Hampir sebulan Dini kembali ke rumah mertuanya ia bersyukur selama kembali dengan mereka keluarga Dika tidak memperlakukannya dengan buruk bahakan mereka malah mendiamkan Dini.
Bapak mertuanya bahkan sudah tidak pernah berbicara lagi sejak kepulangannya, Ibu mertuanya hanya berbicara jika butuh sedangkan kakak iparnya sibuk pergi entah kemana belakangan ini. Tapi itu lebih baik dari pada harus diperlakukan lebih buruk lagi.
Setiap hari ia menyibukan diri dengan bersih bersih, semua pekerjaan rumah ia kerjakan tanpa mengeluh bahkan hubungannya dengan Dika tak semesra dulu karna Dini merasa tertekan di rumah itu, terasingkan dan tidak di inginkan. Itu lah yang ia rasakan membuat hatinya merasa resah dan bimbang.
Apakah aku tidak berhak bahagia, ke inginanku cukup sederhana bisa punya rumah sendiri bersama kluarga kecilku, kalo pun tak bisa setidaknya aku ingin punya mertua dan kluarga yang bisa menghargaiku menyayangiku dan bisa bersikap baik padaku. Dini selalu berharap itu dalam hatinya tapi apa daya nyatanya setelah menikah malah hidupnya susah meski sudah dituruti semua ke inginan orang tua Dika.
Siang itu semua orang berada di rumah kecuali Dika yang bekerja, tiba tiba kakak iparnya memangil
Dini, din Nandini keluar cepat , teriaknya pada dini
Iya mbak, dini keluar kamar tergesah gesah menuju sumber suara
Ada apa mbak?
Ini surat cerai kamu, mulai hari ini kamu dan adikku sudah tidak punya hubungan apa apa lagi jadi kamu bisa pergi dari rumah ini, di sodorkan amplop coklat itu ke Dini
Maksudnya apa mbak?, di terimanya amplop coklat itu dengan bingung
dibukanya amplop itu yang berisi surat cerai, Nandini kaget tak mengerti bagaimana bisa terjadi, air matanya jatuh tanpa permisi dan ia syok dengan semua ini
Mas Dika ceraikan aku mbak? buk pak tolong jelaskan ini aku tidak pernah menandatangani berkas perceraian kenapa surat ini bisa ada, ini palsu kan mbak?
Itu resmi dari pengadilan, aku sendiri yang mengurusnya dan dika sudah menandatangani jadi mulai hari ini kamu bisa pergi karena kamu bukan bagian keluarga ini.
Dini semakin lemas tak percaya ia terjatuh ke lantai dan menangis sejadi jadinya, bapak dan ibunya hanya diam tak berkata hanya menunjukan expresi puas atas perbuatan anaknya
Sana cepat pergi kemasi barang barangmu sebelum Dika pulang dan melihat wajahmu itu
Dini bangkit dari duduknya ia gemetar memegang surat cerai itu berbalik dan pergi membereskan barang barangnya, setelah semuanya siap ia masukan dalam koper ia pergi keluar rumah dengan cucuran air mata di tengoknya rumah itu penuh amarah dan sakit yang mendalam
Sudah sepantasnya Dika mendapatkan wanita yang bisa nurut dengan mertua dan memberi keturunan, wanita sepertimu tidak pantas di pertahankan , kali ini ibu mertuanya berkata dengan angkuhnya pada Dini.
Dia masih tak percaya dengan semua ini pernikahanya bahkan belum genap 1tahun tapi sudah seperti ini, Dini langsung menuju kantor Santi ia bingung harus berkata apa pada orangtuanya nanti
Tiba di kantor Santi, Dini hanya berlari ke pelukan sahabatnya itu dengan cucuran air mata
Kenapa din? tanya santi penasaran sekaligus bingung dengan sahabatnya, beberapa karyawan yang melihat saling menatap bingung dan berbisik bisik tentang apa yang terjadi
Hiks hiks Dini masih trus terisak
Ya udah keruanganku yuk
Santi menuntun Dini keruanganya
Kenapa din, kok kamu tiba tiba nangis gini? apa yang terjadi? mertua kamu ngapain kamu? hah jawab din
Dini masih saja menangis belum bersuara, dia sodorkan amplop coklat itu ke santi dan Santi terima dengan tatapan bingung lalu ia buka isinya dan dibacanya dengan seksama santi menutup mulutnya dengan tangganya kaget tak percaya dengan isinya.
Apa ini din? elo cerai? kapan? kok bisa? ada masalah apa?
Aa aku ngak tau sin, tiba tiba hari ini aku dapat surat itu dari kakak iparku dan aku di usir dari rumah
Keterlaluan sih din, mereka emang jahat lalu dika setuju?
Aku ngak tau kata kakak iparku Dika udah setuju tapi kenapa dia ngak pernah bilang apapun tentang ini bahkan aku juga ngak tanda tanggan surat gugatan atau apa pun, tiba tiba udah ada surat ini san
Oke oke tenang din mungkin ini cuma prank aja, elo pastiin dulu sama Dika biar jelas semuanya
Gua harus nenangin diri dulu baru setelah itu ke kantor dia buat tanya ini semua
Ok gue temenin
makasih, Dini memeluk erat santi sambil berkaca kaca
Setelah Dini mulai tenang mereka pun menuju kantor Dika yang tak jauh dari kantor Santi hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai.
Ayo din gua udah ngak sabar mau nonjok muka si mantan suamimu itu, mereka masih didalam mobil untuk bersiap masuk
Apa gua telfon dulu aja ya san
ngak usah langsung masuk aja
ngak san gua telfon dulu aja, ya udah terserah lo.
Lalu diambilnya ponsel dari tas Dini dan ia hubungi nomer Dika, tak butuh beberapa lama sambungan itu langsung di jawab
Hallo sayang ada apa?
Aku ada di depan kantor kamu, cepat keluar aku ingin bicara penting.
Hah, kamu ada didepan kantor aku, ya udah aku keluar sekarang. Lalu Dika buru buru keluar dari kantornya ia bingung tidak biasanya Dini datang ke kantor apalagi dalam hal seperti ini membuat Dika semakin penasaran.
Dini sudah menunggu dika didepan kantornya dengan perasaan yang tak karuan, Dika setengah berlari menemui Dini berada didepannya.
Tumben kamu kekantor ada apa?
Dini hanya diam dan menyodorkam surat cerai itu pada Dika
Di terimanya surat itu bingung dan dibukanya isi surat cerai itu, bak tersambar petir di siang bolong Dika terkejut tak percaya dengan isi surat itu
Apa maksudnya ini? Dika menahan amarah mengengam surat itu meminta penjelasan
Harusnya aku yang tanya, bisa bisanya kamu ceraikan aku tapi sikap kamu seolah olah tidak terjadi apa apa.
Aku sama sekali ngak pernah ceraikan kamu tapi ini apa? ia angkat surat cerai itu didepan muka Dini.
Dini merebut surat itu dari tangan Dika.
Kalo kamu ngak pernah ceraikan aku lalu ini apa mas? ada buktinya dan kakak kamu sendiri yang bilang kalo kamu sudah gugat aku.
Apa? dika semakin tak percaya dan ia diliputi rasa bingung penuh amarah
ayo kamu ikut aku pulang kita minta penjelasan sama . . . ngak usah mas aku ngak butuh. jawab dini tegas sebelum dika menyelesaikan ucapanya
Kamu tau apa yang dikatakan ibumu sebelum aku pergi, katanya Dika pantas mendapatkan wanita yang lebih baik yang mau menurut dan memberinya keturunan
dan kluargamu sudah menginjak injak harga diriku mereka mengusirku bahkan aku tak tau jika suamiku sendiri sudah mengungat cerai aku, selama ini kamu hanya berpura pura baik mas ternyata diam diam kamu sama aja, trimakasih untuk semuanya aku bersyukur bisa keluar dari rumah itu meski dengan cara yang menyakitkan.
Aku sama sekali tidak pernah gugat kamu, aku minta maaf soal ibu ku tapi aku bersumpah aku tidak tahu apa apa.
Sudahlah semua sudah terjadi, mungkin ini yang terbaik semoga kamu bisa memiliki istri yang jauh lebih baik dari pada aku yang bisa memenuhi ke inginan orangtuamu.
Dini langsung masuk ke dalam mobil dan menumpahkan air matanya yang sejak tadi ia bendung
Jalan san, mobil itu melaju dan Dika masih berusaha mengejar mobil itu mencoba menghentikannya tapi tidak berhasil. Kaki Dika terasa lemas dan jatuh ke aspal tak sadar bulir air matanya jatuh tanpa permisi, beberapa orang lalu lalang melihatnya bertanya tanya.
Lalu Dika bangkit menuju parkiran dan pulang kerumah meminta penjelasan semua ini, dengan kecepatan tinggi Dika mengemudikan mobilnya dengan penuh amarah beberapa kali di usapnya air mata yang terus berjatuhan
Sesampainya ia dirumah segera ia cari orang tuanya tapi tidak ada kemudian ia menuju rumah kakaknya yang tak jauh dengan rumah orang tuanya, dengan penuh amarah Dika berteriak kencang memangil keluarganya.
Mbak ning mbak, kluar cepat keluar atau ku bakar rumahmu
Mas Seno suami mbak ning lalu keluar dengan panik
Ada apa dik? sabar dulu sabar
Dimana mbak ning aku mau bicara
Ada apa sih triak triak, mbak ning keluar dari rumah melihat yang terjadi
Apa yang kamu lakukan dengan pernikahanku? semua ini ngak benar kan mbak? aku ngak mungkin cerai dengan Dini kan mbak? jawab?
Itu semua benar ningsih sudah mengurus semua surat cerai kalian jadi hari ini kalian bukan suami istri lagi, suara bapak menjawab pertanyaan Dika entah kapan ia berada di sana.
Tapi kenapa? Dika frustasi dan menangisi ke adaan
Karena dia tidak pantas untukmu, kali ini ibu yang menjawab
Kalian semua keterlaluan bisa bisanya berbuat seperti ini padaku, Dika berbalik dan berjalan menuju mobilnya
Kalo kamu kembali menemui gadis itu jangan harap kamu bisa jadi bagian keluarga ini.
Langkag kaki Dika sedikit berat mendengar perkataan itu tapi ia tak peduli dan segera melajukan mobilnya menuju tempat Dini.