Raka yang ingin cepat sampai malah terjebak macet yang membuatnya semakin frustrasi dan marah, perasaannya tak karuan mengetahui sesuatu menimpa Dini. Sedangkan di dalam ruangan bersalin itu Dini tengah berjuang melawan rasa sakit yang kadang melanda saat kontraksi itu tiba, mamahnya dengan setia menemani serta mengelus elus perut Dini kala sedang kontraksi. Dika sendiri sudah berlinang air mata menemani orang tercintanya itu menahan rasa sakit yang sulit di jelaskan dengan kata kata, sambil terus meminta maaf Dika memegangi tanggan mantan istrinya itu dan mengelus puncak kepala Dini dengan lembut, mencoba menenangkan ketika sakitnya datang.
Raka pun sampai di rumah sakit yang di tuju, segera ia mengecek ponselnya dan membuka pesan dari Karin yang memberitahukan dimana Dini berada. Ia segera berlari menuju ruang bersalin, setelah tiba di sana ia menyapa Karin yang tengah duduk di depan ruangan itu bersama seorang wanita yang sepertinya pernah Dia lihat sebelumnya.
Karin, sapa Raka pada istrinya dan kedua Wanita yang tengah duduk itu menoleh bersamaan ke sumber suara.
Karin pun berdiri menghampiri Raka.
Gimana? tanya Raka dengan raut wajah yang kawatir
Masih di dalem, cuma boleh dua orang yang nunguin.
Raka pun melihat ke adaan Dini dari balik pintu , sedikit terlihat dari balik tirai yang tak tertutup sempurna Dia tengah menahan rasa sakit hinga tubuhnya meringsut sambil memegangi perutnya tanpa jeritan dan suara hanya terlihat di raut wajah cantik itu berlinang air mata menahan rasa sakitnya. Dilihatnya juga sosok ibu yang mencoba memijit pungung anaknya dan seorang laki laki yang sangat ia ingat wajahnya tengah berdiri di samping Dini sambil memegangi tanggan wanita itu dengan kalimat kalimat yang sepertinya memberi semangat serta doa. Seketika itu mata Raka terasa panas dan dadanya terasa sesak entah mengapa, seperti ingin marah dan memukul laki laki itu dari sana, tanggannya mengepal menahan amarah cemburu karena ia merasa laki laki itu tak berhak berada di sana menemani Dini.
Karin yang melihat gestur tubuh Raka dalam ke adaan ingin marah itu segera menghampiri Raka dan memegang tanggan Raka.
Permisi kami mau cek pasien dulu, kata seorang suster yang di ikuti doktet dari belakang.
Karin dan Raka memberi jalan untuk mereka masuk dan melihat ke adaan dari balik pintu tapi sayang tirai itu kini tertutup rapat , Raka pun kecewa karena tak dapat melihat Dini dari luar kamar itu.
Kamu siapa? tanya papa Dini yang baru saja tiba.
Saya Raka temenya Dini, kata Raka sambil mengulurkan tanggan dan menyalami papanya Dini. Handoko papahnya Dini
Dokter baru saja masuk buat priksa Dini om, kata Santi memberitahu.
Semoga ada kabar baik ya.
Iya om jawab mereka bersamaan
Lalu mama Dini pun keluar dari ruangan dengan perasaan sedih.
Apa kata dokter ma? tanya suaminya.
kata dokter ketubanya sudah habis harus segera oprasi untuk menyelamatkan bayinya pa.
Dokter pun keluar dari ruangan sedangkan Dika masih setia menemani di samping Dini, sesaat setelah persiapan ruang oprasi selesai Dini di bawa suster keluar ruangan menuju ruang oprasi untuk tindakan. Mereka semua mengikuti Dini menuju ruang oprasi , saat bangsal itu di dorong menuju ruang oprasi di lihatnya satu persatu wajah orang orang yang ada di sana menemaninya di situasi seperti ini, Dini tersenyum melihat orang orang yang sangat ia sayangi ada di sana menemaninya, matanya tertuju pada sosok Raka yang menatapnya dengan pandangan sulit di artikan, ia tersenyum pada Raka dengan air mata yang tiba tiba saja terjatuh, ingin mengungkapkan bahwa dia baik baik saja.
Tatapan mereka bertemu seperti ada rasa yang berbeda saat keduanya beradu, pikiran Raka tentang masa depan untuk memiliki Dini kini terlihat semakin nyata ada tembok tinggi di depan mereka tapi sorot mata Dini seperti ingin mengungkapkan dia baik baik saja ,tapi Raka tahu jika setelah ini mungkin harapanya akan pupus, cinta pertamanya mungkin akan menjadi cinta yang bertepuk sebelah tanggan. Dini memegang jemari Raka sebentar kala melewati laki laki itu yang mematung di depan pintu tanpa expresi, dia pun tersadar dari lamunannya lalu pegangan itu terlepas perlahan kala bangsal Dini di dorong semakin menjauh dari sana. Raka pun tersadar lalu mengikuti mereka dari belakang.
Semua orang menunggu di depan kamar oprasi, dengan perasaan takut dan tegang tak satu pun mereka bersuara ,hanya doa doa yang selalu di panjatkan dengan mulut yang terus berbicara tanpa bersuara. Karin dan Raka duduk bersebelahan sedangkan mama Dini bersandar pada Santi saling menguatkan , Dika berdiri dengan perasaan tak karuan sedangkan papa Dini kawatir dan terkadang mondar mandir di sana.
Tak lama setelah oprasi itu berjalan, suster keluar dengan membawa ingkubator bayi, sontak mereka semua lalu berdiri menghampiri suster itu dan orang tua Dini tersenyum haru melihat cucu pertama mereka yang begitu kecil dan tampan. Selamat anaknya laki laki, tapi karena bayinya prematur kita bawa ke ruang bayi untuk mendapat perawatan dulu, emm ayahnya siapa ya? mungkin mau di azani dulu bisa ikut kami ke ruang bayi? tanya salah satu suster itu, seketika pandangan Raka tertuju pada sosok Dika yang sangat ia iri dan Dika pun tak sengaja menatap sorot mata Raka yang seolah menahan amarah.
Saya ayahnya, jawab Dika lalu mengikuti perawat itu pergi. Permisi semuanya.
Raka nampak sangat iri pada Dika yang di situasi ini sangat penting perannya pada Dini dan juga anaknya itu, sangat menyebalkan tak bisa berbuat apapun untuk Dini apalagi sangat terlihat jelas wajah bayi itu begitu mirip dengan ayahnya semakin membuat Raka patah hati tak menentu, perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan di situasi manapun dalam hidupnya, tapi ia juga tidak berhak atas apapun di sini. Karin mengerti perasaan Raka yang tidak bisa berbuat apapun di sini, ia mencoba menguatkan Raka dengan mengengam tanggan suaminya itu dan tersenyum menguatkan, Raka hanya menoleh tanpa expresi ke Karin.
Hampir satu jam oprasi berjalan dengan lancar tapi Dini belum juga keluar dari ruangan itu, masih terlihat kepanikan di antara mereka karena belum mendapat kabar dari dokter tentang ke adaan Dini saat ini. Karin dan Raka dengan setia masih menunggu di sana.
Kalian kenal Dini sejak kapan nak? tanya mama Dini ke Raka dan Karin, mereka saling tatap sebelum menjawab.
Sejak mbak Dini buka toko di sini tante, setelah itu kita jadi akrap. Jawab Karin sambil tersenyum mengingat momen pertama kenal Dini di toko.
Kalian pacaran? tanya mama Dini lagi
Oh bukan tante, jawab Karin singkat tentu ia tak ingin hubunganya dan Raka sebagai suami istri terbongkar terlebih Raka menyukai Dini.
Mama ngak lihat itu mereka udah pake cincin, pasti mereka sudah menikah, iya kan? tanya papa Dini sambil tersenyum
Karin dan Raka saling tatap melempar senyuman malu, mereka berusaha tak terlihat seperti pasangan tapi malah ketahuan karena cincin pernikahan.
Setelah menunggu sedikit lama perawat dan dokter keluar dari ruangan di susul dengan Dini yang terlihat lemas paska oprasi dari bangsal tidurnya. Semua baik baik saja oprasinya berjalan dengan lancar, suster akan mengantar pasien ke ruang rawat, permisi ya bu pak, mari. Kata dokter itu sopan sebelum neningalkan mereka semua.
Dini terlihat sedikit setengah sadar paska oprasi, ia di dorong menuju ruangannya. Makasih, ucapnya lirih dan lemah pada Raka dan Karin yang masih setia menunggu sampai selesai, Karin tersenyum pada Dini ramah sedangkan Raka masih menatap Dini dengan pandangan mematung tak berexpresi lalu membuang muka kelain arah sembari menghembuskan nafasnya kasar dari mulut, mencoba menguatkan hati yang terluka. Sesaat setelahnya Dika pun kembali dari ruangan bayi menyusul Dini yang baru saja selesai orpasi menuju ruangan rawatnya.
Raka mengisyaratkan pada Karin untuk pulang karena sudah tahu keadaan Dini kini baik baik saja, Karin yang mengerti kode dari Raka lalu pamit pada orang tua Dini dan santi.
Maaf om tante kita berdua pamit dulu ya, mbak Dini cepet pulih ya besok kita jenguk mbak Dini lagi, cepet pulih mbak. Kata karin sambil mengelus lengan Dini lembut. Raka tak mampu berkata apapun dia hanya tersenyum pada Dini dan di anguki Dini dengan senyuman juga.
Iya terimakasih nak sudah repot repot kesini, kata papa Dini.
Mari semuanya, mereka sedikit membukuk memberi salam dan pergi dari sana.
Dini pun sampai di ruagannya ,mereka semua masuk ke dalam kamar itu dengan perasaan lega. Sayang gimana perasaan kamu? tanya mamanya lembut.
Dini hanya menganguk dan tersenyum tak menjawab. Kamu pengen apa biar mama beliin?
Ngak ada ma, anak aku gimana?
Dia baik baik aja kamu ngak perlu mikirin yang aneh aneh ya, cepet sembuh din. jawab Dika memberitahu
Ya sudah mama balik toko dulu ambil baju dan keperluan kamu juga cucu mama ya sayang.
Papa anter mama dulu ya nak kamu ngak kenapa napa kan di tinggal sendirian dulu?
Iya ngakpapa kok pah.
Tenang aja pa biar Dika yang jaga disini.
Ya udah kalo gitu gue balik juga beli makan untuk kita semua, ayo om tante.
Mereka pun keluar ruangan menyisakan Dika di sana menjaga Dini, dengan perasaan bahagia terlihat jelas di wajah Dika melihat bayinya lahir kedunia meski prematur. Dika pun mencoba mengajak berbincang Dini untuk menyairkan suasana dengan obrolan tentang anak mereka, di tunjukan wajah bayi mungil itu dari layar ponsel milik Dika yang fotonya baru saja ia ambil kala mengazani putranya itu. Dini nampak terharu kala melihat wajah bayinya yang terlihat sangat mungil itu, dengan ke adaan yang seperti ini mereka berdua lupa akan konflik yang terjadi, fokus pada bayi yang baru saja lahir.