Karna Karin dan Raka waktu itu belum berhasil meyakinkan Dini akirnya Karin bertekat untuk menemui wanita itu lagi tanpa Raka. Sepulang kampus Karin datang sendirian ke toko Dini untuk membicaraka hal itu, dengan tekat yang bulat ia mencoba meyakinkan Dini agar ikut liburan dengannya.
Sesaat setelahnya Karin tiba di toko Dini.
Hay mbak, sapa Karin ke Dini yang sedang menyapu.
Mbak Karin, ada perlu apa ya?
Jangan pangil mbak dong Karin aja.
Ya udah kamu ada urusan apa datang ke sini?
Boleh ngak ngobrolnya di dalem aja?
Silahkan masuk, mereka pun masuk ke dalam toko.
Langsung aja ya mbak, aku mohon mbak Dini bantuin aku buat ketemu sama Biyan. Mungkin ini kesempatan terakir buat aku ketemu Dia mbak, mbak Dini lihat ngak orang orang di luar sana yang ngikutin aku mereka orang suruhan papah mbak.
Lalu apa hubungannya dengan, belum selesai menjawab Karin memotong ucapannya
Mbak hidup aku udah ngak bebas lagi, cuma dua hari mbak, mungkin setelah itu papah akan nambah orang buat lebih ketat lagi buat jaga aku dan aku cinta banget sama Biyan. Kalo kita ngak bisa bersatu di pernikahan mungkin nanti kita bisa bersatu di keabadian. Kata Karin sambil tertunduk sedih mencoba meyakinkan Dini.
Jangan ngomong gitu ngak baik, apapun yang terjadi kalo Tuhan menakdirkan bersatu pasti kalian ada jalan kok.
Makanya aku butuh bantuan mbak karin biar bisa ketemu Biyan. kata Karin memohon.
Maaf ya karin bagaimanapun kamu itu milik Raka bukan Biyan, jadi apa ngak sebaiknya kamu mencoba belajar mencinti Raka aja? harusnya kamu kalo emang cintanya sama Biyan kamu tolak aja perjodohan itu, kalian tuh punya pilihan dan saat ini tindakan kalian itu salah, sama aja kalian mempermainkan pernikahan.
Mbak Dini tuh ngak ngerti apa apa soal keluarga aku, kerasnya papa soal hubungan kami. Kata karin sambil menangis.
Karin, kata Dini lembut sambil memegang tanggan karin. Maaf kalo kata kata aku barusan menyingung kamu, lalu apa yang kalian mau dari wanita sepertiku untuk membantu?
Mbak Dini cukup ikut aja nanti di jemput Biyan sisanya biar kak Raka yang urus. Ini biar orang orang papah ngak curiga kalo kita ketemu disana.
sialan emang si Raka bisa bisanya ya ngajak Dini kan bisa ngajak wanita lain buat temenin dia, ngak harus cewek alim ini bikin ribet aja. Batin Karin karna kesal.
Oke aku mau tapi setelah itu aku ngak mau ikut campur lagi urusan kalian oke.
makasih ya mbak, karin pun memeluk Dini karna senang . Janji ini yang terakir, ya udah kalo gitu aku beli macramenya satu.
Karin menunjuk hiasan dinding itu disana.
Dua aja deh kasian masak di pajang sendirian hehe, goda Dini ke Karin.
Ya udah aku beli empat.
Hah serius?
Karin pun menganguk antusias, dan dia membeli empat buah macrame dari Dini. Dengan perasaan senang ia pamit dan pulang ke apartemen, sedangkan para mata mata itu masih aja mengikuti Karin kemana pun dia pergi. Karin merasa senang dan menghubungi Raka untuk memberitahu hal itu.
Dan hari yang mereka nantikan tiba, sabtu pagi yang cerah dan hangat matahari masih malu malu untuk menunjukan sinarnya tepat pukul setengah enam pagi Biyan sudah berada di depan Toko Dini dan di sana Dini menunggu dengan rasa kantuk yang luar biasa, Biyan pun melihat Dini yang ketiduran didepan toko bersandarkan kopernya itu lalu mengambil foto Dini yang sedang tertidur itu dan mengirimkan ke Raka.
Giman nih orangnya masih tidur ngak tega gue bangunin, pesan itu terkirim ke Raka.
Hahaha lucu banget sih, balas Raka ke Biyan.
Biyan yang cengar cengir sendiri dengan ponselnya tak menyadari Dini yang baru saja terbangun lalu mengelap mulutnya memastikan tidak ada iler yang menetes di pipinya, dan di lihatnya pemuda tampan itu sudah berdiri disampingnya seperti orang gila yang senyum senyum sendiri menatap layar ponsel.
Baru nyampe lo? tanya Dini ke Biyan.
Sorry ya gue lama sampe elo ketiduran disini.
Dini tidak menjawab ucapan Biyan ia langsung berjalan menuju mobil Biyan dan masuk ke dalam meninggalkan Biyan dan kopernya, lalu Biyan yang ditingal buru buru menyusul Dini dan membawa koper Dini ke dalam mobilnya. Merekapun memulai pejalanan sesuali intruksi Raka.
Sebenernya Kita mau kemana sih? tanya Dini.
Ke puncak.
Pasti macet deh nanti.
Makanya kita berangkat pagi biar ngak ke siangan nyampek sana.
Ya udah gue lanjut tidur ya, semangat ya nyetirnya . Kata Dini memberi semangat ke Biyan.
kirain bakal liburan ke bali, tau gitu cuma bawa ransel aja gue. Kata Dini ngedumel sendiri sambil menatap jendela.
Kenapa? tanya Biyan penasaran karna samar samar mendengar ucapan Dini.
Ngak kok, jawab Dini lalu berbalik muka.
Di tempat yang lain Karin dan Raka sudah berangkat duluan, Raka yang senyum senyum sendiri mendapat pesan dari Biyan mengundang tanya ke Karin.
Kenapa sih senyum senyum ada yang lucu?
Raka menunjukan kiriman pesan dari Biyan dan melihat foto Dini yang tengah tertidur itu.
Dia tidur?
Lucu banget kan? tanya Raka senyum sumringah.
Ih elo kalo jatuh cinta gini ya ka, aneh banget tau ngak.
Raka mengacak rambut karin pelan dan melajukan kembali mobilnya fokus menyetir. Karin yang menyadari masih di ikuti mobil papahnya itu mulai cemas .
Ih nyebelin banget sih kalo kayak gini usaha kita bakal sia sia.
Tenang aja, kata Raka lalu ia menghubungi anak buahnya yang sudah mempersiapkan rencana untuk menghalau mereka.
Hallo jef, sesuai intruksi ya sebelum keluar Jakarta.
Siap bos.
Kalo perlu tabrak aja, kata Raka santai dan menutup telefonnya.
Karin yang mendengar ucapan Raka melotot tak percaya atas tindakan Raka senekat itu dan memperhatikan mobil di belakangnya itu ,di susul dua mobil yang tiba tiba saja melaju mengapit mobil mata mata papahnya itu selang beberapa detik mobil dibelakangnya itu terjadi kecelakan yang mau tak mau membuat pengemudinya keluar untuk melihat kerusakan, terlihat orang orang Raka tengah mencoba mengulur waktu agar bosnya itu pergi menjauh dari sana sedangkan orang suruhan papah Karin terlihat tak peduli dan ingin melanjutkan pengejaran mobil mereka. Raka pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menghindar agar mereka kehilangan jejak.
Dini masih tertidur pulas di dalam mobil, wanita itu engan membuka matanya karna masih mengantuk dan Raka mengintruksikan mereka untuk berhenti sejenak untuk sarapan.
Raka mengetuk pintu mobil Biyan lalu dia membukanya dan Raka menatap Dini yang masih tertidur pulas.
Ayo sarapan dulu, Karin udah nunggu di dalem.
Dini gimana? tanya Biyan tak tega membangunkannya.
Dari tadi dia cuma tidur?
Iya, kata Biyan menganguk.
Ya udah bangunin lah.
din bangun din, Dini. Biyan menguncangkan bahunya agar terbangun.
hah udah sampek?
Belom ayo sarapan dulu.
Mereka pun turun dari mobil dan menyusul Raka ke dalam, Dini masih terlihat mengantuk juga malas mengekor mengikuto Biyan dan ikut duduk bersama.
Kamu masih ngantuk? tanya Raka, Dini hanya duduk saja.
Emang semalem begadang mbak?
Iya nyiapin paketan.
Pantesan tidur kayak orang pingsan. kata Biyan sambil tertawa.
Sialan lo, balas Dini.
Kalian langsung akrap aja, kata Raka.
Kalian ngak tau ya , gue sama Biyan ini sodara.
Raka, Karin dan Biyan saling menatap kaget.
Hahahahha ya engak lah gue becanda aja, adek gue lebih ganteng tauk dari pada Biyan.
Serius? tanya Biyan tak percaya.
Iya lah, namanya Dira anaknya sedikit pendiem tapi cool banget matanya agak sipit jadi kayak Cina gitu, yang suka banyak nanti kalo Karin ketemu pasti naksir. Goda Dini ke pasangan itu.
Kamu ngak akan suka cowok yang lebih ganteng dari pada aku kan yang?
Ya engak dong sayang, ngak usah percaya omongan mbak Dini.
Dih ngak percaya, mau aku kasih lihat fotonya ngak? nih aku ada.
Ngak usah ngak usah, nanti yang ada kita ngak jadi liburan malah berantem. Kata Raka menengahi.
Merekapun memesan makanan dan mulai makan dengan tenang.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke Puncak mengunakan satu mobil dan mobil Biyan dibawa oleh orang suruhan Raka. Benar benar liburan seperti ABG yang diam diam kabur dari orang tuanya karna dilarang.
Mereka menikmati perjalanan dengan suka cita, bercanda serta mengobrol banyak hal dan bernyanyi.