Malam itu Monic menangis dan meraung di kamarnya, meratapi nasibnya yang terlanjur hamil dengan pria yang tidak dia cintai, tidak ia harapkan.
"Anak sialan! Harusnya kamu enggak pernah ada di dalam perut aku!" raung Monic sembari memukul-mukul perutnya yang masih terlihat rata itu.
Gadis itu mencari ponselnya seperti orang yang sedang kesetanan, jari-jemarinya tampak bergetar begitu juga dengan bibirnya yang menahan isak tangis. Ia mencari kontak Daniel dan menelepon pria itu.
"Hallo, Mon... ada apa?" tanya Daniel dari seberang.
"Hiks... Hiks... Dan, kalau anak ini enggak ada, aku pasti masih punya banyak kesempatan buat ngejar Vic... semua ini gara-gara kamu!" marah gadis itu disela-sela isak tangisnya.
"Loh? Kok aku? Hey! Kita ngelakuinnya barengan... aku enggak merkosa kamu, jangan konyol deh, Nic!" bentak Daniel.
Tangis Monic pecah mendengar suara keras Daniel, namun apa yang telah diucapkan Daniel memang ada benarnya. Perasaan Monic yang sedang kacau membuat dirinya tak bisa berpikir dengan logis, otaknya ingin menyalahkan semua hal yang terjadi kepada Daniel, namun ia sadar bahwa ia juga memiliki posisi yang sama dengan pria itu.
"Nic? Monic... aku mohon deh, jangan ngelakuin hal-hal yang aneh... jangan bodoh Monica, kamu terlalu terobsesi sama Vic...," bujuk Daniel.
Daniel tidak tega mendengar isak tangis gadis itu, suara tangis Monic terdengar begitu pilu membuat hati Daniel tergerak karenanya. Ingin sekali ia menenangkan gadis itu saat ini.
"Kalau dengan menghilangkan anak ini nggak bisa membuat Vic kembali sama aku, maka biarkan aku ikut mati sama anak ini," ucap Monic dengan suaranya yang semakin lemah.
"Jangan gila kamu, Nic!" bentak Daniel.
"Kalau sampai anak itu kenapa-napa, sampai ke neraka pun aku akan ngejar kamu!" lanjut Daniel.
"Hallo?"
"Hallo!"
Daniel mulai panik. Suara Monic menghilang padahal telepon mereka masih terhubung saat ini, perasaan Daniel berubah tidak enak. Pria itu bergegas menyambar jaket dan berlari menuju halaman rumah. Daniel tidak menemukan mobil di parkiran, hanya ada motor milik Pak Narto.
"Pak? Pak Narto?" panggil Daniel pada Pak Narto yang ternyata terlelap dalam pos satpam.
"Eh! Eh, iya Den... ada apa Den Daniel?" Pak Narto yang dikagetkan oleh Daniel itu pun bertanya pada pria muda dihadapannya itu.
"Aku boleh pinjam motornya?" tanya Daniel tanpa basa basi.
"Boleh Den... boleh, sok atuh dipakai aja," ujar Pak Narto sembari memberikan kunci motornya pada Daniel.
"Makasih ya, Pak! Aku pergi dulu, Assalamualaikum...."
"Wa'alaikumsalam! Pelan-pelan Aden!" seru Pak Narto ketika melihat Daniel yang tampak terburu-buru.
"Monic, jangan macem-macem... kamu enggak boleh lakuin hal bodoh kayak gitu," gumam Daniel.
Kecepatan motor Pak Narto memang standar, namun di tangan Daniel motor itu serasa motor sport dengan kecematan maksimal. Jalanan yang lengang membuat Daniel lebih leluasa berkendara. Ia mempercepat lari motor itu demi Monic dan anak di dalam kandungannya. Dalam hatinya ia terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Monic.
***
Sementara itu di dalam mobil Icha, Vic tebaring dengan keringat dingin mengucur dari dahinya. Mulutnya meracau tidak jelas. Hal itu cukup mengganggu Icha sehingga gadis itu memutuskan untuk menepikan mobil sebentar saja.
"Vic kenapa sih?" gumam Icha.
Gadis itu mendekatkan telinganya ke arah Vic, mencoba mendengarkan racauan yang keluar dari bibir pria muda itu.
"Panas... ssshh... ugh! Air... aahk... panas banget! aku ingin minum ahk!" Racau Vic dengan suara samar-samar dan juga parau.
"Vic? Vic? Kamu kenapa?" tanya Icha kepada pria muda di sampingnya itu.
Namun Vic tidak menjawab pertanyaan Icha, pria muda itu hanya terus meracau tidak jelas. Icha panik bukan main, gadis itu melepaskan seat belt milik Vic dan menggoncang tubuh pria itu.
"Vic? Vic? Sadarlah! Hey! Ini aku Icha, kamu kenapa Vic? Ngomong dong!" Ujar Icha sembari menepuk-nepuk wajah Vic dengan keras.
PLAK! PLAK!
Dua tamparan pelan Icha layangkan di wajah tampan pria itu, bukan karena dendam. Tapi gadis itu panik buka main, awalnya Icha mengira Vic sedang mengerjainya dengan berpura-pura kesetanan. Namun yang terjadi saat ini malah bukan settingan. Gadis itu memegangi wajah Vic dengan frustasi. Panik, takut, bingung, Icha melihat ke sisi kiri dan sisi kanan jalanan yang lengang.
"Apakah disekitar sini ada Zombie?" gumam Icha. “Menakutkan banget,” lanjutnya.
Icha menemukan sebotol air mineral yang masih tersegel di salah satu saku cover seat mobil. Ia bergegas mengubah posisi tempat duduk Vic agar pria itu bisa duduk dengan posisi tegak.
“Vic, ini ada air, ayo minum dulu,” pinta Icha.
Icha membantu Vic agar bisa meminum air itu dengan baik, namun air selalu saja tumpah hingga membasahi kaus yang Vic kenakan. Icha tak tahu lagi harus bagaimana. Sebuah pilihan yang amat berat kini berada dalam pikiran Icha. Keadaan Vic yang semakin mengkhawatirkan itu pun berhasil membuat Icha mengambil keputusan yang sulit.
Icha menurunkan kembali seat mobil, gadis itu bergegas meneguk air mineral untuk disimpan di dalam rongga mulutnya, selanjutnya Icha mendekatkan wajahnya ke wajah Victory. Pria muda itu masih terus meracaukan sesuatu yang tidak Icha mengerti.
Icha memegangi pipi Vic dengan satu tangannya, dengan lembut meremas pipi itu untuk membuat celah di tengah bibir. Tak tunggu lama Icha pun langsung menyambar bibir Vic, bergegas Icha mengalirkan air ke dalam mulut Vic. Cara itu berhasil membuat Vic meneguk air dan keadaanya mulai normal.
Icha mengulangi hal yang sama, namun ketika bibirnya menempel, Vic malah menggerakkan bibirnya, memagut bibir Icha. Hal itu cukup mengagetkan gadis itu, dengan segera Icha menarik diri.
“Hey!” protes Icha.
Namun Vic masih terlihat seperti orang yang kesakitan. Ingin Icha mengomeli pria itu, namun keadaan Vic ternyata tidak dibuat-buat sama sekali.
“Vic?” panggil Icha, ia berusaha menyadarkan pria itu.
“Vic?”
“Hm?” jawab pria muda itu.
Icha kaget sekaligus senang mendengar Vic yang telah menjawab panggilannya.
“Vic? Kamu kenapa bisa jadi kayak gini? Aku enggak tau mau bawa kamu kemana deh, beneran,” kata Icha, mencoba untuk mengajak Vic mengobrol.
“A-ku… dikasi… mi… numan, sa-ma… M-nic, jawab Vic.
“Apa? Dikasi minuman sama siapa?” tanya Icha lagi.
“M-nic… Mo— nic,” jawab Vic dengan suara terputus-putus.
“Monic?”
“Jadi Monic yang mau merkosa kamu?”
Raut wajah Icha berubah, dalam hatinya ia berniat untuk membuat perhitungan dengan Monic.
“Bisa-bisanya gadis itu melakukan hal selicik ini hanya buat dapetin cowok!” geram Icha.
Icha membawa pria muda itu pulang ke rumahnya. Menurutnya tempat paling aman, Vic bisa tidur di kamar tamu rumah Icha.
Icha melajukan mobilnya menuju rumah. Hanya butuh sepuluh menit Icha bisa sampai ke rumahnya.
Beruntung karena Pak Narto masih belum tidur, pria itu sedang menonton pertandingan bola kaki di pos jaga ketika Icha memarkirkan mobilnya di salah satu sisi halaman rumah.
“Non?” pak Narto datang menghampiri Icha yang baru saja turun dari sisi kemudi.
“Pak, tolong bantu Icha mapah Vic sampe ke kamar tamu,” pinta Icha.
“Loh? Ada Den Vic toh?”
Pak Narto membuka pintu mobil dengan perlahan, takut-takut jika Vic malah bersadar di pintu dan ikut jatuh. Vic bersandar dengan keadaan setengah sadarnya, mata dengan kelopak indah itu masih terpenjam.
“Den? Ayo den!” Pak Narto memberi aba-aba.
Icha dan Pak Narto membawa Vic ke kamar tamu, merebahkan tubuh pria muda itu.
“Ya udah, Pak… biar Icha aja,” kata Icha.
“Iya, Non,” jawab Pak Narto kemudian berlalu dari kamar itu.
Icha melepaskan sepatu dan kaus kaki yang dikenakan Vic kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh pria muda itu.
“Istirahat ya… aku pergi dulu, kalau butuh sesuatu telepon aja,” pamit Icha.
Icha berbalik dengan cepat namun pergelangan tangannya ditahan oleh Vic, pria itu tidak punya tenaga, genggamannya terasa sangat lemah.
“Te-rima kasih… Cha,” ucap Vic.
“Istirahat… besok kita ngobrol lagi,” jawab Icha lalu pergi meninggalkan Vic.
***