salam gue ya ke Bella." "Ok. Lo tenang aja. Gue pastiin Bella bakal buka blokiran nomor lo secepatnya. Bye Dav!" Thania melangkah meninggalkan David. Lalu ia melihat papanya yang juga sedang berjalan kearahnya. Sambil berjalan mendekati papanya, Thania mengendarkan pandangan mencari mamanya namun ia tak menemukannya. "Apa Papa masih akan di sini? Aku ingin pulang ke resort." "Ahh.. Papa juga berpikiran yang sama denganmu. Papa kira kamu yang masih betah di sini. Baiklah kita kembali ke resort. Tapi tunggu mamamu sebentar. Tadi dia pergi ke toilet." Thania dan Panji menunggu Gabriella yang belum juga kembali dari toilet. Panji mengatakan sebaiknya Thania menyusul mamanya ke toilet. Toilet di sini letaknya di belakang gedung ini. Untuk menuju ke sana, Thania harus keluar dari gedung dan melewati taman samping gedung ini yang lumayan luas. Belum sampai ke toilet, Thania melihat mamanya yang sedang berdiri berpegang pada tiang lampu taman. Thania buru-buru menghampiri. "Ma, are you okay?" Gabriella tidak menjawab pertanyaan Thania, bahkan sebenarnya dia tidak menyadari keberadaan putrinya itu. Tatapannya seolah kosong. Thania menyentuh bahu mamanya. "Ma, kenapa?" Gabriella yang tahu ada Thania disebelahnya, beralih pegangan pada Thania. Lalu ia memijat dahinya. Ia masih belum menjawab pertanyaan putrinya. Melihat itu, Panji yang dari tadi mengekor di belakang Thania bergegas menghampiri kedua bidadarinya. "What happened to you, honey?" Panji menopang tubuh istrinya yang seolah tak bertulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN