***
Sore nanti Pram dan Randy berencana untuk barbeque bersama, mereka membawa serta keluarga mereka masing-masing. Bukan hanya soal barbeque saja, kedua pria mapan itu memang menyusun rencana ini agar Icha dan Vic dapat sering bersama. Hal itu karena kedua anak mereka yang terus menolak untuk bertunangan.
"Ma... semua sudah disiapkan?" tanya Pram kepada Dinandra.
"Sudah kok, Mas," jawab Dinandra sembari tersenyum.
"Daging buat barbeque dan bahan makanan mentah lain udah di cool box semua kan?" tanya Pram lagi, ketika Dinandra hendak keluar dari kamar.
"Iya, Mas... semua sudah dimasukin sama Bik Yati tadi, dibantuin juga sama Pak Narto," jawab Dinandra. "Oh ya, aku mau packing baju dulu..." lanjut Dinandra.
Icha turun dengan sebuah koper berukuran sedang, gadis itu sudah sangat siap untuk pergi ke villa bersama dengan keluarganya.
"Ma? Daniel enggak ikut?" tanya Icha ketika dirinya berpapasan dengan Dinandra.
"Daniel enggak ikut Cha, katanya sih udah mulai turun lapangan, ya gitu deh," jawab Dinandra.
"Oooooh," Icha mengangguk mengiyakan.
Icha jarang melihat Daniel akhir-akhir ini, entah kemana pria muda itu menghilang. Terkadang Icha hanya melihat ketika Daniel pergi di pagi atau malam hari. Dia juga agak mencurigakan. Menurut Bik Yati Daniel hanya pulang membawa baju kotor dan meminta Bik Yati mencucikannya, kemudian pergi lagi dengan membawa tas ransel berisi baju bersih. Icha jadi sangat penasaran, sampai berniat ingin mencari tahu lebih banyak.
Setelah semua persiapan selesai dimasukkan kedalam mobil, Icha bersama Dinandra dan Pram pun segera masuk ke dalam mobil. Memakai seat belt dan merapikan semua barang-barang bawaan kecil seperti tas, snack, dan juga handphone.
"Bik, titip rumah ya, kami pulang besok lusa." Pamit Pram kepada Bik Yati.
"Iya, Tuan... hati-hati di jalan ya?"
"Iya Bik, Assalamualaikum," jawab Pram, Icha, dan Dinandra bersamaan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah," jawab Bik Yati sembari melambaikan tangan.
Sepanjang perjalanan Icha mendengarkan musik melalui airpod miliknya, pemandangan pohon-pohon yang tinggi menjulang membuatnya ikut merasakan kesejukan alam sekitar. Suasana yang sungguh mendamaikan hati. Ia melupakan sejenak semua kekacauan yang sudah terjadi. Gadis itu terlelap lima menit kemudian.
***
"Hihihi... muka kok lucu amat."
Suara cekikikan yang begitu mengganggu membuat Icha memalingkan wajahnya ke samping. Namun suara cekikikan yang amat mengganggu itu sama sekali tidak berhenti.
"Maaaa... Paaaaa... jangan gangguin Icha dong, masih pengen tidur," gumam gadis itu.
Icha tak menghiraukan segala jenis gangguan dan melanjutkan tidurnya, ia sungguh kelelahan karena sudah bangun pagi-pagi sekali dan ikut bantu-bantu membereskan barang bawaan bersama Bik Yati dan Pak Narto.
"Dasar kang molor," ledek si biang cekikikan tadi.
Icha merasakan bahunya terganjal sesuatu, seperti ada yang menyandarkan kepala di bahunya. Icha tidak perduli, ia bepikir itu adalah Mama Dinandra atau papanya.
Gadis itu terbangun setelah bunyi alarm dari ponselnya yang terus berdering. Perlahan Icha membuka matanya, mengerjap sembari melihat ke luar mobil, sekelilingnya sudah mulai gelap saat ini. Matanya menangkap sosok ayahnya yang sedang menyalakan api di bawah tempat pemanggang barbeque.
Bahu Icha terasa pegal dan hendak bangun. "Ma, bahu Icha pegel, ayo kita ke tempat Papa aja," gumam gadis itu.
Namun seseorang yang ia anggap sebagai Dinandra tidak bergeming sampai akhirnya ia mendapati sosok Dinandra sedang bersama dengan ayahnya, sibuk menyiapkan bumbu sebagai bumbu celup barbeque.
"Loh?" bingung Icha, gadis itu mencium aroma parfum yang sama sekali bukan parfum wanita.
BAAAK!
Dengan gerakan refleks super cepat, Icha mendorong kepala yang tengah bersandar tepat di bahunya itu hingga terantuk ke kaca pintu mobil.
"Aa—aawww!" suara seorang pria datang dari orang tersebut. "Cha! Kamu kenapa sih? Uh— benjol nih pasti," lanjut pria itu.
"Vic?" tanya Icha, ia tak percaya ia sudah mendorong Vic dengan keras. "Ma—maaf, maaf ya... ya ampun aku kira kamu siapa," ucap Icha sembari menyapu pelan kepala Vic yang baru saja terantuk.
"Sakit banget... cewe kok kasar banget," gumam Vic sambil cemberut.
"Kamu bilang apa? Mau aku jedotin lagi?" kesal Icha.
"Hah? Apa? Aku nggak bilang apa-apa tuh," Bohong Vic sembari membuka pintu mobil.
"Lagian kamu ngapain? Nempel-nempel di aku, nyari kesempatan ya?" hardik Icha dengan 1001 macam tuduhan.
"Dih, ngapain nyari kesempatan sama kamu? Biasa juga kamu yang nyari kesempatan buat cium aku malam itu," Vic membantah, ia meledek Icha setelahnya.
"Jangan ngajak gelut ya... Victory Liandra. Sok-sok-an enggak mau dicium, kalo aku nggak lakuin hal itu pasti kamu udah mati kekeringan, begok!" Kesal Icha.
"Eh! Neng! Ngomongnya biasa aja dong, makin-makin nih," ledek Vic setengah emosi karena dibilang begok sama Icha.
"Yaudah, ngapain kamu nempel-nempel di aku hah? Pake acara tidur samping aku biar nyender-nyender, mau aku laporin ke papa kamu?" kesal Icha.
"Duh... ribet banget sih ngomong sama cewek satu ini, kayak berlainan spesies aja sampai susah banget mau komunikasi sama kamu, melenceng mulu," sela Vic.
"Gini deh ya... tadi tuh aku disuruh sama papa
Kamu buat bangunin kamu, tapi kamunya enggak bangun-bangun. Ini deh kalo enggak percaya, aku punya buktinya," jelas Vic sembari memijit layar ponselnya.
Vic membuka galeri ponselnya kemudian menunjukkan bukti foto, ia bahkan mengambil foto dengan Icha yang masih terlelap dalam foto itu. Ada banyak foto yang Vic ambil, sekitar belasan foto.
Mata Icha membulat ketika melihat foto-foto dalam ponsel Vic itu, gadis itu dengan secepat kilat ingin merampas ponsel Vic namun pria itu menyadari gerakan Icha. Vic dengan cekatan menyimpan kembali ponselnya kemudian meledek Icha dengan menjulurkan lidah pada Icha.
"Viiiiiiiiicccc!!!" teriak Icha saking gemasnya.
"Enggak bisa, wleeee!" ledek Vic sekali lagi lalu dengan cepat turun dari mobil.
Icha yang kesal sampai keubun-ubun itu pun mengikuti Vic, ia memakai sendal dengan cepat dan bergegas turun dari mobil untuk mengejar Vic.
"Hapus nggak?"
"Enggak, wleeee!"
"Awas ya! Kalo sampe aku dapetin hape kamu itu, bakal aku buang ke danau sana!" tunjuk Icha ke danau yang berada tepat di belakang gedung Villa itu.
"Coba aja, aku nggak main-main! Dasar Vic alien!" Teriak Icha sembari mengejar-ngejar Vic di halaman Villa.
Gadis itu melompat-lompat untuk meraih ponsel dari tangan Vic. Tinggi tubuh Vic yang berbeda jauh dengan Icha menyebabkan gadis itu selalu gagal dengan usahanya.
"Sudah lah... kamu pendek," ledek Vic lagi.
"Papaaaa! Vic nih... nyebelin," Icha mengadu pada ayahnya yang sedang memanggang daging.
"Vic... jangan gitu dong, hey... udah gede tapi kelakuan kayak anak kecil banget sih!" omel Selena.
"Iya Ma... habisnya dia lucu ma, kayak boneka anabel hahaha," tawa Vic pecah setelahnya.
Icha menjadi sangat geram lalu melempar sandalnya pada Vic.
"Enggak kena, wleeee!" ledek Vic.
Icha kelelahan, ia berhenti mengejar Vic lalu pergi ke meja makan. Gadis itu mengambil duduk di samping Selena dan juga Randy, ayah dan Ibu Victory.
"Om... lihat nih kelakuan Vic, dia foto aku lagi tidur, jelek banget," adu Icha pada Randy sambil memasang wajah cemberut.
"Vic... enggak boleh gitu dong," tegur Randy.
Vic terkekeh. "Enggak apa-apa, Pa... lagian dia cantik banget di foto itu," sela Vic namun masih tetap menertawai Icha.
"Ya udah... terserah. Males banget urusan sama kamu," Icha memalingkan wajahnya, ia tak mau menoleh ke arah Vic.
"Kok berantem mulu sih? Eh tapi nggak apa-apa sih... nanti jodoh," kata Pram menengahi.
Pram membawa sepiring daging barbeque yang sudah matang dan meletakkannya di depan Icha dan Vic.
"Ayo makan dulu... kalo udah dingin nanti enggak enak lagi," lanjut Pram.
"Makasih Om," ucap Vic lalu mencomot satu tusuk barbeque. "Mau enggak yang? Sini ayang suapin," lagi-lagi Vic meledek Icha.
"Bodooooo!" kesal Icha lalu mengambil satu tusuk dan dilahapnya kasar, mengekspresikan kekesalannya pada Vic.
"Icha jangan marah-marah... takut nanti lekas tua," Vic menyanyikan sepenggal lalu yang diplesetkan menggunakan nama Icha.
Kelakuan Vic berhasil memancing tatapan sinis Icha. "Victory sayang?"
"Iyaaaaa?" jawab Vic dengan nada sengaja di imut-imutkan.
"Kamu udah pernah ngeliat Victory Panggang enggak?" ancam Icha dengan matanya yang berubah menyeramkan.
"O—oke! Enggak lagi, ampun," jawab Victory dengan kedua tangannya yang terangkat ke atas, menyatakan kekalahannya kepada Icha.
Icha merengut, iya tahu kalau Victory tidak akan mengalah secepat itu. Ia tahu bahwa Vic akan mengelabui dirinya kemudian di waktu yang akan datang dia pasti akan terus meledek Icha lagi dan lagi.
"Udah ah, nggak asik," ujar Icha lalu memalingkan wajahnya ke samping.
Icha melemparkan pandangannya pada permukaan air danau yang tampak berkelap-kelip. Pantulan cahaya dari lampu-lampu yang menerangi pesisir danau membuat Icha takjub dengan mata yang berbinar, seperti binar lampu dalam pantulan air danau.
"Paaa? Icha boleh jalan ke pinggir danau nggak? Pengen banget ke dermaga kecil itu juga," tunjuk Icha.
Icha meminta ijin ayahnya untuk pergi kesana. Tidak jauh, hanya sekitar tiga puluh meter untuk sampai ke pinggiran danau. Pram mengangguk lalu tersenyum, ia mengijinkan anaknya itu pergi.
"Vic... tolong temani Icha ya?" pinta Pram.
"Lah? Kok?" Protes Icha.
"Kalau nggak Vic temani, ya duduk saja disitu... jangan kemana-mana," sela Pram dengan senyum meledek.
"Iiiihhh... ya udah, ayo Vic... temenin aku," ajak Icha pada Vic.
Vic yang tidak tahu harus melakukan apa hanya mengiyakan saja yang ia dengar. Vic pergi bersama dengan Icha pada akhirnya. Kedua anak manusia itu berjalan santai menuju ke pinggiran danau.
Angin berhembus pelan menyapu tubuh Icha yang hanya menggunakan sweater. Gadis itu pun memeluk dadanya sembari meringis kedinginan. Vic yang melihat hal itu pun berinisiatif melepas jaket kulitnya untuk diberikan pada Icha.
"Cha, pakai jaketku nih," tawar Vic sembari memakaikan jaket itu ke bahu Icha.
"Makasih ya, Vic... terus kamu gimana?" tanya Icha.
Vic menunjuk pakaiannya. "Aku pakai hodie juga kok nih."
Icha terbahak. "Kok pakai baju berlapis-lapis banget gitu? Enggak gerah?" tanya Icha.
Vic menggeleng. "Enggak, malahan disini dingin banget kan? Buktinya kamu aja kedinginan padahal udah pake sweater."
Icha mengangguk. "Iya sih, cuma sweaterku juga tipis banget. Jaket aku ketinggalan di mobil tadi, kelupaan gara-gara diledekin kamu terus," tukas Icha.
"Yeeee... malah nyalahin orang," gumam Vic.
"Vic aku mau cerita deh soal Daniel," ucap Icha dengan raut wajah serius.
Vic memutar bola matanya malas. "Kenapa lagi dia? Kamu... masih suka sama dia?" Vic asal bertanya.
"Heh? Enggak lah! Lagian... kamu tau dari mana kalo aku pernah suka sama Daniel?" sergah Icha.
"Aku denger dari gosip anak-anak kampus, dan diliat dari sikap si Daniel juga kemaren-kemaren itu... dia kayak nggak mau kalo aku deket-deket sama kamu," jawab Vic.
Icha melirik Vic dengan tatapan curiga, kalau benar Vic mengetahui hal itu dari gosip maka Vic sama sekali didepak dari kriteria cowok idaman Icha. Gadis itu mendadak ilfill dengan Vic.
"Ih... aku nggak suka sama cowok yang lebih milih percaya gosip daripada nanyain langsung ke yang bersangkutan," ujar Icha sembari mengibaskan rambutnya.
Vic mendadak merasa serba salah pada Icha, ia merasa tidak seharusnya mengatakan hal demikian di depan Icha... menyesal namun kata-kata yang sudah terucap tidak dapat ditarik kembali, padahal Vic sendiri juga tidak suka percaya dengan yang namanya gosip. Hanya saja, Vic tanpa sengaja mendengar anak-anak kampus yang berkumpul dan membicarakannya, itulah yang terjadi sebenarnya.
"Eh... bukan gitu juga sih... tapi terserah kamu aja lah, pusing mikirinnya," Vic memilih menyudahi topik itu.
Suasana menjadi hening sejenak, mereka berdua kini sampai di dermaga yang dihiasi oleh lampu hias berkelap-kelip di sekelilingnya. Cahaya lampu yang memantul di air sungguh sangat indah dipandang.
"Vic... boleh fotoin aku nggak? Viewnya bagus," pinta Icha sembari memberikan ponselnya.
"Oke, sini," Vic meraih ponsel Icha lalu membuka kamera.
Vic tertegun, gadis di depannya ini menjadi sangat indah dalam angle foto yang Vic ambil. Gadis semanis Icha terlihat sangat natural dan balance dengan view danau yang berkelap-kelip.
"Selfie juga dong," pinta Vic sembari mengarahkan kamera kepada mereka berdua.
Ada banyak foto bagus yang Vic ambil, begitu juga dengan foto selfie mereka berdua.
"Cha, aku minta fotonya ya? Kirim aja lewat airdrop," ujar Vic.
"Oke, makasih ya... udah fotoin," ucap Icha setelah Vic mengembalikan ponsel kepada Icha.
Suasana kembali hening, tak ada suara, masing-masing dari mereka menikmati taburan lampu dan juga bintang yang bertaburan di sekeliling mereka. Cahaya bintang ikut memantul di bayangan air danau yang tenang. Angin semilir membawakan mereka hawa sejuk di malam hari.
"Cha?" panggil Vic.
"Ya... kenapa?" tanya Icha.
"Sekarang ini, kamu masih suka sama Daniel nggak?" tanya Vic dengan nada serius.
"Hmmm... enggak lagi," jawab Icha pelan.
Gadis itu tersenyum ke arah langit, ada rasa puas dalam diri Icha ketika mengatakan hal itu. Perasaan yang amat sesuai dengan kenyataannya.
"Enggak lagi? Kenapa?" tanya Vic lagi, masih dengan setengah meledek.
Icha memeluk dadanya lebih erat. "Selain karena faktor keluarga, aku juga udah benar-benar move on, dan kupikir sekarang ini aku sudah berhasil move on dari dia." jelas Icha.
"Beneran?”
Pertanyaan demi pertanyaan dari Vic terasa seperti ledekan bagi Icha, gadis itu kembali memasang wajah cemberut lalu memalingkan wajahnya kesamping.
“Udah ah, nggak asik tau nggak Vic,” sela Icha yang mulai kesal.
“Serius deh, beneran? Apa ada orang yang udah ngebantu kamu biar bisa move on?” tanya Vic, kali ini pria muda itu tidak tertawa.
Icha tak menjawab, ia menghela napas dan masih memalingkan wajahnya. Tak mau menatap Vic.
“Mungkin ada… mungkin juga enggak, nggak tau lah… aku juga bingung. Tapi… aku terlalu disibukkan oleh kehidupanku yang sekarang sih,” jelas Icha.
TAP!
Begitu tiba-tiba, tangan Vic yang tanpa permisi sudah bertengger di atas punggung tangan Icha, lantas menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.
“Di hidup kamu ada aku juga loh, Cha… apa aku termasuk salah satu orang yang membuatu move on?” tanya Vic lagi.
PLAK!
Icha menepis tangan Vic, diikuti oleh gelak tawa pria muda itu. Benar dugaan Icha bahwa Vic tidak serius saat ini, lagi-lagi ia hanya meledek Icha. Untunglah Icha cepat menyadari gerak-gerij Vic.
“Jangan ngaco deh, Vic. Semalem tidur miring banget yak!” bentak Icha.
“Enggak… keinget kamu terus aja,” jawaban Vic sukses membuat Icha kelabakan.