#46

1424 Kata
*** "Gawat! Gawat! Gimana nih?!"panik Icha ketika melihat Daniel yang akan keluar dari pintu kamar pasien. Vic yang sudah membaca situasi itu pun dengan cekatan menarik tangan Icha menuju ke toilet rumah sakit yang kebetulan berada tepat di depan kamar pasien itu. Tak ada tempat lain untuk sembunyi kecuali masuk ke salah satu bilik toilet, mereka berdua bergegas masuk ke dalam. "Ssshhh, diam, jangan ngomong dulu. Aku masih denger langkah kaki menuju kemari,” bisik Vic sembari menutup mulut Icha dengan tangannya. Icha mengangguk, Vic perlahan melepaskan tangannya dari bibir Icha. Mereka mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Debaran jantung mereka seakan menyatu, terlebih Icha yang begitu gampang panik. Suara pintu yang dibuka, kemudian bunyi decitan keran air yang di putar, selanjutnya suara air yang mengalir terdengar begitu jelas di telinga mereka berdua. Vic membuka sedikit pintu bilik untuk mengintip, ia menemukan Daniel yang sedang mencuci mukanya di salah satu washtafel. Tak ingin ketahuan mengintip, Vic segera menutup pintu dengan hati-hati kemudian mengisyaratkan kepada Icha bahwa itu benar Daniel. Posisi Icha dan Vic yang lumayan dekat karena terhimpit namun hanya Vic saja yang menyadari hal itu. Icha terlalu panik sehingga tak menghiraukan posisi mereka berdua. Vic harus sedikit membungkuk agar kepalanya tidak kelihatan dari luar bilik. Sungguh posisi yang membuat pengap, berbeda dengan Icha yang tubuhnya hanya sebatas bahu Vic. Napas Vic menyapu kulit pipi Icha hingga ke leher, ia dapat mencium aroma stoberi dari parfum yang Icha pakai hari ini. Aroma Icha yang manis hampir membuat Vic khilaf, ia hampir mengecup leher itu namun terhenti karena mendengar suara Daniel. “Mon— aku nggak tau dengan perasaanku sendiri saat ini, tapi… instingku selalu menyuruhku untuk menemani kamu. Entah kenapa, tiba-tiba saja… aku jadi merasa berdosa jika tidak menghiraukanmu… hah…” ucap Daniel diikuti dengan helaan napas panjang dan berat, seperti sedang lelah karena membawa gunung di pundaknya. Tak lama kemudian langkah kaki kembali terdengar, bunyi pintu yang dibuka, dan langkah kaki itu pun semakin menjauh. Vic kembali mengintip ke luar dan sudah tidak ada siapa-siapa di sana. Vic memberi isyarat kepada Icha bahwa persembunyian mereka sudah aman. Icha bernapas lega, gadis itu melepaskan rasa paniknya. Perlahan Vic menjauhkan wajahnya dari leher Icha. “Hari ini wangi stroberi ya?” tanya Vic pada Icha, hal itu berhasil menciptakan semburat merah di pipi gadis itu. “Dasar m***m!” maki Icha, namun Vic hanya tersenyum meledek. Vic dan Icha keluar dari toilet itu dengan aman, tak ada yang melihat. Icha memperbaiki topi dan maskernya, begitu juga dengan Vic yang kembali memakai kaca mata hitamnya. Icha yang melihat kacamata hitam Vic itu pun terkekeh geli. “Heh? Kenapa ketawa?” tanya Vic kebingungan. “Kamu lihat enggak orang yang duduk disana?” tunjuk Icha pada seorang pria yang memakai kaca mata hitam dengan tongkat kecil di tangannya. “Iya aku lihat kok, kenapa memangnya?” jawab Vic, pria itu masih belum mengerti. “Kamu udah kayak bapak-bapak itu hahaha…” Icha terbahak. “Apa sih enggak mirip tau, gantengan juga aku,” kesal Vic. Ia masih belum mengerti apa yang Icha maksud. Mereka masih memperhatikan bapak-bapak itu, Icha masih terbahak karena Vic yang tidak peka dengan maksud Icha. Tak lama kemudian seseorang datang menghampiri bapak-bapak itu, si bapak pun berdiri sembari berpegangan di lengan orang yang menjemputnya, ternyata orang berkacamata itu buta. Barulah Vic mengerti apa yang Icha maksudkan sejak tadi. “Heh! Dasar! Kalo ngeledek paling nomer satu dah!” Vic mencubit pipi Icha dengan gemas. “Bukannya kebalik tuh?” tanya Icha tak mau kalah. *** Icha dan Vic kini berada di dalam mobil Vic. Mereka memutuskan untuk makan di dalam mobil sembari menunggu Daniel keluar dari rumah sakit. Tidak sulit untuk memesan gofood, dua buah hamburger tandas dimakan Vic. “Laper banget ya bang?” Ledek Icha. “Heh… aku nggak sarapan tadi, pagi-pagi banget kan harus ngikutin Daniel mulu, gimana sih?” jawab Vic sembari mengunyah. “Hahaha… oke-oke, jangan marah dong, aku kan cuma nanya,” sela Icha. Tak lama kemudian Daniel terlihat, pria itu keluar dari pintu belakang rumah sakit lalu masuk ke dalam mobil. “Vic! Itu Daniel! Cepet ikutin!” panik Icha. Vic bergegas menghidupkan mobilnya kemudian mengikuti mobil Daniel dari belakang. Hamburger masih berada di tangan Vic yang sedang menyetir, Icha mengambil makanan itu dari tangan Vic kemudian meletakkannya di dalam bagpaper. “Pelan-pelan aja, kamu makannya di selesaikan dulu,” ujar Icha sembari menyodorkan air mineral gelasan yang sudah Icha tusukkan sedotan. Vic merasa lega setelahnya, lehernya sudah tidak seret lagi. Ia kembali fokus untuk mengejar Daniel. Lima belas menit dan mereka sampai di depan sebuah gedung mewah, mobil Daniel masuk terus ke dalam garasi. “Ini… gedung tempat Monic tinggal.” kata Vic kemudian melajukan mobilnya masuk ke dalam garasi yang berada di lantai dasar gedung. Saat mereka akan memarkir mobil, Daniel sudah berjalan menuju ke lift. Vic dan Icha memperhatikan dengan benar nomor lantai yang Daniel tekan, dan benar sekali… Daniel menekan lantai tujuh dimana pada lantai tersebut adalah lantai dimana penthouse Monic berada. “Dia pergi ke penthouse Monic,” gumam Vic. Daniel menghilang dari balik pintu lift, Icha mengetikkan pesan kepada Daniel untuk melihat apa jawaban dari pria itu. Ke : Daniel Anteksip Dan, lagi dimana? “Belum dibales? Tapi kalo dbales pun dia pasti berbohong kan Cha…” tukas Vic. Ting! Bunyi ponsel Icha pertanda ada pesan baru. Dari : Daniel Anteksip Lagi diluar sama temen. “Nah! Kan… sudah kubilang, mana ada sih maling mau ngaku.” Vic kembali memakan hamburger miliknya tadi dengan sekali lahap, pria muda itu memang kelaparan. Tak berselang lama tiba-tiba Daniel muncul lagi dari arah lift dengan membawa satu paperbag bewarna putih. “Eh! Eh! Daniel tuh!” seru Icha. Vic pun bersiap dan menghidupkan mobilnya. “Kenapa suka tiba-tiba gitu sih? Enggak tau orang lagi makan apa… duh,” kesal Vic. Mobil Daniel melintas di depan mobil Vic dan mereka pun langsung mengikutinya dari belakang. “Jaga jarak, Vic… kita enggak boleh ketahuan,” Icha memperingatkan. “Tenang Cha, ada sekitar dua mobil di depan kita sebelum mobil Daniel,” jawab Vic dengan tenang. “Kalo Daniel balik lagi ke rumah sakit berarti fix! Dia sama Monic ada hubungan serius!” Icha mengklaim. “Iya… pasti ada hubungan,” Vic menyetujui. “Kalo gitu, kita harus bertamu setelah Daniel masuk ke kamar pasiennya Monic setelah ini, kita harus menangkap basah mereka berdua,” usul Icha. Dahi Vic mengernyit. “Kita enggak boleh membuat kekacauan di rumah sakit, kalau nanti mereka lapor security gimana?” tanya Vic. Icha tak menjawab, gadis itu masih larut dalam segala pertimbangan-pertimbangan dalam kepalanya. Benar juga kata Vic, mereka tidak boleh membuat kekacauan disana. Lalu bagaimana cara untuk menangkap basah mereka? “Terus gimana dong?” tanya gadis itu pada Vic. Vic memegangi dagunya sembari berpikir. “Kita harus kumpulkan banyak bukti dulu, untuk beberapa hari kedepan kita harus mantau Daniel sekalian mengumpulkan bukti yang jelas.” Icha mengangguk. “Oke lah… lagian kita juga belum bisa nebak alasan Monic ngasi obat ke minuman kamu malam itu, maksudku… why gitu loh? Kenapa ngasi obat ke kamu kalau Monic tuh sudah dekat sama abang aku?” bingung Icha. Vic masih terus berpikir, ia mengangguk-angguk kemudian seperti sudah mendapat jawaban untuk masalah mereka kali ini. “Enggak ada cara lain selain menunggu, kita masih harus ngikutin mereka. Cha… gimana kalo copy aplikasi w******p-nya Daniel deh,” usul Vic. “Aku akan coba, semoga Daniel pulang ke rumah hari ini,” jawab Icha. “Ya sudah, kalo gitu aku anter kamu pulang sekarang… udah sore juga nih,” tawar Vic. “Aku bawa motor, tadi ku tinggal di parkiran rumah sakit. Kita kesana dulu,” pinta Icha. Mereka pun menuju kembali ke rumah sakit, mobil mereka masih terus berada di belakang Daniel. Dan benar dugaan Icha, Daniel kembali ke rumah sakit. “Mungkin Danie pergi ke rumah Monic untuk mengambil baju ganti,” kata Icha. “Bisa jadi sih, mmm… kalo benar gitu, mungkin aja besok Monic akan keluar dari rumah sakit,” Vic menduga-duga. “Bisa jadi… oh iya, Vic… aku pamit ya,” ucap Icha kemudian turun dari mobil. “Hati-hati,” balas Vic. Icha sudah mengendarai motornya, ia melewati mobil Vic sembari membunyikan klakson. Vic membalasnya juga dengan membunyikan klaskon mobil. Vic tersenyum sendiri setelahnya. “Lama-lama jadi terbiasa sama kamu terus… kapan ya hati kamu melembut, keras mulu perasaan, susah banget aku nembusnya,” gumam Vic. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN