#51

1086 Kata
*** Tiga jam tiga puluh menit adalah perkiraan waktu perjalanan yang Icha lalui hari ini. Gadis itu tak berhenti uring-uringan meskipun ia dan Victory sudah berada di atas awan. Icha tak bisa lagi merengek pulang, yang dapat gadis itu lakukan adalah tetap tenang, menurut, dan juga tidak membuat masalah selama perjalanan ini. "Vic... jujur deh, kamu bilang apa ke papa aku?" tanya Icha ketika maniknya bertemu dengan manik Vic yang tampak ingin melarikan diri dari tatapan Icha. "Apa? Enggak... aku cuma minta ijin ke Om Pram, itu aja... terus kebetulan aja Om Pram bilang kalau seharusnya ia bisa ke Manado hari ini untuk tanda tangan kontrak, tapi kendala pekerjaan di perusahaan pusat tidak menginjinkannya pergi barang sehari, papaku juga gitu sih... pagi tadi udah pergi ke singapore. Gitu aja sih..." jelas Vic. "Beneran? Jangan sampai kamu ngarang biar aku maklum dan enggak marah-marah lagi..." Icha memperingatkan Vic. "Ya sudah kalo nggak percaya, aku juga sudah capek ngejelasinnya... yang pasti malam ini kita langsung menuju ke tempat rekan bisnis ," lanjut Vic lalu memperbaiki letak kacamatanya yang tampak miring. "Vic?" panggil Icha. "Hmmm?" jawab pria muda itu. "Kamu belum cerita sama sekali soal Daniel dan Monic, tiba-tiba saja malah berangkat ke luar kota gini... aku jadi penasaran, semalam kamu pergi kan ke tempat Monic?" Serang Icha. "Iya... begitulah... aku juga nemu sesuatu yang lain, tapi... aku akan buat kamu penasaran aja dulu," jawab Vic sembari terkekeh. "Gak asik! Mending aku tidur aja..." kesal gadis itu lalu menutup wajahnya dengan hoodie. Vic tersenyum, ia membiarkan gadis itu kesal sendiri. "Tidur dulu... biar enggak capek," ucap Vic lalu menepuk-nepuk kecil kepala Icha. Gadis itu tidak merespon, Icha sudah terlelap begitu cepat. Vic mengambil jaket miliknya lalu meletakkan jaket itu di atas tubuh Icha, membuat jaket itu beralih fungsi menjadi selimut. Kemudian Vic pun menyusul Icha untuk tidur sejenak. *** Icha terbangun ketika merasakan goncangan, ternyata pesawat mereka sudah mendarat di bandara Sam Ratulangi. Icha terlihat antusias mengambil Video sebagai bahan story instagramnya nanti. Vic yang sudah bangun setengah jam sebelum Icha juga melakukan hal yang sama, namun bedanya dalam video Vic ada sosok Icha. "Vic ini beneran sudah sampai?" tanya Icha. "Iya... eh kita udah bisa turun sekarang," jawab Vic lalu mulai memeriksa barang-barangnya ketika mendengar aba-aba dari pramugari. "Cha, coba periksa barang-barang kamu dulu. biar nggak ada yang ketinggalan," ujar Vic. Icha mengangguk, gadis itu pun mengikuti arahan Vic. "Sudah beres semua, enggak ada yang ketinggalan." "Oke... Yuk!" ajak Vic sembari memegangi tangan Icha. Gadis itu refleks menepis genggaman tangan Vic, menimbulkan sebuah tanda tanya dalam hati pria muda itu. Raut wajah Icha tampak biasa saja, namun dari sikapnya gadis itu seperti sedang berusaha menjaga jarak. Setengah jam kemudian mereka sudah selesai dengan segala macam pemeriksaan, uji swab antigen pun masih diberlakukan mengingat virus yang sempat menggegerkan seluruh dunia itu belum hilang dari muka bumi. Icha menggosok hidungnya yang terasa gatal akibat test swab antigen yang dilakukannya setenga jam yang lalu. Icha dan Vic aman karena hasil testnya negatif, mereka berdua dapat melanjutkan perjalanan menuju ke hotel. Dengan menumpangi grab car mereka menuju hotel yang sudah dipesankan oleh papanya Icha. "Aaahh... disini gedung-gedung tingginya sedikit," ucap gadis itu ketika mereka sampai di pusat perkotaan. "Oh iya..." Vic ikut mengintip ke luar jendela mobil. Grab car itu mengantar mereka ke depan hotel Four Points. "Kak... so sampe ini dimuka hotel," kata driver itu. "Hah? Udah nyampe?" tanya Icha yang agak bingung dengan bahasa diucapkan oleh driver itu. "Iya kak, sudah sampe ini," ulang si driver. "Oh... oke..." Icha memberikan selembar uang seratus ribu kepada driver itu. "Ini mas... terima kasih ya, kembaliannya ambil aja," ucap Icha sebelum turun dari mobil itu. "Terima kase kak," jawab si driver. "Sama-sama," ucap Vic kemudian berbalik dan mempercepat langkahnya mengikuti Icha. "Cha, kita mandi dulu, ganti baju, terus kita ke ruang meeting yang udah disiapkan pegawai hotelnya... satu jam lagi Pak James akan tiba, dia bawa kontrak kerja yang harus di tanda tanganin," Vic mulai menjelaskan. "Oke... kamu udah cocok jadi sekretaris aku aja, aku yang jadi CEO-nya," gadis itu mulai meledek Vic. "Serius deh, Cha..." protes Vic. "Iya, Iya... sekretaris Kim," Icha terbahak. "Jangan mulai..." kesal Vic. "Eh... eh... kamu bisa kesal juga ternyata? Kirain cuma bisa buat kesal orang..." ledek Icha lagi. "Bawel... udah ayok," ajak Vic sedikit dengan pemaksaan karena menarik hoodie yang dikenakan Icha. "Ada yang bisa dibantu tuan?" tanya seorang resepsionis. "Kamar atas nama Aruna Yeorisha..." "Oh iya sebentar... kami cek dulu ya, tuan," kata si resepsionis. "Ada tuan, satu kamar aja?" "Eh... satu aja? kalo gitu buka kamar yang bersebelahan dengan kamar Yeorisha," kata Vic kemudian. Vic bingung, kenapa hanya ada satu kamar yang dipesan. Vic baru tersadar jika ayahnya tidak sempat memesankan kamar. Vic pergi menghampiri Icha ketika urusan kamar sudah selesai. "Kok lama banget? Ada apa? Pelayanannya lelet ya?" serbu Icha dengan rentetan pertanyaan. Vic menggeleng. "Enggak, kamarnya satu doang... kan kita enggak mungkin tidur satu kamar, ya... kecuali kalo kamu mengijinkan... hehe," goda Vic. "Mau ku geplak?" ancam Icha. "Becanda... aku udah buka kamar tepat di samping kamar kamu kok," jawab Vic cepat. Icha menarik salah satu sudut bibirnya, mengekspresikan sikap masa bodoh. Vic sendiri bingung dengan sikap Icha yang angin-anginan, sedikit-sedikit terlihat seperti tidak memiliki rasa, namun kadang kala gadis itu seperti membiarkan Vic masuk ke hatinya. "Ya udah..." jawab Icha dengan nada datar. Pegawai hotel datang menghampiri mereka lalu menuntun kedua anak muda itu menuju ke kamar mereka. "Mari Tuan... Nona..." Icha dan Vic pun mengikuti pegawai hotel itu dari belakang. Mereka berdua berjalan bersama dan sejajar, punggung tangan yang sesekali saling bertabrakan dirasakan oleh Vic. Ingin hati Vic menggenggam tangan kecil itu, tapi Icha malah menarik tangannya dan berpura-pura menyelipkan rambut ke telinganya. “Sudah sampai tuan… selamat istirahat,” ucap pegawai hotel itu kemudian memberikan kartu kunci hotel. “Terima kasih, Mas…” ucap Icha. Gadis itu hendak masuk ke kamarnya namun tangannya ditahan oleh Vic. “Cha!” panggil Vic tiba-tiba. “Hm? Ada apa? Kamu ingin bilang sesuatu?” tanya Icha sembari melirik aneh ke tangan Vic yang menggenggam pergelangan tangannya. “Eh… enggak, aku lupa mau bilang apa, oh ya! Mandi dan ganti baju formal… sebentar lagi pegawai hotel akan mengantarkan baju untuk pertemuan nanti,” kata Vic kemudian sembari melepas pegangannya pada tangan Icha. “Oke…” jawab Icha kemudian masuk ke dalam kamarnya. Icha meninggalkan Vic sendirian, mematung di depan pintu kamar. Entah apa yang Vic pikirkan saat ini. Pria muda itu menggeleng kecil lalu masuk ke bilik kamarnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN