#45

1755 Kata
Pagi hari telah tiba, entah semangat apa yang membuat gadis bernama Aruna Yeorisha itu cepat bangun hari ini. Senin pagi yang penuh dengan kesiapan. Gadis itu sudah duduk di bangku meja makan, menunggu sarapannya datang dari arah dapur. Satu menit kemudian Dinandra dan Pram pun datang bergabung dengan Icha, Papa dan Mamanya itu sudah siap dengan setelan kantor mereka yang begitu rapi. "Tumben gak kesiangan," cibir Pram kepada anak gadisnya itu. "Hmm... udah deh, Pa... bangga kek sekali-kali Icha enggak kesiangan," Icha mendengus kesal mendengar cibiran ayahnya. "Oh iya, Ma... Daniel enggak pulang?" tanya Icha. "Katanya pagi ini sih, Cha. Cuma enggak tau nih, gak muncul-muncul juga," jawab Dinandra yang ternyata agak khawatir. "Assalamualaikum, Ma... Pa..." suara Daniel terdengar dari depan pintu. "Wa'alaikumsalam..." jawab Icha, Dinandra dan Pram bersamaan. Icha dapat melihat sosok Daniel yang semakin mendekat kearah mereka sambil menenteng sebuah tas berwarna hitam. "Apaan tuh, Niel?" tanya Icha. "Oh! Baju kotor, Cha... becek banget, tempat proyek hujan terus," jawab Daniel lalu pergi ke tempat laundry. Bik yati datang sambil membawa nasi goreng dan juga telur ceplok ke atas meja makan. "Tuan, Nyonya ini sarapannya..." ucap Bik Yati ketika meletakkan mangkuk berisi nasi goreng itu di atas meja. "Makasih, Bik... Bibik juga sarapan," jawab Pram. "Iya, Tuan... gampang mah kalo Bibik, di belakang juga ada," tukas Bik Yati kemudian berlalu. Daniel bergegas mengikuti Bik Yati. “Bik… ini baju Daniel, tolong ya Bik, cucikan lagi…” mohon Daniel kepada Bibik. Bik Yati tertawa. “Den… kok begitu, enggak usah sungkan sama Bibik, taruh aja di keranjang ya, nanti kalo udah selesai masak Bibik cucikan bareng bajunya Non Icha,” jawab Bik Yati. “Eeeeh… eh… Bik jangan Bik! Jangan barengan ih, enggak tau Daniel habis becek-becekan di lokasi proyeknya… nanti baju Icha rusak lagi,” protes Icha. “Apaaaa sih, Cha! Baju aku cuma dua biji kaos sama celana jeans atu doang,” sela Daniel. “Enggak! Kalo aku bilang gak ya enggak! Pokoknya Bik Yati enggak boleh cuci bareng baju aku,” Icha bersikeras. “Kok nyolot banget sih!” Kesal Daniel. “Ya sudah, Aden sama Non jangan berantem, nanti Bibik pisah nyucinya,” Bik Yati berusaha melerai keduanya. Sementara Dinandra dan Pram tidak menggubris kedua putra dan putri mereka yang sedang adu mulut, mereka malah saling suap dengan romantis. “Cha, Niel, udah deh… kalian berdua itu sekalinya ketemu malah berantem melulu,” ucap Dinandra. “Ih, Maaah Icha nggak mau ya, bajunya Daniel yang becek itu dimasukin ke dalam mesin cuci bareng bajunya Icha,” protes Icha. “Eeeh… aku juga enggak mau kali, becek-becek gitu baju aku mahal,” balas Daniel sembari menjulurkan lidah untuk meledek Icha. “Stooooopppp!!! Oke? Stop!” lerai Bik Yati. Icha dan Daniel terdiam, ternyata Bik Yati mampu meredam kekacauan pagi ini hanya dengan satu teriakan. “Bibik akan cucikan baju kalian masing-masing, oke?” tanya Bik Yati. “Iya, Bik… maaf,” ucap Icha lalu kembali duduk dan menyendok nasi goreng sarapannya. “Bawel banget sih,” gumam Daniel. Icha yang tak sengaja mengdengar gumaman Daniel itu pun sontak mendesis dengan tangan yang refleks terangkat tinggi, ingin memberikan pukulan gratis di kepala Daniel. “Eeetttt!” Bik Yati mengintip mereka dari dapur, membuat Icha menghentikan niatnya. Icha kembali duduk dengan emosinya yang menyala-nyala. Lirikan tajam diarahkannya tepat kepada Daniel. Sementara pria muda itu hanya asik menyendok nasi goreng di atas piringnya. “Pulang-pulang malah ngajak gelut, dasar!” gumam Icha. *** Icha selesai sarapan terlebih dahulu, gadis itu bergegas mengantar piringnya ke dapur lalu mampir sebentar di depan keranjang pakaian kotor. Gadis itu tidak lupa dengan rencananya menyelidiki Daniel. Tanpa ketahuan oleh Bik Yati, Icha mengambil tas berisi baju kotor milik Daniel. Gadis itu membawa tas itu ke dalam ruang laundry yang berada tepat di seberang dapur. Icha membuka tas itu untuk melihat kebenaran, Daniel yang selalu beralasan pergi ke lokasi proyek yang begitu becek karena hujan deras, maka Icha yakin baju Daniel juga akan kecipratan lumpur. Gadis itu mengeluarkan pakaian Daniel, namun Icha semakin keheranan, tidak ada lumpur satu titikpun yang bertengger di baju kotor milik Daniel. Kecurigaan Icha makin bertambah besar, gadis itu memasukkan semua baju Daniel ke dalam mesin cuci lalu keluar dari ruang laundry. “Cha, Mama sama Papa ke kantor ya…” pamit Dinandra dan Pram. “Oke, Ma… Pa… hati-hati di jalan,” jawab Icha sembari melambaikan tangan. Gadis itu kembali duduk di bangku meja makan. Tak lama kemudian Daniel turun dari tangga dengan membawa tas ransel yang tampak baru, tas ransel itu juga tampak penuh. “Woy! Mau minggat kamu?” teriak Icha, ia meledek Daniel yang memang seperti orang habis di usir. Daniel memutar bola matanya malas. “Jaga rumah baik-baik ya, enggak usah peduliin aku… nyet!” “Wwwooosss… ngajak ribut nih!” Seru Icha, refleks gadis itu bangkit dari duduknya. “Enggak duyuuu… bye!” Daniel menjulurkan lidah ke arah Icha lalu bergegas pergi dengan mengendarai motor sport miliknya. Icha bergegas mengambil ponselnya. “Target sudah keluar dari rumah, aku sudah pasang gps di motornya… ikutin aja dari jauh.” Icha mengirimkan voice note kepada Vic, pria muda itu sudah standbay di depan rumah Icha sejak pukul delapan pagi. “Oke, target sudah keliatan,” jawaban voice note dari Vic. “Oke, aku nyusul sepuluh menit lagi,” balas Icha. Gadis itu bergegas pergi ke kamar untuk menukar baju rumahnya dengan setelan yang pas untuk menyamar. Gadis itu bergegas pergi ke halaman, ia berencana akan menyetir mobil namun sial… “Hah! Pak? Mobil enggak ada?” Panik Icha sembari bertanya pada Pak Narto. “Iya Non, kan tadi dibawa sama tuan dan nyonya, mereka perginya ke tempat yang beda jadinya mobil dipake semua non,” jelas Pak Narto. Icha melihat motor milik Papanya yang terparkir manis, motor kesayangan papanya karena dibeli dengan uang hasil kerja keras papanya untuk pertama kali. “Pak! Panasin mesin motor yang itu,” tunjuk Icha pada motor yang istirahat manis di dalam garasi yang sengaja di gembok papanya Icha. “Hah? Yang bener, Non? Non Icha mau bawa motor segede gaban gitu?” tanya Pak Narto sedikit tak yakin. “Udaaaah Paaaak… ayo panasin aja mesinnya, Icha mau keluar naik motor itu, penting banget…” pinta Icha. “Ya udah Non, bapak panasin sekarang…” ucap Pak Narto mengiyakan. Sepuluh menit kemudian motor itu siap untuk dikendarai. Pak Narto mengeluarkan motor itu ke halaman rumah agar Icha tinggal berangkat saja. Icha melihat body motor berwarna merah itu, sangat berkilauan. “Papa sayang banget sama motor ini ya? masih kayak baru dibeli kemarin,” gumam Icha sembari menyapu sedikit debu yang menempel. Icha memakai helmet lalu menunggangi motor itu, perlahan-lahan ia meremas gas motor. Icha merasa sudah cukup, ia sudah terlambat 15 menit lebih karena motor ini. “Cha, aku masih mantau Daniel, dia lagi mampir beli makanan,” Icha mendengarkan Voice Note dari Vic. “Kirim lokasi, aku berangkat sekarang,” balas Icha. Setelah dirasanya semua sudah oke, Icha pun menaikkan standard motor kemudian berlalu dari hadapan Pak Narto yang kebingungan. “Non Icha mau kemana ya? Kok serius banget kelihatannya,” tanya Pak Narto. *** Vic berada tidak jauh dari tempat Daniel, pria muda itu mengikuti Daniel menggunakan mobil. Vic tetap saja memakai kacamata hitam untuk menyamar, padahal hal itu tidak terlalu berpengaruh karena ia memantau Daniel dari dalam mobil. Namun entah kenapa, Vic merasa seakan-akan kacamata itulah yang membuat Vic menjadi tidak dikenali. Jika Icha bersama dengan Vic saat ini sudah pasti Icha akan meledeknya habis-habisan. “Daniel mampir ke KFC, eh… dia juga beli dua paket deh kayaknya,” Vic mengirim Voice Note itu kepada Icha. “Hah? Oke… terus ikutin tanpa ketahuan,” Vic mendengar balasan VN dari Icha. Saat Vic menoleh ke depan ia tidak menemukan lagi mobil milik Daniel yang terparkir, pria muda itu sudah kembali bergerak denga cekatan. Dengan cepat Vic memantau lewat ponsel, GPS masih terus berjalan. Vic mengikuti arah yang diberikan oleh GPS. Vic melewati jalan tikus yang berkelok-kelok dan akhirnya menemukan mobil Daniel terparkir di halaman belakang rumah sakit. “Rumah sakit Pancaran Kasih?” bingung Vic. “Cha… Daniel ke rumah sakit, aku harus turun untuk memantau lebih dekat.” “Oke… hati-hati, aku sudah mau sampai,” jawab Icha. *** “Mon— tumben seger banget, oh ya… gimana? Udah ngerasa sehat belum?” tanya Daniel sembari mencubit kecil pipi gadis itu. “Iya, tadi dimandiin sama nersnya. Habisnya aku ngeluh kalau tadi aku udah kegerahan banget,” jawab Monic. “Ye… siapa suruh jual mahal, aku udah baik mau bantuin kamu mandi. Eh malah nuduh yang enggak-enggak,” sanggah Daniel. Daniel mengambil duduk di salah satu sofa sembari menyajikan makanan yang dibelinya tadi. Mengeluarkan satu-persatu makanan dari dalam dus dan juga tas kresek. “Ada kentang goreng nggak?” tanya Monic antusias. “Ada… sengaja aku tungguin kentang baru digoreng,” jawab Daniel. Daniel tersenyum, mata segarisnya tampak sangat lucu dimata monic. Pria muda itu begitu serius menyiapkan menu sarapan Monic yang dipesan secara eksklusif. “Dokter udah mampir tadi pagi belum, Mon?” tanya Daniel. “Udah, katanya besok aku sudah boleh pulang kalau lukanya sudah kering benar,” jawab Monic. “Terus gimana keadaan bayinya?” tanya Daniel lagi sembari membawa nampan berisi menu sarapan Monic ke atas ranjang. “Baik, bayinya tidak kenapa-napa, aku disuruh cek ke dokter kandungan secara rutin aja sih,” jawab Monic. “By the way, terima kasih atas sarapannya,” lanjut Monic. “Enggak usah sungkan, kan bukan cuma kamu doang yang lagi makan,” sela Daniel. “Bisa aja gombalnya,” gumam Monic. *** Icha memarkirkan motornya di termat parkir rumah sakit, gadis itu bergegas menuju ke tempat persembunyian Vic. Ke : Victory Kamu di sebelah mana? Vic belum langsung membalas chat dari Icha tersebut. Hal itu membuat Icha agak khawatir. Ke : Victory Vic? Ke : Victory Vic! Oy! Ting! Dari : Victory Mbb tower A, kamar pasien nomor B21 “Nah! Akhirnya dibales,” gumam Icha. Gadis itu melajukan langkahnya menuju ke lokasi yang Vic maksud. Suara langkah kakinya sampai menimbulkan gema di lorong yang kosong. Mungkin sedang ada perbaikan ruangan, pikir Icha. Tidak sampai lima belas menit Icha menemukan Vic yang sedang menyamar sebagai cleaning service. “Vic?” Sapa Icha. “Ssshhh… diam,” Vic menyuruh Icha diam agar tak ketahuan. “Sial! Daniel mau keluar dari kamar, cepat sembunyi!” Panik Vic. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN