***
Icha merebahkan dirinya ke dalam bathtube yang berisi air hangat, tak lupa ia menyetel lagu dari ponselnya yang diletakkan di atas washtafel kamar mandi.
Aroma dari lilin aroma terapi hampir membuatnya tertidur, namun ia tiba-tiba teringar akan pertemuan dengan rekan bisnis papanya. Icha melihat jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Sudah setengah jam ia berendam, gadis itu beranjak ke shower untuk membersihkan sisa-sisa sabun.
Tak lama setelah Icha selesai mandi, pintu kamarnya pun diketuk. "Layanan kamar!"
Gadis itu bergegas membuka pintu dan menemukan pegawai hotel yang membawa setelan formal untuknya. "Nona... ini pakaian anda, sudah di setrika dengan baik."
Icha tersenyum. "Terima kasih," jawab Icha lalu menutup kembali pintu itu.
Icha bergegas menelepon Vic yang hanya berada di seberang kamarnya.
"Hallo?" jawab Vic dari telepon seberang.
"Setelannya sudah sampai... by the way... baju ini dipesan sama siapa?" tanya gadis itu.
"Aku yang pesan, kan dibawah hotel ini ada mall..." jawab Vic.
"Ooooh gitu... makasih ya," ucap Icha.
"Hmm... sama-sama, kan kita enggak bawa baju sama sekali... jadi... beli aja," kata Vic.
"Oke kalo gitu aku ganti baju dulu..." jawab Icha kemudian mematikan sambungan ponsel.
***
TOK TOK!
Bunyi ketukan pintu membuat Icha siaga, gadis itu bergegas dan membuka pintu kamarnya. Dari balik pintu ia menemukan sosok Vic yang sudah siap dengan memakai setelan kerjanya. Sungguh sangat menawan, ia hampir mengira kalau yang di depannya ini Kim Taehyung, tapi sayang pria di hadapannya itu adalah Victory Liandra Kim. Icha yang masih terpana itu pun hanya bisa menatap Vic dengan bibirnya yang setengah terbuka.
Vic sendiri hampir takjub dengan penampilan gadis di depannya ini, selama ini Vic tidak pernah melihat Icha dengan balutan setelan kerja. Karena pakaian formal yang pernah Vic lihat dari gadis ini hanyalah gaun waktu pernikahan papanya waktu itu. Ini pertama kalinya Vic melihat Icha yang terlihat sangat keren, aura wanita perkerja keras menguar dari tubuh gadis di hadapannya ini.
"Cha? Udah s-siap?" Tanya Vic dengan kata-katanya yang terbata.
"Eh? I-iya... hehe," jawaban Icha terdengar canggung dan gugup, gadis itu menyelipkan rambutnya ke telinga.
"Bajunya cocok banget sama kamu..." kata Vic.
Victory memberi gesture agar Icha menggandeng lengannya, dan gadis itu pun menurutinya. Icha menggandeng tangan Vic yang menuntun dirinya menuju ke ruang meeting hotel.
"Terima kasih, kamu juga... keliatan kayak CEO muda di novel-novel," ucap Icha membalas pujian Vic.
"Cocok dong kita, gimana kalo besok kita nikah aja?" goda Vic.
Icha mendecak kesal mendengar celotehan Vic. "Tck! Mulai deh mulai... dasar ya, cowok tuh nggak bisa banget di percaya. Ujung-ujungnya pasti ngegombal... dasar kang gombal!" ledek Icha.
Vic terbahak. "Haha... becanda, emangnya kamu beneran gak mau nikah sama aku? Aku tampan... aku punya uang... aku...."
"Uang bapak kau! Heh... kalo masih dibiayai orang tua tuh jangan belagu, tampan apanya? Tampan-tampan kang gombal juga heleh..." kesal Icha lalu mencubit pinggang Vic.
"Aw! Ampun! Aw! Iya-iya-iya! Iya aku salah ngomong Nyonya! Hahaha..." Vic meliuk-liukan tubuhnya menghindari serangan bertubi-tubi dari Icha.
Sampai tak terasa mereka kini sudah berada di depan ruang meeting yang mereka tuju. Di depan ruangan itu sudah menunggu seorang pegawai hotel.
"Tuan... Nyonya... silahkan, klien anda sudah menunggu sejak lima menit yang lalu," pegawai hotel itu mempersilahkan.
Victory mengangguk, dengan cekatan pegawai hotel itu pun membukakan pintu.
"Selamat siang Tuan Victory, Nona Aruna," sapa klien bisnis mereka sembari berdiri dan mengulurkan tangan.
Vic dan Icha pun bergantian menjabat tangan kedua orang klien mereka itu.
"Selamat siang, Tuan James..." Sapa Vic, kemudian duduk di kursi yang disediakan.
"Wah... saya takjub dengan utusan CEO Pram dan CEO Randy yang ternyata masih sangat muda… biar aku tebak, Tuan Victory Kim yang ada di depan saya saat ini adalah penerus tuan Randy bukan?” James membuka percakapan.
"Ah... ya sebenarnya, Pak CEO akan mengutus salah satu direktur untuk datang, namun urusan penandatanganan tidak bisa dilakukan seceroboh itu bukan? Belajar dari issue intern kami di waktu sebelumnya, namun Tuan James tidak perlu khawatir karena kami tidak mentolelir segala bentuk kecurangan yang menentang pasal-pasal dalam kontrak kerja. Saya sendiri yang akan memeriksa secara langsung serta memberikan sanksi final, dan untuk menghindari pemalsuan dari pihak intern, kami sudah memberlakukan sistem pembayaran baru mulai awal tahun ini. Maka dari itu yang hadir di pertemuan ini adalah saya... meskipun saya belum sepenuhnya aktif terjun dalam bidang ini dan masih dalam bimbingan ayah saya, tapi ya... semua orang selalu dituntut untuk keluar dari zona aman bukan?" jelas Victory panjang lebar.
Tuan james hanya manggut-manggut menyetujui ucapan Vic. "Anak muda memang lebih kritis jika terjun dalam dunia bisnis, saya rasa saya juga harus merekrut anak muda seperti anda kedepannya. Saya yakin bahwa generasi penerus akan jauh membawa kesuksesan jika semua pebisnis muda memiliki skill seperi Tuan Victory." Puji James.
Icha sendiri hanya bisa takjub dengan apa yang dikatakan oleh Victory, dirinya mendadak insecure karena belum tentu bisa menanggapi ucapan klien bisnis dengan sebagus dan semulus basa-basi Victory yang tampak profesional itu. Icha yang masih menatap kagum kearah Victory itu pun kaget ketika Vic balik menatapnya dan menyelipkan sebuah kedipan mata menggoda kepada Icha.
"Oh ya, bisa kita mulai sekarang? Sekertaris saya akan menjelaskan secara singkat, silahkan Nona Bianca," ucap James.
"Ya... silahkan," jawab Vic.
***
Satu jam kemudian Icha dan Vic sudah selesai taken kontrak dengan klien bisnis papa mereka. Icha sudah melepas jas yang ia pakai, menyisakan kemeja putih sebagai atasan. Icha menenteng jas di bahunya, seperti mafia yang baru saja pulang dari kasino. Vic masih terlihat rapi dan formal, ditambah kacamata yang sesuai dia tampak seperti seorang pebisnis profesional.
Icha melirik pria muda itu. "Cih... biasa aja, disini udah enggak ada klien, aku lapar..." rengek Icha kemudian.
"Jangan merusak tampilan aku dong... lagi seru kan belagak jadi CEO, cukup kamu aja yang udah kacau bagitu..." ledek Vic.
"Ah... udah lah, dasar cowok gak peka!"
Icha bergegas meninggalkan Vic yang masih berjalan santai sembari memeriksa berkas dari tablet di genggamannya. Ia tersadar ketika melihat Icha sudah berada di dalam lift.
"Cha?! Hey, mau kemana?" tanya Vic, namun gadis itu memalingkan muka.
"Ya ampun... mau kemana sih?" Vic bergegas masuk ke lift satunya ketika melihat angka yang Icha tuju.
Icha sampai di lobby hotel, gadis itu pergi ke resepsionis dan menanyakan tempat makan yang ada di dalam mall.
"Mbak, tempat makan di dalam mall dari sini ke arah mana ya?" tanya gadis itu.
"Nona bisa keluar lewat pintu depan kemudian belok ke kiri, ada pintu masuk menuju mall. Tepat berhadapan dengan pintu ada satu cafe yang bagus," jelas si resepsionis hotel.
"Oke... terima kasih, ya..." ucap Icha sebelum pergi.
Vic muncul dari arah lift ketika Icha sudah meninggalkan lobby hotel. Pria muda itu pun bertanya pada si resepsionis hotel.
"Mbak, ngeliat cewek yang pakai kemeja putih nggak? Sambil bawa jas-nya ditenteng gitu," tanya Vic.
"Ah... yang rambutnya sebahu, baru saja keluar, Tuan," jawab resepsionis hotel itu.
Victory tampak terburu-buru. "Terima kasih..."
"Eh! Tunggu tuan! Tadi mbaknya bertanya tempat makan terdekat jadi saya menyarankan untuk makan malam di Excelso Coffe, Tuan tinggal belok kiri kemudian masuk melalui pintu mall," jelas si resepsionis hotel.
"Oke mbak... terima kasih," ucap Vic lalu berlari keluar mengejar Icha.
Sepeninggal Vic si resepsionis hotel malah gemas sendiri, itu karena dirinya habis bicara dengan seorang pria muda yang tampannya sudah seperti blasteran surga.
"Ya tuhan! Ganteng skali!"
***
“Mon— beneran kan kamu enggak macem-macem sama Vic selama ini?” tanya Daniel kepada Monic.
Fuuuhhh!
Monic menyemburkan air yang sedang diminumnya ketika mendengar pertanyaan Daniel yang tiba-tiba itu.
“Hey! Ngomong apa sih?” tanya Monic sembari mengelap bibirnya dengan tissue.
“Aku nanya… kamu nggak macem-macem sama Vic selama ini?” Daniel tampak merajuk.
“Ya enggak lah! Sayang… kamu sadar kan waktu kita melakukannya malam itu, aku masih perawan!” kesal Monic.
“Maaf,” ucap Daniel tiba-tiba lalu memeluk Monic dari belakang.
“Iya… enggak apa-apa, jangan nanya yang aneh-aneh lagi. Aku memang terobsesi sama Vic, itu dulu… aku selalu menggoda Vic tapi dia laki-laki yang keras, dia nggak pernah suka sama aku,” ucap Monic lalu beranjak ke arah sofa.
“Kalo gitu… kamu mau kan ganti password pintu rumah?” tanya Daniel lagi.
“Iya… aku ganti.” jawab Monic.
Monic berdiri dari duduknya kemudian pergi ke arah pintu depan. Di depan layar yang terhubung otomatis dengan pintu rumahnya Monic mulai menyetel opsi penggantian password. Daniel masih mengikuti Monic dan memperhatikan gadis itu.
“Lihat baik-baik paswordnya, jangan sampai lupa,” ucap Monic kepada Daniel.
“Iya sayang…” jawab Daniel sembari memeluk pinggang Monic.
Setelah mengganti password pintu rumah, Monic berbalik mengahadap pria itu lalu balas memeluk. Monic tiba-tiba saja merasa sedih dan menyesali perbuatannya selama ini.
“Dan… kamu enggak marah sama aku?” tanya Monic.
“Marah kenapa?” Daniel balik bertanya.
“Aku sudah jahat sama kamu, sama Icha, sama Vic juga… aku berencana membuat kalian dikeluarkan dari kampus dengan membuat berita online itu, aku juga melakukan itu agar yayasan orang tua Vic jadi bangkrut, aku udah melakukan banyak kejahatan…” jelas Monic.
“Hey… coba lihat aku,” Daniel menangkup pipi Monic dengan kedua tangannya.
“Aku… tidak yakin bisa dapat restu dari orang tua kamu sekarang, aku takut…” Monic mulai berlinang air mata ketika mengatakan kekhawatirannya pada Daniel.
“Hey… jangan menangis, dengar…” bujuk Daniel sembari mencium mata Monic satu-persatu.
“Dengar… aku nggak akan ninggalin kamu, Mon. Apapun yang terjadi… kita akan bersama,” lanjut Daniel lalu memeluk gadis itu dengan erat.
“Kamu enggak jahat… kita lupakan semua yang sudah berlalu. Sekarang kita adalah kita, aku dan kamu… aku akan atur jadwal makan malam dengan orang tuaku, aku akan mengenalkan kamu secara resmi…” kata Daniel kemudian mengecup bibir Monic.
“Terima kasih…” ucap Monic lalu memeluk Daniel dengan erat.
***
“Cha!” panggil Vic ketika melihat gadis itu memasuki pintu mall.
Gadis itu berbalik dan menemukan sosok Victory berada sekitar dua puluh lima meter di belakangnya. Gadis itu mengacuhkannya kemudian melayangkan gesture jari tengah ke arah Victory.
“Ya ampun… gadisku sangat bar-bar…” kata Victory pasrah.
Victory hanya bisa pasrah meladeni sikap Icha, gadis itu memang sulit ditebak. Namun setelah Vic berpikir, ia pun sama halnya dengan Icha, sama-sama labil, sama-sama menyebalkan ketika terusik oleh sesuatu. Namun entah kenapa, ketika bersama Icha yang bersikap labil Vic malah menjadi lebih dewasa.
Tidak seperti waktu itu, jika Icha emosi maka Vic pun akan ikutan emosi, Vic jadi teringat saat dirinya dan Icha pertama kali bertemu karena insiden mobil yang menabrak pagar gerbang kampus. Victory terkekeh geli mengingat kejadian itu, ia benar-benar menjadikan Icha sebagai pelayannya dengan menyalahkan gadis itu.
Penyebab ia sampai menabrak bukanlah karena Icha, tapi karena Vic berusaha meraih ponselnya yang jatuh sehingga tidak melihat jalanan. Icha yang kebetulan berada di tempat kejadian sedang memunguti kertas yang berterbangan saat itu. Vic melihat Icha, sosok gadis yang seakan memiliki magnet khusus dan berhasil menarik hati Victory dalam pandangan pertama.
Iya, Vic memang menyukai gadis itu sejak awal pertemuan mereka. Namun Icha tidak memiliki perasaan yang sama. Sampai detik ini pun Icha belum menyadari bahwa Vic sedang mengejarnya, yang Icha tahu Vic hanyalah anak kerabat ayahnya yang slengean, narsis, dan menyebalkan. Meskipun pada satu waktu, Icha merasa nyaman, aman, dan membiarkan Vic menyentuhnya, membuat Vic bingung dengan isi hati Icha yang sebenarnya.
“Cha? kok nggak nunggu aku sih?” tanya Vic kemudian duduk di berhadapan dengan gadis itu.
“Kan aku sudah bilang kalo aku laper… kamu hanya sibuk sama tablet itu…” tunjuk Icha.
“Maaf, aku harus segera kirim dokumennya ke papa tadi… tapi udah kok,” jawab Vic.
Icha tidak memberi tanggapan, gadis itu malah lebih memperhatikan makanannya yang kini tiba di atas meja.
“Silahkan kak,” ucap si pelayan cafe.
“Mbak, saya pesan menu yang sama… satu lagi, air mineralnya juga, sama kopi espresso,” ucap Vic kepada pelayan cafe.
“Iya kak, sebentar ya,” kata si pelayan kemudian mencatan pesanan Vic, setelahnya si pelayan pun pergi.
“Cha… jangan merajuk dong, kayak bocil aja…” bujuk Vic namun malah meledek Icha pada akhirnya.
“Mulai deh… bisa diem nggak sih? Aku pindah meja nih…” ancam Icha. “Dan satu lagi… aku nggak merajuk!”
“Iya… diem iya… nggak merajuk terus apa dong?” tanya Vic lagi.
Vic sudah setuju untuk diam tapi ia malah kembali bertanya pada Icha, hal itu membuat Icha makin kesal dan mendiamkan Vic. Gadis itu memfokuskan diri pada makanan yang ada di hadapannya saat ini.
“Urusan kita udah selesai kan? Besok kita pulang ke jakarta,” kata Icha.
“Loh? Kata papa kan seminggu…” sela Victory.
“Ya sudah, kamu aja yang seminggu disini. Aku mau ke puncak bareng Rere, Ririn, sama Aiden…” ketus Icha.
“Sama siapa? Aiden?” tanya Vic.
“Iya… kenapa?” Icha balik bertanya.
“Kalo gitu, aku juga ikut ke puncak.”
***