#43

1168 Kata
*** Icha merebahkan tubuhnya di ranjang, menatapi langit-langit kamar ia malah teringat akan kelakuan Victory. Insiden saat Vic menarik tangannya hingga jatuh keatas ranjang waktu itu kembali terbayang-bayang di benak Icha. Gadis itu bahkan tak menyadari semburat merah yang muncul di pipinya hanya karena teringat dengan kejadian absurd itu. Icha dapat membayangkan setiap lekuk wajah Victory Liandra, matanya, hidungnya, rahangnya, bibirnya, Icha merasa dirinya seperti gadis-gadis m***m karena membayangkan hal itu. Membayangkan jemarinya meneliti setiap inci wajah Victory yang seperti pahatan seni. Ia terbuai dengan apa yang ada dalam pikirannya sendiri, sehingga tanpa ia sadari ia tersenyum-senyum sendiri. Iya, Icha tersenyum sendiri sampai kesadaran menjambak rambutnya kembali ke dunia nyata. "Tidak! Yang benar saja Icha! Sadarlah!" ucap gadis itu lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya. “Kamu tidak boleh memikirkan cowok sok oke itu, plissss Cha! Dia tidak nyata, yang nyata itu sikap konyolnya… dan kamu ilfill dengan cowok bernama Victory itu! Oke? Tenang… napas,” celoteh Icha pada dirinya sendiri. Icha terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak mungkin memikirkan hal yang indah tentang Victory, apalagi sampai memikirkan ketampanan pria yang memang begitu menarik perhatian semua orang. Iya, semua orang, tak terkecuali Icha. Namun gadis itu masih terus menolak rasa, baginya… jika tidak dibiasakan maka suatu hal itu tidak akan terbawa-bawa. Jadi, Icha menghindari pikiran-pikirannya tentang Vic agar ia tidak terbiasa. Namun yang Icha dapati saat ini, bahwa dirinya sudah melewati garis pembatas yang sudah ia buat sendiri. Melewati garis itu, kemudian kembali mundur ke tempat seharusnya. *** Pagi hari pun tiba, Icha keluar dari kamar dengan wajahnya yang nampak suram. Ia mendengar suara Dinandra dan Selena sedang berbincang dari dalam dapur, membuat gadis itu yakin bahwa mereka sedang memasak sarapan pagi. “Lebih baik aku tidak membantu, aku takut membakar Villa Om Randy hari ini,” gumam Icha lalu pergi ke arah pintu. Gadis itu berencana untuk jalan-jalan sebentar di pinggiran danau karena sore nanti mereka akan kembali ke jakarta. Gadis itu berjalan santai sembari menikmati semilir angin yang berhembus, udara dingin membuat Icha memeluk dadanya lebih erat namun ia tetap ingin melanjutkan perjalananannya. Icha menjatuhkan pandangannya kearah dermaga, tempat terjadinya insiden degupan jantung yang didapatnya saat bersama dengan Vic tadi malam. Saking seringnya terlibat insiden bersama, Icha sampai meyakini bahwa Vic akan selalu menjadi insiden bagi Icha. Gara-gara insiden itu Icha jadi kurang tidur, Icha sibuk meyakinkan dirinya sepanjang malam ini. Bukan sibuk meyakinkan diri pada umumnya, gadis itu hanya tak mau menerima kenyataan bahwa ia sudah masuk kedalam jerat iblis bernama Victory. Gadis itu melangkahkan kakinya mendekati pinggiran air danau dan betapa kagetnya ia ketika melihat apa yang ia temukan sepagi ini. “VIC?” tegur Icha. “Hah? Eh, Cha? Ngapain?” tanya Vic sembari membenarkan alat pancingnya. “Lah? Kamu yang lagi ngapain?” bingung Icha. Vic menghela napas lelahnya. “Kalah taruhan sama Papa,” jawab Vic singkat. “Emangnya taruhan apa?” “Taruhan main kartu,” jawa Vic tanpa beban. “Ganjarannya apa dong?” tanya Icha lagi. Vic memegangi dagunya lalu berpikir sejenak. “Yang gak bisa ngabisin bakso dalam waktu 1 menit akan mancing ikang sebanyak 5 ekor, itu aja sih,” lanjut Vic. “Oke, ya sudah. Silahkan berjuang!” ledek Icha lalu beranjak dari tempat itu, meninggalkan Vic yang masih ingin memancing. *** Sore hari pun tiba, mereka semua sudah berkemas untuk pulang ke ibu kota. Icha pergi bergabung dengan Selena dan Dinandra yang sedang mengobrol, mereka membahas resep kue. “Cha, enggak ada barang yang ketinggalan kan?” tanya Dinandra. Icha mengangguk menjawab pertanyaan Dinandra. “Enggak ada, Ma… semuanya sudan di packing dengan baik.“ Pram dan Randy tampak berbincang juga, sesekali Pram tertawa mendengar celotehan Randy. “Rencanamu lumayan bsrhasil, aku yakin setelah ini mereka akan semakin dekat,” ujar Pram. “Icha memang agak keras orangnya, kalau sudah bertekad Icha pasti bisa menyeselesaikan masalah apapun juga,” ujar Dinandra. “Namun terkadang yaaa… gitu deh.” “Cha… bareng mobil aku aja yuk,” tawar Vic namun Icha memalingkan wajahnya kesamping. “Nggak usah, Vic. Nanti di sepanjang perjalanan aku malah jadi bahan ledekan kamu terus,” jawab Icha. “Enggak bakal. Sumpah deh!” sela Vic. “Ya udah, aku bareng mobil kamu,” ucap Icha. Akhirnya Icha mengiyakan permintaan Vic namun dengan syarat bahwa nilai ujian Vic harus berada di atas nilai rata-rata. Vic pun langsung menyetujui syarat Icha tersebut. “Oke, aku belajar lebih giat ketika kita sampai di jakarta,” “Oke,” ucap Icha lalu masuk kedalam mobil Vic. Sepanjang perjalanan Icha dan Vic hanya saling diam, Vic menyetel radio dimana lagunya sudah hampir selesai. “Cha?” panggil Vic karena melihat gadis itu belum tidur. “Hmmm? Kenapa?” jawab icha singkat. “Enggak, bukan apa-apa, ku kira udah tidur,” jawab Vic. “Oh iya! Kapan kita mulai memata-matai Daniel?” tukas Victory ketika teringat masalah Daniel. “Mulai besok aja sih, gimana?” tanya Icha pada Victory. “Oke… aku sih oke-oke aja,” jawan Victory dengan singkat, padat, dan jelas. Setelah percakapan mereka, Icha pun terlelap di jok depan. Victory yang melihat hal itu pun bergegas menepikan mobilnya sebentar, lantas Victory pergi mengambil sebuah selimut dari dalam bagasi mobilnya dan memakaikannya pada Icha yang kedinginan. *** “Niel… tolong ambilkan ponselku,” pinta seorang gadis pada Daniel. Daniel kembali dengan ponsel dan sepiring nasi bersama dengan lauk dan teman-temannya. “Makan dulu, ya” pinta Daniel kepada gadis itu sembari menyodorkan sesendok makanan ke mulut si gadis. “Niel, kok kamu yang nemenin aku disini?” tanya si gadis. “Nic… aku mengaku sebagai suami kamu dari awal kamu masuk rumah sakit, jadi… kamu jangan protes bisa nggak? keluh Daniel. “Oke… aku nggak akan protes tentang apapun lagi,” ujar Monic. Daniel semakin dekat dengan Monic semenjak gadis itu masuk ke rumah sakit. Monic sudah tidak lagi meratapi cowok serbaguna seperti Vic. Ada sedikit kesadaran yang Monic dapatkan dalam beberapa hari ini. Gadis itu berharap dapat ke kampus lagi secepatnya, ia harus mengurus cuti karena insiden yang terjadi padanya kali ini. “Lihat, perutku semakin terbentuk di bawah sini,” ujar Monic sembari menyapu-nyapu perutnya. “Mon— menikahlah denganku,” ucap Daniel tiba-tiba. “Me-ni-kah?” tanya Monic dengan suara terbata-bata. “Iya, aku dan kamu menikah,” jawab Daniel. “Aku tidak yakin, tapi… aku tidak menginginkan anak ini,” gumam Monic. “Kumohon, biarkan anak kita hidup… aku ingin menerimanya, aku ingin anak itu,” mohon Daniel dengan wajah memelas. “Tapi kita tidak saling mencintai,” jawab Monic lalu berjalan ingin meninggalkan kamar inap itu. “Kalau aku bilang aku mencintai kamu… apakah kamu akan percaya?” perkataan Daniel berhasil membuat langkah Monic terhenti. Monic terkekeh, ia tahu sulit bagi seseorang untuk mengakui rasa cinta penuh ketulusan. Yang gampang mengakuinya hanyalah orang-orang yang pandai bermain cinta. “Kita lihat saja nanti, biar waktu yang memutuskan,” jawab Monic lalu berjalan keluar melewati pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN