"Nic! Monic! Nic! Buka pintunya!"
Daniel berteriak dari depan pintu namun gadis itu tak kunjung membukakan pintu rumah.
Daniel sudah berada disana sekitar lima belas menit, ia begitu mengkhawatirkan keadaan Monic saat ini. Tak ada cara lain lagi selain masuk secara paksa namun pintu itu menggunakan sistem kata sandi yang tidak Daniel ketahui.
Tak kehabisan cara, pria muda itu berlari menuju lift, ia akan ke lobby untuk melapor. Setelah berbagai pertanyaan akhirnya security menyetujui permintaan Daniel membuka pintu rumah Monic, tentu saja Daniel mengaku sebagai tunangan Monic agar security yakin dan meluluskan permintaannya.
"Sudah, tuan... pintunya terbuka, kami akan menunggu disini sembari tuan mengecek di dalam," ucap salah satu security.
"Ah! Terima kasih, Pak!" ucap Daniel lalu menerobos masuk ke dalam penthouse Monic.
"Nic! Monic!" Panggil Daniel, namun suasana rumah itu tampak lengang.
Mata Daniel menangkap cahaya dari dalam kamar mandi, suara shower juga samar-samar terdengar dari dalam sana. Daniel bergegas menuju kamar mandi dengan langkah cepat.
"Nic?"
TOK TOK!
"Monic?" panggil Daniel, sembari mengetuk pintu kamar mandi.
TOK TOK TOK!
Krieettt!
Pintu itu terbuka ketika Daniel mencoba mengetuk untuk kedua kalinya, matanya membulat ketika melihat sepasang kaki yang menjuntai di lantai.
"Monic!" teriak Daniel lalu menerobos pintu itu.
Ia mendapati tubuh Monic yang hanya mengenakan baju tidur tipis, seluruh tubuhnya basah kuyup di bawah guyuran shower, aliran air yang berwarna merah membuat Daniel terpekik.
"MONIC!!!"
Pergelangan tangan Monic robek oleh sebuah pisau yang tergeletak tak jauh dari tubuh gadis itu.
"Nic? Nic? Monic? Bangun Nic!" Daniel memeluk tubuh gadis itu, menjauhkannya dari guyuran shower.
"Pak! Tolong! Pak!" teriak Daniel agar security dapat mendengarkannya dan datang menolong.
Segera dua orang security yang berjaga di depan pintu itu pun masuk, dan menemukan seseorang yang sekarat di dalam kamar mandi.
Daniel membawa Monic ke rumah sakit terdekat, selama perjalanan Vic terus memegangi tangan Monic yang terlihat pucat pasi.
“Nic bertahanlah….”
***
Vic terbangun di sebuah kamar yang tampak asing, kepalanya terasa sangat berat namun ia tetap memaksakan diri untuk duduk. Pelan-pelan ia duduk bersandar di kepala ranjang. Vic sedang mencoba mengumpulkan kembali nyawanya yang sudah berpetualang semalaman ini.
“Ugh! Pusimg banget!” keluh Vic sembari memegangi kepalanya.
Ia mulai mengingat satu persatu kejadian yang terjadi tadi malam.
TOK TOK!
“Vic? Sudah bangun?” tanya seseorang dari balik pintu kamar. Vic mengenali suara itu dengan baik.
“Iya, Cha….” jawab Vic dengan suara pelan.
Icha muncul dari balik pintu dengan memabawa semangkuk bubur ayam buatan Bik Yati. “Makan dulu, selagi buburnya masih hangat.”
Icha menyendok bubur dari dalam baskom, meniupinya, lalu menyodorkan sesendok bubur itu kepada Vic.
“Nih, coba cicip dulu,” pinta Icha.
Vic pun menuruti kata-kata Icha, ia membiarkan gadis itu menyuapinya.
“Enak,” gumam Vic setelahnya.
Icha menyodorkan gelas berisi air hangat kepada Vic. Pria muda itu meminumnya hingga setengah. Tenggorokannya memang terasa sangat kering ketika bangun pagi ini.
“Makan lagi,” kata Icha sembari menyodorkan sesendok bubur ke delan mulut Vic.
