#53

1082 Kata
*** Setelah mengisi perut hingga kenyang, Icha dan Vic berjalan pulang kembali ke hotel. Semilir angin pantai yang dingin serasa menusuk hingga ke tulang, itu karena hotel dan mall ini dibangun tepat di pinggiran pantai. Udara malam di kota ini juga begitu dingin hingga sanggup membuat Icha merinding kedinginan. Victory yang tak sengaja melihat gelagat Icha itu pun dengan sigap memakaikan jas ke bahu gadis itu. Makasih," ucap Icha kepada Vic. "Jangan sungkan... kamu kan calon istri aku," jawab Vic asal. "Hah? Ngimpi!" sela Icha kemudian terbahak. "Cieee ketawa... mau ya? Sorry ya... aku becanda doang," balas Vic sembari menjulurkan lidah. "Nggak ngarep! Nggak sama sekali!" ketus Icha. Begitulah keadaan mereka berdua jika bersama, perlakuan yang penuh perhatian namun akan selalu gagal romantis ketika keduanya sudah mulai angkat bicara. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di depan pintu kamar masing-masing. Icha masuk ke dalam kamarnya, begitu pula dengan victory. Mereka sudah berada di kamar masing-masing, Icha merebahkan dirinya di ranjang, kemudian memilih untuk mandi air hangat sebelum tidur. Sama halnya dengan Victory yang langsung menuju kamar mandi, tubuhnya terasa lengket dan gerah. Pria muda itu membiarkan air hangat menyapu punggungnya yang lebar itu. Pria muda itu tak bisa menghilangkan sosok Icha dalam benaknya, gadis dengan setelan kantor yang mewah. Icha terlihat dewasa dengan balutan setelan itu, dan Vic menyukainya. Tanpa sadar Vic mulai menyentuh dirinya sendiri hanya karena membayangkan sosok Icha, tidak lama dan pria muda itu menghentikannya. Ada rasa sesal dalam hati Vic karena menjadikan Icha sebagai bahan khayalannya. "Sial! Brensek kamu Vic!" Maki Vic pada dirinya sendiri. Vic menyesal karena nafsu setan yang tiba-tiba datang itu disambut dengan baik juga olehnya. Pria muda itu menyalakan air dingin untuk menenangkan perasaan menggebu dalam dirinya. Lima belas menit kemudian Victory sudah selesai mandi dan berpakaian. Ia mengenakan celana pendek selutut berwarna hitam dengan kaus berwarna putih polos. Selanjutnya pria itu merebahkan dirinya di ranjang sembari mengutak-atik ponselnya, ia melihat daftar chat lalu berhenti pada kontak Icha, melihat riwayat terakhir percakapannya dengan gadis itu kemudian menuliskan sebuah pesan. Ke : Icha Mau ngobrol dulu nggak? Dari : Icha Yang ada kamu malah ngeledek aku terus Ke : Icha Ya sudah, aku pikir kamu masih penasaran sama Daniel dan Monic Dari : Icha Oke... ke kamarku sekarang Senyuman mengembang di bibir Victory, ia memanfaatkan dengan benar kelemahan Icha yang gampang penasaran. Tak tunggu lama Vic pun langsung bergegas menuju ke kamar Icha yang hanya berada di sebelah kamarnya. TOK TOK! Baru sekali ketuk saja, Icha sudah membukakan pintu. Terbayang sudah di benak Vic sepenasaran apa gadis itu teehadap informasi yang dibawa Victory saat ini. "Cepet banget bukainnya," kata Vic. Icha tersenyum tipis. "Kebetulan habis nutup pintu kamar mandi." "Oooh..." kata Vic ber-oh ria kemudian mengambil duduk di sofa. "Jadi apa yang terjadi sama Daniel dan Monic? Kamu jadi kan pergi ke rumah Monic?" tanya Icha penasaran. "Aku nge-gap mereka disana, mereka memang punya hubungan khusus, maksudku hubungan mereka sudah lebih dari teman..." jelas Vic dengan sedikit berputar-putar. "Pacaran maksud kamu?" tanya Icha penasaran. "Iya... mereka memiliki hubungan itu, aku... malah datang di waktu yang enggak tepat juga sih," jawab Vic. "Enggak tepat gimana?" "Mereka berdua lagi mesra-mesraan, jadi aku nunggu di ruang tengah sambil nonton natgeo... tapi aku udah ngomong kok sama mereka, masalah juga udah selesai." jelas Vic. Icha jadi semakin penasaran karena penjelasan Vic yang setengah-setengah, membuat Icha jadi tidak sabar dan mulai berasumsi sendiri. "Kamu mergokin mereka lagi anuan terus kamu enggak ganggu? Dibiarin aja begitu sampe kelar, hah? Enggak ngaceng kamu dengerin suara-suara surga? Ya Allah... jauhkanlah kejadian seperti itu, aku nggak pengen jadi nyamukmen kayak Victory Kim," ledek Icha kemudian terbahak-bahak. "Seriusan Cha... tapi emang bener apa yang kamu bilang, Monic juga udah minta maaf sama aku soal yang dia campurin obat ke minuman aku, itu obat perangsang..." jawab Vic. "Hah? Jadi pas aku jemput kamu malam itu? Kamu lagi sangean?" Icha terbahak lagi. "Mulai deh ngeledek... aku balik ke kamar aja deh, mau tidur," Vic merajuk lalu bergegas berdiri. "Eh... yaudah lanjut, aku enggak ngeledek lagi," ucap Icha sembari menahan tawa. "Iya malam itu rasanya pengen makan kamu sih, cuma mungkin obat yang dikasi Monic itu berlebihan. Aku jadi kayak enggak punya tenaga, dan enggak bisa gerak... aku jadi penasaran, apa jangan-jangan itu obat yang buat cewek?" Vic terkekeh di akhir kalimatnya. "Hah? Emang ada yang kayak gitu-gitu?" tanya Icha. "Iya... ada lah, kamu mana tau," jawab Vic sembari menjulurkan lidah. "Kamu mau coba nggak? Nanti aku beli..." goda Vic. "Silahkan anda pulang ke kamar anda," kesal Icha. "Maaf nyonya... enggak lagi hehe..." ucap Vic. "Kamu enggak cemburu sama Daniel dan Monic?" tanya Icha tiba-tiba. "Enggak, terus kamu gimana? Kamu cemburu sama mereka?" Vic balik bertanya. Ekspresi wajah Icha terlihat normal, tidak ada kebohongan disana. "Tentu saja enggak," jawab gadis itu. *** "Hallo, Vic?" "Iya, hallo Pa..." "Gimana? Katanya kan seminggu kok baru dua hari udah mau pulang?" heran Randy. "Iya, Pa... Icha udah minta pulang, ada acara temennya di villa puncak juga, Vic sama Icha bakal ke puncak besok," jawab Vic. "Ya sudah, yang penting kamu harus bereng Icha." Jawab Randy kemudian mematikan ponsel. Icha yang entah sejak kapan sudah berada di samping Vic itu pun menoleh. "Kenapa? Om Randy ya?" "Iya, Cha," jawab Vic. Icha dan Vic akan kembali ke jakarta pagi ini. Mereka berdua sudah bersiap untuk pulang namun masih mengurus pembayaran kamar di lobby hotel terlebih dahulu. Setelah urusan hotel sudah selesai, mereka pun langsung masuk ke dalam taksi yang sudah mereka pesan untuk mengantar menuju ke bandara. *** Hampir sepanjang penerbangan Icha habiskan dengan tidur, gadis itu tak menyadari saat merebahkan kepalanya di bahu Vic. Di saat bersamaan jantung Victory berdegup kencang seperti alunan disko, Vic cukup khawatir jika bunyi debaran jantungnya sampai terdengar oleh Icha, mengingat telinga gadis itu bersandar tepat dekat dengan tubuhnya. “Gawat! Tetap tenang… haaaaah…” gumam Vic sembari menghembuskan napas panjang. Vic benar-benar gugup meskipun gadis di sampingnya ini tengah terlelap. Ia dapat melihat anak rambut Icha yang menjuntai menutupi mata yang kemudian dirapikan olehnya dengan tangan yang satunya. “Manis… tanpa riasan, cantik… dengan sedikit polesan…” ucap Vic tanpa sadar. “Mmmhh…” gumam Icha, gadis itu sedang bermimpi. Vic tak bisa melakukan apa pun selain mencoba tidur dengan gadis itu, Victory menyandarkan kepalanya pada kepala gadis itu. Mereka saling menumpu. Tangan Icha refleks memegangi jaket yang dikenakan oleh Vic, pria muda itu terus memperhatikan gerak-gerik Icha kemudian tersenyum, beberapa menit kemudian Vic berhasil menenangkan diri dan menutup matanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN