Dalam perjalanan pulang ke kampus Karin yang melewati toko Dini melihat Dini dan juga keluarganya seperti tergesa gesa masuk ke dalam mobil dengan raut wajah yang panik, ia langsung memutar balik mobilnya mencari tahu apa yang sedang terjadi di sana. Dia pun berhenti di depan toko dan turun dari mobil lalu masuk ke dalam bertanya pada Riska yang terlihat panik juga.
Ada apa ya ris, Dini kenapa?
Itu mbak emm, mbak Dini
Mbak Dini kenapa? tanya Karin tak sabar
Mbak Dini tadi di dorong sama Ibunya mas Dika, saya juga kurang tahu kronologinya seperti apa tapi yang pasti sekarang menuju rumah sakit terdekat.
Ya udah makasih ya infonya
Karin pun berlari menuju mobilnya segera ia mengejar mobil mereka yang sepertinya menuju rumah sakit terdekat, tak lupa dia segera memberikan kabar pada Raka.
Hallo ka, mbak Dini sekarang di bawa kerumah sakit. Kata Karin langsung to the poin
Apa? kata Raka kaget, kenapa?
Gue kurang tahu, mending lo sekarang ke sini deh gue juga baru otw ke sana
Di rumah sakit mana?
Kayaknya rumah sakit deket sini, ini gue lagi ngikutin mereka.
Ya udah gue kesana sekarang. Tanpa menunggu jawaban Karin ,Raka langsung mematikan ponselnya dan bergegas meraih kunci mobil yang ada di atas meja , berjalan cepat menuju luar kantor.
Bayu tolong kamu wakili rapat saya hari ini ya, ada kepentingan mendadak yang tidak bisa saya tinggalkan.
Baik pak, kata asisten pribadinya itu sopan seraya sedikit membungkukan badan ke atasannya itu.
Biar kantor di urus sama Angga
Iya pak.
Raka pun berjalan cepat menghiraukan sapaan dari para karyawan yang di lewatinya, terlihat kepanikan di wajah pria tampan itu sangat jelas dan dia segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang di infokan Karin.
***
Dini merasahan kram hebat di perutnya, dangan menahan rasa sakit yang luar biasa ia merasa perjalanan ke rumah sakit yang hanya memakan waktu lima belas menit itu terasa sanggat lama. Semua orang yang berada dalam mobil merasa kawatir dengan keadaan Dini, terlebih air ketubanya yang terus merembes tak henti membuat ibunya semakin kawatir, sedangkan Dika masih mengikuti mobil Santi dari belakang berharap semua akan baik baik saja. Karin masih terus mengikuti mobil mereka dari belakang dengan perasaan kawatir dan penasaran.
Sesampainya di rumah sakit Dini segera di bawa masuk ke UGD, dokter jaga lalu dengan cekatan memeriksa pasiennya dan meminta informasi sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.
Apa yang terjadi sebelumnya bu? tanya seorang dokter
Anak saya terjatuh dok dan pecah ketuban.
Usia kandunganya berapa bulan bu? tanya doktor itu sambil mengecek Dini dan memasang infus.
Baru tujuh bulan dok, jawab ibunya Dini dan terlihat kawatir.
Ok baik, sus tolong siapkan ruang persalinan ya, perintah dokter itu
Baik dok.
Sesaat setelahnya dokter memberi informasi pada keluarga pasien.
Begini bu, karna pasien sudah pecah ketuban dengan terpaksa bayinya harus di lahirkan saat ini juga takutnya terjadi infeksi. Jelas dokter pada mereka.
Apaaa, kata Karin sambil menutup mulutnya dan bersuara paling keras, semua orang yang tadinya fokus langsung berbalik menatap sumber suara.
Kamu siapa? tanya Santi curiga
Saya temennya mbak Dini, hai semua. Karin terlihat cangung di situ
Permisi pasien kita pindah dulu ya bu ke ruang bersalin, kata salah satu suster itu ramah.
Lalu bagaimana dok? tanya papah Dini cemas
Bapak tenang saja nanti di sana akan langsung di tanggani oleh dokter spesalis kandungan untuk tindakan yang tepat, silahkan mungkin salah satu keluarga bisa mengurus administrasi pasien, Saya permisi dulu . Dokter itu pun lalu pergi meningalkan pasien
Mereka semua lalu mengikuti Dini di pindahkan, Kamu ngapain? tanya papah Dini ke Dika yang mengikuti mereka.
ee. . . belum selesai Dika berucap papah Dini langsung memotong ucapanya. Kamu urus administrasi anak saya dulu, kata papah Dini dan ia sedikit berlari mengejar mereka yang sudah sedikit jauh dan Dika masih mematung di tempatnya. Dengan berat hati Dika mengurus administrasi Dini terlebih dahulu , padahal di saat seperti ini ia ingin sekali berada di sisi orang yang sangat ia cintai itu.
Mereka semua sudah berada di ruang persalinan dimana Dini di periksa lebih lanjut oleh dokter dan keluarganya menuggu di depan ruangan dengan penuh kawatir.
Semuanya terdiam , nampak mama Dini terisak di pelukan suaminya.
Kamu siapa? tanya Santi ke Karin yang nampak asing baginya.
Hai semuanya maaf saya lancang mengikuti kalian, saya Karin temennya mbak Dini di sini. Kata Karin sedikit cangung.
Orang tua Dini masih dengan perasaan kawatir hanya mampu terdiam dan berdoa dalam batin
Emm sebenernya apa yang terjadi mbak? tanya Karin ke Santi.
Kenalin gue Santi sahabatnya Dini, kata Santi sambil mengulurkan tanggannya ke Karin dan ia jabat tanggan Santi dengan sedikit senyuman lalu Santi mulai menjelaskan situasi yang menimpa Dini hingga di larikan kerumah sakit.
Dika berlari mencari kamar bersalin dan ia sampai tepat di saat dokter perempuan itu keluar setelah memeriksa keadaan pasien.
Keluarga nyonya Nandiini,pangil suster pada mereka dan mereka semua datang mendekat menghampiri dokter.
Bagaimana anak saya dok? tanya papahnya terlebih dahulu.
Kondisi pasien baik saat ini tapi tidak untuk janinnya, kami sudah melakukan pemeriksaan jika dalam jarak dua jam tidak ada pembukaan terpaksa harus oprasi dan janinnya terlahir prematur pak bu.
Tapi anak saya kesakitan dok apa ngak kenapa napa? tanya mama Dini ke dokter.
Mohon tenang ya bu pak, rasa sakit itu karena terjadi kontraksi terlebih ketubanya sudah pecah duluan dan kami sudah memberikan obat antibiotik agar ibu dan janinnya tidak terjadi infeksi. Karena air ketubanya sudah menipis maka sementra kita pantau jika tidak ada pembukaan lanjutan langsung tindakan oprasi dan ibu bapak tidak perlu kawatir ya, saya permisi dulu ya.
Silahkan jika mau menemani pasien tidak lebih dari dua orang saja ya bu pak, saya permisi . kata suster itu ramah dan pergi menigalkan mereka
Tak menunggu lama mama Dini pun langsung masuk ke dalan menemani putrinya, Dika yang sejak tadi diam langsung nyelonong masuk mengikuti mantan ibu mertuanya itu, sedangkan papa Dini yang melihat Dika mengikuti istrinya itu sedikir emosi dan mengikuti masuk ke dalam juga.
Karin dan Santi menuggu di depan dengan penuh kawatir.
Kamu ngapain di sini? pertanyaan itu di tujukan pada Dika yang ikut masuk.
Aku pengen temenin kamu Din, kalo aku gagal jadi suami yang baik buat kamu setidaknya aku tidak ingin gagal jadi ayah untuk anak kita.
Dari dulu memang kamu sudah gagal, bahkan cucu saya harus kena imbasnya dari keluargamu. Kata papa Dini dengan menahan emosi yang sudah dia redam sejak tadi.
Sudah sudah jangan ribut anak kita sedang kesakitan pa.
Papa keluar ya nak, ngak boleh lebih dari dua orang yang jaga soalnya.
Papa di sini aja, aku ngak mau ada laki laki itu.
Papa tunggu di luar nak, biarkan dia di sini nugguin kamu agar dia tahu pengorbanan kamu, biar laki laki ini bisa tegas mengambil ke putusan jika terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kamu. Kata papa Dini sebelum pergi meniggalkan mereka dan Dika terlihat sanggat tertampar dengan ucapan itu.
Papah Dini keluar ruangan dengan wajah yang lesu dan penuh kekawatiran, beliau langsung duduk di samping Santi dan tertunduk lemah mengetahui putrinya di dalam sana menahan kesakitan.
Dini gimana om? tanya Santi pelan
Karin pun ikut memperhatikan
Ya gitu masih seperti tadi tapi dia hebat.
Kenapa Dika di ijinin masuk om? kali ini Karin yang bertanya.
Om berharap setelah ini semua baik baik saja dan dia bisa bersikap tegas kepada keluarganya.
Mereka semua terdiam dalam kekawatiran, sibuk dengan pikiran masing masing dengan raut ketegangan. Om permisi dulu ya mau sholat, pamit papa Dini ke Karin dan Santi yang di balasi dengan angukan kedua wanita itu, lalu beliau pergi meningalkan dua wanita itu di sana.
Terjadi ke heningan sesaat setelah mereka berdua hanya saling lirik satu sama lain. Kamu kenal Dika? tanya Santi memecah keheningan di antara mereka.
Ngak sengaja ketemu waktu balik liburan dari puncak.
Ketemu dimana? tanya Santi masih penasaran
Di depan tokonya mbak Dini.
Kok bisa, sorry kalian liburan bareng? kok aku ngak di ajak? ngak biasanya Dini kayak gitu.
Jangan salah paham dulu ya mbk kita liburan ngak cuma berdua ada Raka dan Biyan.
Kalian dobel deat?
Bukan bukan gitu, Mbak Dini ngak ada hubungan apa apa sama keduanya, cuma temen iya. Kata Karin sedikit tersenyum bingung sendiri harus menjelaskan hubungan mereka.
haa, Santi sedikit menarik tubuhnya kebelakang teringat sesuatu dengan curhatan sahabatnya kala itu. Tungu deh kayak pernah inget si Raka? tanya Santi sambil menepuk tanggan Karin pelan.
Iya, yang itu. Jawab Karin seolah mengerti maksud yang di tanyakan oleh Santi.
Dan elo? tanya lagi Santi dengan ucapan yang menggantung.
Iya gue istrinya. Jawab Karin sedikit kurang nyaman.
Wah, semoga kalian happy anding ya. kata Santi memberi semangat.
Mbak Dini cerita apa aja tentang gue dan Raka?
Ngak banyak cuma cerita tentang kalian yang di jodohkan aja, tenang aja temen gue bukan orang yang suka buka buka rahasia kok.
Karin hanya tersenyum dan menganguk saja. Dia cerita gara gara gue pikir si Raka gebetannya ternyata udah punya istri. Timpal Santi agar Karin percaya.
Iya santai aja mbak, gue juga ngak kepikiran aneh aneh kok tentang mbak Dini.
Lo ngak takut suami lo suka gitu sama Dini? tanya Santi penasaran
Engak, gue ngak ada rasa apa apa sama Raka , kalo pun mereka jadian gue juga ngak bakal marah.
Hah, Santi kaget dengan jawaban Karin. Lo sehat? Karin hanya menganguk saja , tapi gue ngak mau kalo temen gue jadi pelakor gimanapun juga kalian suami istri. Karin hanya tersenyum masam mendengar ucapan Santi, bagaimanapun juga hubunganya dan Raka tak hanya merepotkan keduanya tapi juga orang lain yang terlibat.