28. Ketidak Mampuan.

1410 Kata
Raka terburu buru berjalan keluar rumah sakit di ikuti Karin dari belakang yang terlihat kesal dengan sikap suaminya itu, seolah lupa akan adanya Karin saat ini. Karin sedikit tertinggal mengikuti langkah Raka yang lebar, bibirnya manyun karena di tingal Raka tak peduli denga sekitarnya. Tungguin, teriak Karin yang tak di gubris oleh Raka. Gue pulang bareng lo ya? tanya karin sedikit mengencangkan ucapannya. Terserah, jawab Raka singkat Gue yang nyetir aja ya? Engak ya udah, jawab Karin pasrah. Mereka pun sampai di parkira lalu masuk ke dalam mobil memasang seatbelt dan melaju dari sana. Bukanya lo bawa mobil? tanya Raka ke karin heran. Iya kenapa? ngak mau satu mobil sama gue lo? Raka hanya terdiam tak menjawab ucapan Karin. Gue tahu lo iri kan sama Dika lo cemburu, tapi lo harus denger semuanya oke. Biasa aja, jawab Raka sok cool Udah deh ngak usah gitu gue tahu kok dari muka lo aja udah ketahuan ya. Ya udah lah terus lo mau ngomong apa? Semua yang terjadi sama mbak Dini tuh karena ulah dari ibunya si Dika. Hah. Bentar gue belum selesai, jadi papanya mbak Dini ngebiarin Dika di sana bukan tanpa alasan biar tuh cowok bisa tangung jawab sama semuanya. Oh gitu Udah gitu doang? tanya Karin tak percaya. Sumpah ya gue iri banget sama mbak Dini, bokapnya tuh bijak banget padahal keluarganya Dika jahat banget tapi dia masih ngasih kesempatan Dika untuk tangung jawab ,secara ngak langsung dia udah ngebiarin musuh masuk gitu, ya emang si Dika baik tapi kan engak dengan keluarganya, iya kan? Iya, dan gue kesel karna ngak bisa berbuat apa - apa. Coba aja bokap gue bisa kayak om Handoko pasti hidup kita ngak akan berakir di pelaminan ka. Coba aja kalo gue ketemu Dini sebelum Dika pasti kita ngak akan nikah rin. Mereka saling mengeluh satu sama lain, meratapi ke inginan hati yang tak sampai. Perih memang tapi sudah terjadi, entah sekenario apalagi yang akan di buat untuk kisah cinta yang belum menemukan titik bahagia itu, Dini masih terpaku pada dirinya untuk lepas dari masa lalu, Raka sendiri mencoba menguasai hati agar tak menyakiti orang yang dicintai, sedangkan Karin dan Biyan masih sembunyi sembunyi untuk mempertahankan hubungan yang di tentang. *** Dini sudah merasakan kesadaranya semakin pulih setelah oprasi yang di laluinya, hanya ada Dika dan dia sendirian di ruang itu, Kamu bisa pulang "kata Dini setelah mereka terdiam cukup lama". Tapi aku masih ingin temenin kamu dan tahu perkembangan bayi kita din. Apa ada masalah yang serius? tanya Dini tanpa menatap wajah mantan suaminya itu. Dika menarik nafasnya lemah, Nanti setelah kamu bisa jalan temuni sendiri ke ruang bayi. Anak ku ngak kenapa napa kan? kali ini dia terlihat panik Kamu ngak usah kawatir, dia anak yang kuat seperti ibunya. Kalo sampai terjadi sesuatu terhadap anak ku, aku rasa kamu akan ambil sikap tegas, jika kamu ngak sangup biar aku sendiri yang akan melakukannya. Pasti kamu tahu kan aku bisa jauh lebih tega dari pada kamu? Dika menunduk lesu, sadar jika memang ini salah ibunya. Iya aku tahu, kamu tenang aja, katanya lemah. Kamu cepet sembuh ya, aku janji setelah kalian keluar rumah sakit aku akan pulang ke rumah dan menyelesaikan semuanya. Aku harap kita tak bertemu lagi setelah ini. Dika mengangkat kepalanya menatap Dini tak percaya, ada kecewa di sana dan tentu rasa sedih yang luar biasa seperti jantungnya berhenti memompa darah ke tubuhnya, dia tertunduk kembali dan air matanya terjatuh tanpa permisi, mulutnya sedikit terbuka menahan isak tangis yang semakin menyekik kerongkonganya. A-apa sudah tak ada lagi kesempatan itu? Aku dan bayi ku kampir mati karena ibumu, apakah itu tidak cukup membuatmu sadar diri untuk berhenti mendekatiku? Dika hanya menganguk angukkan kepalanya dengan air mata yang kembali menetes di wajahnya. Kamu boleh bertemu anakmu , sesekali saja. Kata Dini dingin. Iya ,kata Dika sambil tersenyum. Itu lebih dari cukup. Kini mereka kembali terdiam, Dini sama sekali tak mau memandang wajah mantan suaminya itu, mereka larut dalam kesedihan masing masing. Belum lagi bayi yang harus di lahirkan secara terpaksa itu kini membutuhkan perawatan extra mengingat organ organ fitalnya belum berkembang demgan sempurna, Dika yang mengetahui fakta itu memilih diam karena tak tega harus mengatakan fakta yang sesunguhnya sebelum Nandini membaik, hatinya terasa hancur karena keluarga kecilnya harus hancur akibat ulah keluarganya sendiri. Dini masih trauma dengan kejadian yang menimpanya, dia mulai menyalahkan dirinya sendiri karena tak mampu menjaga kandunganya . Dini sadar betul jika semua tidak baik baik saja, ia bisa merasakan kepanikan dari ruang oprasi kala bayinya berhenti bernafas dan dokter berusaha melakukan pertolongan pertama, meski tak melihatnya langsung karena jarak pandang yang terhalang tapi dia tahu pasti jika anaknya tak baik baik saja. Dini menangis dalam diam memalingkan wajahnya agar tak dilihat oleh Dika, sedangkan Dika sendiri menunduk lesu menahan isak tangis yang mulai terasa sesak di dadanya itu. Mereka berdua sama sama terluka, ketidak mampuan Dika untuk bertindak tegas karena yang ia harap jika menuruti ego orang tuanya semuanya akan baik baik saja malah justru membawa rumah tangganya hancur berantakan, mengorbankan anak yang selama ini mereka inginkan. Mama dan papa Dini kembali setelah mengambil keperluan Dini di toko untuk di bawa ke rumah sakit bersama Santi yang kini membawa banyak makanan untuk mereka semua. Dika yang melihat kedatangan mereka lalu mundur dari duduknya memberi ruang untuk mereka di sana. Kalo gitu saya permisi dulu, kata Dika berpamitan hendak pergi Makan dulu, Santi sudah membeli banyak makanan. Kata papa Dini ke mantan mentunya itu. Dika hanya menganguk saja dan duduk di sofa. Mereka semua menikmati makannya, kecuali Dini dan Dika mereka sama sekali tak merasakan kenikmatan makanan itu. Ayo makan lagi? kata mama Dini sambil menyodorkan sendok berisi makanan di depan mulut putrinya itu. Aku udah kenyang ma, jawabnya sambil berpaling muka Ya sudah ayo kita sholat magrib dulu ma, ajak suaminya lembut ke pada istrinya itu yang langsung di anguki . Aku juga ikut om, kata Santi lalu mengikuti mereka. Dika membereskan sisa makanan mereka semua dan membuangnya ke tempat sampah lalu menghampiri Dini di tepi ranjang, mengengam lembut tanggan mantan istrinya itu . Dini tak menolak atau protes, perempuan itu melamun dari tadi dan hanya terdiam menatap lurus kedepan dengan tatapan yang kosong. Mau kamu kasih nama siapa anak kita? tanya Dika lembut yang langsung mendapat tatapan dari mata perempuan cantik itu. Dini melihat sejenak jendela kamar rawatnya yang terbuka, terlihat langit berubah jingga pekat kegelapan lalu terfikir satu nama yang tiba tiba saja muncul dipikirannya. Angkasa , jawabnya singka Nama yang bagus, boleh aku tambahkan Apa? tanyanya singkat Angkasa Orion, Orion itu artinya batas. Aku harap dia menjadi Angkasa yang luas dan laki laki yang tak terbatas apapun dalam hidupnya. Nama yang bagus, Kata Dini lemah. Dika tersenyum dengan ucapan mantan istri yang masih mengisi relung hatinya itu. Tak lama setelahnya orang tua Dini dan Santi kembali dari musolah rumah sakit ke kamar Dini, lalu Dika pamit untuk sholat dan menjenguk anaknya. Setelah sholat Dika menuju ruangan bayi di mana anaknya berada, laki laki itu berjalan gontai menuju kamar bayi, kakinya terasa berat melangkah ke sana. Ini memang tak mudah untuk Dini dan Dika tapi mereka harus memainkan peran orang tua mulai saat ini, meski status mereka bukanlah suami istri. Dokter masuk ke ruangan Dini di ikuti dua orang suster untuk memeriksa ke adaannya, mereka semua langsung mempersilahkan dokter itu memeriksa pasiennya. Saya Rasa semua berjalan lancar, besok kalo sudah bisa jalan bisa tengok bayinya ya bu, biar suster yang bantu. Kata dokter itu menjelaskan. Baik dok trimakasih, kata mama Dini sopan. Kalo begitu saya permisi dulu ya bu, besok pagi akan saya cek kembali. Permisi Dokter itu pun pergi meninggalkan ruangan pasiennya, Dini masih terlihat murung tak berkata apapun, orang tuanya yang menyadari perubahan anaknya mulai kawatir dengan pesikis putrinya itu. Nak, sapa papanya sambil memegang bahu putrinya itu dengan sangat reflek Dini terkejut dan menepis tanggan papanya itu. Kamu baik baik saja? tanya mamanya kawatir. Aku baik kok ma, jawabnya lemah masih tak ber-expresi. Kedua orang tuanya membuang nafas lelah, mereka tahu jika putrinya tidak dalam keadaan baik. Din elo yang kuat ya, ngak usah mikir yang aneh aneh biar cepet pulang dan jengukin anak kamu. Santi mencoba memberinya semangat. Anak aku kenapa? tanya Dini lemah tapi ia terlihat sedih dan menitihkan air mata yang tiba tiba saja terjatuh tanpa di suruh. Sayang anak kamu baik, makanya kamu cepet pulih ya Iya ma, aku pasti cepet pulih. Kata Dini sambil terisak dan di peluk mamanya dengan hangat, mencoba menguatkan putri tercintanya yang kini tengah terluka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN