Pernikahan yang mulai dipenuhi konflik

1721 Kata
Sayang jujur aku mulai risih dengan pertanyaan ibu tentang kapan kita punya anak. ya sabar kita juga sama sama sibuk belakangan ini, kalo belum dikasih ya belum rejekinya. Aku tidak masalah mau hamil sekarang atau nanti bagiku anak bukanlah segalanya dalam pernikahan tapi aku cukup tergangu dengan hal ini, jujur aku masih pengen menikmati masa masa kita berdua emang pacaran 3 tahun sama aku ngak kamu nikmati? " godanya sambil tersenyum jail pada Dini". ih ngak gitu mas ya kan beda dulu sama sekarang, waktu pacaran kan ngak bisa ngapa ngapain sekarang udah nikah mah bebas oh kamu ngomong gini minta di apa apain?,. . hahaha tawanya semakin jail membuat muka Dini malu berubah menjadi merah jambu engak kok orang aku lagi dapet, kamu ngak bisa ngapa ngapain aku ya , whek godanya pada Dika. kamu ngomong gitu imut banget sih aku jadi pengen, ucapnya dan langsung menindih Dini di tempat tidur sembari menciumi leher serta wajahnya menuh gairah aaa hh jangan dong mas aku kan lagi mens ucapnya tak di hiraukan oleh Dika dan terus melancarkan aksinya semakin melumat istrinya mesra, hinga dirasa ciuman itu cukup memabukan ia mulai mengontrol dirinya kembali dan menatap istrinya penuh cinta Nandini aku tau kamu cukup tertekan dengan keluargaku , aku sangat mencintaimu tapi aku juga tidak bisa melawan orang tuaku sendiri, maaf ya sayang membuatmu kurang nyaman di rumah ini ucap Dika pada Dini begitu tulus dengan posisi dia masih menindih istrinya dibawahnya dengan tatapan sayu seakan tau beratnya hati istrinya yang harus mengalah demi prinsip keluarga mereka, yang mengharuskan sudah kewajiban anak laki laki terakir tingal dan menghidupi orang tua yang sudah sepuh. Dini hanya tersenyum mendengar ucapanya, Dia cukup beruntung suaminya masih mau menuruti ke inginan Dini ini itu dan tidak membebani dengan cara keluarganya memperlakukan menantunya di rumah ini , jika dia juga sama dengan mereka mungkin Dini sudah tidak betah lagi berumah tangga dengannya Ya memang keluarganya baik tapi hanya saja Dini tidak suka cara mereka menyampaikan sesuatu atau bahkan terus menghardiknya ini itu, terkadang Dia sangat malas dengan kakak iparnya yang bertanya ini itu terlebih menyangkut urusan mereka, memang masih keluarga tapi sepertinya tidak etis jika hubungan keuangan atau hal lain harus di kepoin juga, biasanya Nandini hanya akan tersenyum atau diam dan memilih pergi jika ke kepoan iparnya sudah melebihi batas menurutnya. Yang, gimana kalo aku berhenti kerja soalnya jarak rumah dan kantor kan jauh belum lagi pekerjaan rumah aku capek tiap hari naik motor sendiri, kerjaan kamu juga beda arah jadi ngak bisa bareng? ya sudah mau kamu kerja atau engak insyallah gaji aku cukup untuk kita serumah. makasih ya mas kamu udah ngertiin aku, nanti sekalian aku coba cari lowongan kerja yang deket deket aja siapa tau ada yang cocok, jawabnya dengan senyum lega karena suaminya tidak keberatan dengan hal ini. Setelah obrolannya dengan Dika waktu itu Dini minta ijin dari bosnya ,meski sebenarnya ia tidak rela jika Dini keluar dari tempatnya, Dini adalah salah satu orang kepercayaan Santi bos sekaligus teman sekolahnya sejak SMP itu, Dini menemani karirnya dari nol hinga perusahaan kerajinan miliknya berkembang pesat hingga saat ini, dia bagian produksi dan Dini membantu pemasarannya. kamu yakin mau keluar din? pertanyaan itu sudah terdengar puluhan kali di telingganya sejak tadi pagi. iya ibu Santi yang tersayang, kamu tau kan rumah mertuaku dari sini lumayan jauh butuh waktu 1jam terlebih aku naik motor sendiri. Dia hanya memasang muka melas padanya, sejujurnya Dini juga agak keberatan untuk keluar dari kantor, setidaknya di sini Dia bisa menyibukan diri dari pada di rumah seharian sedangkan Dia tidak betah tinggal di sana tapi mau bagaimana lagi Dia sudah bertekat untuk fokus pada rumah tangga dan program hamil. kuping ku mulai risih tiap bertemu dengan ibu mertuaku yang ditanya selalu itu itu saja, bahakan kemarin aku mendengar sendiri ketika ada tetangga datang mengantar belanja titipan kakak iparku ibu mertuaku dengan entengnya menegur , sin kapan kamu hamil sudah nikah dua tahun kok ngak hamil hamil? kata Dini menirukan ucapan mertuanya itu. aku yang sebagai wanita merasa kasian pada mbak sinta , terus dia cuma tersenyum dan pamit pergi dia sudah nikah lama tapi belum hamil juga, kamu ya din kalo bisa cepet hamil jangan di tunda tunda, kalian sudah menikah 6 bulan lebih lo. Dini tidak berniat untuk menjawab hanya di senyumi saja ucapanya, hal ini lah salah satu alasanku meningalkan pekerjaanku agar aku bisa fokus satu persatu hal yang ingin kami capai. Ucapnya lagi ke esokan harinya Dini sudah resmi berhenti kerja, karena tidak ada kesibukan apapun dia mulai menyibukan diri dengan pekerjaan rumah mulai dari nyapu, masak cuci piring dan mencuci baju ,maklum di sana hanya keluarga sederhana makanya semua di lakukan sendiri urusan rumah tangga, kakak iparnya yang tau kala Dini menjemur pakaian menegurnya. Loh din kamu libur kerja ,kan ngak hari minggu tumben? emm aku sudah berhenti mbak kenapa berhenti, emang kamu lagi isi? belum mbak lah orang belum hamil ngapain berhenti kerja, biar enak ya jadi nyonya dinafkahin adik ku uang tingal minta ngak gitu mbak mau cari suasana baru aja nanti juga cari kerja yang deket deket sini kok, soalnya kerjaan ku kan jauh dari rumah. jawab Dini memberi alasan lalu kakak iparnya pergi begitu saja ,mungkin saat ini dia tengah bergosip dengan emak emak yang lain, karena bukan rahasia umum lagi bahkan Dini sering ditanya oleh tetangga kenapa Dia tidak betah tingal di sini, sering menginap di rumah orang tuanya pokoknya kadang pertanyaan yang sulit di jawab padahal dia sendiri tidak pernah bergosip apalagi cerita cerita dengan tetangga disini, kesehariannya hanya di rumah dan tempat kerja sekalinya keluar pun itu tidak bergosip dengan mereka tapi sekedar cari makan atau hanya jalan jalan naik motor dengan suaminya untuk mengusir kejenuhan. malam ini dia tidak tahan untuk bercerita dengan suaminya tentang sikap sodaranya tadi, bisanya Dini hanya menyimpannya sendiri jika di rasa tidak keterlaluan tapi kali ini omongan omongan mereka tiap hari rasanya sudah menjadi beban di otak Dini. mas aku mau cerita, ucapannya memulai pembicaraan apa?. jawabnya singkat sambil terus bergutat pada ponselnya tadi waktu mbak ningsih tau kalo aku sudah ngak kerja masak dia malah bilang kalo aku berhenti kerja biar enak uang tingal minta padahal aku belum hamil ngapain berhenti kerja, jujur aku sakit hati dengan ucapannya mas , seolah olah aku nih cuma ngrepotin kamu padahal kita sudah menikah wajar juga kalo aku dapat nafkah dari kamu, emang kenapa kalo aku jadi ibu rumah tangga ngak kerja dan belum punya anak apa salah? ceritaku panjang lebar sambil menahan tangis di letakan ponsel Dika dan menatap istrinya itu, yang sabar kamu tau kan sifat mbak ning emang kadang suka ceplas ceplos ngak usah di ambil hati ya. jawaban itu justru sangat menyakitkan , bukan pembelaan atau solusi yang di dapat hanya kata sabar yang keluar dari mulutnya, air mata Dini tak terbendung lagi dan dia menangis tak terima dengan ke adaan sendiri. sayang kenapa malah nangis, aku harus gimana? emang sifatnya mbak ning kayak gitu udah lah jangan di ambil ati. kamu ngak tau posisi aku mas tiap hari ibu kamu selalu ikut campur masalah rumah tangga kita semua harus ikut caranya, aku harus jadi istri yang melayani suami dengan baik, belum lagi masalah kapan aku hamil,gaji kamu harus perginya ke sini ke sana, dan masih banyak lagi hal yang membuatku semakin ngak betah tinggal di sini mas, . hiksss . . hikss isaknya menangis sambil bergetar mengucapkan itu semua .Dan kamu tau belum lagi ucapan kakak kamu itu yang membuat aku merasa semakin direndahkan jadi istri kamu, kamu tau kakak kamu bilang kalo aku itu beruntung dapat laki laki sebaik, sepintar, setampan kamu dan pekerja keras ngak pernah neko neko. seolah olah aku ini jelek tidak mampu cari duwit dan sangat beruntung dapat laki laki sempurna seperti kamu ,padahal dia ngak tau kisah kita siapa yang jatuh cinta dulu yang ngejar ngejar aku dan banyak teman laki laki ku yang sering ngajak pacaran bahkan tak banyak juga yang ingin melamarku , aku ngak pernah sedikitpun maksa kamu untuk nikahin aku mas, keluarga kamu sendiri yang minta supaya kita cepat menikah giliran kita sudah menikah cuma karena aku sering minta kalo libur main di rumah orang tuaku aja masalahnya ke mana mana sampe tetangga berasumsi aku ngak betah lah ngak mau tinggal di sisni lah dan masih banyak lagi mas yang membuat kupingku panas. Di sampaikan unek unek itu dengan nada pelan dan terisak agar tidak di dengar mertuanya dari luar. dika cuma mampu diam tanpa berkata apapun, dia sendiri merasa serba salah di satu sisi itu adalah sodara dan orangtuanya di sisi lain istrinya tidak betah disini lama mereka terdiam dika tidak berkata apapun , mereka duduk bersebelahan di pingir kasur pandangan lurus ke depan menerawang kemana solusi terbaik untuk masalah ini. Mas, dia menoleh ke arah Dini aku pengen pulang mas aku ngak betah di sini,lingkungan di sinini kurang cocok dengan sifat ku yang tidak suka berkumpul dengan ibu ibu, aku lebih suka sendiri dikamar tolong mas sekali ini aja kamu ngomong sama orang tua kamu biarin kita punya rumah senediri ya? atau kalo mereka mau mereka boleh kok ikut tingal di rumah kita yang penting ngak tingal di sini mas aku ngak kuat dengan omongan tetangga belum lagi kakak kamu juga. sudah pasti mereka tidak akan setuju kamu tau kan aku anak terakir siapa yang nanti ngurusin mereka jika mereka sudah semakin tua udah ngak bisa kerja lagi, sayang apa kamu tega membiarkan orang tuaku terlantar hem? mas tadi kan aku udah bilang kalo kita punya rumah boleh kok mereka ikut kita ngak papa tiap hari aku harus di kepoin tapi kalo kroyokan kayak disini tuh aku tertekan mas, ngak cuma orang tua kamu aja tapi kakak serta tetanggamu pun ikut bergosip. ok baik tapi ngak sekarang ya kita cari waktu yang tepat untuk bicara udah dong kamu jangan nangis terus aku ngak tega lihatnya. sembari mengelus lembut pungung istrinya dengan sayang. Padahal anaknya dua kenapa cuma jadi beban kamu? Karena mbak ning perempuan dan hidupnya ikut suaminya jadi ngak etis kalo orang tua ku ikut jadi beban menantunya. Terus apa bedanya sama aku? aku juga ikut kamu berarti aku sepenuhnya jadi tangung jawab kamu kan, aku ngak setuju dengan ucapanmu barusan yang namanya orang tua ya tangung jawab bersama ngak cuma satu orang aja harus adil. Kata Dini setengah emosi dan Dika hanya terdiam mendengar ucapan istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN