#42

1108 Kata
"Jangan gombal deh Vic, buaya banget tau nggak... kata-katamu itu iwwwhh!" sergah Icha ketika mendengar gombalan yang keluar dari bibir Victory. "Hah? Emang aku keliatan kayak buaya? Orang ganteng-ganteng gini kok," jawab Vic sembari terkekeh. "Uuueeekkk!" Icha terbahak setelahnya. Tidak ada lagi acara merajuk, kini hanya obrolan yang diselingi oleh tawa dari kedua anak manusia itu. Dari kejauhan ayah dan ibu mereka melihat mereka begitu damai. "Pa, lihat deh. Icha sama Vic sudah akur lagi tuh," ujar Selena. "Iya, kayak kita berdua dulu... dikit-dikit marahan, dikit-dikit baikan, tapi mereka belum pacaran tuh... kayaknya Vic butuh usaha lebih keras," tukas Randy. "Mereka masih dalam masa pendekatan, kita hanya harus berusaha agar mereka mau bertunangan pada waktunya nanti," sela Pram. "Mereka memang akur... ya, namanya juga anak muda, kalo enggak ada bumbu-bumbu ngambekan kan enggak asik juga," sambung Dinandra. "Bener banget," ucap Selena menyetujui. *** "Serius deh, Vic. Akhir-akhir ini aku curiga sama Daniel. Dia tuh... jarang banget dirumah. Dan kata Bik Yati... dia hanya dateng nganterin baju buat dicuci terus pergi lagi,"ujar Icha sembari menatap Vic serius. "Lah? Kan katanya sudah turun lapangan," sela Vic. "Nah, ini yang mau aku tanya ke kamu, kan kamu seangkatan sama dia. Emang udah ada temen-temen kamu yang turun lapangan ke proyek-proyek?" tanya Icha. Vic memegangi dagunya sambil mengingat-ingat. "Belum ada sih, sekarang lagi masanya nyusun proposal." "Nah kan!" seru Icha, kecurigaannya menjadi semakin kuat. "Bukan hanya itu, waktu aku ke rumah sakit sama Aiden, aku enggak sengaja ngeliat Daniel bareng sama cewek. Kalo kamu enggak percaya nih aku ada fotonya," lanjut Icha penuh antusias. Icha mencari foto yang diambilnya waktu di rumah sakit waktu itu, kemudian menyodorkan ponsel di genggamannya kepada Victory. Mata Vic membulat, gadis yang bersama dengan Daniel begitu familiar di matanya. Vic berkali-kali menggulir layar untuk melihat foto lainnya, kemudian di zoom untuk memperjelas foto itu. "Foto ini beneran? Cewek ini... mirip banget sama Monic," ujar Vic dengan raut wajah serius. "Monic? Monic yang kemarin mau merkosa kamu?" alis Icha hampir bertaut mendapati informasi yang masih terpisah layaknya puzzle. "Iya... aku yakin ini dia. Meskipun setengah wajahnya ditutupi masker, aku yakin banget ini Monic," jawab Victory penuh keyakinan. "Seberapa persen kamu yakin?" gumam Icha. "Tujuh puluh lima persen, eh nggak! Delapan puluh persen," jawab Vic. Air muka Icha berubah tenang, ia menatap Vic lama. Mencoba meraba sejauh mana Vic akan membantunya jika ia mengajak Vic menyelidiki masalah ini. "Mau mencari tau bersamaku?" tawar Icha kepada Vic. "Hmmm... karena Monic yang bersikap aneh dan mau menjebakku malam itu, dan juga rasa kecurigaanmu pada Daniel kupikir aku akan ikut," jawab Vic dengan tegas. "Deal?" Icha mengulurkan tangannya. Vic menyambut tangan Icha, menjabat tangan lembut gadis itu. "Deal!" "Udara makin dingin, ayo kita kembali ke Villa," ajak Icha pada Vic. "Yuk," Vic berdiri sebelum Icha kemudian mengulurkan tangannya pada gadis itu. Dermaga yang terbuat dari kayu itu bergoyang, entah karena sudah lama dibangun, tapi ada kayu papan yang sudah terlihat rapuh. "AKKK!" teriak Icha. Pijakan Icha goyah ketika papan itu bergoyang, ada paku yang terlepas ketika Icha menginjaknya. Refleks Icha menarik lengan Vic, membuat pria itu tertarik ke depan. "Eh! Cha—!!!" Yang mereka lakukan sekarang adalah saling menahan tubuh masing-masing agar tidak jatuh ke dalam air danau. Namun posisi mereka saat berhasil membuat semburat merah di pipi keduanya. Napas Icha yang memburu menyapu kulit pipi Victory. Degupan jantung keduanya bersahut-sahutan, seakan sedang memainkan musik yang belum pernah mereka dengar. Kepanikan memancar dari tatapan mata Vic yang menusuk tepat di manik Icha yang membulat. Kedua bibir mereka hampir bersentuhan, hanya menyisakan beberapa inci lagi. Vic terdiam, menikmati percampuran wangi mawar dan vanilla yang menguar dari tubuh gadis itu. Pelan-pelan mata Icha mengerjap, ia mulai mengatur napasnya yang serasa tertahan di kerongkongan. Waktu memaksa jiwanya kembali ke kenyataan. Vic pelan-pelan membenarkan posisi , kedua tangannya masih memegangi lengan Icha, takut jika dermaga itu kembali bergoncang. "Nggak apa-apa, Cha. Sekarang kita udah bisa pergi," ujar Vic setelah ia yakin akan kekuatan pijakan kaki mereka tak akan mengundang bahaya. Icha mengangguk pelan, menyerahkan kepercayaannya kepada Vic. Icha yakin Vic bisa menuntun langkah mereka sampai ke tepi danau. Perlahan tangan Vic turun dan menggenggam tangan Icha erat. Ia melangkah perlahan dan tak menghiraukan suara papan yang bergeser. Keduanya berhasil sampai ke tepi danau, melepaskan napas yang tertahan oleh ketegangan yang mereka alami tadi. Icha menghela napas lega lalu menyapu dadanya yang masih berdegup. "Kenapa Cha?" tanya Vic. Icha menoleh dan menggeleng singkat. "Bukan apa-apa kok, hanya saja... aku merasa aneh," jawab Icha sembari membenarkan jaket yang ia pakai. "Ayo kita ke Villa, cuaca semakin dingin," lanjut Icha. TAP! "Cha?" panggil Vic sembari menahan tangan Icha. "Ya? Ada apa?" tanya gadis itu keheranan, ia melirik tangan Vic yang selalu tanpa permisi melakukan kontak fisik dengannya. "Aku juga merasa aneh, dadaku berdegup sangat keras... apa kamu juga mengalami hal yang sama?" tanya Vic dengan wajah bingung. Icha merasakan panas menjalar di kedua pipinya. "Aku merasa aneh, mungkin aku demam... pipiku terasa hangat, bisakah kita cepat kembali? Aku ingin segera istirahat," tukas Icha. Bukannya tidak peka, gadis itu hanya tak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini. Lalu bagaimana dengan Vic? Sama halnya dengan Icha, pria muda itu memang pernah bertunangan, tapi ia belum pernah merasakan seperti apa yang namanya jatuh cinta. Bertunangan dengan seseorang yang tidak dicintai tentu saja akan terasa hambar, bahkan serasa seperti tubuh tanpa jiwa. *** "Maaa... Pa! Om... Tante! Kami kembali!" seru Icha ketika ia memasuki pintu Villa yang terbuka lebar. Pram, Dinandra, Randy, dan Selena sedang asik berbincang itu pun refleks menoleh ke arah anak-anak mereka yang baru saja kembali dari jalan-jalan. Mereka sedang duduk melantai di depan cerobong asap sembari memainkan games yang sama sekali tidak Icha mengerti, namun permaiann itu terlihat sangat seru. "Hey sayang, sudah balik? Ayo bergabung... kita lagi main games nih," ajak Dinandra. "Boleh, Ma!" seru Icha lalu mengambil duduk melantai di area yang kosong. "Loh? Tunggu dulu... kok wajah kalian merah gitu?" tanya Selena. "Hah? Merah? Enggak kok, udara di luar dingin, Ma... kulit kita-kita kan dari daerah perkotaan ketemu udara dingin pasti begini deh," sanggah Vic asal. "Yang benar aja, pinter banget ngelesnya," cibir Selena. "Kok Icha mukanya tegang begitu? Emang tadi ada kejadian apa? Cerita dong," goda Dinandra. "Bukan apa-apa kok, Ma... tadi itu Icha hampir jatoh ke air, jadi masih agak... trauma hehe," jawab Icha asal. "Hmmm... ya sudah, ayo duduk sini, ngobrol-ngobrol dulu sambil liatin kita main," ajak Selena. Icha dan Vic mengiyakan meskipun mereka bingung dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka saat ini, hal itu karena Randy dan Pram yang sudah saling tumpuk di atas papan games dengan bulatan-bulatan berwarna yang harus mereka sentuh dengan cara apapun. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN