18. Ingin Dekat Denganmu

2034 Kata
Setelah pertemuannya kamarin dengan mantan suaminya itu ke esokan harinya Dini memutuskan untuk kembali ke Jakarta, Dan Santi mengantarkan Dini kembali. Meski hanya Jakarta-Bogor yang jaraknya dekat sekali Dini bersyukur sekali mantan suaminya itu sama sekali tidak tau jika dia hanya pindah ke Jakarta. Pagi itu terasa sejuk dan mulai sedikit terik, pemandangan ibu kota yang mulai disinari mentari pagi itu menambah pesona kemacetan jalanan, deretan gedung gedung pencakar langit terlihat kokoh di sepanjang jalan. Waktu masih menunjukan pukul tujuh pagi tapi kemacetan sudah biasa terjadi di sini, Dini membuka sedikit jendela mobilnya merasakan hembusan angin dari luar jendela mobil yang masuk ke dalam merasakan perasaan tenang kala sudah kembali ke ibu kota meski macet dimana mana tapi setidaknya hal hal masa lalu tak berada di sini. Santi yang melihat kelakuan sahabatnya itu hanya bisa senyum sambil geleng geleng kepala dibuatnya, bagaimana tidak lucu bagi Santi dari tadi Dini hanya menghadap luar jendela dengan mata tertutup sambil tersenyum dan membiarkan jendela mobilnya terbuka membiarkan angin menerpa wajahnya dan kadang penguna mobil atau motor yang berpapasan menatap ke jendela mereka aneh karna melihat tingah Dini itu. Merekapun sampai ditoko Dini selamat sampai tujuan, bersyukur sekali Riska dapat di andalkan di saat seperti ini bisa jaga toko sendiri selama Dini kembali ke bogor. Pagi Ris, sapa Dini Pagi mbak. Rajin amat baru jam setengah delapan udah buka ,kata Santi . Ya habis ngak ada kerjaan mbak Selama aku pergi aman kan? tanya Dini ke Riska. Aman kok mbak, tapi mas mas yang ganteng itu sering tanyain mbak Dini beberapa kali dia juga bolak balik lewat sini. Siapa, Raka maksud kamu? Ngak kenal mbak, tapi pokoknya ganteng banget mobilnya bajunya semua bagus deh. Cie yang ditaksir laki orang, bisik Santi ke Dini sambil megoda. Apaan sih, ngak jelas deh. Ya udah ris aku ke atas dulu ya naroh barang. Santi pun ikut naik ke atas membantu menaikan koper Dini, entah perasaan apa yang dirasa tapi Dini merasa senang ada yang mencarinya saat ia tak disini. Segera dia berberes lalu kembali turun ke bawah menemui Riska dan Santi yang sudah lebih dulu turun kebawah. Diberikan sekantong oleh oleh untuk Riska yang sudah baik padanya mau menjaga toko sendirian selama Dini pulang ke Bogor, Riska sangaat berterimakasih karna diberi banyak oleh oleh. Mereka pun larut dalam canda gurau sembari bersih bersih toko pagi itu dan Santi pun kembali siang itu juga setelah mengantarkan Dini kembali ,tak lupa ucapan trimakasih karna sahabatnya itu selalu ada untuknya dan mau direpoti sepanjang waktu. Dini dan Riska kembali ke rutinitas mereka, ternyata selama Dini pergi banyak sekali pesanan keranjang untuk seserahan Dini pun mencatat semua tangal pesanan itu dan menghubungi pihak pengrajin untuk mengirim lebih banyak pesanan yang sudah disebutkan tadi. Kini tokonya sudah banyak berkembang menjual berbagai kerajinan dan aksesoris serta sovenir untuk acara pernikahan Dini pun mulai berpikir untuk memisahkan barang barang yang akan ia jual karna tokonya semakin hari semakin terlihat penuh. Oh ya ris aku mulai mikir nih kan disini barang barang kayak aksesoris dan juga tas itu kan banyak peminatnya ya terus ternyata juga barang barang buat tempat seserahan gini bisa laku juga, kira kira kamu keberatan ngak ya kalo tokonya kita pisah? jadi rencananya ruko sebelah juga mau aku sewa tapi kusus fashion dan asksesoris aja terus yang di sini buat barang barang perlengkapan gitu sama sovenir. Tapi kamu tenang aja kita cari orang buat bantu bantu disini. Cari tambahan karyawan gitu mbak? Iya, menurut kamu gimana? Aku sih ngikut aja mbak. Oke kalo gitu nanti biar aku tanya ke pemilik tokonya. terus kita rumah dan kita pisah semuanya. Saat mereka sibuk menyusun rencana tiba tiba laki laki tampan bertubuh tegap dan tinggi itu masuk menyapa pemilik toko, Dini menoleh kebelakang dan melihat pria itu tengah berdiri tepat dibelakangnya dan tersenyum ramah. Raka yang melihat senyuman Dini itu merasa sedikit sesak karna dekdekan tapi segera ia kuasai perasaan itu dan melanjutkan tujuannya dia mencoba mencari cari alasan yang pas untuk datang kemari. Hai, ada yang bisa dibantu? tanya Dini sopan Emm jadi gini, Raka mencoba mencari alasan datang kemari dan melihat vas bunga diatas meja memberinya ide. Ah aku eh gue pengen pesen vas bungga tapi yang ukuranya gede dan dari bahan rajut gitu atau kerajinan lah bisa ngak? Bisa sih, kamu mau yang bahanya dari rotan, eceng gondok atau bambu? Em bedanya apa ya? Kalo eceng gondok itu lebih ringan dari pada yang dari bambu atau rotan tapi kalo untuk jangka panjang aku saranin sih yang terbuat dari rotan aja lebih awet. Oh gitu ya, kira kira seminggu bisa ngak? Bisa kita di pengrajin setoknya ada banyak kok mau berapa? Emm aku butuh dua sih tapi kalo bisa yang medium aja jangan gede banget Oke siap. Elo ngak nawarin buat minta WA gue gitu buat. . . Dini tertawa mendengar ucapan Raka barusan. Ya udah mana ponsel lo. Dini pun mengetikan nomor di ponsel Raka dan mengembalikan ke pemikiknya. Ini nomor lo kan? Bukan itu nomor Riska Raka melotot mendengar ucapan Dini dan wanita itu tertawa karna expresi Raka yang menurutnya lucu. Hahaha ya nomor gue lah, ya udah nanti gue kirim foto bentuk vas bungganya ya. Oke gue tunggu, nanti gue hubungi lo. Dini hanya tersenyum dan mengakuk ke Raka. Mau makan bareng ngak? Sorry tapi kayaknya ngak bisa deh. Tolak Dini halus. Kalo gitu gue boleh ketemu lo lagi ngak? Dini melotot dan tersenyum kecil menatap Raka heran dan ia anguki permintaan pria itu padanya. Oke kalo gitu gue pergi dulu ya nanti gue WA. Iya, makasih ya. Raka pun pergi dan Riska menatap Dini lucu karna tingkah Raka ke Dini seperti anak SMA yang lagi kasmaran. Hari itu berjalan seperti biasa sangat mulus dan lancar, Dini masih bisa membantu banyak hal di toko perutnya yang kian membesar tak mengangunya beraktifitas. Malam ini cukup sepi tak seperti hari hari biasanya banyak kendaraan yang melintas depan toko padahal baru jam delapan malam tapi perut Dini sudah keroncongan minta di isi lagi. Karna ia merasa lapar akirnya Dini pun ganti baju dan keluar mencari makan saat turun tangga tiba tiba saja Raka menelepon dan di angakatnya. Hallo Gue ada didepan toko sekarang. Hah, Dini pun bejalan sedikit cepat menuruni anak tangga. Buruan turun. Dini pun mematikan telfonnya dan membuka tokonya, benar saja pria itu sudah ada didepan toko. Cepet banget elo lari ya? Engak gue emang mau keluar tadi. Ayo masuk. Mau kemana? Udah ikut aja. Gue laper mau makan, gue pergi sendiri aja deh. Iya nanti gue beliin makan. Raka menarik lengan dini dan membawanya ke dalam mobil. Ini kita mau kemana sih? gue ngak diajak kelabing kan? hahhaa engak lah. Terus? Emmm kita makan. Elo nyamperin gue cuma buat ajak gue makan doang? ya kali gue nyamperin elo cuma karna kangen, gumam Raka dalam hati. Ya sapa tau lo mau nemenin gue makan hehe mumpung gue lewat sini kan, males kalo makan sendiri. kata Raka memberi alasan. Aneh banget sih lo. Btw kita mau makan di mana nih? Gue juga bingung mau makan apa tapi gue laper banget. Gimana kalo kita makan di restoran? Engak ah, pakean gue kayak gembel gini mau masuk restoran nanti yanh ada diketawain orang. Terus elo mau makan apa? Kayaknya bakso aci enak deh. Cari dimana? Ya ngak tau, gue kan bukan orang sini. Yang lain deh? tawar Raka ke Dini Ngak mau ah pengen itu. Kata Dini ngotot. Ya udah kita melipir dulu ditaman itu nanti kita caro bakso acinya. Raka pun menepikan mobilnya dan parkir disebuah taman kota disana, sambil menunggu keputusan Dini apakah mau mengubah pilihan atau tidak. mereka pun membeli minuman ringgan disalah satu pedangang kaki lima disana. Raka pun meningalkan Dini sebentar dibangku taman dan mencoba menghubungi Riko. Hallo bro, elo tau penjual bakso aci ngak? Apaan tuh? Ya bakso aci. masak lo ngak tau. Namanya aja baru denger, emang lo tau? Kalo gue tau juga ngak bakal tanya lo. Buat siapa sih? Ngak penting tapi gue butuh info segera dimana tukang bakso aci dagang? lo tanya bini lo dah. Bini lo nyidam? Anjir, bukan k*****t udah deh cepetan lo tanyain gue tunggu. Lalu Raka mematikan telfonnya dan kembali menghampiri Dini. Sorry ya nunggu lama , kata Raka Ngak papa kok. Jadi masih mau bakso aci? Dini pun menganguk nganguk seperti anak kecil. Masalahnya gue ngak tau dimana yang jual. Raka berkata jujur dan bingung sendiri. Kenapa ngak di gofood aja? kata Dini memberi ide. Oh iya kok ngak kepikiran ya, ya udah kita pesen ya. Raka pun membuka aplikasi online itu dan memesan bakso aci disana, Elo mau nambah apalagi? Sate padang kayaknya enak, Kata Dini yang tiba tiba saja terpikirkan makanan itu. Oke, ada lagi ngak? Cukup nanti kalo pengen gue kasih tau. Ya udah kita tunggu di sini aja ya. Dini pun mengaguki kata kata Raka, sembari menunggu mereka berdua duduk dikursi taman dan melihat beberapa pasang kekasih dan anak anak yang sedang menikmati malam disana. Lo ngak makan dirumah, Kata Dini membuka obrolan. Engak Kenapa? Ya ngak papa, bahas yang lain aja ya. Mau bahas apa? Kita aja gimana? Maksudnya? Ya udah lupain, gue kesana bentar ya kayaknya gojeknya udah dateng. Oke. Raka pun mengambil pesanan mereka ditepi jalan taman itu lalu kembali ke tempat Dini berada. Nih udah dateng, Kata Raka sambil menyodorkan makanan itu. Waaah makasih, Dini pun menerima kantung plastik berisi makanan itu dan segera membukanya. Ayo duduk, kamu ngak makan Raka pun duduk di samping Dini dan mereka saling berhadapan. Dini pun membuka makanannya dan makan dengan lahap Raka yang melihat itu bingung sekaligus senang karna Dini terlihat menikmati makanannya. Kamu ngak makan? tanya Dini. Raka pun membuka bakso aci itu dan dari baunya saja makanan itu terlihat pedas karna aromanya yang sedikit menyegat waktu pertama dibuka. Kok malah bengong? ngak suka? Gue baru pertama ngelihat makanan kayak gini, kayaknya pedes ya? tanya Raka lugu karna memang sebelumnya dia tidak pernah tau ada makanan seperti itu. Engak terlalu kok, kalo ngak suka makan sate padang aja tuh. Gue mau coba, Raka pun mencoba bakso aci itu untuk pertama kalinya dan dia tersedak di suapan pertama karna bumbu yang sedikit menyengat. uhuk uhuk , Dini pun menepuk nepuk pungung Raka dan memberinya minum. Lo ngak papa? tanya dini panik Raka meneguk air itu dengan cepat. ahh gue ngak papa kok cuma kaget aja hehe. Ya udah ngak usah dimakan kalo ngak suka. Enak kok, cuma pedes aja jadi kaget gue. Ya udah pelan pelan aja. Raka pun menikmati bakso aci itu dengan perlahan, rasa yang segar guri dan pedas itu memang cocok untuk orang yang sedang nyidam. Tidak terlalu buruk bagi Raka meski ia tidak pernah mencoba makanan seperti ini tapi bakso aci cukup enak meski ini baru pertama mencobanya. Gimana enak ngak? Lumayan. Oh ya mumpung kita ketemu nih aku tunjukin model vas bungga yang tadi baru aja dikirim pengrajin aku dari jogya. kamu mau pilih yang mana? tanya Dini dan memberikan henponnya ke Raka sambil menunjukan beberapa gambar vas bungga disana. Raka pun memlihat lihat model vas bunga itu dan memilih salah satunya. Emm kayaknya yang no tiga bagus sesuai sama ruangannya. Oke yang ini ya, kalo gitu biar gue kirim ke sana biar dibuatin segera soalnya yang itu tinggal satu. Thank you ya. Ayo lanjut makan lagi. Raka pun menganguk dan kembali makan bakso acinya yang sisa setengah sambil melihat wajah Dini yang terlihat bahagia karna menikmati makanan itu, Raka cukup senang bisa berlama lama dengan Dini seperti ini. Merekapun banyak mengobrol sambil menghabiskan makanan itu bersama. Selepas mereka makan ditaman Raka langsung mengantarkan Dini pulang. Thank you ya ka, nih gue ganti uang makannya. Dini menyodorkan selembar uang seratus ribu untuk menganti makanan tadi. Ngak usah udah ambil lagi, masak gue cowok dibayarin cewek gengsi dong. Ngak papa ambil aja. Kan gue yang ajak lo jadi gue yang bayar lain kali kalo lo yang ajak gue gantian lo yang bayarin gue oke. Oke, gue masuk dulu ya. Eh din tunggu. Kenapa? Gue boleh ketemu lo lagi ngak? Untuk apa? Ya main aja Jangan sering sering deh, nanti gue dikira pelakor lagi hehe. Lagian gue juga lagi hamil takutnya orang yang kenal lo nyangka yang engak engak tentang kita. Raka pun terdiam tak membalas ucapan Dini. Ya udah gue masuk ya, sekali lagi makasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN