#49

2094 Kata
*** "Apakah dengan membalas ciumanmu itu tidak menunjukkan rasa suka?" Monic balik bertanya pada Daniel. Senyuman tipis tersungging di bibir pria muda itu ketika mendengar pertanyaan Monic. Rasanya ia akan memeluk gadis itu hingga pagi hari. Daniel meraih jemari Monic, membawa jari-jari lentik itu ke depan bibirnya kemudian melabuhkan ciuman lembut yang menyuarakan perasaannya pada gadis yang berdiri tepat di depan matanya ini. "Mon— aku, benar-benar nggak tau mau ngomong apa lagi tapi... aku benar-benar suka sama kamu, aku cinta sama kamu... Mon," ucap Daniel dengan matanya yang berbinar. "Ehm... sejak kapan... kamu menyadari kalo kamu itu suka sama aku?" tanya Monic tiba-tiba. Daniel berpikir sejenak, ia mengingat-ingat kapan saat dimana hatinya jatuh pada gadis itu. "Loh kok? Mikirnya lama?" tanya Monic yang menjadi tidak sabaran mendengar jawaban dari bibir Daniel. "Waktu kamu nangis... waktu kamu marah... waktu kamu emosi... waktu aku tau kalau kamu sedang membawa anakku disini," tunjuk Daniel pada perut Monic yang masih terlihat rata itu. "Ooooohh... jadi karena anak ini? Kalau misalnya aku enggak hamil... kamu tetep gak bakalan suka sama aku dong?" ketus Monic. Daniel tersenyum, tingkah Monic yang mudah marah ini sebenarnya membuat Daniel agak bingung. Entah ini sikap Monic yang sebenarnya atau karena bawaan jabang bayi. Namun meskin membingungkan, Daniel merasa sikap Monic yang seperti ini membuatnya semakin luluh dan jatuh ke dalam perangkap b***k cintanya Monic. "Mon... kalo kamu merajuk terus aku bisa kalap loh," ucap Daniel sambil menutup matanya dengan satu tangan. "Ada apa emangnya? Kok nggak jelas banget ngomongnya?" tanya Monic yang masih merajuk. Daniel mendekatkan bibirnya ke telinga Monic lalu membisikkan sesuatu disana. "Kamu imut banget kalau merajuk... aku jadi ingin makan kamu sekarang," ucap Daniel sembari tersenyum tipis. Senyuman Daniel seperti alat hipnotis yang sanggup membuat Monic lupa kalau dirinya sedang merajuk saat ini. Monic menantang tatapan mata Daniel dan di detik selanjutnya kedua bibir mereka kembali menyatu, menimbulkan suara decakan halus yang memenuhi seisi ruang makan itu. Hawa udara terasa semakin panas meskipun AC ruangan itu begitu sejuk. Daniel mulai mengabsen setiap inci yang ada di tubuh Monic dengan tangannya, tidak terkecuali. "Dan... inget, ada anak kita jadi kamu tau kan..." ujar Monic ketika Daniel mendudukan gadis itu di atas meja makan. "Iya sayang..." jawab Daniel kemudian memagut bibir bawel wanita di depannya ini. Wanita? Iya tentu saja, karena Monic adalah Wanita milik Daniel saat ini. Monic sendiri tak pernah tahu kalau ia akan jatuh pada pria yang jauh dari harapannya. Daniel yang entah siapa, dari mana asalnya, Monic sama sekali tak mengetahui semua tentang Daniel pada awalnya, namun sekarang seolah ia tahu semua tentang pria itu. Ia merasa bahwa Daniel adalah satu-satunya yang ia punya sekarang. Entah sejak kapan pakaian mereka sudah berserakan di ruang makan itu, menyisakan pelindung tubuh mereka yang tinggal sehelai. Daniel menggendong Monic di depan, membawa gadis itu menuju ke kamar Monic sambil saling memagut. "Dan... kita tinggal bareng ya?" ajak Monic ketika dirinya direbahkan ke atas ranjang yang sejuk itu. "Aku harus membawamu bertemu dengan kedua orang tuaku dulu... kamu mau kan?" tanya Daniel. Monic mengangguk dengan senyumnya yang tak henti-hentinya merekah. Daniel sudah berjanji akan membawa dirinya menemui orang tua Daniel. "Jangan cemburu sama Icha, kamu akan sering ketemu sama dia karena dia adik tiri aku," bujuk Daniel sembari mengelus-elus kepala Monic dengan penuh rasa sayang. Monic terdiam, namun Daniel terus menodongnya dengan kode agar menyetujui kata-kata Daniel barusan. "Yakin deh... kita enggak ada hubungan spesial kayak yang diberitakan itu," jelas Daniel. Ada rasa bersalah yang menggunung di hati Monic ketika mendengar ucapan Daniel barusan. Monic belum mengakui jika dirinya adalah orang yang membuat berita palsu itu, berita yang hampir menyebabkan Daniel dan Icha di DO dari Elite University. "Dan... sebenarnya..." Kata-kata Monic terpotong begitu saja ketika Daniel melabuhkan ciuman lagi, lagi, dan lagi. Padahal Monic ingin mengakui kesalahannya kepada Daniel lebih awal. Namun ia berpikir dengan mengatakannya pasti Daniel akan marah dan juga meninggalkannya begitu saja. Kedua anak manusia itu masih melupakan semua masalah duniawi mereka, kini keduanya memilih fokus pada kegiatan mereka berdua saat ini. "Monic— kamu... cantik banget," ucap Daniel lalu mengecup pipi Icha. "Iya... emang udah cantik dari lahir," jawab Monic tak mau kalah. Segera setelahnya bibir mereka kembali saling bertaut, ciuman demi ciuman menyerang gadis itu tanpa ampun. Ruangan itu tiba-tiba menjadi begitu ramai oleh suara lenguhan keduanya. *** Pip! Pip! Pip! Pip! Pip! Pip! Ceklik! Pintu rumah terbuka, Vic masuk dengan leluasa, di tempat sepatu Vic menemukan sepasang sepatu pria, dengan cepat Vic memotret sepatu itu dan dikirimknnya kepada Icha melalui pesan singkat. Ke : Icha Cha, ini sepatu Daniel? Icha belum langsung membalas pesan itu, entah gadis itu sudah tidur atau sedang melakukan apa. Vic kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong. Pria muda itu mulai memutar otaknya, dalam hatinya ia bertanya-tanya siapa pemilik sepatu itu. Tak sampai disitu, Victory meneruskan langkahnya berusaha mencari tahu lebih. Suasana rumah Monic tampak lengang, sayup-sayup Vic mendengar suara ribut yang berasal dari kamar seberang. Rasa penasaran yang semakin kuat memaksa Vic untuk membawa dirinya lebih jauh. Pria muda itu melanjutkan langkahnya, pergi mendekat ke arah kamar yang tidak dikunci itu. Pintu kamar itu terbuka setengah, lampu ruangan itu tidak dinyalakan, namun lampu tidur dibuat seremang mungkin. “Apa-apaan ini?” gumam Vic pelan ketika telingamya mendengar desahan dan lenguhan yang semakin cepat dan keras. “Ternyata aku datang di waktu yang tepat,” gumam Vic kemudian menjauh dari kamar itu. Langkah kaki Vic belok menuju ke dapur, Vic harus melewati ruang makan terlebih dahulu untuk sampai ke tempat itu. Sesampainya di ruang makan, Vic menemukan ada beberapa wadah makanan yang sudah tersaji di atas meja makan. Ia pun menyicipi makanan itu, lalu mengangguk sekilas. “Lumayan,” ujar Vic ketika menyicipi sesendok cream soup. Pria muda itu menginjak sesuatu yang ternyata adalah pakaian, matanya kini membulat… ia lumayan kaget ketika mendapati pakaian yang berserakan di lantai, kemudian menendang kecil pakaian itu, menggeser ke bawah meja agar tidak terinjak-injak olehnya. “Dasar… orang kalau udah nafsuan emang suka seenaknya,” omel Vic kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke kulkas. Vic mengambil sekaleng cola lalu beranjak kembali ke ruang tengah. Pria muda itu mengambil duduk di sofa yang berada di depan TV yang menyala, ia pun mengambil remote control kemudian mencari siaran TV yang berbobot. Vic menoleh ke arah kamar Monic, suara lenguhan pria dan wanita masih terus terdengar bersahut-sahutan dari dalam sana. Vic memijit kepalanya yang berdenyut, ia menyadari kalau saat ini ia sedang menjadi nyamuk diantara kedua orang anak manusia yang sedang memadu kasih di dalam kamar sana. “Lama banget… ckckck udah kayak orang lagi bulan madu aja,” ledek Vic kemudian mengalihkan fokusnya ke TV yang ada di hadapannya. Entah berapa lama Vic menunggu, ia melihat jam di layar ponselnya yang menunjukkan pukul sebelan malam. Tak lama kemudian Vic mendengar suara cekikikan pria dan wanita itu. Vic berharap mereka sudab selesai melakukan aktifitas bercocok tanamnya. Dan benar saja, Vic dapat melihat lampu kamar itu dinyalakan tiba-tiba. Vic jadi panik, pria muda itu bergegas membenarkan posisi duduknya kemudian berakting sedang santai menonton TV sembari meminum cola. “Siapa kamu?!” teriak seseorang yang tidak lain adalah Daniel. Daniel yang sudah selesai bercocok tanam itu berniat pergi ke dapur untuk mengambil air putih untuk Monic, namun ia tak sengaja fokus pada TV yang berubah-ubah siaran dengan sendirinya. Hal itulah yang membuat Daniel penasaran dan pergi mengecek TV, namun yang ia temukan adalah Victory yang sedang asik meminum cola dengan remote control TV di tangannya. Vic menoleh kemudian tersenyum miring. “Sudah selesai mainnya?” Daniel menepuk jidatnya. “Kamu? Kamu lihat semuanya?” tanya Daniel. “Tentu saja, aku juga pergi ke dapur untuk mengambil ini,” Vic memperlihtkan kaleng cola di tangannya. Monic muncul dari belakang Daniel, tadinya wanita itu masih berada di ranjangnya. Namun rasa penasarannya datang begitu kuat karena mendengar suara ribut yang berasal dari ruang tengah. Wanita sangat kaget ketika melihat sosok Vic yang sedang duduk di sofa. “Vic?” tanya Monic tak percaya. “Mon? Ada apa ini? Kenapa dia bisa masuk kesini?” tanya Daniel setenga emosi. “Dan… aku bisa jelasin… Vic kamu ngapain?” ucap Monic kebingungan. “Ya… Monic, ini aku… dan aku pikir, kalian berhutang penjelasan padaku, terutama kamu Monic,” desak Vic. Keringat dingin mengucur dari dahi Monic, wanita itu masih memiliki satu permintaan maaf yang harus ia katakan pada Victory. Ia masih harus menjelaskan apa yang sudah ia lakukan pada Vic malam itu, menaruh obat di dalam minumannya, kemudian mencoba untuk tidur dengan Vic. Namun kini Vic malah memergoki Monic tidur dengan Daniel. “Vic… itu… aku akan jelaskan…” ucap Monic dengan terbata-bata. “Mon… ada apa ini? Apakah ada sesuatu yang aku tidak tahu?” sela Daniel. Monic mengangguk, wanita itu mengambil duduk di sofa seberang yang diikuti oleh Daniel yang mengambil duduk di samping Monic. “Setidaknya kalian pakai bathrobe kayak gini dari pada setengah telanjang,” sindir Vic pada Daniel yang tubuhnya memang hanya ditutupi oleh bathrobe. Daniel tak perduli, ia hanya menggenggam tangan Monic dengan erat. “Aku dan Monic sekarang memiliki hubungan,” ucap Daniel mengakui. “Oke… itu bagus untukku, karena aku juga sudah sangat lelah diikuti terus oleh Monic sejak jaman SD,” jawab Vic asal, namun memang itulah kenyataanya. “Sejak kapan kalian memiliki hubungan spesial ini?” lanjut Vic. “Sejak malam pernikahan papanya Icha dengan mamaku,” jawab Daniel. “Aaaah… sudah lumayan lama juga ya, berarti sebulan yang lalu dong? kalian berhubungan secara diam-diam rupanya… Mon, aku ingin penjelasanmu tentang beberapa malam yang lalu, kenapa kamu mencampur obat di dalam gelas wine aku?” tanya Vic dengan raut wajah serius. Daniel terperanjat mendengar pertanyaan Vic, ia menoleh ke arah Monic yang tampak pucat pasi. “Ada apa ini, Mon? Kamu beri dia obat apa?” “Aku memberinya obat perangsang, ya… itu benar Dan, orang tuaku juga menekanku dengan sangat kuat… aku harus bisa menikah dengan Vic, maka dari itu aku ingin menjebaknya… dan soal Vic bisa masuk kesini, itu karena Vic tau password pintu rumahku,” jelas Monic. “Tidak… bukan hanya itu, aku juga begitu terobsesi dengan kamu Vic, aku gak bisa membiarkan kamu jatuh ke tangan gadis lain.” lanjut Monic. Daniel melepas genggaman tangan Monic, membuat gadis itu semakin sedih dan kacau. “Dan?” Panggil gadis itu namun Daniel mengacuhkannya. Vic sangat menikmati drama yang sedang live di hadapannya saat ini. Ia sudah memasang bendera kemenangannya, semua fakta semakin jelas. Daniel dan Monic tidak tahu kalau Vic sudah merekam semua percakapan mereka. “Maaf, Vic. Aku bahkan ingin menjebakmu agar menjadi ayah anak ini pada awalnya… namun itu tidak penting lagi. Aku baru sadar kalau yang selama ini benar-benar ada bersamaku adalah Daniel… aku memutuskan tidak mengejarmu lagi, meskipun kejahatanku sudah ketahuan… meskipun karena fakta ini Daniel tidak menginginkaku lagi, aku tidak apa-apa,” jelas Monic. “Kamu hamil?” kaget Vic. “Iya… aku hamil anaknya pria ini…” tunjuk Monic pada Daniel. “ Awalnya aku sangat frustasi karena keadaanku… aku ingin aborsi karena tidak menginginkan anak ini, dan saat kamu meninggalkanku malam itu… aku mengiris tanganku dengan pisau,” lanjut Monic. Daniel yang mendengar hal itu pun langsung memeluk Monic namun di tepis oleh gadis itu. “Bukan itu saja… aku juga yang telah membuat berita online tentang Daniel dan Icha waktu itu, aku melakukannya agar Icha jauh dari kamu Vic. Tapi usahaku sia-sia,” lanjut Monic. “Kupikir… kamu harus minta maaf secara langsung pada Icha,” sanggah Vic. “Iya… tentu saja,” balas Monic dengan kedua maniknya yang mulai berkaca-kaca. “Ini semua salahku!” Daniel menggenggam tangan Monic, ia memeluk gadis itu dengan paksa sampai akhirnya Monic mengalah dan menangis di pelukan Daniel. “Enggak apa-apa, Mon. Kamu sudah minta maaf, itu saja… sudah cukup, jangan menangis lagi.” bujuk Daniel. “Oke… aku anggap semua sudah selesai disini, selanjutnya kamu harus mencari Icha sendiri, aku tidak akan mengganggu kalian malam ini.” ujar Vic kemudian beranjak dari duduknya. “Maafkan aku,” ucap Monic. “Iya… aku memaafkanmu, kita adalah teman sejak kecil,” jawab Vic. “Daniel… tolong jaga dia, sekarang Monic adalah urusanmu… tugasku menjaganya sudah selesai malam ini,” lanjut Vic. Dengan senyum penuh kemenangan Vic berjalan keluar dari rumah Monic. “Mon… kamu harus ganti password pintu rumahmu kalau enggak ingin aku selalu memergoki kalian setiap saat,” ujar Vic sebelum keluar dari pintu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN