#48

1542 Kata
*** Selesai dengan acara mandi-nya, Icha teringat akan Vic yang tadinya berada di depan pagar rumahnya. Gadis itu berjalan ke arah jendela dan membuka kembali tirai yang menghalanginya, ia menemukan Vic tidak lagi berada disana, gadis itu menghela napas lega dengan senyum yang tersungging disana. Belum ada lima menit Icha berdiri di depan jendela itu dan pintu kamarnya pun diketuk. Dari suaranya Icha langsung mengetahui Daniel-lah yang mengetuk pintu kamarnya itu. Icha pun bergegas berpakaian dan pergi untuk membuka pintu kamarnya. "Hay, Cha!" sapa Daniel ketika Icha muncul dibalik pintu kamar. "Hay juga Niel, tumben masih dirumah... nggak pergi? Ke lokasi misalnya..." Icha pura-pura keheranan. Icha sebenarnya paham dengan maksud Daniel kali ini, dari gerak-gerik Daniel menimbulkan tanda tanya dan curiga di hati Icha. Icha mengambil duduk di sofa depan kamar lalu menyetel TV. Daniel pun mengikutinya dan mengambil duduk di sisi lain sofa itu. "Kok diam aja Niel? Tadi mau ngomong apa?" tanya Icha lagi. "Itu... kalau bawa temen boleh nggak? Maksudku bawa temen ke puncak..." tanya Daniel. Icha menatap Daniel dengan tatapan meledek. "Cewek? Kan tadi aku bilang boleh," jawab Icha. Daniel mengangguk-angguk kecil. "Oooh... oke." Daniel tidak menjawab pertanyaan Icha tentang siapa yang akan Daniel ajak nanti. "Memangnya mau ngajak siapa?" tanya Icha lagi. Icha sungguh penasaran siapa yang akan Daniel ajak nanti, jika itu Monic maka akan lebih bagus lagi... Icha tidak perlu repot-repot menyamar untuk menyelidiki mereka. "Itu... cewek," jawab Daniel singkat. Icha mulai berakting kebingungan. "Cewek? Bukannya selama ini kamu enggak sering jalan sama temen cewek? Pacar ya?" goda Icha. "Ehm... kamu pesan oleh-oleh apa ke Papa sama Mama?" tanya Daniel tiba-tiba. Pria muda itu tidak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan Icha sebelumnya. Daniel terlihat waspada, ia berusaha mengalihkan pembicaraan kali ini. Icha menyadari hal itu namun ia tidak lagi bertanya, keyakinan Icha semakin kuat bahwa Daniel akan membawa Monic serta ke puncak. "Aku belum mesan oleh-oleh sih, lagi mau browsing sesuatu yang unik aja dulu. Kamu pesan apa dong?" jawab Icha kemudian balik bertanya. "Aku pesan udaranya aja," jawab Daniel sambil terkikik. "Dasar... mending kamu pesan tiket terus nyusul deh, mesan oleh-oleh udara apaan..." ledek Icha. Ponsel Daniel tiba-tiba saja berdering, pria muda itu mengintip layar ponselnya kemudian air mukanya mendadak berubah. "Ya udah, Cha... aku masuk dulu ya, bye." ujar Daniel kemudian mengangkat panggilan telepon itu. Daniel bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengobrol dengan orang yang meneleponnya. Setelah Daniel mengunci pintu, Icha melompat ke arah depan pintu kamar Daniel dan menempelkan telinganya di daun pintu kamar pria muda itu. Icha mencoba menguping pembicaraan Daniel dengan seseorang di dalam sana. Sayup-sayup suara Daniel terdengar. "Iya... sebentar lagi aku kesana, kamu mau dibeliin apa?" "Oke nanti aku mampir kesana juga." "Iya... aku bakal nginep malam ini." Icha mendengar pembicaraan itu, meskipun tidak dapat mendengar suara dari telepon seberang karena Daniel tidak mengaktifkan loudspeaker ponselnya. Gadis itu menjauh dari daun pintu ketika mendengar langkah kaki Daniel mendekat ke arah pintu tersebut. Icha berpura-pura sedang membersihkan debu di rak tempat kaset DVD yang berada tepat di bawah TV. "Cha, tadi Bik Yati masak apa ya?" tanya Daniel lagi. "Sup tahu, Ikan asin, sama daging bumbu kecap, kenapa memangnya?" Icha balik bertanya. "Ah... enggak, aku lihat sendiri ke dapur deh," jawab Daniel lalu beranjak ke dapur. Icha sudah siaga saat ini, Icha melihat ponsel Daniel yang diletakkannya di atas meja depan sofa. Pria muda yang ceroboh. Gadis itu bergegas mengambil ponsel Daniel yang ternyata tidak dipakaikan kode sandi. "Hari gini ponsel nggak ada kode sandinya..." Icha terkekeh meledek. Gadis itu bergegas mengambil ponsel android miliknya lalu menghubungkan aplikasi pada kedua ponsel itu, selanjutnya Icha menghapus notifikasi penginstalan aplikasi dari layar ponsel Daniel, dan selesai. Dua menit kemudian Daniel muncul dengan membawa makanan dari dapur, makanan itu dibungkus ke dalam plastik tupperware milik mama mereka. "Heh, mau minggat lagi? Pake acara bawa bekel segala..." ledek Icha lalu tebahak. Daniel melengos tak memperdulikan ledekan Icha. "Aku bawa buat temen." Daniel meletakkan bungkusan makanan itu di atas meja lalu menyambar ponselnya sebelum ia masuk kedalam kamar. Icha tersenyum penuh kemenangan, gadis itu bergegas masuk ke dalam kamarnya lalu mengecek ponsel android miliknya. Memantau aplikasi pesan milik Daniel. Ke : Monica Livia Nic, aku udah bungkusin sayur asem nih. Dari : Monica Livia Ah! Beneran? Makasih ya... aku pengen banget makan itu. Ke : Monica Livia Wait, aku mau ganti baju dulu Dari : Monica Livia Oke Icha terperanjat ketika mendapati Chat w******p dari Monica Livia yang notabene adalah Monic, mantan tunangannya Vic. "Wah! Gila sih!" Seru Icha. Gadis itu bergegas mengambil ponsel satunya untuk menghubungi Victory. Tak lupa ia mengirimkan bukti chat Daniel dan Monic yang sudah ia screen shoot. Dari : Victory Gercep juga ye Ke : Victory Iyalah... Icha gitu loh Dari : Victory Pantau terus, oh ya... kalau Daniel udah pergi jangan lupa kabarin. Ke : Victory Kamu mau buat apa lagi? Dari : Victory Aku mau pergi ke rumah Monic. Mau lihat reaksi mereka berdua. Ke : Victory Heh? Aku ikut dong! Dari : Victory Entar dulu, disini mereka gak tau kalau kamu juga udah tau tentang mereka. Aku punya fakta lain lagi, kita bicarain besok. Ke : Victory Oke, kabarin kalo kamu udah disana. Dari : Victory Oke sayang Ke : Victory Sayang sayang ndasmu! Icha pasrah karena tidak bisa pergi ke tempat Monic bersama Vic. Padahal ia juga ingin menangkap basah Daniel disana, namun perkataan Vic ada benarnya juga. Gadis itu akhirnya menurut. Yang dapat Icha lakukan adalah menunggu arahan dari Vic. Gadis itu hanya bisa rebahan sampai akhirnya rasa kantuk membawanya ke alam mimpi. *** Ting Tong! Monic bergegas pergi ke depan untuk membukakan pintu rumahnya. Senyum gigi kelinci dengan mata segaris yang imut menghiasi wajah Daniel ketika melihat Monic dari balik pintu. Monic mengambil bungkusan plastik dari tangan Daniel dengan wajah berseri-seri, kemudian kedua anak manusia itu pun menghilang dari balik pintu. "Sayang banget, padahal mamaku juga pandai masak masakan indo... sayang mereka udah menetap di singapore," ujar Monic sembari menghidangkan makanan yang dibawa Daniel di atas meja makan. "Kamu mau makan bareng aku?" tanya Monic. "Hm... nanti aja deh, aku habis makan juga dirumah bareng Icha," jawab Daniel. Raut wajah Monic berubah tiba-tiba, gadis itu duduk di bangku meja makan dengan wajah cemberut. Daniel bingung dan mulai berpikir apakah ia salah bicara? "Mon? Kenapa? Kok nggak makan?" tanya Daniel. "Enggak deh, udah nggak laper..." jawab Monic. "Hey... ada apa sih?" tanya Daniel yang lansung duduk berjongkok di samping gadis itu agar wajah mereka berhadapan sejajar. Daniel membelai rambut Monic dengan lembut, namun tangan Daniel ditepis oleh gadis itu. Daniel makin bingung dengan sikap Monic. "Kenapa? Ya udah kalo gitu aku ikut makan sama kamu, aku suapin ya?" bujuk Daniel. "Gak mau, aku mau tidur aja... kan kamu udah makan sama Icha," Monic beranjak dari duduknya namun ditahan oleh Daniel. Daniel akhirnya menyadari bahwa Monic marah karena dia menyebut Icha. Daniel bergegas memeluk gadis itu dengan erat. “Lepasin!” Marah Monic. “Jangan kayak gitu dong, Mon… gak kasian emang sama anak kita?” bujuk Daniel. Monic akhirnya menangis dalam dekapan Daniel. Wanita hamil memang sangat sensitif, bahkan kecoak lewat pun bisa membuatnya menangis, apalagi kalau sampai menyebut nama wanita lain di depannya? Kiamat. Sebenarnya Monic tidak akan sesensitif ini hanya saja… Icha adalah gadis yang sempat Daniel sukai beberapa waktu yang lalu, sebelum bertemu dengan Monic tentunya. Terlebih ketika saat pertama mereka bertemu dalam keadaan mabuk pun, Daniel sempat menyebut nama Icha saat dirinya sedang bergulat dengan Monic malam itu. Tentu saja… nama Icha akan menjadi nama yang paling Monic benci. Apalagi mantan tunangan yang Monic kejar malah selalu berada di samping gadis bernama Icha itu. Jelas saja kenapa Monic sampai gondok dengan Icha. “Mon… ayo dong, jangan merajuk,” bujuk Daniel. “Aku gak merajuk!” bentak Monic. “Ya sudah… kalo gitu, masa hanya gara-gara aku makan sama Icha terus kamu marah-marah enggak jelas gini?” ujar Daniel. “Hah? Apa? Enggak tuh!” ketus Monic. “Ya terus apa? Kamu cemburu sama Icha?” tanya Daniel lagi. Monic mendorong Daniel hingga dekapan pria itu terlepas. “Siapa yang cemburu? Bahkan saat kamu lagi di atas ranjang sama aku pun kamu malah menyebut nama Icha! Icha Icha Icha lagi… Icha terus, bisa nggak sih kamu tuh nggak usah bawa-bawa nama dia?” Daniel tersenyum lalu kembali mendekap Monic dari belakang. “Kamu cemburu kan?” “Nggak!” Monic berusaha melepaskan diri dari Daniel yang mulai berani mencium tengkuknya. “Apa sih?” Monic menepis tangan Daniel yang sudah bermain di bagian perut gadis itu. “Nic? Kalo kamu belum ingin makan… aku akan makan kamu dulu…” ucap Daniel tepat di telinga gadis itu. Mata Monic membulat, jantungnya berdegup kencang ketika hembusan napas Daniel menyapu leher jenjangnya. Jari-jemari Daniel mulai naik hingga ke atas, seakan sedang mendaki gunung yang tinggi. Monic sudah berharap lebih, namun Daniel malah menghentikan gerakan tangannya, lantas membalik tubuh Monic agar berhadapan dengannya. “Dan…” suara Monic tertahan ketika ciuman lembut jatuh ke bibirnya yang setengah terbuka. Tidak tanggung-tanggung Monic pun langsung membalas ciuman itu. Ciuman Daniel yang begitu menuntut membuat gadis itu kewalahan, sampai Monic tak sadar jika tubuhnya kini sudah terhimpit ke dinding. “Monic… kamu menyukaiku bukan?” tanya Daniel tiba-tiba. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN