"What happened to you, honey?" Panji menopang tubuh istrinya yang seolah tak bertulang.
"Pa, mungkin Mama sakit kepala, Mama juga terlihat lemas. Sebaiknya Papa menggendong Mama. Kita kembali ke resort," ucap Thania yang terlihat khawatir tak kalah dengan papanya.
Panji pun langsung menggendong tubuh istrinya itu ala bridal style. Kemudian mereka berjalan ke resort tempat mereka akan menginap. Tubuh Gabriella yang langsing ideal, tidak sedikitpun menyulitkan Panji untuk mengambil langkah panjang agar cepat sampai di resornya. Thania berjalan mengekor di belakang papanya.
Ada sepasang mata yang tidak senang melihat adegan tersebut. Amarah jelas terpancar dari raut wajahnya. Sorot matanya nyalang menyaksikan tiga orang tadi melangkah semakin menjauh.
Ketika tiba di resort, Panji membaringkan Gabriella di ranjang. Wajah istrinya itu terlihat pucat. Panji meminta Thania mengambil obat pereda nyeri di kotak obat yang selalu mereka bawa setiap bepergian. Thania menurut, ia segera keluar kamar dan melakukan perintah papanya.
Panji membelai lembut pipi istrinya tersayang, "Apa yang kamu rasa Gaby?"
"Kepalaku rasanya sangat sakit, sayang."
Gabriella kembali memijit dahinya yang merasakan denyut di kepalanya.
"Kau butuh air sayang? Aku akan mengambilkan minum untukmu. Tunggu sebentar ya."
Panji beranjak dari duduknya hendak mengambil air minum untuk Gabriella. Tapi tiba-tiba tangannya tertahan. Gabriella menggenggam pergelangan tangan Panji.
"Don't leave me alone," Gabriella berucap lirih.
"Aku hanya akan ke dapur mengambil air minum sayang, sebentar saja."
"Aku tidak ingin sendirian. Don't leave me... Please..."
Dengan nada memohon Gabriella menahan Panji agar ia tidak ditinggal sendirian. Panji yang melihatnya jadi tidak tega dan mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum. Kemudian ia memeluk istrinya yang masih mengulang-ulang meminta jangan ditinggalkan sendirian.
"Don't leave me... Don't leave me... Please don't leave me..."
"It's okay, dear. I am here for you"
Panji mengeratkan dekapannya mencoba memberikan rasa tenang kepada Gabriella. Tak lama Thania datang membawa obat sakit kepala dan segelas air putih hangat langsung menyerahkan kepada mamanya. Setelah meminum obat pereda nyeri itu, Gabriella meminta pulang ke rumahnya.
"Honey, bisakah kita kembali ke rumah?"
Panji dan Thania mengernyitkan dahi bingung dan saling tatap tak mengerti. Jika hanya sakit kepala bukankah akan segera sembuh setelah minum obat. Lagi pula yang mereka tau, Gabriella bukan tipe orang yang memanjakan rasa sakit. Gabriella memang sering merasa tiba-tiba pusing karena tekanan darahnya yang rendah. Ia cukup meminum obat dan tidur beberapa jam kedepan kemudian kembali beraktifitas seperti biasanya. Merasa tak mendapat jawaban dari dua orang dihadapannya, Gabriella menggerakkan lengan suaminya.
"Honey, Please... Aku lebih baik beristirahat di rumah."
Kemudian Gabriella beralih menggenggam tangan Thania, "I'm really sorry, baby... Mama menghancurkan liburan ini. But please... I want to go back home." Gabriella yang merasa putus asa akhirnya tidak bisa menahan air matanya.
"It's okay, Mom. Jangan merasa tidak enak. Lagi pula liburan ini tidak akan menyenangkan kalau Mama sedang sakit. Kita akan pulang iya kan Pa???" Thania mencoba menenangkan mamanya.
"Yes of course, besok pagi kita akan pulang sayang." Panji mengiyakan pertanyaan Thania.
"No, honey! I want to go back home right now.. right now please..." Gabriella kembali memohon. Panji semakin tidak tega melihat istrinya.
"Granted! Please don't cry anymore honey," ucap Panji sambil menghapus sisa air mata yang ada di wajah istrinya. Thania meminta Panji menemani mamanya beristirahat, sementara ia yang akan mempersiapkan kepulangan keluarga kecilnya yang gagal liburan ini. Meskipun begitu, Thania sama sekali tidak merasa kecewa. Terlebih alasan gagal liburan ini karena kondisi kesehatan mamanya yang sedang tidak baik. Justru ia akan merasa egois jika memaksakan keinginannya.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan darat maupun laut, akhirnya keluarga Aditama tiba di kediaman mereka. Gabriella memilih langsung beristirahat setelah berkali menolak tawaran Panji yang memintanya check up ke rumah sakit sebelum tiba di rumah. Thania pun melakukan hal yang sama. Ia langsung menuju kamarnya untuk melanjutkan tidurnya.
***
"Tinggal selangkah lagi. Aku akan memiliki semuanya," ucap seorang pria yang tersenyum licik sambil meneguk minuman beralkohol ditangannya. "Setelah putriku berhasil menikahinya, maka sebagai istri dari pewaris tunggal Kusuma Corp tentu saja akan memudahkan jalanku untuk memindahkan semua aset dan harta kekayaan yang mereka miliki menjadi milikku sepenuhnya. Ahh... Rasanya sangat tidak sabar menanti hari itu."
Daniel terkekeh lalu kembali menenggak minuman keras itu yang kali ini langsung dari botolnya. Pria itu sedang berada di ruang pribadinya seorang diri. Daniel yang meminta pada calon menantunya, yaitu Aldillo untuk menyiapkan ruangan pribadi untuk dirinya jika sewaktu-waktu ia akan berkunjung ke pulau milik keluarga Kusuma ini. Namun karena kali ini dalam rangka acara tunangan putrinya, dan Daniel bersama keluarganya, tentu ia tidak menginap di ruang pribadinya yang ini.
"Juwita Nuraga... Ahh tidak tidak... Sebentar lagi nama putriku menjadi Juwita Aldillo Kusuma... Ckckck... Betapa beruntungnya aku memiliki seorang putri yang penurut seperti Juwita."
"Papa! Apa maksud dari ucapan Papa barusan? Aku tidak mungkin salah mendengar kan Pa?"
Daniel yang baru saja berdecak bangga pada dirinya sendiri langsung menoleh ke sumber suara tersebut. Dilihatnya Juwita berdiri mematung dengan berderai air mata.
"Juwita... Sayang... Sejak kapan kau ada disana nak???"
Daniel berpura-pura mengabaikan ucapan Juwita tadi. Ia menghampiri putrinya dan berusaha menghapus air mata di pipi Juwita. Dengan cepat Juwita menepis tangan papanya dari wajahnya dan mundur selangkah ke belakang.
"Aku menyetujui perjodohan ini karena aku pikir ini benar-benar murni karena persahabatan antara Papa dan Om Alfandy. Tapi ternyata..." Juwita tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Juwita, apa yang sedang kau bicarakan sayang? Papa tidak mengerti," ucap Daniel masih dalam sandiwaranya.
"Apa Papa benar-benar akan menukar aku dengan semua harta kekayaan keluarga Aldillo? Aku mendengar semuanya Pa! Aku mendengar semua ucapan Papa dari awal. Kenapa Pa?? Apa aku tidak berharga bagimu? Hiks.. hiks..." Juwita terisak meluapkan emosinya yang sedari tadi dipendamnya saat dari awal mendengar ucapan-ucapan tak masuk akal dari Daniel.
"Baiklah sayang, karena kau sudah mendengar semua ucapan Papa, maka tak ada gunanya lagi Papa menutupi semuanya darimu. Pertama kali yang harus kau tau, Papa sangat menyayangimu, Juwita! Jadi tidak mungkin Papa menukar putri yang sangat berharga bagi Papa dengan apapun. Papa juga takkan membiarkan kau mengemis cinta dan menyia-nyiakan hidupmu bersanding dengan pria dingin seperti Aldillo yang sama sekali tidak mencintaimu. Papa berharap kau bisa menghabiskan sisa hidupmu bersama pria yang kau cintai dan pastinya ia juga mencintaimu"
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Papa bicarakan. Lalu kenapa Papa menjodohkan aku dengan Aldillo? Apa yang Papa rencanakan sebenarnya??"