Vic pun menerima setiap sendok yang Icha suapkan kepadanya. Icha memang seorang yang perhatian, apalagi Vic yang sedang lemah berada di rumahnya saat ini.
“Vic… coba ceritain deh, apa yang udah terjadi semalam. Aku sampai enggak bisa tidur… gara/gara kamu bilang hampir dilerkosa,” kata Icha ketika selesai menyuapi Vic dengan sesendok bubur terakhir.
“Uhukk!” Vic terbatuk, ia kaget karena tiba-tiba saja Icha membahas kejadian semalam.
“Duh, maaf! Minum dulu,” panik Icha.
Air dalam gelas Vic pun tandas seketika. Pria muda itu merasa segar sekarang, seolah tenaganya telah pulih kembali.
“Makasih ya, Cha,” ucap Vic pada gadis itu.
“Enggak usah sungkan,” jawab Icha lalu tersenyum.
“Semalam itu, aku dijebak,” kata Vic dengan raut wajah yang sulit Icha artikan.
“Sama siapa?” tanya Icha secara refleks.
“Monic… dia manggil aku ke rumah, aku pun kesana karena dia mengaku lagi enggak sehat.” jelas Vic.
“Monic lagi… emang kamu masih cinta ya sama Monic? Bisa banget sekhawatir itu,” nada bicara Icha berubah datar.
“Enggak, kita tuh udah temenan sejak kecil, dan kita juga barengan mulai dark SD, SMP, sampe SMA juga. Anaknya lemah banget… suka sakit-sakitan. Aku hanya ngerasa harus nolong dia aja semalam, tapi dia malah ngasih sesuatu ke minuman aku yang buat aku sakit kepala dan merasa pusing tiba-tiba,” sanggah Vic.
“Kamu percaya sama aku kan?” tanya Vic pada Icha yang hanya diam.
“Iya,” jawab Icha pelan.
“Aku ini laki-laki normal Cha… aku pasti akan tergoda sama cewek walaupun aku gak dalam pengaruh obat, tapi semalam itu aku lari ketakutan… Monic udah naik ke atas aku,”
jelas Vic.
“Enggak, apa-apa kamu udah aman kok disini. Istirahat aja, aku keluar dulu,” jawab Icha datar lalu berdiri.
TAP!
Vic menahan tangan Icha. “Cha? Kamu enggak marah kan?”
Icha menatap Vic dengan senyum yang dipaksakan. “Kenapa harus marah sih, Vic? Gak ada alasan buat aku harus marah sama kamu ketika kamu pergi menemui cewek mana pun.”
Icha mulai bertanya-tanya dalam hati, kenapa ia harus marah kepada Vic? Ia tidak seharusnya marah atau pun kecewa jika Vic pergi menemui gadis lain. Icha kembali ke pusat kesadaran dirinya dan memahami bahwa ia dan Vic bukanlah dua orang yang memiliki hubungan spesial. Jadi… untuk apa Icha marah?
“Cha,” panggil Vic ketika gadis itu memalingkan muka, menghadap ke arah pintu.
“Lagi pula kita juga bukan apa-apa, benar bukan? Jadi jangan terlalu gede rasa, aku enggak marah sama kamu. Aku hanya kesal karena kamu buat aku repot hanya karena kecerobohan kamu dengan cewek lain,” bohong Icha.
Icha benar-benar membohongi dirinya sendiri, perasaan yang seharusnya mulai tumbuh namun terus Icha tekan agar tidak hidup dan menjalar kemana-mana. Gadis itu belum yakin jika harus memulai sesuatu yang baru dengan pria muda bernama Victory ini. Belum ada keyakinan yang cukup dalam hati Icha.
“Oke,” jawab Vic singkat.
“Istirahat saja.” kata Icha lalu beranjak pergi dari kamar itu.
Di dalam kamar Vic malah kebingungan dengan sikap Icha. Terkadang Vic merasa Icha menyukainya karena bentuk perhatian Icha yang enggak setengah-setengah, namun saat ini ia merasa Icha sama sekali tidak memiliki rasa. Sikap hangat dan juga dingin dari gadis bernama Aruna Yeorisha itu mampu membuat Vic stress dalam suatu waktu.
“Icha… susah banget sih ngebaca pikiran kamu?” tanya Vic pada dirinya sendiri.
***