#40

1174 Kata
*** Icha terbangun pagi sekali, gadis itu bergegas ke dapur untuk membantu Bik Yati menyiapkan sarapan untuk pagi ini. “Bik? Daniel pulang gak semalem?” tanya Icha ketika berpapasan dengan Bik Yati yang sedang membuat bumbu nasi goreng. “Den Daniel? Bibik nggak ngeliat tuh, Non. Kayaknya enggak pulang sih soalnya kamarnya gelap, ga ada tanda-tanda ada orang,” jelas Bik Yati. “Oh, ya udah Bik, biar Icha telepon aja.” Icha mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan mencari kontak Daniel, selanjutnya menelepon pria muda itu. “Hallo?” Icha mendengar suara parau Daniel dari seberang, lebih terdengar seperti orang yang baru bangun tidur. “Niel, kamu enggak pulang?” tanya Icha. “Iya, lagi ada urusan di luar, jadi nginep di rumah temen juga,” jawab Daniel lalu menguap dengan lebar. “Oh, ya udah,” Icha mematikan sambungan telepon itu setelahnya. “Danielnya lagi ada urusan di luar, Bik. Simpen aka makanan buat dia di kulkas, biar bisa dipanasin lagi nanti,” ujar Icha. Bik Yati mengangguk mengiyakan. “Baik, Non… oh iya, Non. Sarapan pagi ini cuma Non Icha sama Den Vic doang kan ya?” tanya Bik Yati. “Iya Bik… ntar Icha bangunin anaknya dulu,” jawab Icha lalu bergegas menuju kamar tamu. TOK TOK! Icha mengetuk pintu itu terlebih dahulu sebelum ia membuka pintu dengan perlahan. Icha mengecek apakah Vic masih tidur atau sudah bangun, namun Icha mendapati pria itu masih terbaring di ranjang. Wajahnya yang terlelap seperti sebuah karya yang berharga. Tampan sekali pria ini. Icha terbuai dengan pemandangan di hadapannya, refleks jemarinya menyibak anak rambut Vic. Nalurinya untuk merapikan rambut pria itu entah datang dari mana. “Pantas saja Monic sampai memasukkan sesuatu di dalam minumanmu, kalau bukan mau harta, ya… cinta, atau keturunan yang berkualitas,” gumam Icha pelan. “Heh! Kok? Aku ngomong apa sih?” Kesal Icha pada dirinya sendiri. Icha mendekatkan wajahnya ke wajah Vic, ada sesuatu di bawah mata Vic yang kebetulan dapat Icha lihat. “Dasar cowok, mau sebanyak apa duidnya… pasti enggak bisa merawat diri dengan baik,” ucap Icha pelan-pelan. Tangan Icha ditangkap oleh Vic, selanjutnya menarik gadis itu dengan cepat sehingga Icha jatuh ke atas ranjang bersama Vic. “Vic! Kamu udah bangun?” tanya Icha sembari berusaha melepaskan diri dari pelukan Vic. “Jangan banyak gerak-gerak dulu, badanku jadi sakit semua,” pinta vic. “Siapa suruh narik-narik aku?” marah Icha. Vic melepaskan tangan Icha dan gadis itu pun kembali berdiri pada posisinya. “Vic, bangun deh. Kita udah mau sarapan nih,” ajak Icha. “Oke, ya udah… aku mau cuci muka sama sikat gigiku dulu, gak pake lama ya,” jawab Vic. *** Aiden mengajak Rere, Ririn, dan Icha ke puncak bersama dengan teman-teman tongkrongan mereka. Vic juga ikut karena Icha ikut. “Cha, kita semua diajak Aiden ke puncak weekend nanti, gimana? Ikut nggak?” tanya Ririn pada Icha. “Aku ikut sih, soalnya cowok aku satu tongkrongan juga sama Aiden,” kata Rere menengahi. “Serius? Kok nggak ngasi tau kita-kita selama ini?” tanya Ririn dengan ekspresi merajuk. “Loh, bukan nggak bilang, belum sempet bilang aja kok. Lagian gabungnya baru sebulan ini sih katanya,” jelas Rere. “Cha, gimana ikut nggak?” tanya Rere pada Icha yang masih mengetuk-ngetuk layar ponselnya. “Eh, aku liat dulu deh nanti, mikir-mikir dulu,” jawab Icha. “Kok mikir-mikir dulu? Emang ada apa sih?” tanya Ririn. “Ada Vic juga disana, setongkrongan juga sama Aiden,” jawab Icha dengan ekspresi malas. “Loh? Bukannya bagus ya, Cha? WKWKWK ke puncak sama calon tunangan,” ledek Ririn. “Bisa diem gak, duh… ya ampun,” kesal Icha lalu melahap keripik milik Rere. “Yah! Yah! Cha! Habis kan Cha?” protes Rere, namun Icha tak peduli. “Ya udah beli lagi.” Icha menjulurkan lidah ke arah dua sahabatnya itu sebelum beranjak dari duduknya. “Loh? Mau kemana, Cha?” tanya Ririn. “Mau mangkal! Ya enggaklah, ke toilet doang kok,” jawab Icha sambil cengengesan. Tak disangka Icha malah berpapasan dengan Aiden ketika ia kembali dari toilet. “Loh? Icha? Ngapain disini?” tanya Aiden dengan raut wajah sumringah. “Oh! Hai… Aiden,” sapa Icha. “Oh iya, Cha. Kamu mah ikutan ke puncak nggak weekend nanti?” Tanya Aiden. “Rere sama Ririn udah jelasin sih, tapi… aku males kalo sama Vic. Nanti aku malah digodain melulu sama dia…. bisa stress aku kalo bareng Vic di puncak,” jawab Icha. “Jadi? Nggak mau nih?” tanya Aiden sekali lagi. “Insha Allah, kita harus libur dulu deh bentar, takutnya nanti ga bisa healing,” kawab Kepala Sekolah. *** Sementara itu di rumah sakit. Monic sudah sadar setelah tertidur selama delapan jam. Gadis itu mengerjapkan matanya perlahan, ia mendapati tangannya yang terasa perih, hal itu diakibatkan oleh luka jahitan yang di dapatkannya setelah mengiris pergelangan tangannya semalam. Kepala gadis itu masih terasa pening. Ia mengedarkan tatapnya, matanya mengelilingi seluruh ruangan berwarna putih itu. Ia melihat kantung infus tergantung di sebuah tiang, tiang itu terhubung dengan ranjang pasien yang tengah ia tiduri saat ini. Akhirnya matanya menangkap sesosok pria yang tengah tertidur dengan posisi menelungkupkan kepalanya. Refleks Monic menyibak perlahan rambut Daniel, membuat si pria terbangun. “Eh… sudah mau siang, hoaaam!” gumam Daniel lalu menguap. “Niel? kamu sejak kapan disini?” tanya Monic. “Sejak semalam… setelah kamu mengiris tangan kamu tuh, kamu hampir mati tau nggak?” Omel Daniel. “Maaf, habisnya aku sedang kesal banget… jadi aku… sekali lagi aku minta maaf!” ucap Monic. “Jangan nangis lagi deh, enggak apa-apa… yang penting kamu udh selamat sekarang,” ucap Daniel tulus. “Niel… kamu enggak marah kan?” tanya Monic. “Enggak, malahan aku bersyukur masih bisa denger suara kamu lagi saat ini,” jawab Daniel sembari tersenyum. Ada kehangatan yang tercipta dalam hati kedua anak manusia yang berlainan jenis itu. Monic akhirnya tersenyum dengan tulus. Ternyata gadis seperti Monic juga bisa tersenyum sangat indah ketika hatinya dipenuhi ketulusan. “Monic, kamu mau nggak nikah sama aku?” Entah apa yang terlintas dalam pikiran Daniel saat itu sampai ia berani menanyakan hal seintens itu. Monic terdiam, senyum di wajahnya tiba-tiba menghilang entah kemana. Pupil mata gadis itu bergetar, menatap nanar ke arah Daniel karena air matanya yang mulai mengumpul. Gadis itu menangis, menangis sejadi-jadinya. Hal itu membuat Daniel bingung. Mungkin saja Monic tidak mau menikah dengan Daniel, begitulah yang ada dalam pikiran Daniel saat ini. Daniel pria yang bertanggung jawab, dan anak yang ada dalam perut Monic saat ini adalah anaknya. Hal itulah yang membuat Daniel memberanikan diri untuk mengajak Monic menikah. “Maaf, kalau kamu belum siap untuk ini semua, tapi kumohon… jangan hilangkan anak itu, dia anak kita… jika kamu tidak mau menikah tidak apa-apa,” ucap Daniel dengan raut wajahnya yang berubah sendu. Air mata menetes di pipi Monic. “Bukan gitu, Niel. Aku enggak nyangka… kamu… ngajak aku nikah.” “Ya, aku… suka sama kamu, Monic. Kumohon jangan mengejar Vic lagi. Hiduplah bersamaku.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN