Babak Baru Untuk Dika dan Nandini

1904 Kata
Setelah pembicaraan mereka di malam itu, Dika mencoba berbicara pada orang tuanya, dia sesunguhnya tidak tega jika istrinya berada dalam tekanan terus menerus. Pagi itu mereka sarapan bersama tidak ada yang berbicara sedikitpun saat makan, barulah setelah Dika menghabiskan makanannya dia memulai membuka obrolan. Pak bu, aku dan Dini sementara tinggal dulu di rumah mama papa ya, belum selesai Dika menjelaskan bapaknya langsung memotong pembicaraan. Kenapa? memang di sini atau di sana kan sama aja, dengan nada penekanan bapaknya melirik ke arah Dini tajam Gini pak bu, "Dika menghembuskan nafasnya sebentar sebelum melanjutkan berbicara". sejujurnya dari awal kita menikah kami ingin punya rumah sendiri pak, tidak ikut bapak atau ikut papa mama , kami ingin punya rumah sendiri Dik kamu sadar ngak kamu itu anak terakir terus siapa yang merawat kami kalo sudah ngak bisa ngapa ngapain? ibu tidak setuju Din,pengaruh buruk apa yang kamu tanam ke anak saya sampai mau meningalkan kami hah? jelas jelas tanah rumah ini nantinya akan jadi milik dia kalo kami mati siapa yang akan menempati? triakan bapak pada menantunya itu. Dini hanya menunduk tidak berani berkata pak ngak gitu tolong jangan salahkan istri saya, ibu ngak usah takut aku lepas tanggung jawab kalo pun aku punya rumah sendiri ibu sama bapak boleh ikut, Dini juga sungkan tingal disini aku pun sebaliknya ngak enak juga kumpul dengan mertua , kami ingin punya rumah sederhana di pingiran kota atau dikotanya biar dekat dengan kerjaan, itung itung hidup mandiri lah Halah apa itu benar, ibu dengar kamu sudah ngak kerja ngapain pindah mending uang kamu buat ngerenofasi rumah ini biar lebih bagus dari pada beli rumah dikota pasti mahal. betul kata ibu dik, timpal bapak tapi boleh ya pak bu kita beberapa hari tinggal di rumah mama papa dulu, tanya Dini pada mereka setelah hanya tertunduk diam mereka lalu pergi tanpa berucap lagi meningalkan mereka sendiri di meja makan, Dini dan Dika saling menatap dan menguatkan, Dika mengelus tanggan istrinya dan tersenyum tipis yang sabar ya kita pasti bisa melalui ini semua. Akirnya siang itu mereka siap siap untuk pulang ke rumah orang tua Dini, dia tidak pernah menceritakan masalah yang ada di sini ke orang tuaknya, takut mereka kawatir malah bisa berfikir negatif tetang keluarga suaminya itu. Seemua barang sudah di masukan dalam mobil ,tingal berangkat tiba tiba saja mbak ning datang menjambak rambut Dini dengan penuh amarah. Kamu benar benar ya tidak tau diri mau menjauhkan adik ku dari keluarganya ha aaaahhh sakit mbak Lepas mbak,apa apaan ini dateng dateng marahin Dini " bela Dika pada istrinya kamu ngapain ikutin wanita ini udah ngak betah tinggal sama orang tua kamu sendiri? Apaan sih mbak, dini tuh ngak salah ngapain marah marah ke dia, ini juga keputusan aku harusnya kamu ingat dik bapak sama ibuk tuh gedein kamu sampe seperti ini terus sekarang kamu mau tinggalin kita? mana balas budimu ke mereka apa lagi kamu sodara satu satunya embak, siapa yang nanti embak mintain tolong kalo kamu pergi dari rumah Udah cukup mbak, gimana aku mau tinggal di sini kalo perlakuan embak ke istri ku seperti ini Oh jadi kamu lebih belain dia dari pada kakak kamu sendiri dik? emang wanita sialan kamu ya Dini cuma mampu menangis mendengar perkataan kakak iparnya itu. Ada apa ini ribut ribut? bapak keluar dengan triakannya Ini nih pak mbak Ningsih dateng dateng main tangan sama Dini, marah marah ngak jelas Aku cuma ngak terima kalo Dika dibawa pergi perempuan ini pak Sudah sudah jangan bikin malu bapak, biarkan saja adikmu pergi, nanti kita bisa bicarakan lagi didalam malu sama tetangga Dini dan Dika lalu pergi dari rumah , hatinya sangat sakit mendengar ucapan kakak ipar yang ternyata berpikiran seburuk itu padanya, kenapa harus seperti ini, kenapa pernikahan yang di impikan jadi seperti ini dan banyak hal lagi yang berkecambuk di pikiran Nandini. Sayang kamu ngak kenapa napa kan? suara Dika memecahkan keheningan mereka dalam mobil. Engak kok aku cuma kaget aja diperlakukan seperti itu Aku sangat menyesal atas perlakuan mbak ning sama kamu, aku benar benar minta maaf Kamu lihat sendiri kan mereka seperti itu padaku, aku takut mas . . . air mata yang tertahan sejak tadi terjatuh tanpa permisi diwajah Dini. Maaf sayang membuatmu sulit. Harusnya dulu kamu cerita sebelum kita menikah apa yang akan kita lakukan setelah menikah, ngak kayak gini apa apa aku yang di salahin seolah olah aku pengaruh buruk dan ingin menjauhkan kamu dari keluargamu. Kamu menyesal menikah denganku? Aku mencintaimu tapi keluargamu keras padaku, aku bingung harus apa, ini sulit untukku Sejenak mereka terdiam larut dengan pikiran masing masing, entahlah akankah bertahan atau hancur perlahan ketika cinta terlalu banyak luka hanya akan ada sakit yang di rasa, menimbulkan kebencian, amarah, dan saling berselisih maka setelahnya yang di ingat hanya sakitnya ,cintanya akan terkubur luka. Aku ngak mau pulang kerumah orang tuaku, kita nginep di hotel aja, aku ngak mau mama sampai tau masalah ini Ok kita nginep di hotel, jawab Dika pasarah Sesampainya di hotel dia langsung merebahkan diri di kasur , rasanya kepalanya pusing sekali memikirkan tentang pernikahan ini, tentang orang tuanya, ucapan kakaknya. Padahal kakaknya sudah berkeluarga tapi kenapa selalu ikut campur urusan rumah tangga mereka belum lagi ibunya yang selalu menuntut harus berbakti ini itu dan lain lain lelah memang menghadapi mereka yang masih berpikir seperti itu, jujur Dini jadi perpikir ulang tentang memiliki anak. Bagaimana jika dia nanti hamil tapi berada dalam tekanan apakah itu tidak akan berdampak buruk, belum lagi jika terjadi keributan ada suaminya saja kakaknya berani seperti itu apalagi kalo cuma sendiri . Entahlah pikiranya jadi pusing sendiri memikirkan hal yang belum terjadi. Dua hari mereka menginap di hotel, masalah kemarin membuat hubungannya dan Dika terasa hambar, dia sibuk dengan pikirannya dan kerja sedangkan Dini pun dilanda kebimbangan dan rasa bersalah. Ucapan kakak iparnya waktu itu cukup membekas di hati Dini, apakah sejahat itu Dia ingin memisahkan dika dari keluarganya? tapi jika dia yang mengalah maka dia tidak nyaman di sana, egoiskah aku, salahkah aku, pikiran pikiran itu terus berputar di otak Dini. Dia juga tau pasti saat ini dika merasa sedih karena sulit untuk memilih antara istri atau orang tua, sesunguhnya tidak akan ada yang bisa dipilih karena memang itu bukan pilihan Seorang anak tidak minta di lahirkan dari orang tua yang mana dan orang tua tidak bisa memilih anak seperti apa yang mereka inginkan tapi satu hal yang terkadang orang tua egois, mereka lupa bahwa mereka lah yang ingin memiliki anak, mereka lupa sejatinya yang berhak atas hidup mereka adalah diri mereka sendiri dan sang pencipta. Jika sikap mereka sebagai orang tua baik terhadap apa yang di sukai anak atau kehidupan mereka selagi itu benar tanpa meminta balasanpun se orang anak tidak akan pernah lupa kepada orang tuanya bahkan mungkin akan memberi lebih dari yang di harapkan. Mereka sampai di rumah orang tua Dini, mamanya menyuruh mereka istirahat di kamar. Dia cukup rindu dengan rumah ini meskipun kehidupannya monoton hanya kerja pulang istirahat di rumah ya seperti itu lah kira kira hidup Dini, bisa dibilang membosankan bukan tapi ternyata sanggat di rindukan. Malam ini mereka makan bersama di rumah orang tua Dini, setelah makan malam dia membatu mamanya membereskan piring kotor dan mencucinya , tiba tiba papa menghampiri dengan wajah serius. Din papa mau bicara sebentar boleh? iya pa, kenpa pa? kemaren bapak mertuamu datang kerumah , katanya kamu pergi dari rumah sama Dika padahal mereka ingin dika tinggal bersama mereka tapi kamu ingin punya rumah sendiri dan ngak ingin tinggal bareng mereka? apa benar? Dini hanya ter diam mendengar omongan papanya, Dia sunguh tak menyangka kenapa mertuanya memberi tahu orang tuanya padahal dia sendiri susah payah memendam hal ini agar orang tuanya tidak tahu. Jawab din? apa itu benar? kalo iya kenapa kamu lakuin ini memisahkan mereka , papa ngak bernah ngajarin kamu gitu lo kurang ajar sama mertua. papa harap kamu pikir pikir lagi keputusan kamu itu, kasian kan mereka sudah tua lo masak kamu tega biarin mereka menikamti masa tua sendiri tanpa anak. Iya pa " jawab Dini singkat sambil menahan air mata" Papa harap besok kamu pulang, selesaikan masalah keluargamu. papa cuma ngak mau kalo ada konflik di keluarga kalian apalagi Dika anak yang baik, ya sudah papa ke depan dulu ya hiks . . hiks tangis Dini pecah saat papanya pergi,dia segera memyelesaikan cucian piring dengan cepat dan masuk ke kamar. Dika yang melihat istrinya masuk dalam kamar dengan menangis terlihat kawatir. kamu kenpa? Bapak mas dia datang ke rumah kasih tau papa, tadi aku di tegur besok di suruh balik selesaikan semuanya. Dini terus terisak karena sejujurnya dia tidak ingin kesana terlepas dari perlakuan kakak ipar dan orangtunya. Terus kamu pengen gimana, kembali apa mau di sini dulu aku ikut Aku takut kalo kembali ke sana apalagi perlakuan mbak kamu ke aku kemaren, kalo kamu kerja aku sendiri gimana? Apa kita ngontrak dulu atau ke hotel beberapa hari? sampai kamu siap Tapi kalo kita ngak balik dalam waktu dekat aku juga takut orang tua kamu datang lagi dan kalo kita nginep di hotel pun pasti papa ngira kita udah pulang malah jadi masalah lagi, papa tuh pengennya kita selesaikan dulu Ya udah kita nginep di sini dulu aja sampai kamu tenang Dini cukup tertekan dengan masalah ini, pikirannya kemana mana, takut semakin di salahkan tapi juga tidak berani jujur atas apa yang terjadi pada dirinya selama ini dia takut orang tuanya malah tidak terima dengan sikap keluarga suaminya. Akirnya dia memutuskan mengalah kembali ke rumah itu setelah Dika pulang kerja, di perjalanan sunguh hatinya tidak tenang ada perasaan takut sekaligus marah tapi dia mencoba meyakinkan lagi pasti mereka tidak senekat itu. Dika yang melihat kecemasan istrinya, melirik dan sesekali menenangkan. Dia hanya tersenyum kecil seolah membodohi diri, pandangannya lurus ke luar jendela mobil berharap semua masalah bisa cepat berlalu seperti hembusan angin. Sesampainya di rumah tidak ada seorangpun yang menyambut atau menyahut salam dari keduanya ,Dini hanya diam dan sedih melihat keluarga suaminya malah semakin benci padanya. Dia buru buru ke kamar agar tak lama bertatap muka dengan mereka. rasanya sangat menyedihkan. pagi harinya pun saat makan sama sekali tidak ada balasan saat dia bertanya atau sekedar menegur mertuaku, bapak mendiamkan dan ibu mertuanya hanya melirik sinis Dia coba kuatkan hati seolah tidak ada yang terjadi, suaminya yang melihat itu hanya menghela nafas frustasi karena orang tuanya sanggat teguh pendirian dan keras kepala. Bapak sama Ibu kenapa malah bersikap dingin ke Dini sih, dari tadi Dini udah baik lo minta maaf , siapin makan, ngerjain pekerjaan rumah, kalian beruntung di era sekarang punya mantu yang bisa banyak hal ngak sungkan nglakuin ini itu. Jaga mulut kamu dik " bapak berteriak pada dika" Ah sudah lah aku ngak mau tau dia udah mau ngalah setelah di perlakuan ngak baik di rumah ini, pokoknya aku ngak mau kayak kemaren ada peristiwa kekerasan ya, aku titip istri ku ke bapak dan ibu jangan sampai aku dengar atau lihat kalo Dini di apa apain lagi, kalo engak aku bakalan keluar dari rumah. Bapak dan ibu kompak melotot ke arah mereka lalu pergi dari ruang makan, Dika adalah anak kesayangan mereka tentu hal itu tidak di inginkan jika mereka benar benar keluar dari rumah. kamu kalo ada apa apa telfon aku ya iya mas ya udah aku kerja dulu ya Dini mencium tanggan suaminya sebelum ia bangkit dari duduknya dan Dika mencium kening istrinya sebelum berangkat kerja meninggalkan istrinya di rumah itu, ada perasaan kawatir terhadap istrinya tapi Dika tahu jika Dini adalah wanita yang hebat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN