Ting! Bunyi ponsel Icha ketika ada pesan baru. Gadis itu bergegas merogoh ponsel dari dalam sakunya.
"Dari Rere... hmmm," gumam Icha.
Gadis itu baru saja pulang dari kegiatan rahasianya bersama Victory. Iya, rahasia karena hanya mereka berdua saja yang tahu tentang masalah yang sedang mereka selidiki saat ini. Icha mampir sebentar di kursi teras rumahnya, kemudian membaca pesan singkat dari Rere sahabatnya.
Dari : Rere
Cha, gimana weekend nanti jadi kan ke puncak?
Icha membaca pesan dari Rere kemudian menepuk dahinya, gadis itu benar-benar lupa bahwa teman-temannya sudah merencanakan acara healing ke puncak sabtu nanti.
Ke : Rere
Ah! Maaf Re, aku lupaaaa banget
Dari : Rere
Jadi gimana? Pergi nggak?
Ke : Rere
Inshaa Allah Reeeee... aku bilang ke papa sama mamaku dulu
Dari : Rere
Kalo gimana-gimana kabarin ya
Ke : Rere
Kuy
Icha menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, gadis itu melanjutkan langkahnya menuju ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, Bik... Icha pulang!" Seru gadis itu.
Icha hanya memanggil nama Bik Yati karena ia tidak melihat mobil Dinandra atau pun mobil papanya terparkir di halaman depan, yang berarti kedua orang tuanya itu belum pulang ke rumah.
"Wa'alaikumsalam, Non. Udah pulang yak, udah makan belum?" tanya Bik Yati kepada Icha.
Icha menggeleng. "Belum Bik, tadi makan siang doang... makan malem kan belum," jawab Icha cengengesan.
"Ya udah Non, duduk aja dulu, Bibik lagi masak... bentar lagi selesai," pinta Bik Yati.
"Oh iya, Bik. Mama sama Papa belum pulang ya?" tanya Icha.
Bik Yati menggeleng singkat. "Belum Non... tadi Nyonya nelpon Bibik, disuruh masak buat Non Icha aja... katanya Tuan sama Nyonya mau ke luar negeri... ada urusan bisnis yang mendesak, gitu bilangnya..." jelas Bik Yati.
Icha terperanjat, gadis itu sontak berdiri dari duduknya. "Yang bener Bik?! Icha ditinggal dong?" wajah gadis itu tiba-tiba berubah murung.
"Non Icha kan kuliah, enggak bisa ditinggal..." bujuk Bik Yati.
"Emang Mama sama Papa enggak bilang kalo mereka mau pergi kemana gitu Bik?" tanya Icha sambil merengek.
"Oh! Ada non... katanya mau ke... kemana yak, ke kapapa... eh ke kapadosia? Kapadokia Non! Iya bener itu... pokoknya yang begitu-begitulah Non," jelas Bik Yati sambil terkekeh.
Wanita paruh baya itu memang tidak terlalu banyak paham dengan sesuatu yang asing. Icha semakin merengut mendengar tempat yang Papa dan Mamanya tuju saat ini.
"Beneran Bik? Mereka ke turky dong... nggak ngajak-ngajak Icha deh ah! Huh kesel!" Icha mulai mengomeli keadaannya saat ini yang ditinggal oleh kedua orang tuanya pergi bulan madu.
Gadis itu tidak menelepon orang tuanya, tapi ia mengirimkan pesan kepada papanya.
Ke : Papa
Paaaaaa... tega!
Icha tahu pesan itu tidak akan dibalas oleh orang tuanya karena mereka pasti sedang dalam perjalanan menuju ke turky saat ini. Pesan itu pasti akan dibalas ketika mereka sudah sampai disana. Gadis itu duduk sembari menyandarkan pipinya di atas meja makan yang dilapisi kaca itu. Rasa dingin yang merambat di pipinya terasa sangat sejuk, seakan memancing rasa kantuknya.
"Non! Jangan tidur di meja makan, ini lauknya udah jadi... makan dulu, habis itu baru naik ke kamar, mandi, terus tidur," pinta Bik Yati.
"Iya Bik... Icha makan sekarang," gumam Icha lalu menyendok nasi dengan cepat.
"Makan yang banyak ya, Non," ujar Bik Yati lalu kembali ke dapur.
Sepeninggal Bik Yati, Icha masih terus mengomel tidak jelas, gadis itu benar-benar kesal karena ditinggal oleh kedua orang tuanya.
"Mama sama Papa gimana sih? Kok aku enggak di ajak ke turky... huh... payah!" kesal Icha.
"Iya, masa kamu mau jadi anti nyamuk disana, mending disini terus kelarin tugas kuliah kamu," balas Daniel yang entah sejak kapan sudah berada di ruang makan itu.
Icha terperanjat, "Heh! Sejak kapan kamu disini?" tanya Icha tiba-tiba.
"Apaaa? Aku baru aja pulang kok..." jawab Daniel lalu duduk di salah satu bangku kosong.
Selanjutnya Daniel menyendok nasi lalu mulai makan di hadapan Icha dengan lahapnya. Pria muda itu makan sangat lahap, seperti orang yang belum makan seharian.
"Dan... doyan banget, kayak belum makan seminggu," ledek Icha.
Daniel menggeleng singkat. "Aku puasa hari ini," jawab Daniel singkat.
"Yang bener?" tanya Icha seakan tak percaya dengan kata-kata Daniel.
"Iya... beneran, aku puasa senin kamis," jawab Daniel dengan santai.
Icha tak lagi membantah atau meledek Daniel, mereka terdiam di ruang makan itu. Hanya ada suara sendok dan juga piring yang berdenting. Icha tak tahu harus membicarakan apa, jadi gadis itu memilih diam saja.
"Cha? Kamu kemana hari ini?" tanya Daniel tiba-tiba.
"Hmmm jalan sama temen," jawab Icha dengan singkat.
"Enggak ke kampus dong?" tanya Daniel kemudian.
"Enggak, lagi engap sama kampus. Mending healing dulu lah ya..." jawab Icha santai.
"Dan... kayaknya aku ngeliat kamu deh hari ini, tapi dimana ya?" Icha berlagak bingung sembari memegangi kepalanya.
Icha tidak kebingungan sama sekali, ia tahu benar dimana ia melihat Daniel hari ini. Icha hanya memancingnya sedikit demi sedikit dengan harapan Daniel akan kelepasan bicara.
"Oh iya... sabtu nanti kita pada mau ke puncak, mau ikut nggak? tawar Icha.
Daniel masih menimbang-nimbang keputusannya, antara ikut pergi atau tidak. Lagi pula Dinadra dan Pram belum mengetahui perihal liburan weekend yang sudah Icha rencanakan bersama teman-temannya itu.
"Kamu boleh bawa cewekmu kok," ucap Icha.
"Beneran? Enggak apa-apa nih?" tanya Daniel tak percaya.
"Iya lah... suka-suka kamu aja sih," jawab Icha. "Oh iya aku sudah selesai makan nih... bye!" lanjut Icha lalu meniggalkan meja makan itu.
"Cha! Yah! Lagi ngobrol juga... main pergi-pergi aja," kesal Daniel.
Icha membanting pintu kamarnya dengan lembut. Gadis itu melihat ke luar jendela, suasana luar terlihat amat tenang. Icha mengedarkan pandangannya dan menemukan sesuatu yang tak asing.
“Vic?” gumam Icha.
Gadis itu bergegas mengambil ponselnya.
Ke: Victory
Heh , ngapain?
Dari : Victory
Mantau
Ke : Victory
Mantau apa?
Dari : Victory
Kamu
Ke : Victory
Gombal, yaudah bye.
***
Tok Tok!
“Cha… bukain dong, aku mau ngomong bentar, penting juga,” pinta Daniel dari luar pintu kamar Icha.
Icha baru saja keluar dari kamar mandi ketika Daniel datang dan mengetuk pintu kamarnya. Icha jadi cekatan karena dia belum menukar pakaian sama sekali. Icha bergegas pergi ke arah lemari pakaian lalu menukar handuknya dengan daster yang nyaman dipakai, segera setelahnya gadis itu pun pergi ke arah pintu.
Sebelum membuka pintu kamarnya, Icha berpikir sejenak. “Daniel mau ngomongin apa deh?”
***