Ponsel Dini bergetar di atas meja dan segera ia jawab pangilan itu yang ternyata dari ayahnya.
Hallo pa
Sesuai ke inginan kamu papa udah selidiki semuanya dan emang benar dugaan kamu.
Terus gimana pa?
Sudah papa bereskan, Ningsih sudah papa laporkan ke polisi atas tindakan penyemaran nama baik.
Bagus deh pa. Dini pun mematikan sambungan telepon itu dan melihat keluar, Dika masih tetap di tempatnya ,sesaat setelahnya laki laki itu seperti sedang mendapat pangilan dari seseorang dan terlihat panik ,sesaat setelah mendapat pangilan telefon itu, ia segera pergi meningalkan toko Dini dengan tergesa gesa. Sudah bisa di pastikan mungkin itu telefon dari orang tuanya yang memberi kabar bahwa kakaknya sedang ada masalah.
Mbak Dini kenapa senyum senyum sendiri? tanya Riska yang kepo karena tingkah Dini yang tak seperti biasanya.
Karena satu biang masalah dalam hidup ku mulai berkurang satu.
Siapa? tanya Riska tak puas dengan jawaban bosnya itu
Kakaknya mantan suami ku baru aja di laporin papa ke polisi
Wanita judes itu mbak? bagus deh biar tau rasa ,aku juga gemes sama dia mbak. Kata Riska yang tentu saja dia tahu semuanya karena sudah lama kerja dengan Santi dan Dini.
***
Di waktu yang lain keluarga Dika sangat marah atas tindakan keluarga Dini tapi Dika pun sama sekali tidak membela keluarganya karena apa yang sudah di perbuat keluarganya tak dapat di maafkan begitu saja terlebih kakak kandungnya yang diam diam mengurus perceraian mereka secara sepihak. Kali ini tindakan Dini benar benar di luar dugaan bahkan sangat berani, ibu Dika benar benar marah dan menyalahkan mantan menantunya itu.
Dik kamu pasti tau kan dimana Dini tinggal saat ini? tanya ibunya pada anaknya.
Aku ngak tahu buk, udah lah ini juga salah mbak Ningsih sendiri sudah keterlaluan.
Kamu nyalain mbakmu? bisa saja yang di ucapkan itu benar, ngak usah belain perempuan itu.
Ngak usah gangu Dini lagi buk, aku percaya itu anak ku dan laki laki yang di maksud mbak ning itu sudah punya istri mereka liburan bareng dan kebetulan Dini di ajak, jadi ngak mungkin lah
Oh jadi selama ini kamu masih ketemu dengan dia dik? kali ini bapak yang bertanya.
Baru dua kali pak, jangan salain Dini lagi, aku mohon atau aku akan pergi dari rumah ini, tegas Dika
Kamu mulai berani dik, kata bapaknya geram
Selama ini aku diam karena masih menghormati kalian pak bu, tapi secara tidak langsung kebahagianku sudah kalian rampas. Selama ini aku sudah berusaha jadi anak yang baik, mungkin kalo itu bukan Dini wanita itu sudah menceraikanku tanpa harus dijebak seperti ini. Kata Dika dengan penuh emosi lalu ia pergi dari hadapan orang tuanya sedangkan bapaknya tak mampu berkata apapun atas ucapan putranya itu.
Kabar itu langsung menjadi pembicaraan hangat di kampungnya, hampir seluruh telinga di sana sudah mendengar bahkan orang tua Dika tak berani keluar rumah karena malu dan tentu saja mereka mencari cara agar bisa membebaskan anaknya. Dika sendiri mencoba menghubungi Dini tapi pangilan itu sama sekali tak di respon oleh wanita itu dan sekarang ponselnya malah di matikan, mungkin risih karena telefon dari Dika yang terus menghubunginya tanpa henti. Mungkin aku harus menemuninya besok, kata Dika yang hampir tak terdengar oleh siapapun.
Sedangkan suami dari Ningsih sendiri sudah datang langsung ke rumah orang tua Dini agar mereka mencabut laporan atas istrinya tapi tentu saja tidak semudah itu dan permintaannya di tolak orang tua Dini, Dika sendiri sebenarnya tidak ingin ikut campur tapi karena kasihan dengan suami dan ponakannya tentu dia juga akan membantu membebaskan kakaknya.
Santi yang mengetahui berita dipenjaranya mantan kakak ipar sahabatnya itu langsung mencoba menghubungi Nandini tapi pangilan itu tak mendapat jawaban dari pemiliknya dan segera ia menghubungi Riska. sesaat setelah pangilan itu terjawab ia lagsung meminta di berikan pada Dini.
Halo din, HP lo kok ngak aktif sih?
Sorry san, risih gue di telfon Dika terus.
Jadi bener berita yang gue denger?
Soal kakaknya di penjara? iya bener kenapa?
Ih sumpah ini bukan lo banget tapi gue seneng dengernya, kata Santi yang girang dari sebrang sana.
Gue capek di injek injek terus jadi biar tuh orang tau rasa.
Gue dukung lo seratus persen
Tau dari mana lo masalah ini?
Ibunya Dika dateng ke kantor tanya alamat lo, ya ngak gue kasih lah.
Bagus deh, thank you ya infonya.
Siap, pokoknya kalo ada apa apa cepet hubungi gue oke?
Iya, udah dulu ya san nanti kita sambung lagi soalnya lagi rame nih.
Oke, besok gue kesana sekalian main bay.
Ini ris makasih ya, kata Dini sambil mengembalikan ponsel milik Riska dan mereka kembali ke rutinitas melayani pembeli. Dini cukup puas dengan tindakannya dia merasa lega karena satu masalah sudah di atasi dan semoga ini bisa menjadi pelajaraan untuk mantan kakak iparnya agar tak mengusiknya lagi. Dengan berat hati ia terpaksa mengambil tindakan berani ini guna melindugi diri dan calon anaknya kelak.
Kini usia kehamilan Dini sudah menginjak tujuh bulan ia mulai mempersiapkan segala sesuatu keperluan calon bayinya kelak, sesekali Raka dan Karin berkunjung mengajak dia pergi belanja atau sekedar jalan jalan tentu itu hanya alasan agar Karin bisa ketemu dengan Biyan karena sesampainya di moll atau tempat tujuan mereka akan bertukar pasangan, bahkan Dini sudah terbiasa dengan dirinya yang dijadikan alasan untuk mereka bisa berkencan. Karin pun mulai akrap dengan Dini karena wanita itu sering berkunjung ke tempat Dini untuk menyelesaikan tugas kuliah serta curhat masalahnya dengan Biyan, hubungan keduanya semakin dekat seperti kakak adik. Raka cukup senang dengan kedekatan keduanya dan Dini juga merasa bersyukur punya teman baru yang sangaat membantu menuntaskan rasa sepi juga segala bentuk masalah di hidupnya.
Di sisi lain Dika masih berusaha meluluhkan hati Dini agar bisa memaafkannya, meski kakaknya terkena masalah tapi sedikitpun Dika tak pernah membahas masalah itu kala bertemu Nandini , ia lebih mengutamakan agar bisa di maafkan oleh Dini karena bagaimanapun ia merasa bertangung jawab atas calon anaknya kelak meski hubungan mereka tak bisa seperti dulu tapi Dika tidak ingin memaksa Dini untuk kembali padanya lagi yang terpenting saat ini adalah di maafkan dan bisa menjaga anaknya kelak.
***
Hari minggu yang di nanti, Dika bersiap menemui Dini tanpa ia sadari kedua orang tuanya ikut membuntuti dia pergi , karena mereka merasa yakin bahwa Dika akan bertemu dengan mantan istrinya itu. Tentu saja tujuan mereka meminta Dini untuk membebaskan Ningsih,
setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu itu Dika tiba di depan toko Dini, dengan perasaan berdebar, laki laki itu masuk ke dalam mencari sosok wanita yang masih mengisi hatinya itu.
Assalamualaikum, sapa Dika sopan
Walekumsalam jawab Riska
Nandini ada?
Mbak Dini priksa ke dokter mas.
Sama siapa ris?
Sama orang tuanya dan mbak Santi.
Ya udah kalo gitu aku tunggu di depan ya.
Terserah mas Dika aja.
Di sebelah gang toko itu ,kedua orang tua Dika bersembunyi mengintai anaknya yang sedang santai di depan toko. Dengan penuh tanya kemana tujuan anaknya itu atau sedang apa ia kemari, berdiam diri di dalam mobil sambil berharap bahwa dia akan bertemu dengan Dini, dengan begitu mereka bisa segera bertemu dengan Dini dan meminta membebaskan anaknya.
Lima belas menit mereka menunggu tiba tiba datang sebuah mobil berhenti di depan toko dan benar saja seketika mata mereka membulat melihat sosok wanita yang turun itu adalah Dini dengan perut besar dan pesona yang semakin menawan serta ketiga orang yang ikut turu dari mobil adalah ayah, ibu serta Santi temannya. Dika segera menyalami orang tua Dini dan menyapa mereka semua, terlihat jelas Dini memasang muka tak suka atas kedatangan anaknya itu seketika itu Ibu Dika mulai geram dan turun tanpa aba aba menghampiri mereka semua.
Bu mau kemana, kata suaminya yang panik karena istrinya yang tiba tiba turun dari mobil lalu berjalan cepat menghampiri mereka di sana, dengan cepat suaminya menyusul agar tidak terjadi keributan di sana. Tiba tiba saja Ibu Dika langsung menghampiri Dini dan menarik tanggannya hingga perempuan itu terlonjak kaget.
Ibu, Dika yang melihat ibunya tiba tiba datang itu langsung kaget juga
Tolong lepasin tanggan saya, pinta Dini masih sopan
Ngak, sebelum kamu cabut laporan kamu dan bebaskan Ningsih
Sudah bu jangan bikin malu, kata bapak Dika yang mencoba menghentikan istrinya itu. Sebaiknya kamu bebaskan saja Ningsih karena itu juga tidak ada gunanya untuk kamu din.
Enak saja, anak bapak sudah keterlaluan terhadap putri saya. kata papanya Dini membela
Lepasin buk, ini bisa di omongin baik baik. Kata Dika takut terjadi hal yang tidak di inginkan tapi rupanya wanita paruh baya itu tak menghiraukan ucapan putranya, malah semakin arogan dan tak mendengarkan.
Kalian sengaja ya dik datang kesini mau nyerang Dini? tanya Santi kesal
Diam kamu, ini urusan saya dan perempuan ini. Lebih baik kamu lepaskan anak saya atau kamu akan menyesal.
Saya tidak takut ancaman ibu, kalo perlu saya juga bisa melaporkan anda juga, Kata Dini berani dan melirik cctv yang ada didepan toko.
Berani kamu sama saya ha, Seketika itu ibu Dika langsung menyerang Dini karena emosi dan mendorong Dini dengan sangat kencang, Dini yang tak siap seketika terdorong kebelakang dan jatuh. Semua orang di situ langsung berteriak kaget tak percaya.
aaaahh
Ya Allah Dini, kamu ngakpapa? Kata mama Dini langsung menghampiri putrinya yang terjatuh, sedangkan Dini meringis kesakitan
Seketika itu juga Dika langsung memegangi Dini dan membantunya bangun.
Kamu ngak kenapa napa kan Din? tanya Dika panik. Ibu bebar benar keterlaluan lebih baik bapak cepat bawa pulang ibu.
Jangan kurang ajar kamu Dik. Bentak bapaknya
Kalian udah keterlaluan, kata Dika marah
Aduh, aa aduh sakit banget ma, keluh Dini sambil memegangi perutnya.
Kenapa nak? apanya yang sakit? tanya mama Dini panik
Ya ampun tante ketuban Dini pecah, mata Santi terbelalak melihat air ketuban Dini yang mengalir dari sela kakinya.
Ayo kita ke rumah sakit, kata Dika cepat membuka pintu mobilnya yang didekat situ.
Aku ngak mau sama kamu , ayo san naik mobil kamu aja
Iya ayo cepet.
Di bantu mamanya berjalan dan papanya ,Dini di larikan kerumah sakit mengunakan mobil Santi . Di ikuti Dika dari belakang yang kawatir akan keadaan Dini juga calon anaknya tersebut. Sedangkan orang tua Dika kembali pulang dengan perasaan panik dan tergesa gesa.