#37

1091 Kata
Permintaan Monic sebenarnya ingin Vic tolak, namun melihat Monic yang nampak lemah membuatnya tidak tega dan memutuskan untuk tinggal sebentar. Hanya sebentar saja pikir Victory. Monic menuangkan wine untuk Vic. "Aku cuma punya ini di kulkas," Monic menawarkan wine itu pada Vic. Vic duduk di sofa berukuran single sembari menyesap sedikit wine. Sementara Monic merebahkan dirinya di sofa berukuran besar. Vic memang selalu menjaga jarak dari Monic, namun ia selalu merasa tidak tega jika membiarkan Monic dalam kesulitan, ia pasti akan berusaha menenangkan gadis itu. Vic beranjak dari sofa dan pergi mengambil selimut di kamar Monic. Ia berniat menyelimuti gadis itu sebelum ia pergi. Tidak mudah bagi Vic menemukannya karena terkadang ia juga pergi berkunjung ke penthouse Monic, sekedar melihat keadaan gadis itu meskipun pertunangan mereka sudah dibatalkan sejak lama. Setelah Vic menemukan sebuah selimut ia hendak kembali ke ruang tengah namun ia dikagetkan oleh keberadaan Monic yang kini sudah berada tepat di belakangnya. "Mon?" panggil Vic ketika menemukan sosok Monic. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Vic dengan cepat. Vic yang bingung itu pun refleks mendorong lengan gadis itu hingga mundur dua langkah. "Ah!" jerit Monic ketika merasakan sakit akibat dorongan Vic pada lengannya. Monic mengelus kedua lengannya berulangkali membuat Vic menjadi Iba. "Kamu enggak apa-apa? Maaf ya... aku kaget karena tiba-tiba kamu seperti ini," ucap Victory. "Kamu beneran akan tunangan dengan cewek bernama Icha itu?" tanya Monic tiba-tiba. "Apa itu penting buatmu?" Vic balas bertanya, padahal pertanyaan Monic belum ia jawab. "Penting... penting banget," jawab Monic. "Aku enggak bisa biarin kamu pergi dari sisi aku, Vic," lanjut Monic. Entah ada apa, tiba-tiba kepala Vic terasa pening, pria muda itu menjatuhkan selimut dan mulai memegangi kepalanya. Monic mendorong Vic hingga pria itu jatuh ke atas ranjang. Vic memijit kepalanya dengan susah payah, berusaha kembali ke kesadarannya. Melihat kesempatan yang terbuka lebar, Monic langsung menjatuhkan dirinya di atas tubuh pria muda itu dan mulai menjatuhkan ciuman ke leher Vic. "Sial! Apa yang sudah kamu campur ke wine itu?!" marah Vic di sisa-sisa kesadarannya. "Vic... kumohon," gumam Monic yang mulai mencoba menggerayangi tubuh pria muda itu. PAAAKKK! Dengan sekuat tenaga Vic menepis tubuh Monic, membuat gadis itu terhempas ke samping. Vic bergegas bangun dengan gerakan cepat, pria muda itu berdiri dan bergerak dengan abstrak hingga ia menabrak pintu. "Vic! Kumohon jangan pergi!" Teriak Monic sembari mengejar pria muda itu. BRAAAKK Sekali lagi Vic menabrak dinding ruang tamu, membuat pria muda itu jatuh tersungkur di lantai yang keras, menghantamkan wajahnya di lantai yang dingin itu. Monic yang berhasil mengejarnya pun tersenyum. "Sayang, kita sudah di atas kasur tadinya... tapi kamu mau kita melakukannya disini," oceh Monic sembari terbahak. Monic bergegas duduk di atas tubuh pria muda itu, berusaha mengunci agar pria itu tidak kabur. Tangannya dengan cekatan mencari sleting celana Vic. "Monic! Apa yang kamu lakukan?! Menjauh dariku!" marah Vic. Vic mendorong Monic dengan keras kali ini, gadis itu sampai menghantamkan bahunya di dinding. "Aaaww!" Jerit Monic, merasakan ngilu yang menjalar di sekujur bahunya. Vic bergegas keluar dari rumah Monic, kepalanya mulai berdenyut hebat. Sambil memegangi kepalanya pria muda itu berhasil masuk dalam ke lift. Monic sudah tidak lagi mengejarnya. Vic meraba ponsel di saku celananya, dan ia bersyukur karena tidak menjatuhkan barang penting itu. Dengan sembarang Vic menekan nomor kontak yang ada di log panggilan ponselnya, itu karena kepalanya yang pening tidak mampu lagi menatap layar ponsel yang nampak berkunang-kunang. "Hallo? Vic? Ada apa?" Vic mengenali suara itu. "Hallo... Cha, tolongin aku... jemput aku di lobby gedung Aston, sekarang Cha... aku udah nggak kuat," racau Vic dengan matanya yang terpejam. "Aston? Penthouse?" tanya Icha dengan tergesa-gesa. "Iya, satu blok... setelah area kampus kita," jelas Vic. "Oke... aku kesana sekarang," tukas Icha. Vic dengan lankah gontai berjalan menuju sofa terdekat, ia sesekali menoleh ke arah lift, matanya berusaha terus terbuka sampai Icha datang menjemputnya. Sesekali Vic menoleh ke arah lift, takut-takut kalau Monic mengejarnya sampai ke bawah, namun gadis itu tidak nampak lagi. "Hhh... sial, kenapa aku nggak menyadari kelicikan gadis ular itu? hampir saja...." gumam Vic disela-sela napasnya yang mulai tak teratur. *** Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Pram dan Dinadra sedang tidak berada dirumah karena ada urusan bisnis di bali selama tiga hari kedepan. Gadis itu bergegas memakai jaketnya dan mencari Pak Narto untuk meminjam kunci mobil. "Pak Narto, Icha boleh minjem kunci mobilnya enggak?" tanya Icha kepada Pak Narto yang sedang duduk ngopi. "Hah? Non mau kemana? Biar bapak anter yuk...." Icha menggelengkan kepalanya, menolak tawaran Pak Narto barusan. "Enggak usah Pak, Icha mau ke rumah Rere... kali aja Icha nginep," jawab Icha. "Oh... ya udah, Non... ini kuncinya," Pak Narto memberikan kunci mobil yang langsung di sambar oleh Icha secepat kilat. "Icha pergi dulu ya, pak! Assalamualaikum!" pamit Icha. "Wa'alaikumsalam... Iya neng, hati-hati di jalan!" ucap Pak Narto membalas salam Icha. Sepuluh menit Icha habiskan untuk sampi ke tempat Vic berada saat ini. Gadis itu memilih rute yang tidak ramai, bahkan tidak melalui lampu merah. Ia takut Vic kenapa-kenapa disana. Icha memarkirkan mobilnya secara asal di halaman gedung Aston kemudian turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Icha mendial nomor ponsel Vic sambil berlari menuju ke lobby namun panggilan telepon itu tidak di angkat oleh Vic, membuat Icha semakin khawatir. Icha sampai ke area lobby, melihat ke arah sofa-sofa mahal yang berjejer rapi. Gadis itu mengedarkan pandangannya sembari berjalan cepat menuju sofa itu. Matanya cukup jeli menemukan sosok Vic yang tergeletak di atas sofa. Sleting celananya bahkan tidak diperbaiki, membuat Icha yang tak sengaja melihat itu pun refleks menutup mata. "Vic! Vic! Bangun! Kamu kenapa?" Icha memanggil-manggil nama Vic, berusaha menyadarkan pria muda itu. "Icha? Cha... itu kamu?" racau Vic dengan matanya yang masih mengatup. "Iya Vic, ini aku... Icha, buka mata kamu deh," pinta Icha. Vic mengerjap pelan, silau cahaya lampu yang terang benderang membuat Vic memicingkan matanya. Icha membantu pria muda itu untuk duduk tegak. "Mas, tolong bawakan air mineral, ya?" pinta Icha kepada karyawan yang baru saja mengantar pesanan tamu. "Okay, mbak... tunggu sebentar ya, kami segera kembali." Tak lama air mineral yang Icha pesan pun tiba, Icha bergegas membantu Vic untuk minum perlahan. "Vic... kamu kenapa sih? Kok jadi begini?" Icha nampak sangat khawatir. "Cha... entar dulu baru aku jelasin, cepat... bawa aku pergi dari sini sekarang juga," gumam Vic dengan suara lemah. Mendengar ucapan pria muda itu, Icha pun bergegas memapah Vic, dengan hati-hati mereka bergerak keluar dari gedung itu. Sesampainya di mobi, Icha memakaikan seatbelt pada Vic serta menurunkan sedikit sandaran jok kursi agar pria muda itu bisa tidur sebentar. "Vic, tadi kamu kenapa deh?" tanya Icha. "Jalan dulu, Cha. Aku... hampir diperkosa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN