Icha terbangun ketika matanya terpapar sinar lampu jalan. Gadis itu mengerjap perlahan sebelum nyawanya kembali ke kesadarannya. Icha mendapati dirinya masih berada di dalam mobil Vic dengan selimut berwarna biru yang menutupi dirinya hingga ke leher. Icha meyakini selimut itu adalah milik Victory Liandra. Bau minth menguar begitu kuat dari selimut itu, minth seperti bau parfum yang sering tercium dari pakaian yang dikenakan oleh Vic.
Pintu terbuka dan kembali menutup pertanda seseorang masuk ke dalam mobil, Icha menoleh ke arah jok kemudi dan mendapati bahwa Victory baru saja kembali. Gadis itu menoleh kekiri dan kekanan setelah mendapati sosok Victory yang membawa sekantung cemilan.
"Waaaaah... apa ini? tanya Icha kepada Vic.
"Cemilan, kali aja kamu mau ngemil-ngemil di mobil gitu biar nggak ngantuk," jawab Vic asal.
Icha tersenyum. "Hmmm, ngasal banget jawabnya tapi ada benarnya juga sih, makasih ya...."
"Loh? Lok ngasal? Hahaha... aku enggak ngasal kok, beneran... coba deh kalo di perjalanan gitu enggak ngemil, enggak ngobrol pasti bosan banget terus bisa cepet ngantuk," jelas Vic panjang lebar.
"Lagian biar aku ada temennya, perjalanan masih lumayan jauh gini loh Cha... masa aku nyetir nggak ngobrol sama siapa-siapa? Mending kamu temenin deh sambil nyemil, gimana?" lanjut Vic dengan mata berbinar penuh harapan.
"Iya deh iya... udah jangan ngambek... lagian rasa kantukku udah hilang entah kemana, apa karena udah kebanyakan tidur juga," jawab Icha asal namun penuh keyakinan.
Icha memang sudah terlalu banyak tidur di perjalanan hari ini, membuatnya merasa segar ketika ia terbangun di malam hari. Icha mengambil salah satu cemilan dengan rasa rumput laut kemudian menyobek bungkusnya, ia sudah siap untuk menemani Victory menyetir sekarang.
Vic menatap Icha sambil tersenyum, pria muda itu menghidupkan kembali mobilnya. Tak lama kemudian mobil orang tua mereka melintas sembari membunyikan klakson berulang sebagai pertanda untuk mengajak mereka segera menyusul.
Vic sudah bersiap, Icha tersenyum ketika Vic menginjak pedal gas mobil. Mobil Vic pun melaju menerobos kegelapan malam. Kini mereka memasuki area perkebunan lagi, ada sekitar tiga area perkebunan panjang yang akan mereka lewati sebelum akhirnya sampai di pinggiran ibu kota. Icha tak bisa meragukan keterampilan Victory dalam menyetir mobil, apalagi pria muda itu memiliki banyak mobil di garasinya.
"Vic, kalo ngeliat ada kucing atau anjing nyebrang nanti kita berhenti bentar baru jalan ya?" Icha memperingati.
"Oke, Cha... tapi itu buat apa sih? Bukannya itu semacam mitos gitu nggak sih?" tukas Vic.
"Ya... enggak tau juga sih, cuma sejak kecil emang udah jadi kebiasaan sama Papa heheh," Icha terkekeh kecil, ia hanya menjawab asal karena sudah menjadi kebiasaan saja. Tidak ada ilmu yang bisa menjelaskan hal tersebut dengan pasti.
"Oh iya... Cha, gimana soal Aiden?" tanya Vic tiba-tiba.
Icha menatap Vic dengan ekspresi bingung. "Aiden? Aiden kenapa emang?"
"Kayaknya Aiden suka sama kamu, Cha. Dia sempat ngomong ke aku kalo kamu orangnya menarik dan penuh misteri," jawab Vic.
Icha terbahak setelah mendengar perkataan Vic. "Ya ampun... ternyata cowok-cowok tongkrongan kayak kamu ini suka gosip juga ye?" ledek Icha.
Wajah Vic mulai panas, ia emosi karena menjadi bulan-bulanan ledekan Icha terus. Meskipun ada benarnya juga ledekan Icha tersebut. Sudah kodratnya wanita untuk selalu cerewet, karena meskipun cerewet tapi apa yang dikatakan oleh Icha selalu ada benarnya.
Bicara soal bisnis, Vic sendiri mulai menggalakan bisnis terbaru yaitu menjual produk makanan yang tidak dapat ditolak oleh berbagai lapisan masyarakat. Gara-gara perkerjaannya yang sekarang Vic jadi bisa merasakan bagaimana hidup sederhana dan berkecukupan.
Jika sudah melebihi persentase penjualan maka perusahaan Victory akan membuat bisnis ini menjadi bagian bisnis waralaba yang amat menguntungkan, lebih menguntungkan ketimbang jualan boba.
***
Satu jam kemudian akhirnya kedua keluarga itu sampai ke depan gerbang rumah Icha. Icha turun dari mobil diikuti oleh Vic, keduanya pergi ke belakang mobil untuk menurunkan koper dan juga tas berisi baju kotor. Pak Narto yang selalu siap siaga menghampiri keduanya lalu mengambil alih koper tersebut untuk dibawa ke dalam rumah.
“Terima kasih, Pak,” ucap Icha kepada Pak Narto yang dibalas dengan senyum oleh pria yang usianya hampir paruh baya itu.
Mobil Randy berhenti tepat di samping Icha dan Vic, Selena menurunkan kaca mobil lalu tersenyum.
“Cha, Om Randy sama Tante Selena pamit pulang, ya?” pamit Selena.
“Iya, Om… Tante… hati-hati di jalan ya,” ucap Icha.
Selena melihat kearah Vic setelahnya. “Vic, habis ini langsung pulang ya, jangan keluyuran.”
Vic mengangguk kecil. “Iya, Ma… bye!”
Mobil Randy itu pun melaju setelahnya. Meninggalkan Icha dan Vic yang masih berdiri di pinggir jalanan.
Dari arah gerbang Dinandra muncul dan menyapa keduanya. “Vic, ayo masuk dulu.”
“Nggak usah Tante, sudah laru banget… besok aja main lagi,” jawab Vic.
“Oh, ya sudah. Kalo gitu pulangnya hati-hati, ya?” ucap Dinandra.
“Iya, Tante,” jawab Vic.
Kini hanya tinggal Icha dan Vic saja yang berada diluar, udara ibu kota yang panas membuat Icha gampang merasakan gerah. Gadis itu melepas jaketnya kemudian.
“Cha, aku pamit ya?” ucap Vic.
“Iya… hati-hati di jalan, ya?” jawab Icha.
“Pasti,” balas Vic.
“Oke, kalo gitu aku masuk ya…” ujar Icha lalu berbalik dengan cepat.
“Eh, Cha!”
Vic refleks menahan tangan Icha, membuat gadis itu tertarik ke belakang hingga oleng ke arah Vic. Dengan sigap Vic menangkap tubuh Icha yang menabrak dirinya.
CUP!
Bibir Vic sukses mendarat di kening Icha. Gadis itu langsung panik dan mendorong Vic agar menjauh. Icha menggaruk lehernya salah tingkah.
“Ma—af,” ucap Icha padahal bukan dia yang melakukan kesalahan.
“Salah aku, Cha. Aku mau bilang kalo besok pagi aku akan jemput kamu,” sela Vic.
“Ah! Iya… besok pagi jam sembilan, oke?” Icha masih menunduk, tak kuasa menatap Vic, Icha tiba-tiba jadi pemalu.
“Baiklah, kalo gitu aku pulang sekarang.” pamit Vic.
Pria muda itu mendekat ke arah Icha lalu memgangi pundak Icha, selanjutnya melabuhkan ciuman lembut di kening Icha. Gadis itu terdiam dengan bola matanya yang membulat.
“Vic?” protes Icha dalam kepanikan.
“Aku pulang ya, sayang,” Vic tersenyum setelahnya.
Pria muda itu berbalik dan masuk ke dalam mobil barulah Icha berani mengangkat wajahnya. Vic memang selalu membuat kejutan yang tidak dapat Icha hindari. Lima detik kemudian mobil Vic beranjak dari sana dengan pelan, barulah Icha menyadari apa yang sudah dilakukan oleh Vic.
“S-sayang?” bingung Icha.
“Heh! Siapa sayangmu?” Bentak Icha lalu melempari mobil Vic dengan sandal, namun mobil itu tidak berhenti.
Di dalam mobil Vic terbahak sendiri, ia sudah mengerjai Icha lagi. Vic membayangkan muka cengo Icha waktu ia mencium kening gadis itu. Sungguh lucu sampai membuat Vic tertawa terbahak-bahak.
Icha dengan cepat mengambil ponsel dan mengetikkan sebuah pesan kepada Victory.
Ke : Victory
Enggak ada sayang-sayangan dasar kang nyari kesempatan.
Vic membaca pesan itu sambil terbahak di dalam mobilnya. “Icha… walaupun kamu terus menolak aku, aku akan terus masuk ke dalam hatimu tanpa kamu sadari,” ucap Vic.
***