#50

1614 Kata
*** Ponsel Icha berdering pagi sekali, gadis itu masih setengah sadar ketika menerima telepon itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya. "Hallo?" "Cha! Bangun, ini penting! Aku akan jemput kamu setengah jam lagi!" seru Vic dari telepon seberang. "Apa sih... Vic ini masih pagi banget, plisss deh!" keluh Icha lalu kembali bergelung di dalam selimut tebalnya. "Beneran Cha! Ini penting banget... ini soal Monic sama Daniel!" kata Vic dengan nada gawat. "Hah?! Beneran? Iya! Iya! Iya!" jawab Icha kemudian bergegas bangun dan melompat dari ranjangnya. Rasa kantuknya menghilang entah kemana. Namun sialnya gadis itu malah jatuh tersungkur di lantai yang dingin. BRAAK! "Aa— aduh! Vic sialan!" maki Icha. Gadis itu mulai uring-uringan di pagi hari, ia menyalahkan Vic atas kejadian pagi ini. Dahinya sampai lebam karena jatuh menabrak ubin. Icha mandi dan berganti pakaian dengan cepat, sementara ponselnya terus berdering. Icha tahu bahwa yang menelponnya itu adalah Victory, namun ia mendiamkannya. Icha sangat kesal jika terus di desak agar bergerak dengan cepat, sementara gadis itu memang selalu lelet dalam melakukan hal apapun. "Viiiiiiictory! Awas kamu!" kesal Icha. Gadis itu mengangkat telepon itu pada saat dirinya sudah benar-benar siap, ia bahkan belum selesai dengan riasannya. "Apaaaa!!! Gak sabaran banget sih!" marah Icha. "Aku sudah di depan, santai aja... aku hanya pastikan kamu enggak tidur lagi, hehe," jawab Vic sambil cengengesan. Icha mematikan panggilan telepon itu, lalu menghela napas lelah. "Sial! Aku sudah cepat-cepat tapi dia malah menyuruhku untuk santai!" kesal Icha kemudian membanting ponselnya keatas ranjang. Gadis itu baru saja mandi beberapa menit yang lalu namun keringat seakan mau mengucur lagi karena ulah Victory. Gadis itu memasukkan semua skincare dan make up kedalam pouch lalu memasukkan semuanya ke dalam tas ransel miliknya. "Oke... sabar... atur napas... huh... haaaah..." ucap Icha sembari menyapu dadanya berulang kali. Gadis itu berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Vic. Ia belum ingin kena stroke hanya karena ulah Vic yang selalu membuat tensi darahnya meninggi di setiap waktu. "Belum pacaran aja aku sudah kena darah tinggi, gimana dengan nanti kalo jadi suami istri? Sebulan pernikahan aku bisa mati berdiri..." gumam Icha sembari menuruni tangga. "Siapa yang mati berdiri?" tanya Pram yang ternyata memperhatikan anak gadisnya itu. "Eh! Enggak Pa... itu... Icha sudah mau berangkat, Vic udah ada di depan..." jawab Gadis itu. "Kok nggak disuruh masuk dulu? Sarapan bareng aja..." tawar Pram. "Enggak usah, Pa. Anak alien mah enggak perlu sarapan," jawab Icha asal. "Hah? Anak alien?" tanya seseorang dari belakang Icha. "Nah! Ini Vic udah masuk... ayo Vic sarapan bareng," ajak Pram. "Hah? Vic?" Icha berbalik dengan cepat dan menemukan Victory di belakangnya. "Heh! Kok masuk nggak bilang-bilang?" kesal Icha. "Ada kok, tadi ada Bik Yati di depan lagi nyapu..." jawab Vic. "Enggak apa-apa juga sih masuknya enggak ketahuan biar bisa denger kamu ngomongin aku terus... hehe," lanjut Vic. "Jangan ge-er ya anak alien!" ketus Icha. Pram hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Icha dan Vic yang dinilai lebih parah dari pada saat Icha bersama Daniel. "Udah-udah... kalian berdua memang anak alien, ayo sini anak-anak alien! Anak alien pun butuh sarapan di bumi sebelum ke mars..." ajak Pram. Icha melirik tajam ke arah papanya yang malah berada di pihak Vic. "Papaaaaa... anak papa tuh aku! Kok belain Vic sih?" "Ya... enggak apa-apa, kelakuan kalian emang kayak alien kok, ayo Vic... duduk," ajak Pram. Vic pun hanya cengengesan dan langsung mengambil duduk di samping Icha. Dinandra muncul dari dapur dengan semangkuk besar bubur ayam, dibantu oleh Bik Yati yang membawa nampan berisi lauk dan juga kerupuk yang baru saja di goreng. "Daniel enggak disuruh turun, Cha?" tanya Pram. Icha dan Vic langsung saling pandang, hal itu dikarenakan mereka berdua sama-sama tahu jika Daniel tidak berada di rumah saat ini. Terlebih Vic yang bertemu dengan Daniel di rumah Monic semalam. "Ah... itu, Daniel pagi-pagi sekali sudah pergi, Pa..." bohong Icha. "Ah... kayaknya lagi sibuk banget ya si Daniel," kata Pram kemudian menyuap sesendok bubur ayam ke mulutnya. "Iya, Om... biar cepat lulus," Vic membenarkan. "Terus Vic gimana? Sekarang udah mulai susun skripsi?" tanya Pram pada Vic. Vic mengangguk. "Iya, Om... kemarin-kemarin minta Icha juga bantuin buat nyari referensi," jawab Vic. Mata Icha membulat, ia teringat akan kontraknya dengan Vic yang menyebabkan ia harus selalu on time jika diajak Vic kemana saja. Icha berpikir inilah saatnya ia menjatuhkan Vic di depan mata ayahnya. "Bohong Pa... Icha sebenarnya nggak mau banget bantu dia, Icha tuh mau karena udah tanda tangan dokumen perjanjian sama dia... huh!" Icha merasa puas setelah membongkar rahasia di depan papanya. "Bukan gitu, Om... Icha asal ngomong aja, kenyataannya gak seperti itu kok Om," sela Vic. "Ya enggak apa-apa juga sih, artinya Vic sudah bisa menekan kelakuan Icha yang manjanya minta ampun ini," tukas Pram. Mata Icha membulat, tak percaya jika papanya masih membela Vic sampai detik ini. Icha memutar bola matanya malas. "Paaaa... anak Papa itu aku! Kok malah belain Vic melulu si Paaaa?" rengek Icha. "Kamu perlu calon suami yang bisa mengimbangi kelakuan kamu itu, Papa pikir Vic cocok lah, iya kan, Ma?" tanya Pram pada Dinandra. "Iya Pa... cocok banget, eh tapi kalau suka berantem kayak gitu artinya jodoh ya Pa... kayak kita waktu masih pacaran kemaren," Dinandra terkikik setelahnya. Icha jadi kesal karena semua orang mendukung Vic, tidak ada satu pun yang berpihak padanya. Sampai Bik Yati datang ke meja makan untuk mengantar omelet, Icha pun menghadangnya dengan pertanyaan konyol. "Bik! Icha enggak cocok kan sama dia?" tunjuk Icha pada Vic yang sedang makan. Bik Yati menatap Vic dengan tatapan kagum, itu karena Vic memang tampan sejak lahir. Aura pria baik-baik menguar dari postur tubuh Vic, terlebih ketika Vic tersenyum pada Bik Yati. "Makan Bik..." tawar Vic. "Oh! Iya den... duluan aja." jawab Bik Yati. Ekspresi Bik Yati yang tengah terpesona kepada Victory tak dapat disembunyikan sama sekali. "Bik! Aku nanya Biiiiik..." rengek Icha. Bik Yati kaget karena suara rengekan Icha yang begitu tiba-tiba. "Oh! Cocok! Cocok banget kok, Non... aduh Den Pictori mah geulis pisan euy... Bibik demen kalo yang modelan begini mah... kayak artis korea," ucap Bik Yati. "Biiiiikkkk! Gimana sih?" Icha makin merengut. Bik Yati yang tersadar bahwa ia tidak mendukung Icha dan malah berpihak pada Victory itu pun pamit ke dapur sembari memberi gesture meminta maaf pada Icha. Sementara Icha merasa jadi orang terkecil di dunia saat ini. Ia membayangkan Vic yang sebesar raksasa akan segera menginjaknya sampai menjadi kerupuk. KRAUKK! Bunyi kerupuk yang bertemu dengan gigi Icha. Gadis itu menyalurkan emosinya pada kerupuk yang renyah itu dengan matanya yang melirik tajam ke arah Victory. "Udah-udah... sarapan dulu, gaduh banget sih pagi-pagi... Papa kurangin jajan nih," ujar Pram dengan sedikit ancaman kepada Icha. Gadis itu masih merajuk, ia mengaduk-aduk bubur di mangkuknya lalu melahap sendok dengan kasar. Sesekali Icha melirik Vic yang juga menatapnya dengan tatapan meledek. Icha hanya bisa sabar, karena pergulatannya bersama Victory masih sangat panjang. *** "Udah dong kesalnya... jadi nggak cantik lagi, merengut terus," goda Vic ketika mereka berdua masuk ke dalam mobil Vic. "Diem nggak?" ancam Icha yang sudah mengangkat tangannya untuk memukul kepala Vic. "Oke... i'm done..." kata Vic, membuat Icha menurunkan tangannya lagi. "Tapi boong..." lanjut Vic sembari mencubit pipi Icha dengan gemas. "VIIIIIICCCC!!!" teriak Icha. *** Icha mampir ke indomaret untuk membeli snack dan juga air mineral botolan. Ia tidak tahu kemana Vic akan membawanya kali ini, jadi ia membeli banyak stok makanan. Icha takut jika mobil Vic yang mahal ini tiba-tiba mogok di tengah hutan dan sebagainya. "Vic kita mau kemana sih sebenernya?" tanya Icha ketika mereka akan melanjutkan perjalanan. "Kemana aja, yang penting enggak disini," jawab Vic dengan kata-kata yang ambigu. "Maksudnya?" tanya Icha. Vic mendiamkannya, tidak menjawab pertanyaan Icha dan terus menyetir. Mereka sampai di bandara Soekarno-Hatta. Icha bingung namun tak bertanya apa pun lagi. Setelah memarkir mobil di tempat yang teduh Vic pun langsung turun tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Icha. Gadis itu pun ikutan turun dari mobil dan mengekori Vic. Icha hanya membawa tas ranselnya, begitu juga dengan Vic. Vic mengambil kacamata hitamnya lalu memberikannya pada Icha. "Nih, pakai..." pinta Vic. "Buat?" tanya Icha keheranan. "Kita mau jalan-jalan," jawab Vic kemudian memakaikan masker pada Icha. Jemari Vic memegang pipi gadis itu dengan lembut, merapikan rambut Icha namun tiba-tiba tangan itu terhenti. "Cha? Jidatmu kenapa?" tanya Vic sembari menekan area lebam di sudut dahi sebelah kiri. "Habis jatuh tadi pagi... gara-gara siapa ya kira-kira?" sindir Icha. "Hmmm... maaf," ucap Vic lalu mengecup area lebam di dahi Icha itu. Icha kaget, namun ia membiarkannya. Victory mengecup dahinya lama dan gadis itu hanya diam saja. "Cha, ayo berangkat!" ajak Vic, sembari menarik tangan Icha. "Eh! Eh! Kita mau kemana?" panik Icha. "Tolong! Heh! Tunggu... aku mau telepon Papa aku dulu!" "Hallo, Pa! Icha mau diculik sama Vic!" rengek Icha. "Hah? Gimana? Bukannya kalian mau jalan-jalan ke Manado? Tadi pagi Vic udah ngasi tau Papa kok, minta ijin mau ngajak kamu..." jelas Pram. "WHAT? MANADO? Kok jauh amat? Apaan sih Pa? Icha nggak tau kalau Vic udah minta ijin Papa... nggak pokoknya Icha nggak mau pergi!" kesal Icha. "Kalian kesana itu buat bisnis... jangan ngeyel, alamat hotelnya sudah Papa kirim, kalian disana selama satu minggu buat meeting sama klien bisnis Papa... jangan coba-coba kabur, atau nyusahin Vic... udah Papa banyak kerjaan!" jelas Pram lalu memutuskan sambungan telepon. Icha terdiam dengan raut wajah suram, ia menatap Vic yang hanya menatapnya dengan tatapan meledek. "Diem nggak? Diem nggak?" Icha jadi kesal hanya karena tatapan Vic. "Loh? Aku nggak ngomong apa-apa kok... Hahaha," Vic terbahak melihat kekonyolan Icha yang menjadi-jadi. "Udah jangan manja... ayok ikut!" kata Vic sembari menarik tangan Icha agar lekas bergerak. “Eh! Eh! Nggak usah tarik-tarik jugak! Aku bisa jalan sendiri heh!” Icha pada akhirnya mengikuti kemauan Vic, ia masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN