22.Sendiri denganmu

1568 Kata
Setibanya mereka di Puncak rupanya Raka sudah menyiapkan Vila yang cukup besar dengan empat kamar untuk mereka masing masing, Karin cukup merasa senang karna kali ini Raka benar benar menuruti keinginannya. Mereka bukan seperti sepasang suami istri tapi lebih seperti adik dan kakak, Biyan sama sekali tidak menaruh cemburu pada Raka berbeda dengan Karin yang sangat posesif dengannya. Oke guys kalian bebas pilih kamar ya, intruksi Raka kepada mereka .Karin langsung memilih kamar dekat kolam renang , sedangkan Dini hendak pergi untuk menuju kamar yang dia mau tapi tiba tiba Raka menarik tangganya. Ikut gue bentar, Raka menarik Dini paksa dan dengan berat hati Dini pun ikut denganya. Kita mau keman sih? Kita jalan jalan bentar, emangnya elo mau jadi nyamuknya Karin sama Biyan? Kita baru aja nyampek pasti capek dan butuh istirahat, protes Dini kesal. Kita istirahat di gasebo bawah aja disana cukup nyaman buat lo leyeh leyeh, masak mau tidur terus. Dini pun mengikuti Raka ke bawah vila, karena tanah di sana yang berbentuk terasereng menampilkan pemandangan yang luar biasa indah nan hijau. Kamu ke dinginan ngak? Dini hanya mengelengkan kepalanya. Mereka saling terdiam menatap lurus ke depan, Raka mulai bingung harus memulai pembicaraan apa dengan Dini, saling terdiam tanpa ada kata. Raka tak berani menatap Dini takut hatinya tergoda, rasa yang aneh untuknya tapi ini kali pertama. Emm perut lo udah makin besar ya? tanya Raka membuka pembicaraan. Iya udah lima bulan nih, tendangannya juga udah mulai berasa. Tendangan? Iya dia gerak gerak gitu, kamu mau rasain ngak, lucu banget deh. Kata Dini antusias. Emang boleh pagang? tanya Raka ragu. Boleh dong, bentar ya dia belum gerak nih. Dini memegang tanggan Raka dan menaruhnya diatas perutnya yang mulai terlihat buncit. Nih nih dia muali gerak, berasa ngak? Hah kok gini, Raka agak kaget mendapat tendangan itu dan mulai antusias dengan tendangan selanjutnya. Lucu kan? tanya Dini. Iya kok bisa berasa ya. Nanti kalo dia tambah gede katanya tendangannya makin kenceng, seru ya? Raka menganguk semangat, Hay adik bayi kamu sehat sehat ya ibu kamu orang yang hebat pasti kamu nanti jadi anak yang hebat juga. Kata Raka berbisik pada perut Dini. Tuh dia nendang lagi, kayaknya dia ngerespon kamu deh. Mereka pun bercanda gurau disana sambil mengobrol asik tentang kehamilan Dini, Raka senang sekali kali ini bukan hanya karin yang merasa bahagia dia pun sama karna ada Dini di sini. Perasaan itu semakin kuat entah mengapa cinta itu harus tumbuh di saat situasi seperti ini. Kita makan siang yuk udah di siapan soalnya. Mereka kembali ke vila, Biyan dan Karin sudah menunggu mereka di meja makan. Kalian dari mana sih lama banget, tanya karin Ayo kita makan, kata Biyan. Mereka tidak menjawab dan langsung ikut duduk mulai makan. Nanti sore kita mau mulai jalan kemana nih? tanya Raka kepada mereka. Aku mau pergi sendiri sama Biyan, kalian terserah mau kemanapun. Oke kalo gitu, ngak masalah kan din? Dini menganguk setuju. Saat menikmati makanannya tiba tiba saja ponsel karin berdering. Aduh siapa sih gangu orang aja, keluh karin. Mampus gue papah video coll, gimana nih? Mereka semua langsung panik, Dini sepontan langsung pindah tempat duduk di sebelah Biyan dan karin mengeser kursinya lebih dekat dengan Raka. Lalu diangkat pangilan itu. Hallo sayang gimana liburannya? Duh papa gangu aja hehe Sorry sayang papa cuma mau ngecek aja, Raka mana? Hallo pa, sapa Raka dari samping Karin. Udah dong pah jangan gangu kita dulu. Oke oke lanjutin aja, tapi sebelum papah tutup tolong kasih liat sekeliling tempat kalian nginep dong. Karin melirik Raka panik, Raka pun menenangkan Karin dan mengambil alih ponselnya. Oke papah mau lihat sekelilingkan, nih aku kasih tunjuk y pa, ini kamar kita deket kolam terus kalo keluar langsung pemandangan mau kedepan juga pah? Oh ngak usah , kalian lanjut aja Oke pa, oh ya pah Raka minta tolong nanti malem bisa kali ya jangan telfon dulu, papah pasti ngerti lah ya kita mau ngapain kan besok udah balik Jakarta hehe. Siap Siap hahaha maaf ya papah jadi gangu. Iya Raka ngerti kok, dah papah. Raka kembali ke meja makan dan mengembalikan ponsel Karin. Aman? tanya karin Aman, yuk lanjut makan. huuffs , thank you. is ok. Din lo balik kesini, ngapain deket deket pacar orang. Cemburu nih, goda Biyan ke Raka sambil menahan Tawa. Engak kok takut pacar lo panas lihat kalian deket. Apaan sih kak Raka aku ngak cemburu kok sama mbak Dini. Dini pun pindah di samping Raka tanpa banyak bicara. Mereka makan dengan tenang, Selesai makan Dini membawa piring kotor ke dapur sedangkan Karin dan Biyan kembali ke kamarnya. Kamu ngapain? tanya Raka. Mau cuci piring Kita di sini buat liburan nanti biar di cuci sama pembantu, kamu istirahat aja di kamar kamu, itu kamar kamu di samping kamar Karin. Ya udah aku ke kamar dulu ya. Raka menganguk dan Dini pun pergi ke kamarnya. Biyan dan Raka mengobrol sambil ngopi di pingir kolam, ditemani cemilan ringan serta rokok ditanggan. Mereka saling bertukar pikiran mengenai pekerjaan dan curhatan tentang Wanita juga masalah pribadinya, Karin yang meligat kedekatan dua laki laki kesayangannya itu merasa terharu ,mereka sangat kompak di situasi seperti ini. Biyan adalah laki laki yang tepat untuk dirinya dan sangat mengerti apa mau Karin sedangkan Raka laki laki yang seperti kakak kandungnya selalu membantu di saat tersulit dalam hidupnya. Karin merasa bersyukur atas kehadiran dua laki laki itu dalam hidupnya meski di tentang orang tuanya sendiri. Sore yang cerah dan sejuk Dini sudah Rapi dengan dandanan yang sedikit tomboy serta hoodie yang sedikit kebesaran, ia keluar kamar karna merasa jenuh dan menghampiri Raka yang duduk di sofa tv. Habis ini kita mau ngapain nih? tanya Dini ke Raka lalu ia duduk di sebelah Raka. Udah rapi aja. Karin sama Biyan mana? Mereka udah keluar duluan dari jam dua tadi. kok kamu ngak ikut? Aku mau nemenin kamu aja di sini. Terus kita berdua aja Disini ngak ngapa ngapain? Kamu maunya di apain? Maksudnnya? Raka mendekatkan wajahnya ke wajah Dini ia pandangi bibirnya yang ranum itu, terlihat mengoda meski tanpa riasan lipstik, Dini mundur sedikit untuk menjaga jarak diantara keduanya. Dan Raka mencoba menormalkan lagi pikirannya kala Dini mundur darinya. Ya udah kita jalan jalan aja di sekitar Sini, bisik Raka disebelah kuping Dini Dini hanya menganguk tak menjawab. Besok ada rencana apa lagi? Besok, Karin sama Biyan katanya mau ke air terjun terus ngak tau mau ngapain lagi mereka. Kita ngak ikut? Terlalu bahaya buat kamu mending kita pergi ke tempat yang aman aman aja lah. Ya udah kita pergi ke merlimba garden aja. Boleh, kamu ngak sekalian mampir ke rumah? Engak deh males nanti ketemu mantan. Ayo jalan keburu malem. Kata Dini kelewat enteng menyebut kalimat mantan. Raka berdiri mengikuti Dini keluar, mereka bejalan jalan di sekitar Vila menikmati pemandangan sawah dan pepohonan yang menjulang tinggi menambah ke indahan pesona kawasan tersebut, sesekali mereka bercanda dan Berfoto . Kamu kalo capek ngomong ya. Kata Raka dan Dini mengacungkan jempolnya setuju. Mereka duduk di batu besar pingir sawah dan mengobrol banyak hal di sana, tanpa terasa matahari mulai berganti senja menampilkan langit jingga di barat sana. Dan mereka memutuskan kembali sebelum gelap, beberapa warung kopi, jagung bakar dan makanan lainanya mulai berjejer membuka lapak di sepanjang jalan. Mereka memutuskan untuk berhenti sejenak disalah satu warung di sana memesan kopi, jagung, serta roti bakar dan mie instan, beberapa muda mudi yang sedang berlibur turut meramaikan di sana, ada pula segrombolan anak muda bernyanyi sambil mamainkan gitar duduk di balai balai yang ada di pingiran warung. Dini dan Raka menikmati suasana disana sambil mengobrol santai layaknya pasangan anak muda lainnya. Tak terasa waktu menunjukan pukul sembilan malam, mereka pun memutuskan kembali ke vila . Berjalan bersama beriringan sambil bercanda, Dini mengelus elus perutnya yang dari tadi ditendangi terus oleh janinnya seolah ikut bercanda dengan mereka. Aduh nak kamu kok nendang terus sih. Oh ya dia nendang dari tadi, boleh pegang ngak? Dini menganguk ,Raka merasa senang sekali bisa di ajak berbagi rasa seperti ini oleh Dini, merasa bangga karna sudah bisa sedekat ini. Saat mereka berjalan menuju vila tiba tiba saja ada mobil yang berhenti lalu seorang perempuan keluar dari sana dan berjalan menghampiri Dini . Wah ternyata benar ini kamu Nandini? hebat sekali kamu ya, baru cerai udah gandengan sama laki laki lain. Raka dan Dini sama terkejutnya dan saling menatap. Wanita itu menatap Dini dari atas sampai bawah. Kamu hamil? anak laki laki ini, jadi kamu sudah menikah? Bukan urusan anda, kita udah ngak ada urusan apapun ya jadi jangan pernah muncul lagi di hadapan saya, Kata Dini tegas. Berani ya kamu sama saya! wanita itu hendak melayangkan pukulan ke wajah Dini lalu dengan sigap segera di tepis oleh Raka. Anda jangan kurang ajar ya, kata Raka memeringati. Lalu seorang laki laki berusia empat puluh tahunan turun dari mobil menyusul mereka, dia adalah suami Ningsih mantan kakak ipar Nandini. Ayo kita kembali, maaf ya din. Sebaiknya mas Agus jaga baik baik istrinya, apalagi sembarangan marah marah ngak jelas sama orang yang ngak salah. Kami permisi dulu. Dini menarik tanggan Raka dan meninggalkan mereka. Itu siapa? Mantan kakak ipar gue, huff nyebelin banget sih kenapa harus ketemu dia disini sih. Elo ngak papa kan? I'm ok. Mereka pun melanjutkan berjalan menuju vila yang sudah terlihat di depan mata dan masuk kedalam. Saat hendak membuka pintu ,Karin dan Biyan juga baru saja tiba. mereka berdua menoleh ke arah suara mobil yang baru saja terparkir didepan vila. Lalu mereka saling menyapa dan masuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN