Nandini masih merasa kesal atas tindakan mantan kakak iparnya itu, pasti saja setelah ini akan ada gosip baru mengenai dirinya terlebih saat ini dia sedang mengandung tanpa ada suami, pastinya itu akan jadi gosip super hot di lingkungannya. Karin yang melihat wajah masam Dini bertanya ke Raka takut jika suaminya itu membuat kesal Dini di sini, tapi dengan cepat Raka menjelaskan bahwa ia baru saja bertemu dengan mantan kakak iparnya itu.
Gue ke kamar dulu ya guys, Kata Karin pamit ke mereka semua lalu di ikuti Biyan menuju kamarnya.
Dini yang melihat Biyan dan Karin berada satu kamar hendak berjalan mengikuti mereka untuk melerai ,tapi langsung di cegah oleh Raka.
Tapi mereka?
Bukan urusan kita.
Dini melongo tak percaya atas ucapan Raka barusan.
Raka mengandeng Dini ke luar vila agar dia tak mengangu urusan Karin dan Biyan di kamarnya.
Kok elo biarin sih ka? kalo mereka berbuat yang aneh aneh gimana coba? protes Dini. Lalu Raka membalik tubuh Dini kedepan dan ia peluk dari belakang, Dini menegang atas gerakan Raka yang tiba tiba, ia tidak membalas pelukan itu juga membiarkannya dipeluk oleh Raka.
Mereka tuh udah biasa kayak gitu, kamu ngak usah kaget.
Kalo sampai hamil gimana?
Raka tersenyum mendengar ucapan Dini.
Kamu sendiri gimana masih sebel soal kejadian tadi?
Sedikit tapi ya udah lah, udah terjadi juga.
Din kalo gue masih lajang elo mau ngak nikah sama gue? Kata Raka sambil melihat wajah Dini dan saat kata kata itu keluar dari mulut Raka, Dini kaget dan mencoba melihat expresi Raka tapi saat ia menengok bibirnya bertemu dengan bibir Raka. Iya mereka berciuman sekilas tapi tak sengaja, keduanya mematung mencerna yang baru saja terjadi. Dini mengedip ngedipkan matanya yang justru terlihat lucu karena kaget, lalu Raka mengulangi kecupan itu lagi dan membuat tubuh mereka memanas.
Mata Dini melotot atas tindakan Raka yang tiba tiba itu membuat jantungnya berdetak tak menentu.
Dini mencoba menguasai emosinya lalu melepaskan pelukan Raka dan mendorong Raka agar menjauh dari tubuhnya. Dia menutupi mulutnya dengan kedua tangganya karena merasa malu dan berlari masuk kedalam kamar, mukanya memerah seperti kepiting rebus dan Raka masih mematung disana. Mencoba mengatur nafas yang mengebu serta detak jantung yang berantakan .
Baru saja tiba di Kamarnya Dini mendengar suara suara desahan dari kamar sebelah, ia tempelkan kupingnya di dinding dan suara itu semakin jelas di kupingnya. Dini bergidik sendiri mendengar suara desahan Karin lalu ia keluar karena tak ingin mendengar dua orang yang sedang b******a itu.
Sial, niat hati ingin menghindar gara gara Raka malah mendengar yang tidak tidak, kata Dini dalam hati sambil berjalan keluar.
Raka yang melihat Dini keluar kamar dengan expresi sebal itu tersenyum kecil.
Maaf ya buat yang tadi, kata Raka tulus.
Ya udah lah lupain aja, sumpah gue merinding banget.
Kenapa lo liahat hantu?
Bukan, tuh dua manusia yang lagi beradu sampe kedengeran dari kamar gue...
Raka tertawa mendengar ucapan Dini yang polos itu
Elo sendiri gimana, mau lanjutin yang tadi? tanya Raka sambil tersenyum mengoda
Idih gila lo ya, itu tadi gue angep cuma kecelakaan. Kata Dini lalu pergi meninggalkan Raka yang masih berdiri di sana dan Dini duduk di sofa depan Tv dengan perasaan yang jengkel.
Dini mulai mengalihkan fikirannya ke layar TV di depannya, mencoba mengalihkan pikirannya yang terus memikirkan ciuman tadi. Tentu ada rasa aneh di hatinya tapi Dini sadar betul hal itu bukanlah hal yang baik untuk hubungan mereka kedepannya.
Karena bosan Dini pun bangun dari duduknya dan menuju kamar hendak mengambil selimut dan jaket karena udara puncak yang mulai dingin di malam hari.
Mau kemana lo? tegur Raka ke Dini
Mau ambil selimut
Raka hanya melihat Dini masuk ke kamar lalu kembali keluar dan duduk lagi di sofa
Lo mau tidur dimana?
Di sini, kata Dini singkat
Tidur di atas aja sama aku gimana? Dini melotot ke Raka tak percaya. Bu bukan gitu maksutnya, kan di atas ada dua kamar ya kamu tidurnya di sebelah kamar aku gitu.
Oh aku pikir, males ah harus naik turun tangga
Dingin loh disini
Gue udah ambil selimut kok
Ya udah kalo gitu biar Karin dan Biyan pindah ke atas, Raka berjalan menuju kamar Karin lalu segera Dini mencegah
Jangan teriak Dini, Kenapa? tanya Raka berbalik bertanya
Lo gila? yang ada di amuk ganguin kucing kawin. Raka tertawa mendengar ucapan Dini
Ya terus lo maunya apa? di suruh tidur di atas ngak mau, balik ke kamar lo juga ngak mau terus kamu pengen gimana? aku ngak akan biarin kamu tidur di sini sendirian , tempat ini terlalu dingin.
Aku biasa aja, nanti kalo mereka udah kelar gue balik tidur di kamar oke
Ngak percaya gue , pasti ngebut sampai pagi
Hah seriusan? itu udah kayak vampir aja
Gue temenin kalo gitu
Raka benar benar menemani Dini sampai tertidur, lalu Raka mengecek ke kamar Karin memastikan dua manusia itu selesai dengan aktifitasnya dan mengendong Dini masuk ke kamar. Dengan susah payah Raka mengendong Dini ke tempat tidur dan menyalakan penghangat ruangan.
Aduh berat banget ternyara tanggan gue hampir aja patah gemdong dia, kayaknya gue harus sering sering ngegym deh bisa habis nih harga diri gue ,untung aja ngak ada yang tau. kata Raka berbicara sendiri lalu berjalan menuju kamarnya.
Ke esokan paginya Dini yang bangun lebih awal berada di kamarnya merasa bingung, pasalnya semalam ia merasa tidur di depan TV tapi saat ia bangun sudah berada di dalam kamarnya. Dini pun segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi memutar kran shower dan merileks kan tubuhnya dibawah guyuran air hangat yang mengalir. Sementara di kamar lain Raka masih tertidur pulas dan Karin juga biyan masih tertidur di kamarnya, sedangkan pembantu yang bertugas bersih bersih serta memasak untuk vila ini sudah beres melakukan tugasnya tinggal menunggu tuannya bangun dan mereka pun pergi meninggalkan vila agar pemilik vila tidak merasa tergangu. Selesai mandi Dini segera mengemas barang miliknya ke dalam koper dan tas milknya memastikan tak ada yang tertinggal lalu dia pun siap keluar dari kamar menuju ruang makan, saat keluar kamar dilihatnya sekeliling ruangan sudah rapi dan bersih tapi sepi tak ada orang.
Sepi banget, jangan jangan gue di tingal sendiri di sini lagi? engak engak, gue harus telfon Raka. Dini pun panik dan segera menelfon Raka
Kok ngak di angkat sih, gue sarapan dulu aja kali y. Dini pun makan dengan lahap sendirian , selesai makan Dini kembali menghubungi Raka.
Angkat begok, kata Dini kesal saat sambungan itu baru saja tersambung
Apa lo bilang? lo ngatain gue begok? tanya Raka yang mendengar kalimat itu saat mengakat telfon Dini.
Engak, bukan gitu kok. Ini pada kemana sih sepi banget? gue di tinggal ya?
Gue aja baru bangun, lo lagi ngapain?
Gue pikir gue di tinggal, gue baru selesai sarapan.
Ya udah gue turun. Raka mematikan ponselnya lalu turun ke bawah melihat Dini yang sendirian di sana .
Karin belum bangun? tanya Raka saat hendak duduk di kursi makan. Belum jawab Dini singkat
Jadi lo makan sendiri? Dini hanya menganguk ke Raka lalu berdiri menuju kamar Karin
Lo mau ngapain? tanya Raka yang melihat Dini pergi di hadapannya dan tidak di respon oleh Dini.
Dini mengetuk pintu kamar Karin sopan, sang pemilik kamar tidak kunjung menjawab. Di ulangi lagi ketukan itu, kali ini sedikit keras
Non bangun sarapanya sudah siap, suara Dini dibuat buat seolah seperti pelayan . Karna tak mendapat respon dari dalam Dini pun mengedor pintu itu dengan keras dan segera pergi sebelum di buka orangnya.
Aduh brisik, teriak Karin dari dalam kamar.
Iseng banget sih lo, kata Raka heran dan ia ikut tertawa atas ulah Dini yang jail.
Habisnya sebel gue
Ih siapa sih yang gedor gedor kamar gue? tanya Karin sebal dan Dini hanya diam saja pura pura main ponsel sedangkan Raka melanjutkan sarapannya.
Biyan pun ikut duduk lalu sarapan tanpa banyak bicara.
Hari ini gimana jadi sesuai rencana? tanya Raka
Sedih banget kita balik aja, kata Karin
Kenapa? tanya Raka balik
Dosen pembimbing gue tiba tiba aja ngajak ketemuan sore nanti di kampus soalnya besok dia ada acara, sorry banget ya guys. Mereka semua menganguk dan tak protes
Jadi kita pulang jam berapa nih? udah jam sembilan guys, tanya Dini pada mereka.
Habis selesai sarapan kita siap siap balik. Kata Raka yang di setujui oleh mereka.
Mereka pun segera beres beres dan mengemas semua barang bawaan ke dalam mobil, hari ini mereka berangkat dengan satu mobil di ikuti oleh para anak buah Raka yang siap menjaga bosnya itu. Dalam perjalanan pulang terjadi ke heningan di awal awal perjalanan dan mereka saling sibuk dengan ponsel masing masing kecuali Raka yang fokus menyetir.
Oh ya mbak Dini aku boleh tanya ngak? kata Karin memecah ke heningan di antara mereka.
Tanya apa?
Sorry nih ya ngak maksud gimana gimana nih, kalo boleh tau kenapa mbak Dini cerai di saat hamil sih? suami mbak Dini KDRT apa gimana?
Engak kok dia baik, aku juga baru tau hamil waktu kita udah cerai.
Hah terus kenapa pisah mbak?
Gara gara keluarganya, kita juga ngak tahu tiba tiba surat cerai itu udah jadi aja.
Kok bisa?
Aku juga ngak tahu yang pasti bisa aja karna semua surat berharga kita ada di rumah itu jadi pasti ngurusnya gampang. tinggal mereka cari alasan aja ke pengadilan pekara perceraian, selesai.
Kok ada ya orang sejahat itu, pokoknya kalo mbak Dini kenapa kenapa atau butuh bantuan hubungi aja aku, papa aku cukup punya kuasa untuk lakuin apapun yang dia pengen.
Papa kamu serem juga ya. Dan semua mata melirik Karin yang terlihat bangga.